Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 110


__ADS_3

Kehidupan Aruna yang dulunya sempat sepi, sempat sedih dan sempat merana, kini berubah menjadi kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan.


Selain bisa berkumpul dengan keluarga kandungnya, dia juga bisa menikah dengan pria muda yang begitu pengertian, perhatian, penuh cinta dan juga selalu memperlakukan Aruna dengan begitu baik.


Aruna juga begitu bahagia karena bisa dikaruniai tiga orang anak yang cantik dan juga tampan. Ayana Balqis Rahardi, putri pertamanya dari pernikahannya bersama dengan Sam itu kini sudah berusia dua puluh dua tahun.


Ayana baru saja pulang dari luar negeri setelah menyelesaikan S2 manajemen bisnis, kini dia membantu Sigit dalam menjalankan perusahaan Siregar.


Putra keduanya Kenzo Adriana Siregar, kini anak itu berusia tujuh belas tahun. Anak kedua Aruna dari Sigit itu kini sedang duduk di bangku SMA, anak itu sangat pandai dan selalu menjadi juara umum.


Lalu, anak ketiga dari Aruna yang bernama Alice Humaira Siregar itu kini sudah duduk di bangku kelas 1 SMP. Anak cantik itu sama halnya seperti Kenzo, pandai dan selalu berprestasi.


Lalu, bagaimana dengan Ayaka?


Ayaka hanya mengenyam pendidikan kuliah S1 saja, itu pun dia berjuang di jalur beasiswa. Karena dia ingin membanggakan orang-orang yang dia cintai, kini dia mengurusi semua Resto peninggalan Almira. Karena Ayana ingin bagi hasil saja, dia sudah sibuk dengan mengurusi perusahaan Siregar.


Walaupun pada kenyataannya Sam mampu membiayai sekolah Ayaka, tetapi anak itu selalu saja berusaha untuk bisa sekolah dengan jalur beasiswa.


Jangan tanya kenapa Sam kini bisa membiayai Ayaka, karena kini Sam mempunyai toko buku yang lumayan besar. Dia bahkan memiliki lima karyawan, Sam menjalani kehidupannya dengan begitu baik.


Dia mengembangkan usahanya dengan begitu serius tanpa berniat untuk menikah kembali, dia begitu serius mengurusi anaknya, Ayaka. Karena itu merupakan cara dari Sam untuk menebus kesalahannya di masa lalu, dia sudah meninggalkan Ayaka selama 6 tahun di penjara.


Begitupun dengan Angel, wanita itu selalu menyempatkan waktu untuk menemui Ayaka. Walaupun dia sudah menikah kembali dengan seorang pengusaha furniture kecil-kecilan, tetapi dia tidak melupakan kewajibannya terhadap Ayaka.


"Sayang, sepertinya akhir-akhir ini kamu terlalu bekerja dengan begitu keras. Bagaimana kalau Ayah mencarikan asisten pribadi untuk kamu?" tanya Sigit kepada Ayana.


Ayana sempat menolehkan wajahnya ke arah Sigit, lalu dia kembali melanjutkan aktivitasnya.


"Boleh, Pa. Atur saja," jawab Ayana dengan mulut yang penuh dengan makanan.


Wanita itu sedang melaksanakan sarapan bersama dengan keluarganya, karena Aruna tidak akan membiarkan anak dan suaminya keluar dari rumah dengan perut kosong.


"Oke, Papa akan minta Ben untuk mencari asisten untuk kamu," ujar Sigit.


"Siap, Pa!" jawab Ayana.


Aruna tersenyum karena putrinya begitu bersemangat dalam bekerja, dia mengulurkan tangannya lalu mengelus lembut puncak kepala putrinya itu.


"Jangan terlalu cape dalam bekerja, ingat! Kamu itu perempuan," ujar Aruna yang sebenarnya sudah ingin melihat putrinya berkenalan dengan seorang pria.


Entah sebagai teman ataupun sebagai teman dekat, karena dari dulu Ayana begitu serius dalam bersekolah. Anak pertama dari Aruna itu bahkan tidak pernah terlihat dekat dengan seorang pria bahkan berpacaran.


Padahal, sudah banyak pria yang mendekati Ayana. Bahkan, Aruna dan Sigit juga sudah mengenalkan Ayana kepada anak dari teman bisnis Sigit. Namun, anak itu begitu cuek terhadap pria.

__ADS_1


Begitupun dengan Kenzo, anak itu banyak didekati oleh wanita. Kenzo tumbuh menjadi anak yang sangat tampan dan juga manis. Herannya anak itu juga tidak merespon wanita-wanita yang mendekatinya, tetapi Aruna merasa senang karena memang Kenzo terbilang masih sangat muda.


"Ya, Buna. Aku merasa sangat senang bisa bekerja di perusahaan Papa, tidak cape kok. Hanya suka lelah saja kalau lagi banyak kerjaan," jawab Ayana.


"Hem! Buna paham, kamu jangan lupa kalau siang sempetin minum jus. Konsumsi vitamin c juga," ujar Aruna mencoba untuk mengingatkan putrinya.


"Ya, Buna," jawab Ayana.


Setelah selesai sarapan, Sigit dan juga Ayana langsung pergi ke perusahaan Siregar. Sedangkan Aruna pergi untuk mengantarkan Kenzo dan juga Alice.


Saat Aruna keluar dari kediamannya, seorang pria muda nampak memperhatikan wajah Aruna tidak jauh dari sebrang jalan. Dia tersenyum dengan begitu lebar ketika Ayana masuk ke dalam mobil bersama dengan Sigit.


"Ternyata kamu sudah besar adik kecil, kamu sangat cantik." Pria itu tersenyum kemudian pergi dari sana setelah melihat mobil yang ditumpangi oleh Ayana pergi menjauh.


Pasti kalian bertanya-tanya dengan siapa sosok pria tersebut, tentu saja pria itu adalah Stefano. Pria itu baru kembali dari luar negeri seminggu yang lalu, setelah ibunya meninggal dunia karena penyakit yang dideritanya sejak lama.


Stefano selama ini bekerja di perusahaan asing, tetapi setelah ibunya meninggal dia memutuskan untuk pulang ke tanah air. Dia ingin mencari pekerjaan di tanah air.


Selain itu, Stefano juga begitu merindukan sosok anak kecil yang dulu pernah tinggal satu atap bersama dengan dirinya. Anak kecil yang membuat dirinya jatuh hati, padahal anak kecil itu baru berusia enam tahun ketika mereka berpisah.


"Masuklah ke ruangan kerja kamu, Sayang. Papa mau berbicara dengan Ben," ucap Sigit lalu mengecup kening putrinya dengan penuh kasih.


Walaupun Ayana bukan anak kandung Sigit, tetapi pria itu begitu menyayanginya. Bahkan, Sigit saat ini begitu memperhatikan Ayana.


Dia ingin mencarikan asisten pribadi untuk putrinya tersebut, tentunya Sigit ingin mencarikan asisten pribadi yang cakap dan berpengalaman untuk Ayana.


Saat tiba di dalam ruangannya, Ayana tentunya tidak langsung bekerja. Kegiatan pagi sebelum bekerja yang tidak boleh dilewatkan adalah menghubungi adik tercintanya.


Maka dari itu, Ayana langsung mengambil ponselnya dan melakukan panggilan video call kepada Ayaka.


"Pagi adikku, Sayang. Kaka rindu," ujar Ayana.


"Pagi Kakakku, Sayang. Aku pun sangat rindu, tapi untuk satu bulan ke depan kita tidak akan bisa bertemu. Hanya bisa video call saja," jawab Ayaka.


Ayaka terlihat begitu sedih, sedangkan Ayana terlihat begitu kaget mendengar apa yang dikatakan oleh adiknya tersebut.


"Loh, kok gitu?!" ucap protes Ayana.


Padahal, Ayana sudah berencana akan mengajak adiknya tersebut untuk pergi malam minggu nanti. Dia ingin mengajak adiknya untuk bersenang-senang di pesta ulang tahun teman kuliah Ayana.


"Aku sedang berada di luar kota, Kak. Aku sedang berusaha untuk mengembangkan resto kita," jelas Ayaka.


"Kamu begitu bekerja keras sendirian, maaf karena Kakak malah tidak membantu kamu." Ayana menatap wajah Ayaka dengan tidak enak hati.

__ADS_1


Selama ini Ayana tinggal bersama dengan Sigit, rasanya dia menjadi tidak enak hati jika harus mengelola Resto. Karena Sigit sempat mengeluh masalah pekerjaan kepada Aruna.


'Ken masih sangat kecil, kalau saja sudah besar aku pasti sangat senang karena dia akan membantu perusahaan.'


Perusahaan Sigit kini sedang berada di atas, Ayana rasanya ikut bertanggung jawab untuk membantu ayah sambungnya tersebut. Setidaknya sampai Kenzo lulus kuliah, pikirnya.


"Santai, Kak. Alhamdulillah aku bisa menghandle semuanya," ujar Ayaka dengan senyum manis di bibirnya.


"Semangat selalu, adikku, Sayang. Ayah bagaimana?" tanya Ayana.


"Ayah ngga ikut, kalau Kakak kangen temuin ayah aja. Dia kayaknya kemarin meriang deh, tolong jengukin ayah kita," pinta Ayaka seraya terkekeh.


"Aih! Aku pasti jenguk, selepas pulang nanti aku akan menjenguknya." Ayana ikut terkekeh, karena dia memang hanya meluangkan waktu satu minggu sekali untuk menginap di kediaman Sam.


"Terima kasih, kalau begitu aku kerja dulu. Sayang Kakak banyak-banyak," ujar Ayaka.


"Kakak juga sayang kamu, Dek." Ayana tersenyum lalu memutuskan sambungan video call-nya.


Setelah itu, Ayana langsung memulai pekerjaannya. Seperti biasanya, wanita itu akan begitu serius dalam mengerjakan pekerjaannya. Hingga dua jam kemudian, dia dikejutkan oleh kedatangan Sigit, Ben dan juga seorang pria muda yang terlihat begitu tampan.


Mereka bertiga masuk tanpa permisi, tentu saja Ayana nampak begitu kaget dengan kedatangan mereka. Bahkan, Ayana seakan merasa akan di sidang karena kedatangan mereka yang begitu tiba-tiba.


Sigit bahkan tanpa ragu langsung duduk di salah satu sofa yang ada di sana, lalu dia juga meminta Ben pria muda itu untuk ikut duduk bersama dengan dirinya.


"Ada apa, Pa? Apa aku melakukan kesalahan?" tanya Ayana dengan takut-takut.


"No, Sayang! Mana mungkin putri Papa melakukan kesalahan, Papa sudah mendapatkan asisten pribadi untuk kamu. Kemarilah!" ucap Sigit.


Ayana tersenyum setelah mendengar apa yang dikatakan oleh ayah sambungnya itu, karena ternyata ayahnya membawa seorang pria untuk dijadikan asisten pribadi untuknya.


Ayana dengan patuh bangun dan segera duduk tepat di samping Sigit, Sigit terlihat mengelus lembut punggung putrinya lalu berkata.


"Kenalkan, Sayang. Ini Stefano, mulai hari ini dia yang akan menjadi asisten pribadi kamu. Dia merupakan pria yang sudah berpengalaman, kamu bisa menanyakan apa pun kepadanya yang belum Kamu tahu."


Ayana langsung menolehkan wajahnya ke arah Stefano, lalu dia tersenyum seraya menganggukkan kepalanya.


"Selamat bergabung, Kak." Bukan karena genit Ayana memanggil Stefano dengan sebutan kakak, tetapi karena Ayana melihat Stefano yang jarak usianya terlihat jauh dengan dirinya.


"Terima kasih, Nona. Anda bisa menyebut saya dengan sebutan Fano, tidak usah panggil Kakak. Rasanya saya menjadi tidak enak hati jika anda memanggil saya dengan sebutan kakak," ujar Stefano.


Stefano nampak memandang wajah Ayana tanpa berkedip, tetapi Ayana tidak menyadari akan hal itu. Ben dan Sigit yang justru saling pandang, mereka seolah sedang saling bertanya.


Jangan tanya kenapa Sigit tidak mengenali Stefano, karena Sigit memang tidak tahu-menahu saat Aruna dan Satria mengadopsi Ayaka dari tangan Andin.

__ADS_1


"Aih! Okelah kalau begitu," ucap Ayana seraya terkekeh.


__ADS_2