
Kenzo nampak bersemangat dalam menjalani harinya, terlebih lagi setelah usaha yang dia jalani meningkat dengan pesat, pria itu benar-benar menikmati usaha yang dia geluti saat ini.
Selama bekerja dan berusaha untuk mengembangkan perusahaan tersebut, kenzo terlihat begitu sibuk. Bahkan, seringkali dia lembur bersama dengan Aman.
Keinginannya untuk bertemu dengan Asmara dan mencari tahu tentang wanita itu sampai terlupakan, karena dia terlalu sibuk berusaha untuk mengembangkan perusahaannya.
Hari ini adalah hari di mana tepat satu bulan Kenzo mengelola perusahaan tersebut, Aman sedang tersenyum senyum seraya memijat kedua pundak Kenzo.
Kenzo sebenarnya paham dengan apa yang dilakukan oleh sahabatnya itu, sahabatnya sengaja berbuat baik kepada dirinya karena pasti ingin meminta gajinya.
Namun, pria itu pura-pura tidak tahu. Pria itu tetap saja asik mengerjakan pekerjaannya, sedangkan Aman nampak memijat mijat pundak Kenzo seraya berdehem beberapa kali.
Aman sengaja memberikan kode kepada pria itu, agar Kenzo bisa paham dengan apa yang dia inginkan saat ini.
Namun, karena tidak ada juga respon dari pria itu, akhirnya Aman menghentikan kegiatannya. Lalu, dia duduk tepat di hadapan kenzo dan langsung menutup berkas yang Kenzo sedang periksa.
"Ken, elu ngga lupa kan' kalau hari ini hari apa?" tanya Aman mengawali pembicaraan.
Kenzo yang sejak tadi menunduk langsung menolehkan wajahnya ke arah Aman, pria itu tersenyum seraya menatap wajah sahabatnya itu dengan lekat.
"Engga dong, hari ini adalah hari kamis. Nanti malem adalah malem jumat, waktunya yasinan. Waktunya sunnah rasul, baca shalawat yang banyak. Biar dapet pahala yang banyak," jawab Kenzo.
Aman langsung menghentak-hentakan kedua kakinya dengan cukup kencang, dia merasa kesal karena merasa dipermainkan oleh Kenzo.
"Bukan masalah itu, Ken. Lagian ngapain sih elu ngebahas sunnah rasul segala? Kita kan' belum nikah, belum bisa anu anu juga. Elu malah ngaco! Hari ini hari kamis, tepat gue satu bulan kerja sama elu. Gaji gue mana?" tanya Aman seraya mengulurkan tangannya seperti orang yang sedang meminta makanan.
Kenzo langsung tertawa karena tingkat dari Aman itu seperti anak kecil yang sedang meminta jajan kepada ibunya, Aman semakin kesal dibuatnya.
"Ken, gue serius. Gue mau minta gaji, entar malem gue mau traktir adik sepupu gue. Gue udah janji loh, kalau udah gajian mau ngajak dia makan malam. Seenggaknya, walaupun gue ngga punya pacar, masih ada adik gue yang mau nemenin," ucap Aman dengan menyedihkan.
"Ya ampun, oke. Gue bakalan kasih gaji elu, mau tunai atau transfer aja?" tanya Kenzo memastikan.
"Transfer aja, Ken. Kalau tunai duitnya bisa langsung habis," jawab Aman.
"Oke," jawab Kenzo yang langsung mengambil ponselnya dan meminta nomor rekening dari pria itu.
Dengan cepat Aman memberikan nomor keningnya, lalu Kenzo mengirimkan gaji pria itu. Aman sangat senang melihat nominal gaji yang diberikan oleh Kenzo.
Aman merasa tidak percaya jika dirinya digaji oleh Kenzo dengan gaji yang sangat tinggi, gaji pria itu setara dengan asisten pribadi yang sudah bekerja dalam jangka waktu yang lama.
"Ini nggak salah? Elu beneran ngasih gaji gue segini? Gede banget ini, Ken," ujar Aman.
__ADS_1
Kenzo merasa begitu senang karena perusahaan yang dia kelola berkembang dengan pesat, ia juga merasa senang karena Aman membimbing dirinya dalam menjalankan usaha tersebut.
Bahkan, jika ada orang yang mengajak bekerja sama, tanpa ragu Aman meminta pendapat kepada ayahnya terlebih dahulu. Walaupun pria itu sudah tidak menjalani usaha batubara lagi, tapi ayah dari Aman itu memiliki pengalaman yang pastinya sangat banyak tentang usaha batubara.
"Ngga salah dong, itu emang upah yang sudah pantas elu terima. Terima kasih karena selama ini elu udah mau kerja sama gue sekaligus ngajarin gue," ujar Kenzo tulus.
"Sama-sama, elu emang bener-bener baik sama gue. Sebagai ucapan terima kasih dari gue, bagaimana kalau nanti malam elu gabung aja makan malamnya sama gue? Sama adik gue juga," ajak Aman.
"Bolehlah, boleh," jawab Kenzo.
Setelah mengatakan hal itu, keduanya nampak tertawa dengan senang. Kenzo senang karena usahanya berkembang dengan pesat, sedangkan Aman senang karena mendapat upah yang besar.
Tidak lama kemudian, Aman nampak menghentikan tawanya. Lalu, pria itu menolehkan wajahnya ke arah jendela. Dia bisa melihat dengan jelas jika pembangunan rumah makan tepat di samping perusahaan itu sudah selesai.
"Ken, bagaimana dengan rumah makannya?" tanya Aman.
"Sembilan puluh persen sudah siap," jawab Kenzo.
"Jadi, ngambil ikan dari adik gue? Maksudnya, dari paman gue?" ralat Aman.
"Jadi, nanti gue kabarin kapan tuh warung makan bisa buka. Soalnya pas peresmian warung makannya, bokap sama nyokap gue bakal datang." Kenzo nampak tersenyum.
Itu artinya, sebentar lagi dia akan berkumpul dengan keluarganya. Dia akan melepas rindu dengan ibu, ayah dan juga adiknya.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Kenzo, Aman terlihat begitu bahagia. Karena itu artinya pamannya akan memiliki tempat untuk menjual hasil tangkapannya.
"Terima kasih, Ken. Elu emang sahabat terbaik gue, elu emang malaikat penyelamat dalam kehidupan gue," ucap Aman dengan tulus.
"Sama-sama! Oiya, Man. Malem kita bakal makan di mana?" tanya Kenzo.
"Makan di kedai yang ada di pinggir jalan aja, adik gue pengen ditraktir udang selingkuh sama ikan bakar. Elu ngga keberatan kan' kalau makannya cuma di kedai pinggir jalan gitu?" tanya Aman ragu-ragu.
Dia takut jika Kenzo tidak mau makan di pinggir jalan, karena dia sangat tahu jika Kenzo terlahir dari keluarga kaya raya. Karena saat di luar negeri juga Kenzo lebih memilih untuk makan di rumah, masak di rumah.
Dia berkata jika dengan seperti itu, makanan. yang dia konsumsi lebih higienis. Lebih terjamin, tidak takut ada makanan yang terkontaminasi dengan bahan yang tidak berkualitas.
Setelah tinggal di Sorong pun, Kenzo sama sekali tidak pernah makan di luar. Pria itu selalu makan di rumah, dia selalu memakan makanan yang dia inginkan.
Walaupun memang dia sangat tahu jika sahabatnya itu tidak pernah sombong, Kenzo tidak pernah pilih-pilih. Namun, tetap saja dia merasa takut jika Kenzo akan menolaknya.
"Bentar deh, tadi elu bilang mau ngajak gue makan di kedai yang ada di pinggir jalan?" tanya Kenzo.
__ADS_1
Ah! Kenzo malah teringat akan Asmara, wanita yang dia temui saat dia menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di kota Sorong. Wanita yang memiliki paras manis dengan kulit yang terlihat begitu eksotis.
"iya," jawab Aman.
Kenzo begitu sumringah, bahkan pria itu kini terlihat begitu bersemangat. Dia benar-benar ingin bertanya lebih lanjut kepada sahabatnya itu.
"Makan pake udang selingkuh sama ikan bakar?" tanya Kenzo.
Dia ingin memastikan apakah sahabatnya itu mengajak dirinya makan di tempat yang sama saat dia makan bersama dengan Asmara atau tidak, jika iya, maka dia akan merasa sangat bahagia.
"Iya," jawab Aman lagi.
Kenzo nampak tersenyum dengan begitu lebar, bahkan deretan gigi putihnya sampai terlihat semua. Persis seperti sedang iklan pasta gigi.
"Terus, makannya pake Papeda, bukan sama nasi?"
Aman sampai kaget mendengar pertanyaan dari sahabatnya tersebut, karena setiap pertanyaan yang dilontarkan oleh Kenzo memang benar adanya.
"Astagfirullah! Kenapa tebakan elu bener terus?" tanya Aman.
Aman benar-benar merasa aneh terhadap kelakuan Kenzo kali ini, karena pria itu terus saja bisa menebak apa yang akan dia lakukan nanti malam dengan adik sepupunya.
Aman memang akan pergi bersama dengan adiknya menuju kedai makanan yang ada di pinggir jalan, mereka berdua sudah sepakat akan memakan Papeda dengan udang selingkuh dan juga ikan bakar.
"Gue mau pergi, tapi gue mau makan pake nasi, bukan pake Papeda," ujar Kenzo yang malah teringat akan Asmara.
Kenzo bahkan langsung tersenyum-senyum sendiri, agak aneh sih. Namun, kalian ngga usah takut. Kenzo tetap terlihat tampan kaya biasanya.
'Semoga gue bisa ketemu lagi sama elu, kalau gue ketemu lagi sama elu, gue ngga bakal lepasin elu lagi.' Kenzo berkata di dalam hatinya, pria itu bahkan terlihat tersenyum-senyum.
Aman langsung menepuk pundak Kenzo, dia takut jika sahabatnya itu kesambet. Kenzo malah tertawa lalu berkata.
"Kenapa elu liatin gue kaya gitu?" tanya Kenzo.
Kenzo merasa aneh ketika sahabatnya itu menatap dirinya dengan tatapan yang tidak biasa, karena Kenzo merasa jika dirinya tidak melakukan kesalahan atau melakukan keanehan.
Aman bergidik, lalu dia menatap sahabatnya itu dengan lekat. "Elu aneh," ujar Aman.
Kenzo yang dikatai seperti itu oleh sahabatnya, hanya menggedikkan kedua bahunya. Dia seolah tidak peduli dengan apa yang dikatakan oleh Aman, saat ini yang dia inginkan hanya cepat malam dan segera makan di tempat tersebut.
Dia benar-benar berharap bisa bertemu dengan Asmara di kedai makan tersebut, karena sepertinya wanita itu memang sering datang ke kedai makan itu, hal itu dapat Kenzo tebak dari cara wanita itu makan di tempat tersebut dan berinteraksi dengan penjual yang ada di sana.
__ADS_1