Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
BUSM2 S2. Bab 52


__ADS_3

Sebenarnya bukan hanya Kenzo yang merasa kecewa, tetapi Anaya juga merasakan hal yang sama. Dia kecewa karena tidak bisa memuaskan suaminya, kecewa karena tidak bisa memberikan hak suaminya.


Padahal, mereka baru saja menikah. Pastinya Kenzo ingin meminta haknya kapan pun yang dia mau, karena ternyata bercinta itu rasanya sangat nikmat.


Anaya yakin jika Kenzo pasti merasa begitu tersiksa, baru sekali bisa menjebol gawang keperawanannya, tetapi malah harus libur karena tamu bulanannya yang datang dengan tidak tahu dirinya.


Maka dari itu Anaya mencoba mencari tahu bagaimana cara menyenangkan suami tanpa harus bercinta, ternyata banyak cara yang bisa dilakukan.


Setelah membaca banyaknya cara untuk menyenangkan suami, akhirnya Anaya memutuskan untuk menyenangkan suaminya itu dengan bibir dan juga dadanya.


Awalnya Anaya merasa tidak percaya diri, tetapi nyatanya, walaupun dia terlihat amatiran, Kenzo begitu menikmati permainan yang dia suguhkan.


Bahkan, setelah cukup lama Anaya memainkan keperkasaan suaminya dengan tangan, bibir dan juga dadanya, Kenzo memuntahkan lahar panasnya sampai ke wajah Anaya.


Tentunya Anaya tidak marah sama sekali, justru wanita itu benar-benar begitu senang karena melihat kepuasan pada wajah suaminya.


"Tidurlah, kamu pasti sangat lelah." Kenzo mengusap puncak kepala istrinya yang sudah terlelap di dalam tidurnya.


Setelah memuaskan suaminya, Anaya langsung membersihkan tubuhnya karena belepotan dengan semburan lahar panas pada dada dan juga wajahnya.


Selesai membersihkan tubuhnya, Anaya memutuskan untuk tidur. Karena hari ini dia benar-benar sangat lelah, sedangkan Kenzo masih belum bisa tidur.


Pria itu malah teringat akan cerita istrinya, jika Anaya bertemu dengan Anisa, itu artinya wanita itu sengaja datang ke kota Sorong untuk menghancurkan rumah tangga yang baru saja akan dia jalani dengan Anaya.


"Aku harus segera bertindak," ujar Kenzo.


Kenzo mengusap bibir istrinya yang nampak bengkak, pasti itu terjadi karena sudah memuaskan miliknya sampai muntah-muntah.


"Padahal kamu tuh nggak perlu ngelakuin ini, aku masih bisa nahan kok kamu cuma satu minggu. Tapi makasih, karena kamu sudah berusaha untuk menjadi istri yang baik dan tidak mudah terhasut oleh omongan orang lain."


Ah! Kenzo merasa tidak salah mencintai wanita seperti Anaya, karena wanita itu benar-benar membuat dirinya bangga dan tersenyum bahagia.

__ADS_1


Cukup lama Kenzo menatap wajah istrinya, hingga tidak lama kemudian dia memutuskan untuk keluar dari dalam kamar pengantin mereka.


Tentunya Kenzo ingin mencari tahu di mana Anisa memesan kamar, Kenzo tentunya ingin tahu dengan apa yang akan dilakukan oleh wanita itu ke depannya.


Satu hal yang lebih ingin Kenzo ketahui, apakah benar Anisa sedang hamil atau tidak. Jika wanita itu benar-benar sedang hamil, Kenzo harus mempertemukan Anisa dengan pria yang sudah menghamili.


Karena walaupun dia begitu membenci Anisa, tetapi tetap saja dia tidak bisa membiarkan Anisa hidup dengan perutnya yang semakin besar tetapi tidak ada pria yang menemani hari-harinya.


"Permisi, Nona. Boleh aku bertanya?" ujar Kenzo pada salah satu wanita yang bekerja di balik meja resepsionis.


"Boleh, Tuan. Ada apa, ya?"


"Begini, Nona. Adik saya baru tiba dari ibu kota, dia baru tiba hari ini. Dia bilang mau menginap di sini, tapi dia belum menghubungiku. Kalau anda mengizinkan, saya ingin mengetahui di mana dia menyewa kamar," ujar Kenzo dengan begitu sopan.


Wanita itu nampak memperhatikan penampilan Kenzo, dia tersenyum karena masih ingat bahwa pria itu bersama dengan keluarga besarnya menyewa hampir semua kamar yang ada di resort tersebut.


Tentunya saat Kenzo berkata seperti itu, wanita itu langsung menyangka jika pria itu pasti menanyakan tentang saudaranya yang ingin mengucapkan selamat kepada dirinya.


"Oh, gitu! Nama adik anda siapa ya, Tuan? Biar saya bisa langsung melihat kamar mana yang dia pesan," ujar wanita itu.


"Sebentar!"


Wanita itu dampak mengecek nama yang disebutkan oleh Kenzo, tidak lama kemudian wanita itu tersenyum dan menolehkan wajahnya ke arah Kenzo.


"Nona Anisa Azzahra datang siang tadi, dia meminta satu kamar tepat di samping kamar anda. Kamar pengantin nomor dua, pasti dia ingin memberikan kejutan." Wanita itu terkekeh setelah mengatakan hal itu.


Kenzo benar-benar kaget mendengar Anisa yang ternyata benar datang ke kota Sorong dan menyewa kamar tepat di samping kamar pengantin, wanita itu benar-benar nekat.


"Oh! Terima kasih, Nona. Anda sangat baik," ujar Kenzo seraya memberikan uang tips kepada wanita itu.


Menurutnya dia perlu memberikan uang tips, Karena wanita itu tidak mempersulit dirinya. Padahal, biasanya apa sulit mengorek informasi tentang orang yang menginap di suatu penginapan.

__ADS_1


"Anda terlalu berlebihan, Tuan."


Walaupun berkata seperti itu, tetapi wanita itu menerima uang yang diberikan oleh Kenzo dan memasukkannya ke dalam saku celananya.


Kenzo nampak terkekeh, lalu dia berpamitan untuk segera pergi. Dia ingin menemui ayahnya, dia ingin segera meminta bantuan kepada ayahnya tersebut.


Saat tiba di depan kamar penginapan milik ayah dan juga ibunya, Kenzo nampak hendak mengetuk pintu kamar tersebut. Namun, Dia terlihat ragu karena takutnya ayah dan ibunya sedang terlelap dalam tidurnya.


Untuk memastikan apakah ayah dan Ibunya sudah tidur apa belum, Kenzo nampak menempelkan telinganya pada pintu kamar penginapan tersebut.


"Satu kali lagi, Yang."


Kenzo bisa mendengar suara Sigit, Kenzo tersenyum. Karena itu artinya ayahnya dan juga ibunya masih terjaga, pria itu hendak mengetuk pintu kamar ibunya, tetapi hal itu dia urungkan karena mendengar percakapan antara Sigit dan juga Aruna yang dirasa membuat bulu kuduknya meremang.


"Ngga mau, ih! Tadi udahan, lama lagi!"


"Tapi dia masih mau, masih bangun. Lagi, Yang. Satu kali lagi, kasian dia kalau harus nahan."


"Papa! Buna udah cape banget, ih. Mau bobo, besok pagi lagi aja."


"Ya, udah. Kamu-nya bobo aja, tapi Papa tetep mau ini."


"Aduh, Pa! Kok nakal, ah!"


Terdengar suara Aruna melayangkan protesnya, tetapi hal itu membuat Kenzo semakin merinding karena tiba-tiba saja Kenzo mendengar Aruna mendessah keenakan.


"Aduh! Jangan kenceng-kenceng," ujar Aruna lagi.


Kenzo semakin tidak kuat mendengarnya, dengan cepat dia memundurkan langkahnya dan menatap pintu kamar kedua orang tuanya itu dengan tatapan horor.


"Ya ampun! Kenapa jadi mereka yang main kuda-kudaan?" ujar Kenzo seraya mengusap wajahnya dengan kasar.

__ADS_1


Setelah itu dia memutuskan untuk segera kembali ke dalam kamar pengantinnya, dia langsung merebahkan tubuhnya di samping istrinya. Lalu, dia peluk istrinya dan dia kecup keningnya dengan penuh kasih.


"Papa sama buna itu keterlaluan, udah tua masih aja bikin orang iri. Cepat selesai, Yang, tamu bulanannya. Aku jadi pengen," ujar Kenzo dengan wajah sedihnya.


__ADS_2