Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 67


__ADS_3

Satu tahun kemudian.


Aruna tersenyum dengan begitu lebar ketika melihat Ayana yang sedang naik wahana kincir angin bersama dengan Sigit, putrinya itu kini terlihat begitu bahagia bisa bermain dengan Sigit.


Karena memang sudah 1 bulan ini Sigit selalu saja sibuk dengan pekerjaannya, pria itu bahkan sering keluar kota untuk meninjau perusahaan cabang yang ada di sana.


Setelah satu bulan berpisah dan hanya melepas rindu lewat video call, akhirnya Ayana dan sigit bisa bermain bersama di pasar malam.


Ya, sore ini Sigit baru saja pulang. Padahal, tubuhnya merasa begitu lelah dan juga capek. Akan tetapi, dia dengan tidak sabarnya datang untuk menemui Ayana dan juga Aruna.


Dia bahkan membawa oleh-oleh yang dibawa dari luar kota dengan begitu banyak, Ayana begitu ga gerangan dibuatnya.


Sigit berkunjung ke kediaman Dinata karena begitu rindu dengan Aruna dan juga Ayana, Ayana yang juga merindukan Sigit langsung mengajak pria itu untuk pergi ke pasar malam.


Ayana berkata jika dia tidak pernah main ke tempat yang seperti itu, dia juga ingin merasakannya. Aruna sampai tertawa dengan permintaan dari putrinya itu, karena dulu dia memang hanya bisa pergi ke pasar malam ketika dia kecil bersama dengan Arimbi.


Walaupun Arimbi tidak mempunyai uang yang banyak, tetapi wanita itu selalu rutin untuk mengajak Aruna pergi ke pasar malam. Setiap ada pasar malam di mana pun, pasti Arimbi membawanya ke sana dan membelikan mainan.


Arimbi iya juga selalu mengajak Aruna bermain sampai puas, walaupun memang mainan yang Arimbi belikan tidaklah mahal, tetapi hal itu sudah mampu membuat hati Aruna bahagia.


Bukan hanya Sigit saja yang ikut ke pasar malam, tetapi Steven juga ikut. Dia kini sedang duduk di samping Aruna seraya memperhatikan interaksi antara Sigit dan juga Ayana


"Sudah 1 tahun kamu menjanda, sudah satu tahun pula putraku mengajar cintamu. Apakah kamu tidak ingin menikah lagi, atau memang kamu tidak ingin dipinang oleh anakku?" tanya Steven to the point.


Selama 1 tahun ini Sigit selalu saja mengejar cinta Aruna, padahal Ayana sudah sangat lengket dengan Sigit. Bahkan, anak itu sudah memanggil Sigit dengan sebutan Papa.


Namun, ternyata rasa sakit hati yang di torehan oleh Sam sangatlah besar. Tidak semudah membalikkan telapak tangan untuk bisa menikah kembali, atau hanya sekedar menumbuhkan perasaan cinta.

__ADS_1


Walaupun dulu pada perjanjiannya Aruna akan menerima pinangan dari Sigit setelah masa iddahnya selesai, tetapi nyatanya Aruna belum siap. Terlebih lagi Aruna adalah seorang mualaf, dia merasa perlu mempelajari agama yang baru saja dia anut.


Dia ingin mempelajari bagaimana cara menjadi seorang muslim yang baik, dia ingin belajar menjadi seorang anak yang baik, dia ingin belajar menjadi seorang ibu yang baik dan bagaimana menjadi seorang istri yang baik dalam versi umat muslim.


Aruna menolehkan wajahnya ke arah Steven, pria itu kini semakin tua. Pria yang dulu menjadi atasannya dan selalu menganggap dirinya sebagai putrinya, dia tersenyum hangat lalu berkata.


"Tentu saja aku ingin menikah lagi, aku ingin memiliki pasangan hidup yang baik. Tetapi, selama ini aku mempunyai pertimbangan. Terlebih lagi Sigit adalah pria yang lebih muda dariku," jawab Aruna.


Rasanya Steven sangat senang mendengar Aruna ingin menikah kembali, karena itu artinya kesempatan putranya untuk segera menikah terbuka dengan begitu lebar.


Bukannya dia kepedean, tetapi pada kenyataannya selama 1 tahun ini Aruna memang begitu dekat dengan putranya saja.


Bahkan, terkadang Sigit akan membawa Ayana ke kediaman Siregar. Dia akan mengajak Ayana bermain dengan waktu yang lama, tentu saja hal itu Sigit lakukan untuk memancing agar ibunya datang ke kediaman Siregar. 


Hal itu selalu berhasil, karena Aruna nantinya akan datang untuk menjemput Ayana. Waktu Aruna datang ke kediaman Siregar, Steven dan juga ibunya selalu saja berusaha untuk merayu Aruna agar mau menerima Sigit.


Aruna langsung terkekeh dibuatnya, karena apa yang dikatakan oleh Steven sangatlah lucu, menurutnya. Namun, dia juga mengakui jika usianya kini semakin tua.


Usianya kini sudah dua puluh sembilan tahun, bahkan di ulang tahunnya, Sigit memberikan kejutan yang sangat manis untuk dirinya. Aruna mengakui walaupun usia Sigit masih sangat muda, tetapi pria itu bisa bersikap sangat dewasa di saat-saat tertentu.


Walaupun terkadang terlihat begitu menyebalkan dan terkadang kekanak-kanakan, tetapi Sigit bisa menempatkan kapan dirinya bersikap dewasa dan bersikap manja kepada dirinya.


"Ayah benar, aku semakin tua dan sepertinya aku harus menikah kembali dengan segera. Jadi, datanglah ke rumah ayah Satria untuk melamar aku," ujar Aruna.


Wajah Steven langsung berbinar, dia tidak menyangka jika Aruna akan menyatakan hal seperti itu. Dia merasa senang dan juga bangga, karena akhirnya putranya bisa segera menikah dengan wanita pujaan hatinya.


Tentunya dia juga bahagia karena sebentar lagi akan memiliki menantu, terlebih lagi Aruna sudah memiliki seorang putri. Dia merasa sangat bahagia karena nantinya saat berkumpul di rumahnya, keluarganya akan semakin ramai.

__ADS_1


"Baiklah, Sayang. Kalau begitu bersiaplah, karena aku dan Sigit akan datang untuk melamar kamu," ujar Steven seraya terkekeh.


"Ya ampun, kenapa Ayah yang terlihat begitu bersemangat? Padahal yang ingin menikah denganku adalah Sigit," ucap Aruna.


"Aih! Tentu saja aku merasa sangat bahagia, karena akhirnya kamu akan menjadi menantuku," jawab Steven.


"Kalian ngomongin apa sih? Kok kayaknya seru banget?" tanya Sigit yang baru saja datang bersama dengan Ayana.


Tanpa ragu Ayana langsung duduk di atas pangkuan Steven, karena memang Ayana sudah begitu dekat dengan pria tua itu. Sedangkan Sigit duduk tepat di samping wanita yang menjadi pujaan hatinya itu.


"Hanya mengobrol biasa," jawab Aruna seraya tersenyum hangat.


Sigit langsung mengerutkan dahinya, dia merasa tidak percaya dengan jawaban dari Aruna. Karena kini ayahnya terlihat begitu bahagia sekali, tidak seperti biasanya.


"Aku nggak percaya, kalian obrolin apa sih? Ngomong dong sama aku, masa main rahasia-rahasiaan sih!" ujar Sigit dengan penasaran.


Aruna tersenyum ke arah pria yang kini mulai mengisi hatinya itu, pria itu begitu sabar dalam mengejar cintanya. Pria itu begitu sabar menghadapi putrinya, Ayana dengan segala keinginannya.


Setelah dekat selama 1 tahun dan melakukan shalat istikharah selama beberapa kali, akhirnya Aruna merasa yakin jika dirinya mau dipinang oleh pria muda itu.


"Sekarang kita pulang dulu saja, sudah semakin larut juga. Kamu pasti cape, kasihan Ay juga, dia pasti sangat kelelahan. Untuk pertanyaan yang tadi, kamu bisa tanyakan sama Ayah di rumah," jawab Aruna seraya tersenyum ke arah Steven.


Steven ikut tersenyum seraya menggelengkan kepalanya, karena Aruna selalu saja membuat hidup putranya penuh dengan rasa penasaran.


"Ya ampun, aku semakin penasaran. Kamu tuh tega banget main teka-teki kayak gitu sama aku, beneran kamu nggak mau bilang sekarang?" tanya Sigit dengan begitu penasaran.


Aruna langsung terkekeh mendengar apa yang dikatakan oleh Sigit, pria itu terlihat begitu tidak sabar ingin mengetahui apa yang sebenarnya diobrolkan oleh dirinya dan juga Steven.

__ADS_1


"Kasih tahu nggak, ya?" tanya Aruna dengan senyum yang terlihat begitu menyebalkan di mata Sigit.


__ADS_2