Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 125


__ADS_3

Malam telah tiba, selepas shalat maghrib Stefano nampak bersiap untuk pergi ke rumah Aruna, pria itu bahkan tidak makan malam terlebih dahulu. Karena dia merasa begitu gugup, entah karena apa.


Namun, pria itu menyempatkan diri untuk memakan biskuit. Karena takut jika nanti perutnya akan sakit.


"Bismillah, semoga sesuai dengan harapan." Stefano tersenyum lalu masuk ke dalam mobilnya.


Pria itu langsung melajukan mobilnya menuju kediaman Aruna, gugup sekali rasanya karena pria itu akan bertanya secara langsung kepada Arun tentang gadis kecilnya.


Saat tiba di kediaman Aruna, ternyata Aruna masih berada di ruang makan. Dengan sabar Stefano menunggu Aruna di teras depan, karena dia tidak mau mengganggu kegiatan Aruna malam ini.


"Sudah lama menunggu?" tanya Aruna.


Aruna yang baru selesai makan malam langsung keluar untuk menemui Stefano, dia tersenyum hangat ketika melihat sosok asisten pribadi dari putrinya tersebut.


"Tidak juga, Nyonya." Stefano langsung bangun dan menghampiri Aruna, dia hendak mencium punggung tangan wanita itu.


Namun, tangan Stefano langsung ditepis oleh Sigit. Pria itu bahkan dengan cepat merangkul pundak istrinya, dia seolah berkata jika Aruna adalah miliknya. Tidak boleh ada pria lain yang menyentuh istrinya tersebut.


"Masuk dan berbicaralah di dalam," ajak Sigit seraya masuk dan duduk di salah satu sofa yang ada di ruang tamu.


Stefano menurut, dia mengekori langkah Sigit dan duduk tepat di salah satu sofa yang berhadapan langsung dengan Aruna dan juga Sigit.


"Apa yang mau kamu bicarakan?" tanya Sigit.


Aruna sampai menolehkan kepalanya ke arah suaminya tersebut, lalu dia memukul paha suaminya. Walaupun tidak keras, tetapi Sigit nampak berlebihan dalam menanggapi hal itu.


"Aduh, Yang. Sakit," ujar Sigit seraya menarik tangan Aruna dan meminta wanita itu untuk mengusap-usap pahanya.


Stefano sampai ingin tertawa dibuatnya, tetapi pria itu langsung mengatupkan mulutmu agar tawanya tidak pecah. Dia merasa lucu karena Sigit sangatlah berwibawa saat di kantor, tetapi ketika di rumah Sigit terlihat seperti kucing manis yang begitu manja.


"Kamu tuh lebay banget, Yang. Udah deh diem-diem, aku mau ngomong dulu sama Fano." Aruna tersenyum lalu mengelus pipi Sigit.


Aruna langsung menolehkan wajahnya ke arah Stefano, dia memandang pria itu dengan tersenyum. Aruna bahkan mengangkat kedua alisnya seolah berkata jika Stefano kini sudah boleh berbicara.


"Ehm! Jadi gini, Nyonya. Apakah anda masih mengingat saat anda memutuskan untuk mengadopsi anak kecil dengan wajah cacat enam belas tahun yang lalu?" tanya Stefano dengan wajah yang begitu serius.

__ADS_1


Aruna yang mendengar akan hal itu langsung menolehkan wajahnya ke arah Sigit, dia benar-benar kaget dengan apa yang dipertanyakan oleh Stefano.


Jika Stefano menanyakan tentang hal itu, apakah mungkin Stefano adalah pria yang datang dari masa lalu untuk mengetahui sesuatu hal, pikir Aruna.


"Tentu saja saya masih ingat, memangnya kenapa?" tanya Aruna dengan wajah yang begitu penasaran.


"Anu, Nyonya. Saya hanya ingin bertanya karena takut salah mengenali orang, apakah yang anda adopsi itu nona Ayaka atau nona Ayana?" tanya Stefano.


Aruna benar-benar tidak paham kenapa Stefano datang untuk menanyakan hal itu, dia benar-benar menjadi penasaran dibuatnya.


"Tunggu sebentar, kenapa kamu bertanya seperti itu? Memangnya apa hubungan kamu dengan Ay atau Aya?" tanya Aruna lagi.


"Tentu saja itu ada hubungannya dengan saya, karena saya adalah anak dari ibu Andin. Wanita yang dulu menabrak gadis kecil itu, saya ke sini karena ingin bertemu kembali dengan gadis kecil itu. Saya mohon, Nyonya. Tolong beritahukan kepada saya, Siapa yang dulu anda adopsi?" tanya Stefano.


Pada awalnya Aruna terlihat begitu kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Stefano, dia tidak menyangka jika pria yang ada di hadapannya kini adalah anak dari wanita yang dulu sempat mangkir untuk melakukan hal baik.


"Oh! Kamu anak Andin, bagaimana keadaan ibu kamu?" tanya Aruna.


''Beliau sudah tiada," jawab Stefano.


"Oh! Lalu, di mana kalian tinggal selama ini?" tanya Aruna lagi


Aruna nampak menganggukkan kepala tanda paham, pantas saja Stefano dan juga Andin kala itu langsung pindah entah ke mana. Karena ternyata itu semua ada campur tangan dari ayahnya, Satria.


"Nyonya, tolong jawab pertanyaan dari saya," pinta Stefano.


Pria itu seolah sudah tidak sabar ingin mendengar jawaban dari Aruna, dia ingin memastikan apakah benar Ayaka adalah gadis kecilnya. Dia takut salah mengenal seperti saat salah mengenali Ayana.


"Ayana adalah putri kandungku, dia adalah buah hatiku dari pernikahanku yang pertama. Ayana adalah putriku dan Sam, sedangkan anak yang aku adopsi dulu adalah Ayaka. Yang ternyata anak dari Sam dan juga Angel," jawab Aruna pada akhirnya.


Jika mengingatkan hal itu, Aruna merasa hidupnya begitu lucu. Dia berusaha untuk menghancurkan Sam dan juga Angel saat mengetahui perselingkuhan keduanya.


Namun, nyatanya dia malah mengadopsi putri dari Sam dan juga Angel. Bahkan, karena mengeluarkan biaya yang banyak untuk penyembuhan wajah Ayaka kala itu.


Akan tetapi, Aruna tidak menyesal sama sekali. Karena pada kenyataannya Ayaka adalah anak yang tidak tahu apa-apa, Ayaka sama hal yang seperti Ayana yang membutuhkan kasih sayang dari kedua orang tuanya.

__ADS_1


Ayaka sama halnya seperti Ayana yang tidak meminta untuk dilahirkan dari hubungan salah ya sudah dilakukan oleh kedua orang tuanya.


Sebenarnya Stefano merasa bingung, kenapa bisa kebetulan seperti itu. Kenapa bisa-bisanya Aruna mengadopsi anak dari mantan suaminya sendiri, pikirnya.


Namun, terlepas dari apa pun ceritanya, yang pasti kini Stefano sudah merasa lebih lega. Karena kini Stefano sudah mengetahui dengan pasti siapa gadis kecilnya.


"Ehm! Nyonya, kalau misalkan aku mendekati nona Aya, apakah kalian tidak keberatan?" tanya Stefano memberanikan diri.


Sigit yang mendengar pertanyaan dari Stefano langsung terkekeh, dia merasa lucu karena pria itu meminta izin untuk mendekati Ayaka.


"Hey! Tentu saja kami tidak keberatan, jika kamu meminta izin untuk mendekati istriku, maka bersiaplah untuk aku cincang!" ujar Sigit.


Stefano langsung mengerjapkan matanya ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Sigit, dia bahkan sampai bergidik dibuatnya.


"Ya ampun! Anda galak sekali, Tuan. Saya hanya menyukai Aya'ku, saya ingin mendekatinya. Siapa tau dia mau dengan saya yang sudah tua ini," ujar Stefano.


Stefano begitu menyadari jika jarak usia antara dirinya dan juga Ayaka sangat jauh, hampir tujuh tahun. Jika Ayaka memang sudah memiliki pujaan hati yang lebih muda dan juga penghasilannya lebih besar, tentunya Stefano bersedia untuk melepaskan Ayaka.


Aruna ingin sekali tertawa mendengar apa yang dikatakan oleh Stefano, karena nyatanya Stefano terlihat tampan dan juga gagah. Stefano terlihat lebih dewasa dan juga berwibawa.


"Kamu tidak tua, Fano. Hanya dewasa saja, terlihat sangat tampan dan aku yakin Aya juga akan bisa dengan mudah menyukai kamu." Aruna tersenyum hangat setelah mengatakan hal itu.


Sigit yang mendengar Aruna memuji Stefano langsung memelototkan matanya, dia bahkan mengencangkan rangkulannya pada pundak Aruna.


"Yang! Kok muji cowok lain di depan aku sih? Memangnya aku udah ngga ganteng lagi?" tanya Sigit dengan wajah kecewa.


Aruna sampai menggelengkan kepalanya karena merasa lucu dengan tingkah suaminya tersebut, pria itu tetap saja terlihat begitu bucin aku5 terhadap dirinya.


"Ya ampun, Sayang. Jangan terlalu cemburu, aku tetap mencintai kamu. Itu hanya sebuah ungkapan saja, bukan pujian." Aruna mengusap-usap pipi suaminya, dia berusaha untuk menenangkan hatinya.


"Cium!" rengek Sigit yang seolah lupa jika di sana ada Stefano.


"No!" tolak Aruna pelan tapi penuh dengan penekanan.


Stefano yang melihat perdebatan di antara keduanya nampak tersenyum, dia merasa senang melihat keharmonisan hubungan antara Aruna dan juga Sigit.

__ADS_1


Namun, saat ini dia harus segera pulang. Dia harus menyiapkan hatinya untuk mengungkapkan perasaannya kepada Ayaka.


"Ehm! Maaf, Tuan, Nyonya. Saya pamit pulang dulu, terima kasih atas jawabannya. Saya jadi tidak ragu lagi untuk mengungkapkan perasaan saya," ujar Stefano dengan sopan.


__ADS_2