Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 80


__ADS_3

"Ehm! Di dalam rumah itu ada anak kecil yang wajahnya ada bekas lukanya? Apakah dia putri anda?" tanya Aruna.


Pelayan itu terlihat begitu kaget mendengar pertanyaan dari Aruna, dia sangat takut jika Aruna adalah anggota polisi yang menyamar.


"Mbak, kok malah diem?" tanya Aruna lagi.


Rasanya tubuh pelayan itu bergetar karena ketakutan, karena memang selama ini tidak pernah ada yang menanyakan masalah Ayaka. Baru Aruna saja yang terlihat begitu peduli.


"Anu, Nyonya. Saya tidak tahu, eh? Maksudnya, anu. Itu---"


Bibi kebingungan harus menjelaskan seperti apa kepada Aruna, dia malah menggaruk-garuk tengkuk lehernya yang terasa tidak gatal karena sudah salah dalam berucap.


Aruna terlihat seperti orang yang pintar, penampilannya bahkan terlihat elegan. Dia sangat yakin jika baju yang dipakai oleh Aruna bukanlah baju murah, itu artinya Aruna bukan orang biasa.


Ayaka tinggal di rumah majikannya, itu artinya dia sudah salah bicara bukan jika mengatakan tidak tahu. Karena nyatanya dia memang tinggal satu atap bersama dengan Ayaka, di dalam satu rumah yang sama.


"Bi, tolong beritahukan kepada saya. Sebenarnya siapa anak itu? Kenapa anak itu terlihat ketakutan dan tertekan? Kenapa pemilik rumah ini memperlakukan anak itu dengan tidak layak? Bahkan, pemilik rumah ini memanggil anak itu dengan kata-kata yang tidak pantas," ujar Aruna.


Bibi masih terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh Aruna, dia takut salah dalam berucap. Dia takut jika Andin nantinya akan marah kepada dirinya.


"Bi, tolong bicara yang jujur. Atau saya akan laporkan kalian ke polisi!" ancam Aruna.


Wajah bibi terlihat pucat pasi mendengar apa yang dikatakan oleh Aruna, dia begitu takut mendengar kata polisi. Dia takut akan dimasukkan ke dalam penjara oleh Aruna.


"Jangan, Nyonya! Saya hanya orang susah yang bekerja sebagai pelayan, jangan laporkan saya ke polisi." Bibi langsung meluruhkan tubuhnya ke atas tanah, lalu dia memeluk kaki Aruna.


Aruna menghela napas berat melihat perlakuan seperti itu dari bibi, dia berharap dengan menggertak seperti itu, bibi mau jujur.


"Kalau begitu katakan yang sejujurnya tanpa ada yang ditutup-tutupi!" tegas Aruna seraya menuntun pelayan itu untuk duduk di bangku yang ada di teras rumahnya.


Pelayan itu duduk dengan gelisah, bahkan dia terlihat meremat kedua tangannya yang basah dengan keringat secara bergantian.


"Anu, Nyonya. Sebenarnya setahun yang lalu nyonya Andin menabrak anak itu, setelah lukanya membaik nyonya Andin membawanya ke rumah. Tapi--"

__ADS_1


Bibi akhirnya menceritakan semuanya, tentunya menurut apa yang dia dengar dari Andin. Bibi juga menceritakan bagaimana perlakuan Andin selama ini kepada Ayaka, anak kecil itu tidak pernah diperlakukan dengan baik oleh majikannya.


Aruna yang mendengar cerita dari pelayan tersebut sampai meneteskan air matanya, dia tidak menyangka ada anak sekecil itu diperlakukan dengan tidak baik oleh orang lain.


"Sebenarnya saya kasihan sama anak itu, tapi saya tidak bisa berbuat apa-apa." Bibi menunduk lesu setelah mengatakan hal itu.


"Jadi, seperti itu. Miris sekali, siapa nama anak itu?" tanya Aruna.


"Saya tidak tahu siapa namanya, Nyonya. Karena Selama tinggal di rumah nyonya Andin, anak itu tidak pernah bicara. Sepertinya dia itu bisu," ujar Bibi lagi.


Aruna langsung menggelengkan kepalanya, dia merasa tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh bibi. Karena nyatanya Aruna berbicara dengan anak kecil itu, anak kecil itu mengeluarkan suaranya dengan begitu manis.


"Aih! Mana ada dia bisu, orang tadi pagi saja dia ngomong kok sama aku. Suaranya sangat lembut, bicaranya juga sudah lancar," ujar Aruna.


Bibi benar-benar terlihat kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Aruna, karena nyatanya selama Ayaka tinggal di rumah Andin, anak itu tidak pernah berbicara sama sekali.


"Masa sih, Nya? Tapi beneran loh, Selama saya tinggal sama dia, anak itu tidak pernah berbicara sama sekali," aku Bibi.


"Ya Tuhan! Apakah mungkin anak itu terlalu tertekan hidup dengan majikan kamu?" tanya Aruna dengan sedih.


"Bisa jadi, Nyonya!" jawab Bibi.


"Terima kasih untuk informasi, sepertinya aku harus melakukan sesuatu," ujar Aruna.


"Tapi saya jangan dilaporkan ke polisi," pinta Bibi.


Bibi sangat takut jika hidupnya nanti akan berakhir di penjara, dia masih punya anak di kampung yang harus dibiayai. Dia tidak mau menghabiskan masa tuanya di penjara.


"Tidak akan, sekarang pergilah, Bi. Terima kasih sudah mau berkata jujur kepada saya," ujar Aruna senang.


"Baik, Nyonya. Saya permisi," ujar Bibi dengan perasaan lega.


Selepas kepergian bibi, Aruna terlihat berpikir dengan begitu keras. Dia ingin menolong anak itu, tetapi dia tidak tahu bagaimana caranya.

__ADS_1


"Sepertinya aku harus meminta bantuan kepada ayah," ujar Aruna.


Mumpung masih ada waktu sebelum menjemput Ayana, dengan cepat Aruna berlari ke dalam kamar dan bersiap untuk pergi ke rumah ayahnya. Dia ingin meminta bantuan kepada ayahnya tersebut.


Karena rasa-rasanya jika Satria yang bertindak akan lebih cepat, tidak seperti dirinya yang memang tidak mempunyai nama.


"Semoga ayah bisa membantu," ujar Aruna seraya mematut dirinya di depan cermin.


Setelah siap, Aruna langsung pergi dari kediamannya menuju kediaman Dinata. Karena Dia sangat tahu jika Satria ada di rumah, karena sekarang perusahaan Dinata di kelola oleh Sagara dan juga Sayaka.


Setelah sembuh dari sakitnya, Sayaka kini langsung aktif bekerja bersama dengan Sagara. Dia merasa bersyukur karena bisa menjadi pendonor untuk adiknya, karena dengan seperti itu kini adiknya bisa hidup dengan lebih baik.


"Assalamualaikum, Ayah, Bunda!" ucap salam Aruna ketika dia masuk ke dalam kediaman Dinata.


"Wa'alaikumsalam! Ada apa, Sayang? Kok pagi-pagi udah datang ke rumah Ayah? Kamu sama Sigit nggak lagi berantem, kan?" tanya Satria yang sedang duduk santai di ruang keluarga.


Aruna langsung menekuk wajahnya ketika mendengar pertanyaan dari Satria, rasanya pertanyaan dari ayahnya itu benar-benar keterlaluan.


Dia dan Sigit adalah pasangan pengantin baru, mana mungkin mereka sudah bertengkar. Kecuali bergelut di atas kasur, itu baru bener.


Apalagi Sigit merupakan seorang pria muda, gairahnya benar-benar sangat luar biasa. Brondong manis yang mampu membuat Aruna mengerang penuh nikmat di atas ranjang.


"Mana ada kaya gitu, aku datang ke sini mau minta tolong." Aruna langsung menghampiri sang ayah dan memeluknya dengan posesif.


"Bolehlah boleh, mau minta tolong apa?" tanya Satria seraya terkekeh.


Aruna langsung menceritakan tentang apa yang terjadi, dia juga langsung mengutarakan apa yang dia inginkan. Aruna ingin mengobati gadis kecil buruk rupa yang dia temui, dia juga berkata ingin Satria yang mengurus anak itu secara langsung.


Namun, jika Sigit mengizinkan, Aruna ingin mengadopsi anak itu. Satria terlihat mengangguk-anggukan kepalanya saat mendengarkan cerita dari putrinya.


"Niat kamu sangat mulia, Sayang. Ayah akan bantu, nanti malam Ayah akan ke rumah kamu. Kita bisa langsung menemui wanita itu bersama-sama," ujar Satria.


"Terima kasih, Ayah. Ayah memang terbaik," ujar Aruna dengan riang.

__ADS_1


Satria langsung mengusap puncak kepala putrinya, dia merasa sangat bangga karena Aruna memiliki hati yang putih dan juga bersih. Dia merasa bangga karena anaknya itu masih memedulikan orang lain.


"Ya, Sayang," jawab Satria.


__ADS_2