Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
BUSM2 S2. Bab 59


__ADS_3

Pagi-pagi sekali Kenzo terbangun dari tidurnya, dia merasa mual dan perutnya terasa diaduk-aduk. Kepala Kenzo juga terasa begitu berat, pria itu dengan cepat pergi ke dapur untuk memeras jeruk lemon.


Lagi-lagi pria itu menginginkan minuman yang terasa begitu asam itu, hanya perasaan jeruk lemon dicampur sedikit garam dan ditambahkan es batu. Sungguh keinginan yang sangat aneh.


"Ya Tuhan! Ini sangat enak," ujar Kenzo setelah meminum perasan jeruk lemon yang dia buat sendiri.


Terasa asam dan juga dingin, semua aroma bau yang tadi tercium hilang seketika. Bahkan, kepalanya yang sejak tadi terasa sakit tiba-tiba saja merasa lebih enteng.


"Sepertinya siang ini aku harus ke swalayan dan memborong jeruk lemon, jangan sampai di rumah tidak ada jeruk lemon. Karena bisa-bisa aku akan terus sakit kepala," ujar Kenzo.


Setelah mengatakan hal itu, Kenzo kembali ke dalam kamarnya. Lalu dia membangunkan Anaya dan mengajak istrinya tersebut untuk mandi dan shalat subuh bersama.


"Kamu sudah sembuh, Yang?" tanya Anaya ketika melihat wajah Kenzo yang lebih ceria setelah mereka melaksanakan shalat subuh.


Wajah suaminya padahal tadi malam terlihat begitu pucat, tetapi pagi ini terlihat begitu segar dan juga fresh. Namun, ketika Anaya mengajak Kenzo untuk memeriksakan kondisi kesehatannya, pria itu malah menolak.


"Pagi pas aku bangun mual lagi, terus aku juga merasa kepalaku sangat berat. Tapi, pas udah minum perasan jeruk lemon aku langsung sembuh," jawab Kenzo.


"Minum jeruk lemon lagi?" tanya Anaya dengan heran.


Ah! Anaya benar-benar tidak habis pikir Karena kini suaminya itu begitu senang sekali meminum perasan jeruk lemon, padahal dia saja yang mencium aroma lemon itu sangat asam dan lidahnya langsung terasa berliur.


"Iya, Sayang. Aku juga heran kenapa kepalaku yang pusing ini selalu saja sembuh dengan perasaan jeruk lemon, oiya, Sayang. Siang nanti kita harus ke swalayan, aku mau borong jeruk lemon," ajak Kenzo.


"Ya ampun! Sore aja, Yang. Habis pulang kerja aja," jawab Anaya.


Ini semakin aneh, pikir Anaya. Bisa-bisanya suaminya itu malah ingin memborong banyak jeruk lemon, seperti bukan Kenzo saja yang sedang berbicara.


"Oke deh, aku nurut." Kenzo tersenyum manis.


Setelah terjadi obrolan pagi itu bersama dengan Anaya, keduanya nampak sarapan lalu pergi bekerja seperti biasanya. Pria itu bekerja dengan begitu bersemangat karena didampingi oleh istri tercintanya.


Aman sampai merasa iri terhadap pasangan pengantin baru itu, mereka terlihat begitu bahagia, saling mencintai dan terlihat saling melengkapi.


Aman sampai bertanya-tanya di dalam hatinya, mungkinkah dia juga nantinya akan mendapatkan jodoh yang cantik, manis dan juga perhatian seperti Anaya, pikirnya.


"Udah sore, Ken. Mau balik sekarang, nggak?" tanya Aman setelah seharian mereka bekerja.


Kenzo langsung menghentikan aktivitasnya, lalu Kenzo menunjukkan sebuah file yang baru saja dikirimkan dari perusahaan yang bekerjasama dengan dirinya.


"Iya, gue tau kalau sekarang itu udah sore. Tapi masih ada kerjaan, padahal gue udah janji mau pergi ke swalayan bareng Naya," jawab Kenzo seraya menolehkan wajahnya ke arah Anaya yang sedang duduk anteng sambil memangku laptop.

__ADS_1


Aman merupakan pria lajang, kalau pun pulang dia tidak mempunyai pekerjaan. Lebih tepatnya dia tidak perlu cepat-cepat pulang untuk menemui kekasih ataupun seorang Istri, rasanya dia lebih baik memberikan kesempatan kepada Kenzo untuk bisa bersantai bersama dengan Anaya.


"Ya udah, elu sama Naya pergi aja. Biar gue yang lembur," ujar Aman mengalah.


"Serius?" tanya Kenzo dengan binar bahagia di wajahnya.


Kenzo merasa senang jika Aman mau lembur sore ini, karena dengan seperti itu dia bisa langsung pergi ke swalayan untuk segera memborong jeruk lemon yang sangat dia inginkan.


Bukan untuk segera pulang dan bermesraan dengan istri tercintanya, atau bukan untuk pulang karena ingin bercinta dengan Anaya. Namun, dia ingin pulang karena ingin segera mendapatkan jeruk lemon kesukaannya.


"Serius," jawab Aman.


"Elu emang sahabat terbaik gue, akhir bulan gue tambahin bonus elu."


Baik Alan ataupun Kenzo terlihat bahagia dalam versi masing-masing, Kenzo bahagia karena sebentar lagi bisa pergi ke swalayan. Sedangkan Aman bahagia karena sebentar lagi dia akan mendapatkan bonus yang besar dari sahabatnya itu.


"Oke, elu emang sahabat sekaligus adik ipar terbaik gue. Sono balik," ujar Aman.


"Ya," jawab Kenzo.


Kenzo terlihat begitu senang sekali, jangan cepat dia menghampiri Anaya dan mengajak istrinya tersebut untuk pergi ke swalayan. Anaya tentunya mengiyakan dan dengan setia menemani pria itu.


Saat masuk ke swalayan, Kenzo langsung memborong jeruk lemon yang ada di swalayan tersebut. Pria itu awalnya ingin membeli sepuluh kilo jeruk lemon, tetapi Anaya berkata takutnya nanti jeruknya malah tidak segar kalau beli terlalu banyak.


"Yang, aku cuma mau beli jeruk lemon aja sama udang. Kamu mau beli apa?" tanya Kenzo.


Mendapatkan pertanyaan seperti itu dari suaminya, Anaya terdiam sebentar. Hingga tidak lama kemudian, Anaya tersenyum kepada Kenzo.


"Sekalian belanja bulanan aja, Yang," jawab Anaya.


"Oke," ujar Kenzo yang langsung mengambil troli karena takutnya istrinya akan berbelanja banyak barang.


Anaya berkeliling untuk membeli apa pun yang dia butuhkan di rumah, dari mulai sabun mandi sampai camilan. Tidak lama kemudian, dia berhenti tepat di rak pembalut.


"Yang! Kita nikah udah berapa lama?" tanya Anaya.


Kenzo merasa aneh dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh istrinya tersebut, tetapi walaupun seperti itu dia tetap menjawab apa yang ditanyakan oleh istrinya


"Hampir dua bulan, kenapa emang, Yang?" tanya Kenzo kebingungan.


Anaya kembali terdiam, dia ingat betul ketika menikah dengan Kenzo langsung datang bulan. Namun, kini tamu bulanannya itu belum juga datang.

__ADS_1


"Aku belum datang bulan lagi, Yang. Udah telat loh, atau jangan-jangan--"


Kenzo nampak membulatkan matanya dengan sempurna, jika perempuan telat datang bulan itu artinya perempuan itu pasti sedang mengandung, pikir Kenzo.


"Hamil! Kamu pasti hamil," ujar Kenzo.


Anaya juga berpikir jika dirinya hamil, tetapi dia tidak bisa mengatakan dirinya hamil jika tidak melakukan tes terlebih dahulu.


"Haish! Kamu nggak bisa bilang aku hamil juga, bagaimana kalau kita beli test pack aja?" tanya Anaya.


Kenzo langsung menganggukkan kepalanya tanda setuju, rasanya membeli test pack adalah hal yang lebih baik. Namun, tidak lama kemudian dia menggelengkan kepalanya. Karena sepertinya akan lebih baik jika mereka memeriksakan kondisi kandungan Anaya ke dokter kandungan saja.


''Kenapa kita nggak langsung periksa ke dokter aja?" tanya Kenzo.


Rasanya pergi ke dokter akan lebih akurat dengan hasilnya, kalau menggunakan test pack bisa salah, pikir Kenzo.


"Pake test pack aja dulu, kalau hasilnya positif kita langsung ke dokter."


Anaya berpikir jika pergi ke dokter takutnya dia akan kecewa, bisa saja dia hanya telat datang bulan dan tidak hamil. Pasti dia akan sangat sedih jika pergi ke dokter dan tidak hamil.


"Oke, Yang. Aku nurut," jawab Kenzo.


Sepasang suami istri itu tersenyum senang, lalu dengan cepat mereka membayar semua yang sudah mereka ambil dan dengan cepat pergi ke apotek.


Keduanya terlihat bersemangat dan langsung membeli lima buah test pack sekaligus, keduanya sepakat untuk memakai semuanya agar tahu hasilnya seperti apa.


"Cepat pake, Yang? Ayo kita tes," ajak Kenzo tidak sabar.


Keduanya kini sudah sampai di rumah, bahkan keduanya sudah berada di dalam kamar utama. Kenzo terlihat tidak sabar sekali ingin melihat hasilnya seperti apa.


"Aih! Besok pagi, Yang. Jangan sekarang, di petunjuknya itu tertulis kalau test pack ini lebih baik digunakan saat pagi hari. Hasilnya akan lebih akurat," jelas Anaya.


Kenzo langsung menghela napas berat, dia merasa tidak percaya jika dirinya masih harus menunggu esok hari tiba.


"Aih! Lama," ujar Kenzo lesu.


Anaya sangat paham jika suaminya itu begitu tidak sabar, Anaya langsung mengalungkan kedua tangannya di leher suaminya. Lalu, dia memberikan ciuman yang begitu mesra di bibir suaminya.


"Sabar ya, Sayang. Aku juga sudah tidak sabar ingin tahu apakah aku hamil atau tidak, aku sudah tidak sabar ingin mengetahui apakah di sini ada Kenzo Junior atau tidak."


Kenzo tersenyum dengan begitu lebar, selalu dia mengulurkan tangannya untuk mengusap-usap perut istrinya tersebut.

__ADS_1


"Semoga saja di dalam sini sudah ada calon buah hati kita," ucap Kenzo.


__ADS_2