
Hari ini merupakan hari pertama Sam berjualan, Ayana meminta izin kepada ibunya untuk membantu sang ayah di hari pertamanya berjualan setelah sepulang sekolah.
Tentu saja Aruna mengizinkan, karena dia benar-benar sudah berdamai dengan masa lalunya. Untuk apa membenci Sam, karena nyatanya pria itu benar-benar sudah mendapatkan ganjaran yang setimpal, pikirnya.
Lagi pula Ayana adalah anak kandung dari Sam, sudah sepantasnya anak itu dekat dengan ayah kandungnya. Sudah sepantasnya Ayana membantu ayahnya, karena bagaimanapun juga tidak ada yang namanya bekas anak ataupun bekas ayah.
Kenzo juga sudah meminta izin kepada Aruna untuk ikut bekerja bersama dengan Sagara setelah pulang sekolah, Kenzo beralasan jika dia merasa kasihan kepada pamannya jika harus pergi bekerja ke luar kota sendirian.
Padahal, Kenzo justru merasa sangat senang bisa ditawari pergi keluar kota bersama dengan Sagara. Karena dia bisa bermain air setelah menemani pamannya bekerja.
Karena kedua anaknya meminta izin untuk pergi, akhirnya Aruna memutuskan untuk ikut bekerja bersama dengan Sigit di perusahaan Siregar.
Awalnya Sigit merasa was-was ketika Aruna meminta izin untuk ikut bekerja, dia takut tidak bisa fokus karena Aruna selalu saja meminta untuk disentuh setiap ada kesempatan.
Namun, kali ini wanita hamil itu benar-benar bersikap dengan begitu baik, perhatian dan juga pengertian. Tentu saja hal itu membuat Sigit bisa bekerja dengan begitu tenang.
Justru setiap kali Sigit kerepotan dalam bekerja, Aruna yang memang dulunya menguasai tentang pekerjaan tersebut dengan mudahnya membantu Sigit.
'Hari ini kamu terlihat begitu manis, Sayang, terlihat begitu dewasa dan juga pengertian terhadapku.' Sigit menatap Aura dengan penuh cinta, tentunya kata-kata itu dia ucapkan hanya di dalam hatinya saja.
''Jangan menatapku terus, cepat kerjakan pekerjaan kamu. Yang fokus kerjanya," ujar Aruna dengan lembut.
Sigit sempat kaget karena ternyata istrinya kini bekerja dengan begitu profesional, wanita itu tidak bersikap layaknya sebagai seorang istri saat ini.
Padahal, biasanya Aruna akan merengek dan meminta untuk disentuh. Tentu saja Sigit merasa senang dengan sikap Aruna yang seperti itu, tetapi dia tidak bisa menikmati suguhan kenikmatan dari Aruna begitu saja.
Tentunya karena saat ini mereka sedang berada di kantor, banyak pekerjaan yang menunggu untuk diselesaikan.
"Ya, Sayang," jawab Sigit.
Di lain tempat
Sesuai dengan apa yang sudah direncanakan, Sagara mengajak Kenzo untuk pergi ke luar kota. Tepatnya Sagara pergi ke resor yang ada di kota B untuk bertemu dengan wanita cantik yang ingin bekerja sama dengan dirinya.
Tentunya wanita itu berasal dari daerah tersebut, wanita yang memiliki perusahaan kecil tetapi banyak orang berkata jika kemampuan wanita itu sangatlah luar biasa.
Lebih tepatnya perusahaan itu adalah milik sang ayah, tetapi karena dia sudah lulus kuliah wanita itu membantu ayahnya untuk mencari perusahaan besar yang bisa diajak kerjasama.
Wanita muda itu begitu bersemangat untuk mengembangkan perusahaan ayahnya, karena dia juga ingin membuktikan kepada ayahnya jika dia adalah wanita yang berguna.
Banyak juga orang yang berkata jika dulu sang ayah merasa menyesal karena memiliki anak perempuan, karena sang ayah menginginkan anak laki-laki.
__ADS_1
Maka dari itu, wanita itu ingin membuktikan kepada sang ayah jika anak perempuan juga bisa bekerja, berkembang dan menghasilkan. Bahkan, wanita juga bisa sukses seperti layaknya anak laki-laki.
Karena mendengar semangat dari wanita itu, Sagara bahkan sampai rela untuk datang. Karena memang kebetulan dia juga mempunyai resor di kota tersebut, resor di tepi pantai yang indah dan nampak memanjakan mata.
Selepas shalat dzuhur Sagara meminta wanita itu untuk datang ke resor miliknya, tentu saja dengan bersemangat wanita itu datang dengan membawa proposal pengajuan kerjasama yang sudah disusun dengan begitu rapi.
"Selamat siang, Tuan Sagara. Saya sangat senang anda mau bertemu dengan saya, saya juga sangat senang karena anda memberikan kesempatan kepada saya untuk mempresentasikan ide-ide saya," ujar wanita itu.
Sagara tersenyum saat melihat wanita cantik yang berada di hadapannya, wanita itu berpenampilan dengan begitu sopan. Bahkan, wanita itu terlihat berhijab.
Matanya terlihat bulat, hidungnya mancung, bulu matanya terlihat begitu lentik. Bibirnya kecil tetapi terlihat begitu tebal, wajahnya bulat dengan pipinya yang terlihat tirus.
Sungguh wanita itu sangat cantik sekali di mata Sagara, kulitnya yang berwarna kuning langsat seakan semakin membuat wanita itu terlihat lebih cantik.
Selama ini wanita yang datang mendekati Sagara memang begitu cantik-cantik, tetapi mereka tidak cantik alami seperti wanita yang saat ini berada di hadapannya.
Karena wanita yang ada di hadapannya sama sekali tidak memakai make up, hanya bibirnya saja yang terlihat dipoles dengan gincu berwarna merah muda.
"Selamat siang juga, Nona--"
"Ainun, Tuan. Nama saya Ainun," jawab wanita itu.
Ainun tersenyum dengan begitu sopan ke arah Sagara dia juga sempat menolehkan wajahnya ke arah Kenzo dia tersenyum dengan begitu hangat lalu duduk tepat di hadapan Sagara dan juga Kenzo.
"Terima kasih, Tuan," ujar Ainun seraya duduk lalu membuka proposal yang sudah dia bawa.
"Kerjasama apa yang ingin anda ajukan kepada saya?" tanya Sagara dengan tenang.
Walaupun pada kenyataannya dia merasa sedikit resah karena ternyata Kenzo tidak jadi main air, anak itu malah duduk anteng di sampingnya dan tidak mau ke mana-mana.
Terlebih lagi ketika melihat wajah Ainun yang begitu ayu, Kenzo nampak tidak berkedip. Anak berusia 5 tahun itu bersikap dengan tenang, tetapi tatapan matanya tidak lepas dari Ainun.
Sagara bahkan sempat menolehkan wajahnya ke arah Kenzo, dia merutuki keponakannya tersebut yang terlihat begitu menyukai Ainun. Sagara bahkan terlihat mencondongkan wajahnya ke arah Kenzo, lalu dia berbisik tepat di telinga keponakannya tersebut.
"Jangan terus menatapnya seperti itu, kamu itu sudah seperti pria tua yang kegenitan."
"Ck! Om berisik, aku hanya sedang mencocokan. Bukan kegenitan," jawab Kenzo dengan berbisik juga.
Sagara hanya bisa menggelengkan kepalanya mendengar jawaban dari keponakannya tersebut, entah mencocokan apa dia pun tidak paham.
Namun, pria itu tidak mau mengambil pusing. Dia langsung tersenyum ke arah Ainun dan meminta wanita itu untuk mempresentasikan kerjasama yang akan dia tawarkan.
__ADS_1
"Jadi begini, Tuan. Untuk resor di tepi pantai sudah sangat banyak di kota B ini, bagaimana kalau kita membuat resor yang ada di lembah gunung. Kebetulan ayah saya memiliki tanah yang begitu luas di sana, saya menyediakan tanahnya dan anda menyediakan dananya untuk membuat resor di sana," tawar Ainun.
Ayah dari Ainun memang mempunyai tanah yang begitu luas di lembah gunung dulu ayahnya itu menggunakan tanahnya itu untuk menanam sayuran.
Tentunya dulu dengan berjualan sayuran menghasilkan banyak uang, bahkan Ainun pun bisa bersekolah dengan uang hasil dari berdagang sayuran.
Namun, seiring berjalannya waktu banyak masyarakat yang sadar jika biaya hidup ini semakin hari semakin meningkat. Akhirnya banyak warga yang melakukan teknik menanam sayur organik di halaman rumah masing-masing, menggunakan lahan sedikit untuk bisa menanam banyak sayuran.
Tentu saja hal itu berdampak negatif untuk usaha dari ayahnya Ainun, sayuran yang ayah Ainun tanam kurang laku dan banyak yang busuk. Rugi yang akhirnya mereka dapatkan.
"Hem, seperti apa tema resor yang kamu ingin bangun di lembah gunung itu?" tanya Sagara.
"Menyatu dengan alam," ujar Ainun.
"Bisa dijelaskan lagi," pinta Sagara.
Ainun tersenyum lalu menjelaskan dengan ide yang sudah dia lontarkan, bahkan Ainun juga sudah membuat desain untuk resor yang ingin dia bangun di lembah gunung tersebut.
Wanita itu mempresentasikan idenya dengan begitu baik, bahkan menurut Sagara ide yang dilontarkan dari Ainun benar-benar sangat luar biasa. Tentunya setelah Sagara mendengarkan penjelasan dari Ainun.
"Bagaimana, Tuan? Apakah anda bisa bekerja sama dengan saya? Saya yakin jika resor-nya sudah jadi, pasti akan menjadi tempat berlibur yang sangat bagus. Pasti akan banyak pengunjung yang lebih memilih menyewa resor di lembah gunung, karena mereka benar-benar merasa menyatu dengan alam," ujar Ainun.
Ide yang dilontarkan oleh Ainun memang sangatlah bagus, terlebih lagi ketika dia melihat foto-foto lembah gunung yang dibawa oleh Ainun, Sagara benar-benar menyukainya.
Jika di sana dijadikan resor, Sagara juga yakin jika banyak orang yang akan merasa betah tinggal di resor tersebut, karena begitu menyatu dengan alam.
"Lalu, apalagi yang istimewanya dari tempat yang nantinya akan dibangun itu?" tanya Sagara.
"Kita bisa mengadakan tempat rekreasi untuk keluarga, semisalkan bersepeda dengan jalur yang asik. Atau, bisa juga dengan mengadakan permainan seperti flying fox. Atau mungkin berkeliling resor dengan menggunakan perahu, kita bisa membuat sungai buatan di sekeliling resor agar lebih terlihat menyatu dengan alam."
Jika di resor tersebut banyak tempat rekreasi, pastinya orang-orang yang datang akan semakin betah. Akan semakin menarik orang yang ingin berlibur, walaupun membutuhkan dana yang begitu besar, tetapi Sagara sudah bisa menghitung keuntungan yang akan dia dapatkan.
"Hem! Ide yang sangat bagus, dananya juga sudah pasti sangat bagus," ujar Sagara.
Mendengar apa yang dikatakan oleh Sagara, Ainun merasa ketar-ketir. Dia takut jika sagara tidak akan mau bekerja sama dengan dirinya, karena memang untuk pembangunan resor tersebut membutuhkan kucuran dana yang begitu besar.
"Jadi, bagaimana, Tuan? Biasakah anda bekerja sama dengan saya?" tanya Ainun dengan was-was.
** Jangan lupa mampir juga di karya Mamak yang satu ini**
__ADS_1