Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Ba 124


__ADS_3

"Anu, Tuan. Ada hal penting yang harus saya pastikan, bolehkah saya bertemu dengan nyonya Aruna?" tanya Stefano dengan penuh permohonan.


Untuk sesaat Sigit terdiam, dia nampak memperhatikan wajah Stefano yang begitu ingin berbicara dengan Aruna. Namun, tidak lama kemudian pria itu berkata.


"Datanglah selepas makan malam, bicara dengan cepat dan jangan lama-lama."


Rasanya Sigit tidak rela jika istrinya harus berbicara dengan pria lain selain dirinya, terlebih lagi pria yang ada di hadapannya adalah pria yang jauh lebih muda dari dirinya.


"Alhamdulillah, terima kasih, Tuan. Nanti malam saya akan datang setelah anda selesai makan malam, anda sangat baik. Assalamualaikum!" ujar Stefano dengan senyum mengembang di bibirnya, lalu dia pergi dengan cepat dari hadapan Sigit.


Tentunya dia harus segera pergi karena takut Ayaka terlalu lama menunggunya, dia tidak mau membiarkan Ayaka sendirian di dalam mobilnya.


"Waalaikumsalam!" jawab Sigit dengan bingung karena hanya diizinkan untuk bertemu dengan istrinya, Stefano terlihat begitu senang.


Penasaran?


Tentu saja Sigit benar-benar penasaran dengan apa yang akan dibicarakan oleh Stefano terhadap istrinya, karena jujur saja dia tidak tahu kenapa Stefano seakan mengenal istrinya.


Sigit bahkan berencana akan menemani istrinya ketika berbicara dengan Stefano, dia harus mendengarkan sendiri apa yang akan dipastikan oleh Stefano kepada istrinya itu.


"Mana kak Ay, tanya Ayana ketika melihat Stefano yang masuk ke dalam mobil hanya sendirian saja.


Stefano nampak memakai sabuk pengamannya, lalu dia mulai menyalakan mesin mobilnya dan menolehkan wajahnya ke arah Ayaka.


"Nona Ayana sudah pulang dengan temannya," jawab Stefano.


Tumben sekali, pikirnya. Lalu, siapa teman dari Ayana yang datang dan menjemput kakaknya itu. Karena biasanya Ayana tidak pernah mau pergi dengan orang lain selain keluarganya, pastinya teman Ayana kali ini adalah teman yang sangat dekat, pikir Ayaka.


"Oh! Kalau gitu kita pulang aja, tapi kalau bisa mampir dulu ke swalayan. Mau beli bahan makanan buat makan malam nanti. Kayaknya udah ngga ada stok deh," ujar Ayaka.


Tadi pagi saat dia membuatkan sarapan, isi kulkas terlihat kosong. Lebih baik dia pergi ke swalayan terlebih dahulu agar nanti malam bisa memasak makanan yang dia inginkan.


"Siap, Nona!" jawab Stefano yang langsung melajukan mobilnya menuju tempat yang diinginkan oleh Ayaka.


Ayaka tersenyum melihat Stefano yang selalu nampak bersemangat, pria itu bahkan terlihat tidak ada lelahnya. Padahal, baru saja selesai bekerja.


Selama perjalanan, keduanya nampak saling diam. Sesekali Stefano akan menolehkan wajahnya ke arah Ayaka, begitupun sebaliknya. Jika pandangan keduanya bertemu, keduanya akan terkekeh dan terlihat malu-malu.


Tidak lama kemudian, Stefano nampak memberhentikan mobilnya tepat di depan swalayan. Keduanya langsung turun dan masuk untuk membeli keperluan untuk Ayaka, Stefano dengan setia berjalan di samping wanita itu sambil membawa troli.

__ADS_1


Ayaka langsung tersenyum karena tingkah Stefano sudah seperti seorang suami yang menemani istrinya saat berbelanja, sedangkan Stefano hanya diam seraya memperhatikan wajah Ayaka.


"Aku mau beli ikan dan juga sayuran, daging juga deh. Sama ayam juga," ujar Ayaka seraya mengambil beberapa sayuran segar.


Stefano nampak menganggukkan kepalanya mendengar apa yang dikatakan oleh Ayaka, tidak lama kemudian Stefano nampak melihat udang yang segar dan juga besar-besar.


"Udangnya juga sangat segar, Nona. Anda tidak mau membelinya?" tanya Stefano yang malah teringat akan Ayaka yang dulu sangat menyukai udang, Stefano bahkan harus diam-diam mengambil udang dan memberikannya kepada Ayaka.


"Kamu benar, aku juga suka udang." Gadis itu mengambil udang segar, lalu dia tersenyum kecut.


Selesai dengan membeli bahan makanan, Ayaka terlihat menuju rak di mana banyak makanan manis di sana. Stefano nampak menegur wanita itu.


"Nona, anda sudah terlihat begitu cantik dan juga manis. Bisakah anda mengurangi makanan yang manis?" tanya Stefano.


Awalnya Ayaka terlihat tersenyum malu-malu mendengar apa yang dikatakan oleh Stefano, tetapi tidak lama kemudian dia bertanya kepada pria itu.


"Eh? Memangnya kenapa?" tanya Ayaka dengan bingung dan juga dengan wajah yang sudah memerah.


"Wajah anda sudah sangat manis, saya takut makanan yang anda beli minder saat melihat wajah cantik anda."


Duh! Garing banget sih bang Fano, Ayaka sampai tertawa dibuatnya. Stefano yang melihat Ayaka tertawa langsung menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.


"Kamu tuh lebay banget, aku cuma mau ambil biskuit manis tapi sehat kok. Jangan khawatir," ujar Ayaka.


Bahkan, Stefano membantu Ayaka untuk menata semua makanan tersebut di dalam lemari pendingin.


"Kamu pulanglah, terima kasih sudah mau menemani aku berbelanja. Kalau mau, nanti malam datanglah untuk makan malam bersama," tawar Ayaka.


Stefano nampak galau, dia ingin pergi ke kediaman Sigit. Rasanya jika makan malam terlebih dahulu dengan Ayaka akan lama, karena dia pasti ingin terus bersama dengan wanita itu.


"Mungkin lain kali, Nona. Saya mau pergi soalnya," jawab Stefano.


"Ke mana? Jalan sama pacarnya, ya?" tanya Ayaka.


"Memangnya saya kelihatan sudah punya pacar, ya?" tanya Stefano.


Pertanyaan dari Stefano terdengar begitu ambigu di telinga Ayaka, wanita itu malah menyangka Stefano sudah memiliki kekasih. Namun, Stefano seakan begitu enggan untuk mengungkapkan siapa kekasihnya.


"Kamu beneran udah punya pacar?" tanya Ayaka lagi.

__ADS_1


Stefano langsung menggelengkan kepalanya dengan cepat, bahkan pria itu langsung mengibas-ngibaskan kedua tangannya di depan dada.


"Bukan, Nona. Saya belum punya pacar, ada perlu aja. Serius, hanya ingin bertemu dengan seseorang yang sangat penting." Stefano menjawab dengan tidak enak hati, mau jujur juga seakan malu.


Mendengar apa yang dikatakan oleh Stefano, Ayaka mulai berpendapat jika Stefano mempunyai wanita Incaran yang disukai.


"Oh!" ujar Ayaka yang bingung harus berbicara apa lagi.


Oh ya ampun! Stefano benar-benar merasa tidak enak hati saat melihat wajah Ayaka, wajah wanita itu berubah menjadi kesal dan bingung.


"Hey! Kalian ngapain berduaan di dapur?" tanya Ayana yang baru saja pulang.


"Lagi bobo bareng, Kak!" jawab Ayaka ketus lalu segera pergi meninggalkan Ayana dan juga Stefano.


Ayana sempat kebingungan mendengar jawaban dari adiknya tersebut, selain itu juga dia ingin tertawa tetapi takut adiknya akan semakin marah. Maka dari itu Ayana berusaha untuk menahan tawanya.


"Kenapa dia kaya orang marah gitu? Omongannya juga terdengar sangat aneh?" tanya Ayana kebingungan.


Stefano juga merasa aneh dengan sikap dari Ayaka, terlebih lagi ketika wanita itu mengatakan sedang bobo barang dengan dirinya.


"Entah!" jawab Stefano.


"Aneh, udah sana kamu pulang. Besok jemput lagi ya, nanti aku kasih tambahan gaji," ujar Ayana yang melihat wajah lelah Stefano.


"Iya, Nona. Saya permisi dulu," ujar Stefano yang langsung pergi dari kediaman Sam.


Selepas kepergian Stefano, Ayana langsung masuk ke dalam kamar. Dia melihat Ayaka yang nampak melamun seraya berdiri di depan jendela, tidak lama kemudian Ayaka nampak menutup jendelanya dengan wajah cemberut.


"Kamu kenapa sih, Dek?" tanya Ayana keheranan.


Ayaka seakan begitu enggan untuk menjawab pertanyaan dari kakaknya tersebut, dia hanya menghela napas berat lalu menjawab pertanyaan kakaknya tersebut dengan cepat.


"Ngga apa-apa!" jawab Ayaka yang langsung melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.


Ayana hanya bisa memandang kepergian adiknya dengan sejuta tanya di dalam hatinya, kelakuan dari adiknya tersebut benar-benar sangat membingungkan dirinya.


"Aneh! Ini sangat aneh," ujar Ayana dengan raut wajah bingung.


Lalu, Ayana nampak menolehkan wajahnya ke arah luar jendela. Dia mengernyitkan dahinya ketika melihat Stefano yang sedang menatap ke arah kamarnya.

__ADS_1


Stefano bahkan terlihat sedih dan juga bingung, melihat wajah asisten pribadinya yang seperti itu, Ayana menjadi berpikir dengan begitu keras.


"Apa mungkin kekesalan Ay ada hubungannya dengan Stefano? Tapi apa?" tanya Ayana dengan bingung.


__ADS_2