
Kenzo benar-benar merasa khawatir dengan keadaan Anaya, karena wanita itu mengatakan akan pergi ke rumah sakit. Kenzo takut jika wanita itu mengalami hal yang membahayakan tubuhnya, karena dia sangat ingat jika kaki Anaya memerah karena ulah dari Anisa.
Walaupun Kenzo tidak tahu ke rumah sakit mana Anaya pergi, tetapi dia bisa pergi terlebih dahulu ke rumah Anaya dan bertanya kepada tetangga, pikirnya.
Kenzo terlihat melangkahkan kakinya untuk keluar dari dalam kamarnya, lalu dia menghampiri Aruna yang sedang berbicara bersama dengan Arin. Tanpa ragu Kenzo langsung duduk tepat di samping ibunya.
"Bun, Ken mau pergi dulu sebentar. Boleh ngga?" tanya Kenzo.
"Boleh, tapi ajak Nisa, bisa?" tanya Aruna.
Wanita itu masih saja ingin mendekatkan Kenzo dengan Anisa, Arin yang merasa tidak setuju langsung menyikut lengan sahabatnya itu.
"Biarkan putramu pergi sendiri, dia mempunyai privasi sendiri. Aku yang akan menemani Nisa jalan-jalan, karena aku juga sudah lama tidak pergi jalan-jalan." Arin menolehkan wajahnya ke arah suaminya. "Iya, kan, Sayang?"
"Ya, kita akan pergi ke tempat yang dulu pernah kita kunjungi. Biar Nisa tahu tempat tongkrongan ibunya di mana saja," jawabnya.
Arin merupakan wanita tomboy yang sering nongkrong dengan para pria, tetapi wanita itu mampu menjaga dirinya. Maka dari itu suami dari Arin itu begitu menyukai istrinya itu.
"Oke," jawab Aruna dengan senyum yang dipaksakan.
Kenzo nampak memandang Arin dengan wajah penuh terima kasih, lalu dia memeluk ibunya dan mengecup pipi Aruna. Sigit yang berada tidak jauh dari sana nampak melayangkan protesnya.
"Ken! Jangan cium pipi istriku!" keluh Sigit.
Aruna dan Kenzo sama-sama memutarkan bola matanya dengan malas, karena pria itu tetap saja merasa cemburu walaupun terhadap putranya sendiri.
Kenzo langsung melerai pelukannya bersama dengan sang ibu, lalu dia menghampiri Sigit dan memeluk pria itu.
"Kalau gitu Papa aja yang aku cium," ujar Kenzo seraya memonyongkan bibirnya.
"Ken!" pekik Sigit seraya mendorong wajah putranya.
Semua orang yang ada di sana nampak tertawa melihat kelakuan dari Kenzo, karena tidak biasanya Kenzo bercanda seperti itu.
"Aku pergi, Pa. Ken sayang Papa," ucap Kenzo yang langsung berlari untuk keluar dari dalam ruangan itu.
Tiba di halaman rumah dia langsung melangkahkan kakinya menuju garasi, lalu dia memakai motor sport kesayangannya untuk pergi ke rumah Anaya agar lebih cepat.
Tiba di kediaman Anaya, Kenzo dengan cepat memarkirkan motornya di depan kediaman gadis itu. Lalu, dia turun dan menolehkan wajahnya ke kanan dan ke kiri. Dia seolah-olah sedang mencari orang yang bisa dia tanyakan.
Sebenarnya Kenzo merasa lumayan kesal, karena tidak ada yang bisa ditanyai di rumah Angel. Wanita itu tidak menggunakan jasa pelayan, karena Angel merasa sanggup untuk menyelesaikan semua pekerjaan rumah.
__ADS_1
Tidak lama kemudian, Kenzo melihat ada seorang ibu-ibu yang keluar dari rumah yang berada tepat di samping rumah Angel. Kenzo dengan cepat menghampiri wanita itu dan bertanya.
"Permisi, Bu. Apakah anda tahu Naya pergi ke mana?" tanya Kenzo.
"Tadi sih bilangnya mau ke rumah sakit A," jawab Ibu itu.
"Makasih, Bu. Kalau gitu saya permisi," ujar Kenzo.
Setelah mengetahui keberadaan Anaya, dengan cepat dia melajukan motornya menuju rumah sakit A. Karena dia ingin segera melihat keadaan wanita itu.
Namun, saat tiba di rumah sakit A, Kenzo tetap saja kebingungan. Karena nyatanya dia tidak tahu di ruangan mana Anaya berada, pria itu dengan cepat melangkahkan kakinya menyusuri setiap lorong rumah sakit.
"Itu tante Angel dan om Surya," ujar Kenzo ketika melihat keduanya sedang duduk di salah satu bangku tunggu yang ada di rumah sakit itu.
Melihat tidak adanya Anaya di antara keduanya, justru membuat Kenzo semakin khawatir. Kenzo dengan cepat melangkahkan kakinya untuk menemui Angel dan juga Surya.
"Siang, Om, Tante. Naya mana?" tanya Kenzo dengan raut khawatir.
Angel dan juga Surya nampak kaget melihat keberadaan Kenzo di sana, karena mereka tidak mengabari kepergian mereka menuju rumah sakit kepada Kenzo.
"Loh, kok Nak Kenzo ada di sini?"
Bukannya menjawab pertanyaan dari Kenzo, justru Surya kembali bertanya kepada pria muda itu. Kenzo nampak kebingungan untuk menjelaskan, dia malah menggaruk pelipisnya yang tiba-tiba saja terasa gatal.
"Kamu mau ketemu Naya?" tanya Angel.
Kenzo langsung menganggukkan kepalanya dengan cepat, karena dia memang ingin segera bertemu dengan Anaya dan memastikan keadaan dari wanita itu.
"Naya lagi di dalam ruang ICU, dia--"
"Dia kenapa, Tan? Naya sakit apa?" tanya Kenzo memungkas ucapan dari Angel.
Angel yang melihat raut khawatir dari Kenzo malah terkekeh, lalu dia kembali menepuk lengan Kenzo dan berkata.
"Naya lagi ketemu sama ibunya," jawab Angel.
"Ibu? Lalu, Tante?" tanya Kenzo kebingungan.
"Tante nikah sama duda anak 1, Naya anak Om Surya sama istri pertamanya." Angel menjawab pertanyaan dari Kenzo dengan raut wajah sedih.
Setelah dia menikah dengan Surya, Angel sempat mengandung. Namun, dia malah keguguran. Dokter sempat berkata jika rahim Angel bermasalah, sehingga wanita itu tidak akan mendapatkan keturunan lagi.
__ADS_1
Angel saat itu terlihat begitu sedih, tetapi Angel berusaha untuk menguatkan dirinya. Dia sempat berpikir jika itu adalah hukuman dari Tuhan, karena dia dulu setempat meninggalkan Ayaka dan tidak mau mengurusi putrinya itu.
Surya juga selalu menguatkan Angel, bahkan pria itu selalu memberikan perhatian yang lebih kepada Angel.
"Lalu, sakit apa ibunya Naya, Tan?" tanya Kenzo.
Karena rasanya tidak mungkin hanya sakit biasa tetapi ditempatkan di ruang ICU, biasanya orang-orang yang memiliki penyakit berat yang akan ditempatkan di ruangan sana.
"Kanker serviks stadium empat," jawab Surya.
"Oh!"
Hanya itu kata yang keluar dari bibir Kenzo, entah kenapa ada sedikit rasa lega di dalam hatinya. Jika Anaya bukan anak kandung Angel, setidaknya dia tidak merasa begitu bersalah kepada ibunya, Aruna.
Namun, dia juga merasa khawatir. Dia takut jika Anaya mengalami kesedihan yang mendalam ketika mengetahui penyakit dari ibunya.
"Duduklah dulu, sebentar lagi juga Naya keluar," ujar Surya.
"Iya, Om," jawab Kenzo.
Pria muda itu menurut, dia langsung duduk di salah satu bangku yang ada di sana. Hatinya memang merasa lega karena ternyata bukan Anaya yang sakit, tetapi tetap saja dia tidak ingin pergi begitu saja.
Dia ingin bertemu terlebih dahulu dengan Anaya, dia ingin memastikan keadaan dari wanita itu. Kalau memang Anaya tidak sakit, tetapi wanita itu pasti bersedih karena ibunya yang sedang sakit.
Tidak lama kemudian, Anaya nampak keluar dari dalam ruang ICU. Wanita itu terlihat begitu sedih sekali, matanya bahkan terlihat sembab.
Kenzo yang merasa khawatir langsung bangun dan menghampiri wanita itu, tanpa ragu bahkan Kenzo langsung memeluk Anaya. Anaya terlihat begitu kaget saat mendapatkan pelukan yang tiba-tiba dari pria itu.
"Elu pasti kuat," ujar Kenzo.
"Gue kuat, Ken. Tapi elu kenapa peluk-peluk gue? Kenapa juga elu ada di sini? Siapa yang kasih tau elu kalau gue ada di rumah sakit ini?" tanya Anaya.
Anaya benar-benar merasa aneh dengan adanya Kenzo di sana, dia memang sempat berkata akan pergi ke rumah sakit. Namun, Anaya tidak memberitahukan Kenzo mau pergi ke rumah sakit mana.
"Ck! Elu lagi sedih tapi tetep aja cerewet, bisa diem ngga?" tanya Kanzo seraya mengusap punggung Anaya.
Kenzo merasa sangat senang karena keadaan Anaya baik-baik saja, yang dia inginkan hanya memeluk wanita itu tanpa banyak berkata-kata.
"Haish! Elu tuh aneh," ujar Anaya seraya membalas pelukan dari Kenzo.
Ini adalah pertama kalinya Kenzo memeluk dirinya, ini adalah pertama kalinya Kenzo terlihat begitu peduli kepada dirinya. Tidak ada salahnya bukan jika Anaya memanfaatkan kesempatan ini, karena setelah ini dia belum tentu mendapatkan perhatian lagi dari Kenzo.
__ADS_1
"Terima kasih," ujar Anaya dengan tulus.