
Aruna langsung mendongakkan kepalanya, lalu dia menatap pria paruh baya itu dengan begitu lekat. Baik Aruna ataupun pria paruh baya itu nampak terdiam, mereka benar-benar kaget karena saat mereka saling tatap, mereka seakan melihat bayangan wajah masing-masing.
"Siapa dia, Saga? Siapa wanita ini?" tanya pria paruh baya itu.
"Dia itu Aruna, Ayah. Wanita muda yang aku ceritakan kepada Ayah, mirip dengan Ayah, kan?" tanya Sagara seraya bangun dan menuntun sang ayah untuk duduk tepat di samping Aruna.
Setelah pertemuan pertamanya dengan Aruna, Sagara melihat kemiripan antara wanita itu dengan ayahnya. Maka dari itu dia menghampiri Aruna dan mengajak Aruna untuk mengobrol.
Untuk pertemuan keduanya dengan Aruna, Sagara semakin yakin jika Aruna adalah kakak kandungnya. Hal itu bisa dia simpulkan ketika Sagara melihat kalung yang dipakai oleh Aruna.
"Aruna," panggil Satria.
Mendengar Satria yang memanggil namanya, Aruna tidak menjawab. Dia hanya menatap wajah pria paruh baya itu dengan tatapan yang begitu sulit untuk diartikan.
Namun, di dalam hatinya Aruna mengakui jika pria yang berada di hadapannya adalah ayah kandungnya. Karena dilihat dari sisi mana pun dirinya begitu mirip dengan pria itu, bahkan Aruna merasa jika dirinya sedang berdiri di depan cermin.
Satria menatap wajah Aruna dengan tatapan penuh rindu, air matanya bahkan mengalir dengan begitu deras. Dia begitu merindukan putrinya yang sudah hilang selama dua puluh delapan tahun lamanya.
"Sayang, ini Ayah. Peluk Ayah, Sayang." Satria merentangkan kedua tangannya, dia benar-benar merasa rindu dengan putri cantiknya yang telah lama hilang.
Aruna terus aja menatap wajah Satria dengan begitu lekat, dia tidak langsung menghambur ke dalam pelukan pria itu. Walaupun Sagara sudah memberikan kode kepada Aruna untuk memeluk ayahnya.
Tidak lama kemudian, Aruna mengusap pipi Satria dengan senyum manis di bibirnya. Namun, air matanya mengalir dari kedua pipinya. Bahkan, matanya terlihat begitu memerah.
"Apakah anda sangat yakin jika saya adalah putri anda yang hilang?" tanya Aruna dengan suara yang bergetar.
__ADS_1
Satria langsung menganggukkan kepalanya, tentu saja dia sangat yakin karena melihat wajah Aruna yang begitu mirip dengan dirinya. Terlebih lagi ketika dia melihat kalung yang dipakai oleh Aruna, kalung yang dia belikan ketika Aruna terlahir ke dunia ini.
Tidak mungkin jika itu adalah kebetulan semata, karena nyatanya di dunia ini tidak ada yang namanya kebetulan.
"Sangat yakin, apakah kamu tidak bisa melihat wajahku begitu sama dengan wajah kamu? Hanya saja kamu Satria dalam versi wanita," ucap Satria seraya terkekeh.
"Apakah anda yakin tidak ingin melakukan tes Dna? Bisa saja wajah kita memang hanya mirip, tapi tidak ada ikatan darahnya," ujar Aruna lagi.
Satria tersenyum, lalu dia melepaskan kalung yang melingkar di leher Aruna. Dia membalik liontin dari kalung yang Satria beli ketika Rachel melahirkan putrinya tersebut.
"Lihatlah, Sayang. Ini adalah kalung yang Ayah berikan untuk kamu ketika kamu dilahirkan," ucap Satria seraya menunjukan inisial S dan juga R di belakang liontin kalung tersebut.
Tanpa banyak bicara Aruna langsung menghambur ke dalam pelukan Satria, dia langsung menangis sejadi jadinya di dalam pelukan ayah kandungnya tersebut.
Bahagia sekali rasanya bisa bertemu kembali dengan ayahnya, bahagia sekali rasanya bisa dipeluk oleh ayahnya. Sagara ikut duduk di samping Aruna dan ikut memeluk Aruna.
"Bagus ya, aku di dalam sedang menangis karena putraku dalam keadaan kritis. Terus kalian malah memeluk seorang wanita yang tidak jelas. Maksud kalian apa coba?" gerutu wanita paruh baya itu.
Aruna, Sagara dan juga Satria langsung melerai pelukannya. Kemudian, mereka menolehkan wajahnya ke arah wanita paruh baya tersebut.
Wanita paruh baya itu terlihat syok saat melihat wajah Aruna, dia bahkan langsung meluruhkan tubuhnya ke atas lantai. Lalu, wanita itu menatap wajah Aruna dan juga Satria secara bergantian.
"Siapa wanita itu, Sayang? Katakan siapa dia?" tanya wanita itu dengan derai air mata di kedua pipinya.
Wanita itu sempat berpikir jika suaminya sudah berselingkuh dengan wanita lain, lalu kini anak dari wanita selingkuhannya datang dan meminta haknya sebagai seorang anak.
__ADS_1
Satria tidak langsung menjawab pertanyaan dari wanita itu, dia langsung bangun dan menuntun wanita itu untuk duduk di samping Aruna
Wanita yang tidak lain dan tidak bukan adalah istrinya, Rachel. Wanita yang sudah melahirkan Aruna ke dunia ini, wanita kesayangannya Satria.
Rachel duduk tepat di samping Aruna dengan tatapan matanya yang tidak lepas dari wajah wanita itu, tatapan mata Rachel menyiratkan kesedihan dan juga rindu yang begitu dalam.
Tidak lama kemudian, Rachel menolehkan wajahnya ke arah Satria. Dia seolah bertanya kepada suaminya tersebut, siapa wanita yang ada di hadapannya.
"Dia adalah Aruna, Sayang. Putri kita yang diculik dua puluh delapan tahun yang lalu," jawab Satria.
Rachel terdiam sesaat dengan apa yang dikatakan oleh Satria, rasanya dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang sudah dia dengar.
"Putriku? Dia putriku, Mas? Dia putri cantik kita, Mas?" tanya Rachel.
"Iya, Sayang," jawab Satria.
Rachel langsung menangis sesenggukan mendengar apa yang dikatakan oleh suaminya tersebut, dengan cepat dia menarik lembut tubuh Aruna dengan penuh kasih.
"Apakah aku sedang bermimpi, Sayang? Tolong cubit aku, agar aku yakin jika aku benar-benar bertemu dengan putriku!" pinta Rachel.
Satria tertawa mendengar permintaan dari istrinya, Rachel adalah istri yang sangat ia cintai, mana mungkin dia akan mencubit wanitanya. Satria malah menunduk lalu dia mengecup bibir wanita itu dengan begitu mesra.
"Mas!" pekik Rachel, sedangkan Sagara hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Iya, Sayang. Dia putri kita, kamu tahu, Yang. Kata Saga kita sudah mempunyai cucu perempuan, aku ingin segera melihatnya. Apakah kamu juga ingin melihatnya? Katanya dia sedang sakit, aku ingin melihatnya. Aku ingin mengetahui keadaanku cucuku," jelas Satria.
__ADS_1
Melihat Satria, Rachel dan juga Segara yang begitu percaya kepada dirinya, Aruna yang sejak tadi diam kembali bersuara.
"Kenapa kalian begitu yakin jika aku adalah Aruna, putri kalian? Apakah kalian benar-benar tidak mau melakukan tes DNA?" tanya Aruna memastikan.