Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
BUSM2 S2. Bab 12


__ADS_3

Cukup lama Pelayan yang disuruh oleh Kenzo merekam pembicaraan antara Anisa dan juga pria yang tidak dia kenal itu, hingga tidak lama kemudian pelayan wanita itu nampak menghampiri Kenzo.


"Ini, Tuan. Di dalam ponsel anda sudah terdapat rekaman percakapan antara kedua orang tersebut," ujar pelayan itu.


"Terima kasih," ujar Kenzo yang langsung mengambil ponselnya dari tangan pelayan tersebut.


Lalu, Kenzo mengambil dompet dan memberikan uang kepada pelayan itu. Pelayan wanita itu nampak bahagia sekali karena Kenzo memberikan uang yang cukup banyak.


"Terima kasih, Tuan," ujar pelayan itu.


Kenzo nampak tersenyum lalu menganggukkan kepalanya, setelah itu dia mengambil headset dan memakainya. Dia mendengarkan rekaman pembicaraan antara Anisa dan juga Sofyan, tentunya mata pria itu terus mengawasi pergerakan dari Anisa.


Kenzo nampak mengepalkan kedua tangannya dengan sempurna, bahkan dia terlihat mengeratkan giginya. Kenzo terlihat begitu emosi sekali.


"Oh! Jadi itu yang akan kamu lakukan terhadapku, Nisa." Kenzo berkata dengan begitu lirih seraya menatap kepergian Anisa bersama dengan Sofyan.


Anisa nampak mengekori langkah dari Sofyan, tentunya hal itu membuat Kenzo ingin dengan cepat mengikuti langkah keduanya.


Tidak lama kemudian, Anisa dan juga Sofyan masuk ke dalam sebuah apartemen berukuran sedang. Kenzo nampak kebingungan, haruskah dia ikut masuk ke dalam apartemen itu, pikirnya.


Karena dia ingin sekali mengetahui apa yang dilakukan oleh Anisa dan juga pria itu di dalam apartemen tersebut, sungguh Kenzo merasa penasaran.


Terlebih lagi ketika dia mengingat apa yang ditawarkan oleh Sofyan kepada Anisa, Kenzo jadi berpikir jika Anisa mungkin saja menerima tawaran dari Sofyan.


"Ayo, Ken. Elu harus lihat apa yang dilakukan oleh Anisa, agar Elu bisa mengambil keputusan yang terbaik," ujar Kenzo meyakinkan dirinya.


Setelah mengatakan hal itu, Kenzo nampak menelpon Sayaka. Dia ingin meminta tolong kepada pamannya itu, dia ingin meminta kunci cadangan dari apartemen milik Sofyan.


Tidak lama kemudian, Kenzo nampak pergi ke ruangan milik pamannya itu. Sedangkan di dalam apartemen milik Sofyan, pria itu kini nampak sedang merayu Anisa.


"Sa, kamu duduk dulu deh. Aku mau ke dapur dulu, ngambil air minum buat kamu." Sofyan menuntun Anisa untuk duduk di salah satu sofa yang ada di ruangan tersebut.

__ADS_1


"Ngga usah minum, Yan. Aku udah kenyang," jawab Anisa.


"Harus minum dulu, pan biar enak nanti kalau kita itunya. Biar rileks," ujar Sofyan dengan senang.


Bagaimana pria itu tidak merasa senang jika setelah cukup lama bernegosiasi dengan Anisa, wanita itu memutuskan untuk tidur dengan pria itu.


Tentunya dengan catatan mereka hanya melakukan satu kali saja, itupun pria itu harus menggunakan pengaman. Tentu saja Sofyan langsung mengiyakan, walaupun pada kenyataannya pria itu juga memiliki niat lain.


"Iya, aku mau minum teh hangat aja," ujar Anisa dengan raut wajah mulai gelisah.


Anisa benar-benar merasa gelisah dan juga takut, karena kini dia harus merelakan keperawanannya kepada pria lain selain dari suaminya. Namun, hal itu harus dia lakukan karena dia ingin mendapatkan Kenzo.


Hanya Sofyan yang dirasa bisa membantu dirinya, hanya pria itu yang bisa membantu dirinya untuk menjebak Kenzo agar mau menidurinya dan membuat dirinya hamil.


"Tunggu sebentar," ujar Sofyan.


Setelah mengatakan hal itu, Sofyan langsung melangkahkan kakinya menuju dapur. Lalu, dia membuatkan teh hangat untuk Anisa. Tidak lupa dia memasukkan satu pil berwarna putih ke dalam teh hangat itu.


Dia mengaduk teh manis itu dengan begitu perlahan, setelah memastikan pil itu larut dalam teh manis tersebut, Sofyan langsung menghampiri Anisa.


"Minumlah dulu, setelah itu aku akan mengajak kamu ke dalam kamar. Kita akan memulainya, anggap saja ini sebagai pembelajaran. Agar nanti ketika kamu bercinta dengan Kenzo, kamu sudah berpengalaman."


"Iya," jawab Anisa dengan raut wajah bingung. Lalu, wanita itu membuka cadar yang sejak tadi dia kenakan.


Walaupun seperti itu, dia tetap menerima teh manis yang dibuatkan oleh Sofyan. Setelah itu dia meminum teh manis itu sedikit demi sedikit, Sofyan sampai tersenyum lebar dibuatnya.


"Habiskan, Nisa. Setelah itu kita akan memulai semuanya," ujar Sofyan.


Anisa menganggukan kepalanya, Sofyan semakin senang dibuatnya. Tidak lama kemudian Sofyan nampak menghampiri Anisa, pria berkulit hitam manis itu nampak duduk tepat di samping Anisa.


Tanpa ragu bahkan Sofyan nampak hendak membuka hijab yang Anisa pakai, Anisa nampak menepis tangan Sofyan dan berkata.

__ADS_1


"Biar aku aja yang buka," ujar Anisa.


Bukan tanpa alasan Anisa mengatakan hal seperti itu, saat pria itu berusaha untuk membuka hijabnya, tangan Sofyan terasa mengusap tengkuk lehernya. Tentu saja hal itu membuat tubuh Anisa meremang dalam seketika.


"Hem," jawab Sofyan.


Anisa nampak membuka hijabnya, lalu dia terdiam seraya menatap wajah Sofyan. Pria itu sudah sejak lama mengatakan cinta kepada dirinya, tetapi Anisa berkata jika mereka hanya pantas menjadi sahabat saja.


"Kamu cantik, Nis," ujar Sofyan yang langsung memberanikan diri untuk menyatukan bibirnya dengan bibir Anisa.


Awalnya Anisa terlihat memberontak, dia berusaha untuk mendorong wajah Sofyan agar ciuman mereka terlepas. Namun, Sofyan malah memeluk pinggang Anisa dengan begitu erat menggunakan tangan kanannya.


Lalu, tangan kirinya dia gunakan untuk menekan tengkuk leher wanita itu. Tentu saja hal itu membuat Anisa tidak bisa berkutik, Sofyan merasa senang walaupun Anisa tidak membalas pagutan bibirnya.


"Ah!" desaah Anisa ketika tiba-tiba saja Sofyan menurunkan resleting depan gamis wanita itu, lalu tanpa ragu Sofyan meremat dada wanita itu.


Padahal, hatinya merasa tidak ingin melakukan hal itu. Namun, reaksi dari tubuhnya berkata lain. Anisa merasa senang diperlakukan seperti itu, bahkan tiba-tiba saja dia merasakan haus akan sentuhan.


"Engh!" lenguh Anisa ketika Sofyan menyesap ujung dada wanita itu.


Anisa ingin sekali melarang Sofyan untuk melakukan hal itu, tetapi dia merasakan kenikmatan yang luar biasa. Bahkan, rasanya Anisa ingin merasakan hal yang lebih. Wanita itu bahkan sampai menjambak rambut pria itu.


"Aduh!" keluh Anisa ketika Sofyan meloloskan gamis yang wanita itu pakai dan membuangnya secara asal.


Sofyan langsung tersenyum penuh arti, apalagi ketika dia melihat tubuh Anisa yang kini nampak polos karena ulahnya.


"Nikmati, Sayang. Kamu pasti akan merasakan kenikmatan yang luar biasa setelah ini," ujar Sofyan yang langsung menggendong tubuh Anisa menuju kamar utama.


Sofyan paham jika ini pastinya yang pertama kalinya untuk Anisa, dia tidak mau melakukannya dengan kasar. Dia ingin melakukannya dengan begitu lembut, maka dari itu dia ingin mengajak Anisa untuk bermain di atas tempat tidur saja.


"Mau langsung atau pemanasan dulu?" tanya Sofyan yang melihat wajah Anisa ini nampak memerah seperti menahan gairah.

__ADS_1


__ADS_2