
Setelah kepergian sang kakak, Ayaka langsung masuk ke dalam kamarnya. Dia bermaksud untuk merapikan barang-barang miliknya dan juga milik Stefano, karena mereka akan pergi ke puncak selepas shalat ashar.
Berbeda dengan Stefano, pria itu merapikan bekas sarapan dirinya dan juga istrinya. Mereka sengaja berbagi tugas, agar pekerjaan cepat selesai.
Ayaka sengaja tidak banyak membawa barang, hanya barang-barang yang diperlukan saja. Tentunya tidak lupa dia membawa beberapa lingerie seksi untuk dia pakai di sana.
Walaupun dia baru saja menikah, tetapi wanita muda itu juga memiliki fantasi saat bercinta dengan suaminya. Untuk barang-barang yang lainnya bisa dibeli saat mereka tiba di puncak nanti, pikirnya.
Ayaka dan Stefano sudah membooking satu penginapan di area pegunungan, tentunya penginapan khusus untuk pengantin baru.
Ayaka berkata jika di ibu kota tidak ada tempat seperti itu, maka dari itu Ayaka meminta Stefano untuk memesan penginapan di area pegunungan. Rasanya akan sangat segar karena banyaknya oksigen di sana.
Paru-parunya yang setiap hari tercemar karena polusi yang ada di ibu kota, pasti akan mendapatkan udara yang bersih di sana.
"Semuanya sudah siap," ujar Ayaka seraya menutup satu buah koper besar berisikan keperluannya dan juga Stefano.
Stefano nampak tersenyum melihat istrinya yang begitu bersemangat, dia begitu bahagia karena pada akhirnya bisa menikahi wanita yang sejak lama dia sukai itu.
"Aku juga udah siap!" ujar Stefano seraya memeluk Ayaka dari belakang.
Bahkan, Stefano tanpa ragu langsung meremat kedua dada istrinya secara bergantian. Ayaka terlihat begitu kaget dengan kedatangan dari Stefano yang tiba-tiba seperti itu.
Dia juga merasa kaget karena Stefano langsung melakukan hal seperti itu, walaupun memang rasanya sangat nikmat dan membuat tubuhnya meremang dalam seketika.
"Siap apa?" tanya Ayaka seraya berusaha untuk menurunkan tangan suaminya tersebut.
Sentuhan dari tangan Stefano ternyata bisa dengan mudah membuat dirinya menginginkan pria itu, miliknya bahkan terasa berkedut dan ingin kembali merasakan nikmatnya bercinta.
"Siapa untuk berenang di atas kasur, aku mau praktekin gaya kodok. Mau ngga?" tanya Stefano.
Antara kesal dan juga ingin tertawa, itulah yang Ayaka rasakan saat ini. Dia benar-benar merasa lucu dengan apa yang dikatakan oleh suaminya tersebut.
__ADS_1
"Apaan sih, Yang? Nanti sore kita mau pergi loh, kamu bakalan nyetir. Nanti kamu cape, itunya di sana aja," ujar Ayaka malu-malu.
Walaupun pada kenyataannya dia juga menginginkannya, karena ternyata yang namanya mereguk nikmat dunia itu sangat enak dan membuat dirinya ingin terus-menerus melakukannya.
"Aih! Sekarang aja, Yang. Kamu tahu kan'? Mobil aja biar bisa jalan butuh bensin loh, aku juga butuh bensin. Biar bisa nyetir," ujar Stefano.
Stefano berusaha untuk merayu istrinya, dia berharap jika rayuannya akan mempan. Karena sungguh saat ini dia begitu menginginkan istrinya, lebih tepatnya dia selalu saja menginginkan istrinya.
"Apaan sih, Yang? Ngga nyambung tau, ngga? Mana ada kaya gitu, alesan." Ayaka berusaha untuk melepaskan diri dari suaminya tersebut.
Namun, Stefano malah mengangkat tubuh istrinya dan merebahkannya di atas tempat tidur. Ayaka hanya bisa pasrah, terlebih lagi ketika suaminya mulai membuka satu persatu kancing baju yang dia pakai.
"Sekali aja, Yang. Boleh ya? Aku pengen banget, malam aku cuma dikasih sekali." Stefano nampak merajuk, Ayaka terlihat bimbang.
Sebenarnya tadi malam saat Stefano kembali meminta untuk kedua kalinya, Ayaka ingin memberikannya. Karena jujur saja dia juga menginginkannya.
Ayaka baru tahu jika ternyata bercinta itu begitu nikmat, walaupun pada awalnya terasa sakit, tetapi hal itu tidak terjadi dalam waktu yang lama.
"Nanti kamu cape loh," jawab Ayaka.
Mulutnya boleh saja berkata seperti itu, tetapi di dalam hatinya dia mengharapkan hal yang lebih. Dia mulai merasa gelisah dan bahkan dia merasa jika miliknya seakan basah
"Cape juga enak, Yang. Boleh, ya?" pinta Stefano mode merengek.
Mulutnya memang terlihat merengek dan meminta izin, tetapi kini Stefano terlihat sudah berhasil melepaskan semua kain yang melekat di tubuh istrinya.
"Iya, boleh. Tapi hanya sekali," jawab Ayaka.
Bodo amat mau dikasih sekali ataupun dua kali, yang terpenting kini baginya, dia bisa berenang kembali dengan istri tercintanya.
"Yes!" sorak Stefano dengan begitu bahagia.
__ADS_1
Sesudah mendapatkan persetujuan dari istrinya, tentu saja Stefano tidak menyia-nyiakan hal itu. Dengan cepat dia melucuti setiap kain yang melekat di tubuhnya, dia sedikit memberikan rangsangan kepada istrinya. Lalu, dengan cepat melakukan penyatuan.
Ah! Stefano terlihat begitu bahagia sekali, dia bahkan terus saja mengayunkan pinggulnya dengan senyum yang terus mengembang di bibirnya.
Ayaka sampai tertawa dibuatnya, karena menurutnya tingkah dari Stefano itu sangatlah kekanak-kanakan. Namun, walaupun seperti itu Ayaka sangat suka.
Percintaan keduanya berlangsung begitu panas, bahkan keduanya bercinta sampai dua kali. Tentunya karena Stefano begitu pandai dalam merayu istrinya.
Setelah puas bercinta, keduanya nampak terlelap di dalam tidurnya. Saling memeluk dalam keadaan polos, terlihat sangat romantis.
Jika Ayaka dan juga Stefano kini sedang terlelap di dalam tidurnya, berbeda dengan Sandi yang terlihat begitu gelisah.
Dia begitu merindukan Ayana, dia ingin bertemu dengan kekasih hatinya. Mendekati hari pernikahannya, justru pria itu malah terlihat tidak sabar untuk mengesahkan Ayana sebagai istrinya.
"Ya Tuhan! Gue kangen banget sama Moo, tapi takut ganggu dia kerja." Sandi melihat jam yang ternyata menunjukkan pukul sebelas siang.
Pria itu nampak berpikir dengan keras, dia sedang mencari cara agar bisa bertemu dengan kekasih hatinya walaupun di saat jam kerja seperti ini.
"Sepertinya, gue harus pergi untuk menemui Moo. Toh sebentar lagi jam istirahat tiba, pura-pura mau ngajak makan siang aja kan' bisa." Sandi tersenyum setelah mengatakan hal itu.
Sandi yang sudah memiliki alasan untuk bertemu dengan calon istrinya langsung bersiap untuk pergi, tentunya sebelum pergi dia menitipkan Resto miliknya kepada orang kepercayaannya.
Pria itu pergi ke perusahaan Siregar dengan senyum yang mengembang di bibirnya, dia terlihat tidak sabar sekali untuk bertemu dengan Ayana.
Tidak lama kemudian, Sandi sudah sampai di perusahaan Siregar. Dengan langkah tergesa dia melangkahkan kakinya menuju ruangan Ayana, tetapi tidak lama kemudian senyum di bibirnya nampak luntur.
Sandi melihat Ayana yang sedang mengobrol seraya tertawa dengan seorang pria yang begitu tampan sekali, pria itu juga terlihat begitu mengagumi Ayana.
Keduanya mengobrol tanpa malu di dekat lift, mereka terlihat begitu akrab sekali. Hati Sandi terasa luka yang disiram dengan air garam, sakit dan juga perih.
Namun, jika dilihat-lihat pria itu sangatlah muda. Boleh dibilang jika pria itu masih terlihat remaja, bahkan jika memakai seragam SMA pun masih pantas.
__ADS_1
''Siapa pria muda itu?" tanya Sandi dengan sedih.