
Beberapa saat sebelumnya.
Almira melihat kepergian Aruna dan juga Sam dengan perasaan was-was, apalagi dia merasa jika sikap Sam sangat aneh. Aruna juga terlihat begitu aneh, Aruna terlihat seperti sedang mabuk dan tidak sadar dengan apa yang dia perbuat.
Padahal, saat Aruna datang nampak baik-baik saja. Timbul pikiran jelek di dalam otak Almira, dia mulai berpikir jika Sam melakukan jalan pintas untuk bisa mendapatkan Aruna kembali.
"Ya Tuhan! Semoga saja pikiran aku salah," ujar Almira.
Almira berusaha untuk menenangkan hati dan juga pikirannya, dia bahkan berusaha untuk mengistirahatkan tubuhnya dan memejamkan matanya.
Namun, tetap saja hatinya tidak tenang. Dia terus saja teringat akan Aruna, tidak lama kemudian dia mendengar bunyi ponsel yang terdengar dengan begitu nyaring.
Rupanya ponsel milik Sam tertinggal dan berbunyi, karena takut ada hal yang penting Almira berusaha untuk bangun. Dia mengambil ponsel milik Sam yang berada di atas nakas, lalu dia menggeser tombol hijau.
"Selamat bersenang-senang, bos! Semoga berhasil, dosisnya sudah pas dan pasti aman."
Terdengar suara seorang pria mengatakan hal tersebut, setelah mengatakan hal itu dia langsung memutuskan sambungan teleponnya. Almira langsung mengusap dadanya yang berdebar dengan kencang.
"Sam, kamu berbuat curang, Nak?" tanya Almira lirih.
Almira memang begitu menyayangi putranya, dia juga sama seperti Sam yang tidak ingin ditinggalkan oleh Aruna. Namun, bukan dengan cara yang salah.
Almira berusaha untuk turun dari ranjang pasien, dia berjalan dengan kesusahannya karena harus membawa tiang infus. Saat dia berhasil keluar dari dalam ruangannya, Almira berusaha untuk mencari bantuan. Karena dia merasakan tubuhnya begitu lemas.
Saat dia sedang mencari bantuan, kebetulan ada seorang pria berawakan tinggi besar menghampirinya. Almira sempat ketakutan dibuatnya.
"Maaf, Nyonya. Saya, Ben. Apakah nona Aruna masih ada di dalam?" tanya Ben.
Ben awalnya ingin ikut masuk ke rumah sakit, tetapi Aruna berkata jika dia akan masuk sendiri karena tidak akan lama. Ben disuruh menunggu di parkiran rumah sakit, tetapi Aruna tidak kunjung datang.
"Kamu siapa?" tanya Almira.
"Saya pengawal nona Aruna," jawab Ben.
"Ah, syukurlah justru aku ingin meminta bantuan. Tadi Aruna pergi diantar oleh Sam, karena Aruna tiba-tiba saja tidak enak badan. Bisakah kamu memastikan jika Aruna memang pergi ke kediaman Dinata?" jelas Almira.
__ADS_1
"Sebentar," ujar Ben seraya mengambil ponselnya lalu menghubungi Satria.
Saat Almira dan juga Ben sedang berbicara, kebetulan sekali Sigit baru saja keluar dari ruang perawatan milik ayahnya. Mendengar nama Aruna disebutkan, Sigit langsung menghampiri keduanya.
"Ada apa ini?" tanya Sigit saat melihat Ben yang panik.
"Nona Aruna di bawa oleh tuan Sam, Tuan," jawab Sigit yang memang mengenal sahabat dari anak majikannya tersebut.
"Ya ampun! Ke mana dia membawa Aruna?" tanya Sigit dengan khawatir.
"Sepertinya ke kediaman Rahardi," jawab Ben seraya memperlihatkan layar ponselnya.
"Ck! Dasar berengsek! Kamu jaga Ibunya si brengsek itu, aku akan menyusul Aruna." Sigit langsung pergi setelah mengatakan hal itu.
Tentunya sebelum Sigit pergi, dia meminta beberapa pengawal yang bekerja kepada ayahnya untuk menyusul dirinya ke kediaman Rahardi.
Ben menganggukkan kepalanya lalu membantu Almira untuk masuk, Almira menurut walaupun dalam keadaan kebingungan.
"Jangan terlalu banyak pikiran, Nyonya." Ben membantu Almira merebahkan tubuhnya.
"Oiya, Nyonya. Apa tuan Sam tadi melakukan sesuatu kepada nona Aruna?" tanya Ben.
Ben sengaja bertanya seperti itu, karena dia sangat yakin jika Aruna pasti tidak akan mau pergi bersama dengan Sam. Terlebih lagi keluarga Dinata sangat membenci yang namanya perselingkuhan.
"Aku tidak tahu, tadi Sam memberikan itu pada Aruna. Lalu, sikap Aruna jadi aneh," ujar Almira seraya menunjuk botol jus alpukat yang ada di atas nakas.
Dengan cepat Ben mengambil botol berisi jus alpukat tersebut, lalu dia meminta izin untuk segera pergi kepada Almira. Dia ingin menemui salah satu dokter yang ada di sana dan menanyakan isi dari kandungan yang ada di dalam jus tersebut.
Di kediaman Rahardi.
Sigit yang baru saja tiba di kediaman Rahardi langsung masuk tanpa izin, bahkan saat ada pelayan perempuan yang mencegahnya, Sigit langsung mendorong pelayan wanita itu dengan kasar.
"Di mana kamar Sam?" tanya Sigit.
"Di sana, Tuan!" tunjuk pelayan dengan tubuh yang bergetar hebat, karena pelayan itu melihat kemarahan yang luar biasa dari mata Sigit.
__ADS_1
Tanpa basa basi lagi Sigit langsung berlari menuju kamar Sam, saat dia berusaha untuk membuka kamar tersebut, ternyata pintu kamar itu terkunci. Sigit yang begitu kesal langsung kembali menemui pelayan yang tadi menyapanya.
"Berikan kunci cadangannya!" teriak Sigit dengan tidak sabar.
"Baik, Tuan," jawab pelayan itu dengan takut.
Dengan cepat pelayan wanita itu mengambil kunci cadangan yang berada di lemari dekat ruang keluarga, lalu dia menghampiri Sigit dan memberikan kunci cadangan tersebut.
"Ini kuncinya, Tuan."
"Hem!" jawab Sigit yang dengan cepat mengambil kunci itu dan berlari ke arah kamar Sam.
Dengan tidak sabarnya Sigit membuka pintu kamar Sam, saat pintu kamar terbuka Sigit terlihat begitu kaget karena dia melihat Sam dan Aruna sedang dalam keadaan polos.
Sam bahkan sedang berada di atas tubuh Aruna, pria itu sedang memagut bibir Aruna dengan penuh hasrat. Tangan kanannya bahkan sedang meremat kedua dada Aruna dengan kasar, sedangkan tangan kirinya dia gunakan untuk menumpu tubuhnya.
"Hentikan bedebah gila!" teriak Sigit dengan amarah yang sudah di ubun-ubun.
Sam yang kaget mendengar teriakan dari Sigit langsung menghentikan aktivitasnya, lalu dia menolehkan wajahnya ke arah Sigit.
Terlihat sekali jika Sam begitu marah kepada pria itu. Dia turun dari tubuh Aruna dan mengambil handuk untuk menutupi tubuh polosnya.
Lalu, dia mengambil selimut untuk menutupi tubuh polos Aruna. Karena terus terang saja dia merasa tidak rela jika tubuh Aruna dilihat oleh pria lain.
"Saya tahu jika anda sekarang adalah atasan saya, tapi anda tidak seharusnya masuk ke dalam kamar saya tanpa izin. Lagi pula urusan pekerjaan sudah selesai, lalu un--"
Belum juga Sam menyelesaikan ucapannya, Sigit sudah terlebih dahulu melayangkan bogem mentah tepat di rahang Sam. Sam yang tidak siap mendapatkan serangan dari Sigit langsung jatuh tersungkur ke atas lantai, sudut bibirnya bahkan terlihat mengeluarkan darah.
"Ck! Ini bukan masalah kerjaan sialan! Ini masalah Aruna, lagi pula kalian sudah bercerai. Dasar sialan!" teriak Sigit dengan penuh amarah.
Sigit dengan cepat menghampiri Aruna yang sedang menggeliatkan tubuhnya, bahkan selimut yang tadi Sam pakaikan sudah terlepas dan membuat tubuh molek Aruna terekspos.
"Jangan dekati, Aruna!" teriak Sam yang dengan cepat bangun dan berusaha untuk memukul Sigit.
Sayangnya Sigit terlihat begitu gesit, dengan cepat Sigit menendang dada Sam. Kembali pria itu jatuh tersungkur, Sigit tertawa dan langsung mengambil selimut dan melilitkannya di tubuh Aruna.
__ADS_1