Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 123


__ADS_3

Ayana dan juga Sandi berjalan secara beriringan keluar dari dalam perusahaan Siregar, tatapan mata pria itu tidak lepas dari wajah cantik Ayana. Sandi bahkan hampir terjatuh karena tersandung, Ayana sampai tertawa dibuatnya.


"Ck! Jangan ketawain gue, ayo masuk." Sandi membukakan pintu mobilnya untuk Ayana.


Ayana sangat tahu jika saat ini Sandi sedang salah tingkah, sekarang dia juga tahu jika cintanya ternyata tidak bertepuk sebelah tangan. Pria itu ternyata menyukai dirinya, tetapi Ayana tidak tahu jika Sandi menyukai dirinya sejak kapan.


"Habisnya elu lucu, pake mau jatuh segala lagi." Ayana tertawa setelah mengatakan hal itu.


Sandi menatap wajah Ayana yang terlihat begitu cantik di matanya, wajah wanita yang selalu mewarnai hari-harinya. Selalu menjadi wanita yang mampu menghiasi hatinya, tetapi sangat susah untuk digapai.


Ayana sudah terasa seperti setan yang gentayangan di siang dan malamnya Sandi, begitu kurang ajar tetapi sulit untuk ditangkap karena tidak tergapai.


"Habisnya elu cantik banget, jadinya gue hampir jatuh." Sandi menutup pintu mobilnya lalu segera ikut menyusul untuk masuk dan duduk di balik kemudi.


Sandi memasang sabuk pengamannya, lalu dia mulai menyalakan mesin mobilnya dan melajukannya dengan perlahan. Ayana menolehkan kepalanya ke arah Sandi, bahkan dia terlihat mendekatkan wajahnya seraya menepuk pipi pria itu.


"Baru sadar kalau gue cantik?" tanya Ayana yang langsung membuat jantung Sandi berdisko tidak karuan, karena wajah Ayana begitu dekat dengan dirinya.


Namun, sebisa mungkin dia menetralkan perasaannya. Dia berusaha untuk bersikap setenang mungkin, jangan sampai dia gemetaran dan tidak bisa membawa mobil untuk mengantarkan wanita yang dia sukai, pikirnya.


Ayana tentunya sangat menyadari jika Sandi kini terlihat begitu gugup, pria itu terlihat memundurkan wajahnya lalu berkata.


"Dari dulu juga elu emang cantik, siapa juga yang bilang elu jelek. Elu cuma males aja," jawab Sandi seraya memalingkan wajahnya ke arah lain.


Jika saja Ayana itu adalah kekasih hatinya, Sandi akan langsung menciumi setiap inci wajah cantik Ayana. Bahkan, rasanya Sandi ingin sekali mencium bibir mungil Ayana.


Berbeda dengan Ayana, gadis itu nampak kegirangan melihat tingkah dari pria yang belum lama memberikan sebuket bunga untuk dirinya itu.


Entah kenapa Ayana merasa senang sekali melihat wajah Sandi yang seperti itu, dia paham jika pria itu menyukai dirinya. Hatinya terasa berbunga.


Setelah mengetahui perasaan Sandi tetapi tidak mau mengungkapkannya, Ayana malah seakan ingin terus menggoda pria itu. Dia malah seolah ingin mendesak Sandi agar mau mengungkapkan perasaannya.


"Ya ampun! Wajah elu merah banget, elu sakit?" tanya Ayana seraya menempelkan tangan kanannya pada dahi Sandi.


Sontak saja hal itu membuat tubuh Sandi panas dingin, dia bahkan langsung menepikan mobilnya dan memberhentikannya. Dia tidak mau mengambil resiko.

__ADS_1


"Kenapa berhenti?" tanya Ayana.


"Moo! Jangan pegang dahi gue kaya gitu, gue ngga sakit." Sandi menatap Ayana dengan kesal, bukan kesal terhadap Ayana tetapi kesal terhadap dirinya sendiri.


Dia begitu kesal karena akhir-akhir ini dia tidak bisa mengontrol perasaannya, rasa cintanya begitu menggebu-gebu dan dia seolah tidak sabar ingin segera menjadikan Ayana sebagai kekasih hatinya.


Setelah pertemuannya di pantai kala itu dengan Ayana, rasanya dia takut jika Ayana akan dimiliki oleh orang lain.


"Aih! Elu kenapa sih? Kok jada galak gitu? Dahi elu juga sekarang jadi keringetan, elu beneran sakit ya?" tanya Ayana beruntun.


Ayana bahkan terlihat merogoh tas miliknya, tentunya dia ingin mengambil tisu untuk mengelap keringat yang membanjiri dahi Sandi.


"Ngga, Moo. Gue ngga sakit, tolong duduk dengan benar. Kalau elu deket-deket gue terus, gue bisa sakit beneran." Sandi menatap Ayana dengan tatapan yang begitu menyedihkan.


Niat Ayana untuk terus menggoda Sandi dia urungkan, dia benar-benar merasa kasihan melihat wajah pria itu.


"Iya, sorry. Gue ngga bakal deket-deket sama elu lagi deh," ujar Ayana seraya mengusap keringat di dahi Sandi.


Untuk sesaat Sandi terdiam, dia hanya mampu menatap wajah Ayana dengan tatapan penuh puja. Namun, tidak lama kemudian Sandi menurunkan tangan Ayana agar tidak terus mengusap dahinya.


Setelah melihat Ayana duduk kembali ke posisi awal, Sandi kembali menyalakan mesin mobilnya. Lalu, dia melajukan mobilnya menuju taman sesuai dengan keinginan dari Ayana.


Di lain tempat.


Stefano terlihat kebingungan karena sudah berkali-kali menelepon Ayana tetapi tidak diangkat juga, dia menjadi khawatir dibuatnya.


Karena Stefano takut terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan terhadap Ayana, maka dari itu Stefano meminta izin kepada Ayaka untuk menjemput atasannya ke dalam ruangannya.


"Maaf, Nona. Saya akan menjemput nona Ayana terlebih dahulu, anda tidak apa-apa bukan jika saya tinggal?" tanya Stefano.


"Tidak apa, pergilah!" ujar Ayaka.


Setelah berpamitan kepada Ayaka, Stefano langsung melangkahkan kakinya menuju ruangan atasannya tersebut. Namun, saat dia tiba di sana ternyata Ayana sudah tidak ada.


"Ya ampun! Ke mana nona Ayana?" tanya Stefano khawatir.

__ADS_1


Stefano nampak melangkahkan kakinya menuju pantri, siapa tahu wanita itu sedang meminum kopi di sana, pikirnya. Namun, belum sempat dia masuk ke dalam pantri, Sigit sudah terlebih dahulu menghampirinya.


"Kamu nyari Ay?" tanya Sigit.


"Ya, Tuan. Di mana nona Ayana?"


"Sudah pulang bareng Sandi," jawab Sigit.


Karena memang sebelum menemui Ayana, Sandi meminta izin terlebih dahulu kepada dirinya. Tentu saja Sigit mengizinkan, karena Sandi sudah mengatakan semuanya tanpa malu kepada pria itu


"Oh! Syukurlah kalau sudah pulang, soalnya saya telpon tidak diangkat-angkat. Takutnya terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan," ucap Stefano dengan perasaan lega.


"Ay baik-baik saja, sekarang pulanglah." Sigit menepuk pundak pria itu.


"Ehm! Tuan, kalau nanti malam saya berkunjung ke rumah anda boleh tidak?" tanya Stefano.


"Untuk apa kamu datang ke rumahku? Mau minta restu?" goda Sigit yang menyangka jika Stefano menyukai putrinya, Ayana.


''Bukan, Tuan. Saya mau bertemu dengan nyonya Aruna, apakah boleh?" tanya Stefano lagi.


Sigit terlihat begitu cemburu ketika Stefano mengatakan akan bertemu dengan istrinya, istrinya memang masih sangat cantik walaupun usianya lebih tua dari dirinya.


Namun, bukan berarti pria muda seperti Stefano boleh mengencani istrinya yang sangat dia cintai itu. Itu ada hal yang tidak boleh terjadi, kalau perlu Stefano tidak usah bertemu dengan Aruna sekalian.


"Ck! Wanita muda di luaran sana masih sangat banyak, untuk apa kamu menemui istriku?" tanya Sigit mulai tersulut emosi.


Stefano nampak merasa tidak enak hati dengan tanggapan dari Sigit, pria muda itu bahkan terlihat menggaruk pelipisnya yang tiba-tiba saja terasa gatal.


Dia berusaha untuk mencari alasan agar pria di hadapannya tidak salah paham terhadap dirinya, tidak lama kemudian Stefano nampak berkata.


"Anu, Tuan. Saya hanya mau menanyakan tentang nona Ayaka, boleh kan' Tuan?"


"Oh! Kamu mau menanyakan Aya kepada istriku? Kenapa kamu tidak langsung bertanya saja kepada bang Sam? Bukankah kamu tinggal berdekatan dengannya?" tanya Sigit lagi.


"Anu, Tuan. Ada hal penting yang harus saya pastikan, bolehkah saya bertemu dengan nyonya Aruna?" tanya Stefano dengan penuh permohonan.

__ADS_1


__ADS_2