Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
BUSM2 S2. Bab 18


__ADS_3

Setelah masuk ke dalam mobil milik Asmara, Kenzo hanya duduk terdiam seraya memperhatikan apa yang dilakukan oleh Asmara. Sedangkan wanita itu nampak menggunakan sabuk pengamannya, lalu dia nampak hendak menyalakan mesin mobilnya.


Namun, hal itu dia urungkan ketika Asmara sadar jika Kenzo hanya terdiam seraya menatap wajahnya. Asmara menolehkan wajahnya ke arah Kenzo lalu berkata.


"Elu itu baru pertama kali naik mobil murah ya, Bos? Makanya hanya diam saja, mobil murah juga sama kok kayak mobil mahal. Sebelum digunakan tetap harus menggunakan sabuk pengaman agar aman," ujar Asmara.


Setelah mengatakan hal itu Asmara nampak memasangkan sabuk pengaman untuk Kenzo, pria itu sampai menahan napasnya. Bukan karena Asmara bau ketek, tetapi karena wajah Asmara yang begitu dekat dengan dirinya.


Jika semakin diperhatikan, wajah Asmara semakin mirip dengan Anaya. Tentu saja hal itu membuat jantung Kenzo berdebar berkali-kali lipat dengan kencang.


"Nah! Sudah siap, sekarang Bos mau diantar ke mana dulu? Mau langsung ke tempat makan atau mau ke mana dulu?" tanya Asmara memastikan sebelum dia melajukan mobilnya.


Karena menurutnya, Kenzo itu pria tampan yang sangat aneh. Lebih banyak diam dan lebih sering menatap wajah dirinya, Asmara jadi berpikir mungkin karena dirinya adalah orang tanah air paling timur yang memiliki kulit yang eksotis.


Maka dari itu Kenzo merasa aneh karena harus berdampingan dengan dirinya yang memiliki kulit yang begitu berbeda dengan Kenzo, Kenzo terlihat memiliki kulit yang begitu putih dan juga bersih.


"Bos! Mau makan dulu atau mau shalat dulu mungkin, karena gue juga belum shalat." Asmara nyengir kuda setelah mengatakan hal itu.


Kenzo langsung lemas setelah mendengar pertanyaan dari Asmara, karena Anaya non muslim. Sedangkan Asmara kini mengajak dirinya untuk melakukan shalat dzuhur, karena memang waktu menunjukkan pukul satu siang.


Itu artinya Asmara bukan Anaya, tetapi satu hal yang Kenzo bingungkan. Kenapa jantungnya bisa berdebar dengan begitu cepat ketika berdekatan dengan Asmara, pikirnya.


Padahal, dia hanya merasakan jantungnya berdebar dengan begitu kencang ketika berdekatan dengan Anaya saja. Ketika dia berdekatan dengan wanita mana pun, Kenzo tidak pernah merasakan getaran aneh di dalam hatinya.


"Ya Tuhan, Bos. Kenapa malah diam saja? Aneh mendengar gue nawarin shalat? Jangan aneh, Bos. Penduduk asli Sorong empat puluh enam persen beragama muslim, termasuk gue. Jadi, apa dulu yang mau Bos lakukan?" tanya Asmara kembali.


"Shalat dulu, gue juga belum shalat," jawab Kenzo pada akhirnya.


"Alhamdulillah, akhirnya elu ngomong juga. Padahal gue udah takut kalau elu beneran kesambet, soalnya tingkah elu aneh." Asmara tersenyum lalu menyalakan mesin mobilnya menuju mushola terdekat.


Kenzo benar-benar tidak bisa mengatakan hal apa pun, dia hanya terdiam seraya menatap wajah Asmara. Entah kenapa dia begitu betah memandang wajah wanita itu, sampai-sampai dia tidak mau berkedip rasanya.


"Sudah sampai, Bos. Ayo kita turun, kita shalat dulu. Habis itu gue mau ngajakin elu ke tempat makan yang enak, walaupun letaknya hanya di pinggir jalan, tapi rasanya nggak kalah sama yang di Resto," ujar Asmara.


"Iya," jawab Kenzo singkat.

__ADS_1


Pria itu langsung turun dari mobil, begitupun dengan Asmara. Keduanya nampak masuk ke dalam mushola untuk melaksanakan shalat dzuhur, tentunya setelah mengambil wudhu terlebih dahulu.


Selesai shalat Asmara benar-benar mengajak Kenzo menuju tempat makan yang berada di pinggir jalan, Asmara tanpa ragu bahkan langsung mengajak Kenzo untuk duduk di bawah pohon yang nampak rindang beralaskan tikar.


"Duduklah dulu, gue mau pesen makanannya dulu. Elu ngga ada alergi sama makanan laut, kan?" tanya Asmara.


Kenzo hanya menggelengkan kepalanya mendengar pertanyaan dari Asmara, bibirnya seakan terkunci dengan rapat. Dia tidak mengatakan apa pun, dia hanya memandang wanita itu dengan begitu lekat.


"Elu benar-benar pelanggan gue yang bersikap sangat aneh," ucap Asmara sebelum dia meninggalkan Kenzo.


Asmara menghampiri pemilik tempat makan itu, lalu dia memesan makanan yang sudah dia inginkan sejak tadi. Setelah itu dia kembali untuk menghampiri Kenzo.


"Tempatnya asik ya, tidak jauh dari sini ada pantai," ujar Asmara.


"Hem," jawab Kenzo yang tidak perduli dengan apa yang dikatakan oleh wanita itu.


Karena kenzo lebih asyik memandang wajah Asmara daripada memandang laut yang katanya tidak jauh dari sana itu, Asmara sampai kebingungan dibuatnya.


"Ya ampun! Kenapa elu demen banget liat muka gue? Eh? Demen apa aneh ya?" ralat Asmara.


"Aih! Gue jadi salah tingkah, udah ah Bos. Jangan bercanda terus, pesanan gue udah dateng," ujar Asmara seraya menunjuk pemilik tempat makan itu datang membawa makanan yang sudah dia pesan.


Kenzo terkekeh, lalu dia menatap makanan yang sudah ditata dengan begitu rapi di hadapannya. Ada undangan goreng dan juga ikan bakar, ada juga ada dua mangkok yang entah apa namanya tetapi Kenzo tidak tahu.


"Ini apa?" tanya Kenzo.


"Papeda, kalau yang ini namanya Udang selingkuh. Yang ini namanya ikan bakar, elu mau yang mana?" tanya Asmara.


"Gue mau nasi, ngga doyan gue makanan kaya gitu," ujar Kenzo seraya menunjuk papeda.


"Makanan enak kaya gitu malah engga doyan, dasar. Ya udah tunggu bentar, gue pesenin nasi," ujar Asmara.


Asmara akhirnya memesan nasi untuk Kenzo, setelah memesan nasi akhirnya Asmara nampak makan dengan begitu lahap.


Berbeda dengan Kenzo yang tetap saja asik menatap wajah Asmara, sesekali dia akan menyuapkan nasi ke dalam mulutnya. Akan tetapi, dia lebih sering menatap wajah Asmara.

__ADS_1


Dia benar-benar merasa terhipnotis dengan wajah dari wanita itu, wajah manis dan juga cantik yang mirip sekali dengan Anaya.


"Gue udah kenyang, bayarnya paroan ya?" ujar Asmara.


"Biar gue aja yang bayar," ujar Kenzo.


"Eh? Tapi gue makannya lebih banyak," ujar Asmara tidak enak hati.


"Tidak apa-apa," jawab Kenzo yang langsung membayar makanan yang sudah mereka makan.


Setelah selesai makan, Kenzo meminta Asmara untuk mengantarkan dirinya ke rumah barunya, tentunya Kenzo hanya perlu menunjukkan alamat rumahnya.


Asmara langsung tahu di mana letak rumah tersebut, setelah setengah jam kemudian akhirnya Kenzo tiba di depan rumah sederhana tersebut.


Asmara nampak kagum saat melihat rumah itu, di halaman rumah itu terdapat banyak tanaman hias. Bahkan, ada kolam ikan kecil di sana.


"Rumah anda sangat nyaman, Bos," ujar Asmara.


"He'em, kalau elu suka, elu boleh tinggal sama gue," ujar Kenzo.


"Eh? Mana bisa seperti itu? Kita itu bukan mahram!" ujar Asmara.


"Mungkin elu minat jadi pelayan di rumah gue, kan' bisa!" ujar Kenzo.


"Ngga usah deh, gue mending bantu bapak gue melaut nyari ikan. Upahnya Bos, gue mau balik," ujar Kanaya.


"Oke," jawab Kenzo yang langsung memberikan uang satu juta kepada Asmara.


"Eh? Ini kebanyakan Bos, gue cuma nemenin elu selama dua jam lebih dikit doang," ujar Asmara.


"Oh gitu, biar ngga kebanyakan. Elu ikut gue masuk," ujar Kenzo yang langsung menarik lembut tangan Asmara agar masul ke dalam rumahnya.


"Eh, eh, eh? Elu mau ngapain?" tanya Asmara ketika Kenzo langsung membawa wanita itu masuk ke dalam ruang keluarga.


Wanita itu bahkan langsung menepis tangan Kenzo, lalu dia memasang kuda-kuda dengan kedua tangan yang nampak mengepal dengan kuat.

__ADS_1


__ADS_2