
Setelah selesai makan malam Aman langsung pulang ke kediamannya, sedangkan Kenzo langsung masuk ke dalam kamarnya dan menghubungi Aruna.
Tentu saja dia menceritakan apa yang sudah dia obrolkan dengan sahabatnya, dia membicarakan tentang ide dari sahabatnya tersebut. Aruna menanggapi dengan antusias.
Bahkan, wanita itu berkata akan mengabulkan keinginan dari sahabat putranya itu. Karena menurut Aruna, ide yang dilontarkan oleh Aman bisa menjadi sumber penghasilan yang menjanjikan.
Padahal, awalnya Kenzo tidak begitu berniat untuk bergelut di dalam dunia kuliner. Karena pria itu memang tidak begitu menyukai ide dari sahabatnya itu.
Namun, setelah apa yang dikatakan oleh Aruna, Kenzo menjadi bersemangat dibuatnya. Terlebih lagi ketika Aruna mengatakan akan mengurus pembangunan rumah makan itu.
Ya, Aruna memutuskan untuk mengurusnya. Tentunya dengan bantuan orang-orang dari ayahnya, Satria. Namun, untuk urusan modal tetap dari dia.
"Pake uang aku aja, Bun. Boleh ngga?" tanya Kenzo karena merasa tidak enak hati dengan ibunya.
Untuk usaha yang akan dia jalani saja, Kenzo merasa tidak enak hati karena bukan dia yang mengeluarkan biaya. Justru kedua kakeknya yang begitu bersemangat untuk mengeluarkan modal yang begitu banyak untuk cucunya tersebut.
Kini, Kenzo kembali dibuat tidak enak hati karena ibunya begitu bersemangat mengatakan akan memberikan modal kepada Kenzo untuk membuat rumah makan tersebut.
"Tidak apa, Sayang. Ini bentuk dukungan dari Buna," jawab Aruna.
Kenzo akhirnya hanya bisa pasrah, dia pun mengiyakan bantuan yang akan diberikan oleh Aruna. Lagi pula, jika dia menolak takutnya akan menyakiti hati ibunya.
"Oke, Bun. Ken nurut," ujar Kenzo pada akhirnya.
Selesai mengobrol dengan ibunya lewat sambungan telepon, akhirnya Kenzo memutuskan untuk tidur. Karena besok dia harus pergi ke kantor dan mulai bekerja.
Keesokan harinya.
Kenzo sudah tiba di sebuah perusahaan yang akan dia pimpin, bangunan yang akan dia jadikan tempat usaha itu terdiri dari lima lantai. Terlihat nyaman dan rasanya Kenzo akan betah di sana.
Sepertinya ayah dari Aman itu begitu menyukai bunga, karena di sekeliling bangunan itu terdapat begitu banyak bunga. Mulai dari bunga matahari sampai bunga mawar dan juga melati.
Saat Kenzo membuka jendela ruang kerjanya saja, dia bisa langsung mencium wangi bunga yang begitu semerbak. Udara di sekitaran sana bahkan terasa begitu menyejukkan, karena memang masih terdapat banyak pohon yang terlihat begitu rindang.
Ruang kerja pria itu ada di lantai lima, jika dia berdiri di depan jendela, dia bisa langsung melihat jalanan dan bisa melihat lalu lalang mobil yang lumayan padat.
Saat dia tiba, dia disambut dengan begitu antusias oleh para karyawan di perusahaan tersebut. Terlebih lagi saat melihat paras Kenzo yang begitu tampan, banyak para karyawan wanita yang berbisik-bisik membicarakan pria itu.
"Wah! Bos kita yang baru ternyata sangat mudah dan juga tampan, pasti kita akan lebih betah lagi bekerja di sini."
"Gagah banget deh, tubuhnya tinggi banget. Aku yakin perutnya juga pasti berbentuk kotak-kotak kaya roti sobek."
"Masih lajang atau sudah punya istri sih? Kalau lajang masih boleh kalo kita deketin, siapa tahu bisa jadi istri."
__ADS_1
Itulah kata-kata manis yang keluar dari bibir para karyawan perempuan, mereka benar-benar terhipnotis oleh wajah tampan Kenzo.
Kenzo hanya menanggapinya dengan senyuman, pria itu tidak banyak bicara sama sekali. Dia dengan santainya masuk ke dalam ruang kerjanya, lalu dia melangkahkan kakinya untuk berdiri di depan jendela.
"Ini sangat nyaman,'' ujar Kenzo seraya memperhatikan jalanan pagi ini yang lumayan ramai
Tidak lama kemudian , dia melihat mobil yang berhenti tepat di perusahaan miliknya tersebut. Lalu, dia melihat Aman yang turun dari mobil itu. Bahkan, tidak lama kemudian dia melihat seorang wanita turun dari mobil tersebut dan memeluk Aman.
Aman bahkan membalas pelukan dari wanita itu, lalu Aman mengusap puncak kepala wanita itu dan menuntun agar wanita itu masuk kembali ke dalam mobil.
Tidak lama kemudian, wanita itu nampak pergi. Aman langsung melambaikan tangannya sampai mobil yang dikendarai wanita itu menghilang dari pandangan.
''Dengan siapa Aman datang? Apa dengan pacarnya? Sejak kapan dia punya pacar?" tanya Kenzo penasaran.
Selama lima tahun bersahabat dengan Aman, tidak pernah Kenzo sekalipun melihat pria itu dengan wanita mana pun. Sama seperti dirinya.
Bahkan, saat mereka berada di luar negeri, Kenzo sempat dikira sebagai pria yang tidak normal. Karena ke mana-mana dia akan pergi bersama dengan Aman.
Maka dari itu banyak orang yang menyangka jika mereka adalah pasangan kekasih, walaupun memang dilihat dari sisi mana pun Kenzo terlihat tampan dan juga memiliki tubuh yang atletis.
Rasanya tidak mungkin bukan jika berpacaran dengan sesama jenis, tetapi jaman sekarang ini memang banyak pria yang tampilannya terlihat begitu gagah dan juga perkasa. Namun, nyatanya mereka adalah pria kemayu yang menyukai sesama jenis.
"Datang diantar oleh siapa?" tanya Kenzo ketika pria itu masuk ke dalam ruangannya.
"Maksudnya?"
"Gue tadi lihat elu turun dari mobil sama cewek, pakai peluk-peluk segala lagi. Elu udah punya cewek? Elu datang dianterin sama cewek elu?" tanya Kenzo.
Aman langsung terkekeh ketika Kenzo menanyakan hal seperti itu, karena saat pria itu bertanya, Kenzo seolah-olah sedang mengintrogasi kekasihnya.
"Ya ampun! Gue tadi dateng dianterin sama adik gue," jawab Aman.
Kenzo langsung memukul lengan Aman, dia merasa tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu. Karena pada kenyataannya pria itu pernah berkata jika dia tidak memiliki adik ataupun kakak.
"Adik? Elu itu anak tunggal, jangan berani bodoh-bodohin gue. Atau mungkin maksudnya adik ketemu gede?" tanya Kenzo.
Aman langsung tertawa dengan terbahak-bahak melihat Kenzo yang begitu penasaran, karena tidak biasanya sahabatnya itu bertanya sampai sedetail itu.
"Cewek tadi itu adik sepupu gue, adik ketemu gede. Persis seperti yang elu katakan," ujar Aman.
"Oh, adik sepupu ya?" tanya Kenzo dengan dahinya yang kembali mengerut.
Karena seingatnya Aman pernah bercerita jika ayahnya memiliki seorang adik laki-laki, tetapi pria itu tidak memiliki istri. Lalu, bagaimana ceritanya kini dia bisa memiliki adik sepupu, pikirnya.
__ADS_1
Namun, bisa juga adik dari ayah Aman itu mengadopsi anak perempuan yang terlihat sebaya dengan Aman. Maka dari itu aman berkata adik ketemu gede.
"Iyes, Bro. Udah jangan ngomongin adik gue, dia mau ngirim ikan. Sekarang kasih tau gue, kerjaan gua apa?" tanya Aman.
"Jadi asisten pribadi gue," jawab Kenzo.
Aman tersenyum senang karena dia diberikan jabatan yang bagus oleh sahabatnya itu, dia benar-benar merasa beruntung bisa bertemu dengan Kenzo.
Aman juga merasa beruntung karena perusahaannya dibeli oleh Kenzo, tetapi dia masih bisa bekerja di perusahaan tersebut. Setidaknya, walaupun perusahaan itu sudah bukan milik ayahnya lagi, tetapi Aman masih bisa mengelola perusahaan itu walaupun di bawah naungan orang lain.
"Alhamdulillah," ujar Aman.
"Oiya, Man. Bukannya paman elu itu nggak nikah ya? Kok bisa punya anak?" tanya Kenzo yang sejak tadi merasa penasaran.
Pada akhirnya dia menanyakan hal itu juga, karena takut takutnya dia akan mati penasaran. Pria itu juga menuntun Aman untuk duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut.
"Oh, dia ngangkat anak. Anak perempuan yang malang, hampir mati di tengah lautan. Anak itu bahkan sempat koma selama enam bulan, sedih gue kalau bahas dia. Dahlah jangan ngungkit itu lagi," jelas Aman.
Kenzo ikut sedih mendengar apa yang dikatakan oleh Aman, terlebih lagi mendengar anak yang diangkat oleh paman dari Aman itu hampir mati di tengah lautan.
''Bae banget paman elu itu, gue salut sama dia." Kenzo tersenyum hangat setelah mengatakan hal itu.
"Hem! dia memang sangat baik, bahkan dia memperlakukan anak angkatnya dengan penuh kasih." Aman tersenyum karena membayangkan pamannya yang selalu memanjakan adik sepupunya.
"Oiya, Man. Elu kan' ketemu gede tuh sama adik sepupu elu, ngga ada getar-getar cinta gitu sama dia?" tanya Kenzo.
"Aih! Mana ada kaya gitu, gue itu benar-benar sayang sama dia. Sayang gue itu cuma sebatas kakak sama adiknya, kan' elu tau kalau gue cintanya ama si Arneta. Mojang Bandung yang geulisna kabina-bina itu, sayangnya dia nolak gue!" ujar Aman seraya menghela napas berat.
Aman menjadi lesu setelah mengatakan hal itu, karena dia merasa Kenzo sudah seperti sedang mengorek luka lama yang sudah mulai mengering pada area lututnya.
"Hem! Gue tahu," jawab Kenzo.
Dia jadi teringat akan teman kuliah mereka yang bernama Arneta, wanita asal Bandung itu begitu disukai oleh sahabatnya. Sayangnya Arneta berkata jika Aman bukanlah laki-laki idamannya.
Arneta lebih memilih pria keturunan bule dari pada Aman, hanya itu bahkan sempat patah hati dan mengurung dirinya di dalam apartemennya.
"Dahlah jangan bahas itu lagi, sekarang kita mau langsung kerja atau mau mantau tempat penambangan batubara?" tanya Aman lagi.
Kenzo terdiam untuk sesaat, tetapi tidak lama kemudian dia kembali bersuara.
"Gue mau periksa data perusahaan dulu, mau beradaptasi dulu. Setelah itu baru kita ke lapangan," jawab Kenzo.
"Oke," jawab Aman menyetujui.
__ADS_1
Karena memang ini masih sangat pagi, rasanya akan lebih santai bekerja di dalam ruangan. Jangan langsung pergi menuju lapangan, karena pasti akan sangat melelahkan.