Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 88


__ADS_3

Assalamualaikum, Sigit. Ada apa? Kenapa malam-malam seperti ini menelpon? Apakah Aruna sakit atau bagaimana?" tanya Satria.


Satria berbicara dengan nada khawatir, tentu saja hal itu membuat Sigit tidak enak hati. Namun, walaupun seperti itu tetapi saja Sigit tidak mengurungkan niatnya untuk mengadu.


"Waalaikum salam, Yah. Aruna ngga sakit, semuanya dalam keadaan sehat. Hanya saja ada sedikit problem," jawab Sigit.


"Masalah apa, Nak? Katakan!" pinta Satria.


"Ehm! Anu, Yah. Aruna sekarang jadi aneh, udah beberapa minggu ini dia aneh. Sekarang lebih aneh lagi," adu Sigit.


"Aneh kenapa?" tanya Satria.


"Dia tidak mau tidur sama aku, katanya aku bau. Aku sedih, Yah. Aku harus bagaimana cara membujuk istri kalau sedang bertingkah aneh seperti itu, Yah?" tanya Sigit.


Hening.


Tidak ada jawaban dari Satria, Sigit sampai menjauhkan ponselnya dari wajahnya. Dia menatap ponselnya yang ternyata masih tersambung.


"Halo, Yah!" ujar Sigit ingin memastikan apakah Satria masih membuka matanya atau malah tidur.


"Hem!" jawab Satria.


"Ayah kenapa malah di--"


Tut! Tut! Tut!


Sambungan telpon terputus, Sigit sampai menatap ponsel miliknya dengan tatapan tidak percaya.


"Astagfirullah! Bisa-bisanya mertuaku itu memutuskan sambungan telponnya!" kesal Sigit seraya menyimpan ponselnya di atas nakas.


Padahal dia masih ingin curhat, tetapi mertuanya itu malah memutuskan sambungan telponnya tanpa sebab.

__ADS_1


"Aih! Apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Sigit prustasi.


Akhirnya Sigit memutuskan untuk menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur, dia memeluk guling dengan wajah yang ditekuk. Sungguh dia tidak bisa tidur jika Aruna tidak mau satu kamar dengan dirinya.


"Kenapa nasibku malang seperti ini? Kenapa istriku tidak mau tidur denganku? Apa salahku coba? Apa besok aku harus membeli sabun dengan aroma lemon biar tubuhku tidak tercium bau oleh istriku?"


Sigit terus saja bertanya-tanya di dalam hatinya tentang apa yang harus dia lakukan, dia terus saja menatap langit-langit kamarnya dengan pikiran yang berkelana jauh.


Pria itu bahkan begitu asyik dengan lamunannya, hingga dua puluh menit kemudian dia benar-benar kaget karena tiba-tiba saja ada yang mengetuk pintu kamarnya dari luar.


Orang itu mengetuk pintu kamar Sigit dengan tidak sabar, terdengar tergesa-gesa dan seakan ingin segera ingin dibukakan pintu.


Karena merasa tidak tahan dengan berisiknya ketukan pintu itu, Sigit akhirnya turun dari tempat tidur dan membuka pintu kamarnya tersebut.


"Ayah, Bunda!" pekik Sigit yang begitu kaget ketika dia membuka pintu, karena ternyata Satria dan juga Rachel yang ada di sana.


Dia tidak menyangka karena ulahnya yang mengadu kepada Satria, pria itu langsung datang untuk menemui dirinya. Kedua mertuanya itu memanglah luar biasa, pikirnya.


"Ya, ini Ayah sama Bunda. Sekarang kamu ke kamar Ay dan cepat minta Aruna untuk melakukan tes kehamilan," ujar Satria seraya memberikan tespek kepada Sigit.


Saat ini istrinya sedang tidak ingin berdekatan dengan dirinya, lalu kenapa tiba-tiba Satria datang dan meminta dirinya untuk meminta Aruna melakukan tes kehamilan. Apa hubungannya antara malas berdekatan dengan dirinya dan juga kehamilan, pikirnya.


"Astagfirullah! Kok malah diem aja? Cepat pergi ke kamar Ay, terus minta istri kamu untuk melakukan tes kehamilan." Satria menggelengkan kepalanya.


Sigit terlihat menekuk wajahnya ketika mendengar apa yang dikatakan oleh Satria, karena nyatanya saat ini dia benar-benar tidak bisa berdekatan dengan istrinya tersebut.


"Tapi, Yah. Aruna tidak mau dekat denganku, katanya aku bau. Kalau aku dekat-dekat sama dia, dia akan mual. Mana berani aku menemuinya," jawab Sigit.


"Ya ampun, kamu ini gimana sih? Suaminya tapi kok gitu? Ya udah kalau gitu, Ayah aja yang nemuin Aruna," ucap Satria yang memang tidak sabar ingin mengetahui apakah putrinya hamil atau tidak.


Biasanya kalau seorang wanita sudah bersikap aneh seperti itu, itu artinya tanda-tanda kehamilan. Tidak ada salahnya bukan jika Satria datang dan meminta putrinya untuk melakukan tes kehamilan, pikirnya.

__ADS_1


Satria melangkahkan kakinya menuju kamar Ayana dengan tergesa, Rachel dengan setia bersama dengan Satria. Sigit juga ikut mengekori langkah keduanya, karena tetap saja dia merasa kepo dengan apa yang akan dilakukan oleh Satria.


Walaupun tidak bisa berdekatan dengan istrinya, setidaknya dia bisa melihat apa yang nantinya akan dibicarakan oleh Satria dan juga Rachel kepada istrinya tersebut.


Setelah tiba di depan kamar Ayana, Satria membuka pintu kamar tersebut dengan begitu perlahan. Mungkin karena pria itu tidak mau mengagetkan putrinya yang sedang tertidur dengan lelap.


Satria langsung tersenyum ketika melihat Ayana sedang tertidur dengan pulas seraya memeluk guling, sedangkan Aruna terlihat tidur dengan begitu pulas seraya memeluk Ayaka.


Walaupun Satria sangat paham jika Ayaka bukan putri kandung dari Aruna, tetapi dia begitu senang melihat kedekatan antara Aruna dan juga Ayaka. Mereka benar-benar sudah seperti anak dan juga ibu kandung.


Dengan begitu perlahan Satria mendekat ke arah putrinya, dia elus lengan Aruna dengan begitu lembut. Tentunya hal itu dia lakukan karena tidak mau membuat putrinya itu kaget.


Tidak lama kemudian, Aruna terlihat mengerjapkan matanya. Dia begitu kaget sekali saat melihat Satria yang ada di sampingnya, Aruna berusaha untuk bangun dan memeluk ayahnya tersebut.


Rasanya sangat menenangkan bisa memeluk ayahnya seperti itu, Aruna juga terlihat begitu senang ketika di sana dia melihat Rachel yang sedang tersenyum hangat ke arahnya.


"Ayah sama Bunda di sini?" tanya Aruna dengan senang saat merasakan pelukan dari Satria yang begitu nyata.


"Iya, Sayang. Ada yang ingin Ayah pastikan," jawab Satria.


Aruna melerai pelukannya bersama dengan ayahnya, lalu dia tersenyum ke arah la Rachel dan Rachel dengan cepat menghampiri Aruna lalu memeluk putrinya tersebut.


"Apa yang ingin kalian pastikan? Sebenarnya kalian Ini kenapa sih? Kenapa malam-malam seperti ini repot-repot sekali datang ke rumahku? Nanti kalian capek loh," ujar Aruna.


"Ayah sama Bunda nggak capek, kok. Sekarang kamu ikut Bunda ke kamar mandi yuk, Bunda ingin memastikan sesuatu," ajak Rachel.


Aruna melerai pelukannya bersama dengan ibunya, lalu dia menatap wajah ibunya dengan tatapan penuh tanya.


"Mau ngapain ke kamar mandi, Bun? Ini udah malam loh, aku nggak mau mandi. Dingin," ucap Aruna dengan manja.


"Ngga perlu mandi kok, Sayang. Ayo ke kamar mandi dulu, karena Bunda ingin kamu melakukan tes kehamilan."

__ADS_1


Wajah Aruna terlihat begitu kaget mendengar apa yang dikatakan oleh ibunya, kenapa Ibunya dan juga ayahnya tiba-tiba saja datang hanya untuk mengajak dirinya melakukan tes kehamilan, pikirnya.


"Maksudnya bagaimana, Bun?" tanya Aruna dengan penasaran.


__ADS_2