
Jadi, bagaimana, Tuan? Biasakah anda bekerja sama dengan saya?" tanya Ainun dengan was-was.
Sagara menatap wajah Ainun dengan lekat, dia seolah sedang mempertimbangkan usulan-usulan bagus dari Ainun itu.
Berbeda dengan Kenzo, dia yang melihat wajah wanita yang ada di hadapannya terlihat begitu kasihan, dia menolehkan wajahnya ke arah pamannya lalu dia berkata.
"Sebaiknya Om bekerja sama saja dengan tante Ainun, karena selain bisa mengembangkan usaha dari Tante Ainun, masyarakat di sini juga bisa kebagian rezekinya."
Sagara sampai mengernyitkan dahinya dengan dalam saat mendengar apa yang dikatakan oleh Kenzo, perkataan anak itu terdengar seperti orang dewasa yang sedang berbicara.
"Maksudnya?" tanya Sagara tidak paham.
Anak tampan itu nampak mengerucutkan bibirnya ke arah Sagara, dia merasa tidak suka karena pamannya itu tidak bisa langsung menangkap apa yang dia katakan.
"Om ternyata sangat lemot, jika di dekat daerah pegunungan ada tempat pariwisata, itu artinya orang-orang yang ada di sana akan mendagangkan hasil panen mereka atau mandagangkan hasil kerjinannya. Nah, jadinya pan mereka dapet uang," ujar Kenzo.
Bisa saja orang-orang di sekitar wilayah pegunungan membuat camilan dari sayuran, lalu menjajakan dagangannya pada pengunjung. Atau, bisa saja orang-orang di sana membuat olahan khas makanan dari daerah tersebut, lalu menjualnya pada pengunjung.
Baik Ainun ataupun Sagara terlihat menatap Kenzo dengan tidak percaya, karena ternyata anak itu begitu pandai. Sagara benar-benar tidak menyangka jika dia mempunyai keponakan yang sangat luar biasa.
"Kamu benar, tapi... kenapa kamu sangat pandai?" tanya Sagara.
Kenzo masih berusia 5 tahun, rasanya sangat tidak mungkin jika anak seusia itu bisa begitu pandai. Bisa saja saat ini ada arwah penunggu daerah sana yang sedang berbisik tepat di telinga Kenzo.
Sagara sampai memperhatikan sekitaran Kenzo, siapa tahu dugaannya sangatlah benar. Namun, jika memang di sana ada arwah atau roh halus, pasti rasanya akan lain.
"Aku sering liat papa bahas masalah pekerjaan dengan buna," jawab Kenzo seraya nyengir kuda.
Sigit langsung menepuk jidatnya, karena ternyata benar apa yang dikatakan psikologi tentang anak kecil. Anak kecil itu memiliki otak seperti spon, ucapan yang dia dengar atau perilaku yang dia lihat ibarat seperti air yang akan dia serap.
Maka dari itu psikologi anak selalu berkata jangan berkata hal yang tidak baik di hadapan anak kecil, apalagi berperilaku yang tidak baik.
"Oh ya ampun! Untung yang mereka bahas adalah masalah pekerjaan, jika mereka membahas masalah tutorial membuat anak, pasti akan sangat bahaya." Sagara berbicara dengan begitu pelan sekali, tetapi Ainun dan juga Kenzo masih bisa mendengar ucapan yang keluar dari bibir Sagara.
Wanita muda itu sampai tersenyum karena mendengar ucapan dari Sagara, berbeda dengan Kenzo yang terlihat kebingungan mendengar apa yang dikatakan oleh pamannya tersebut.
"Memangnya cara membuat anak itu bagaimana, Om? Ken juga pengen tahu kenapa di dalam perut buna sekarang ada dedek bayinya," ujar Kenzo.
"Eh? Itu, anu. Mungkin karena buna terlalu banyak makan, makanya dia menjadi hamil." Sagara yang kebingungan menjawab secara asal.
"Ck! Om bohong, jika buna hamil karena kebanyakan makan, Ken dan juga Om pasti akan hamil juga." Kenzo berbicara dengan begitu serius, Sagara sampai tidak bisa berkata apa pun.
Ainun yang melihat kebingungan di wajah Sagara terlihat begitu kasihan, wanita muda itu langsung mengusap lengan Kenzo lalu berkata.
__ADS_1
"Kamu tuh anak pandai, Tante suka. Untuk pembahasan yang lain nanti saja dibahasnya, sekarang tolong jawab pertanyaan dari Tante. Bagaimana dengan kerjasama yang Tante ajukan?" tanya Ainun.
"Ken setuju, ngga tau sama Om saga," ujar Kenzo dengan wajahnya yang begitu menggemaskan.
Sagara langsung tertawa mendengar ucapan dari keponakannya tersebut, dia menatap wanita itu dengan penuh kekaguman. Karena terlihat sekali jika wanita itu memiliki tekad yang begitu kuat.
"Baiklah, saya setuju. Minggu depan saya akan datang kembali untuk meninjau lokasi, tentunya sebelum menyepakati bagaimana resor yang akan kita buat nanti, aku ingin tahu lebih dulu bagaimana lokasinya," ujar Sagara.
"Alhamdulillah, terima kasih, Tuan. Anda sangat baik sudah memberikan kepercayaan terhadap saya," ujar Ainun dengan senang.
"Hem!" jawab Sagara.
Ainun yang merasa senang langsung menunjukkan letak kolom yang harus ditandatangani oleh Sagara, karena dengan seperti itu kerjasama antara kedua belah pihak sah dimulai.
Setelah menandatangani berkas kerjasama dengan Ainun, Kenzo langsung mengajak Sagara untuk bermain air di pantai. Sagara yang pada awalnya merasa enggan untuk bermain air, terlihat ikut basah karena dia malah kesenangan bermain air bersama dengan Kenzo.
Beberapa bulan kemudian.
Aruna dan juga Sigit baru saja melaksanakan shalat subuh, keduanya sedang duduk di atas sofa. Aruna yang sedang hamil besar itu nampak memeluk Sigit, lalu dia menarik tangan Sigit agar mau mengelusi perutnya.
"Mas, perut aku rasanya ngilu banget deh. Ini anak kamunya gerak-gerak terus," adu Aruna.
Sigit tersenyum senang saat merasakan gerakan calon buah hatinya, calon buah hatinya ini memanglah sangat aktif sekali.
Bukannya berhenti, justru gerakan calon buah hati semakin aktif saja. Aruna sampai meringis dibuatnya, Sigit dengan sigap mengelusi punggung istrinya.
"Perut bagian bawah aku sakit banget, Yang. Dia nendangnya kuat banget, aduh!" Aruna nampak mengelusi perut bagian bawahnya.
"Ini udah bulannya loh, apa kamu mau melahirkan ya?" tanya Sigit.
"Ngga tau juga, tapi sekarang aku merasa mulai mules. Aduh, ini sakit sekali!" ujar Aruna seraya mencengkram sofa dengan kuat.
Sigit benar-benar merasa khawatir sekali karena Aruna terus saja mengaduh kesakitan, terlebih lagi ketika melihat wajah Aruna yang kian memucat.
"Kita ke rumah sakit saja, Yang. Aku nggak tega lihat kamu kayak gini, takutnya kamu mau lahiran." Sigit dengan sigap langsung menggendong tubuh istrinya tersebut.
Di juga tidak lupa meminta pelayan untuk membawakan perlengkapan Aruna untuk melahirkan, setelah itu dia menitipkan anak-anaknya dan segera pergi ke rumah sakit.
Beberapa kali Aruna diperiksa ke rumah sakit, keadaan baby-nya sangatlah sehat. Keadaan Aruna juga cukup sehat, tetapi setiap kali Aruna melakukan senam kehamilan, wanita itu sering sesak napas.
Tentunya hal itu membuat Sigit khawatir, karena Aruna sempat berkata jika dia ingin melahirkan secara normal. Namun, tentunya Sigit sudah berkonsultasi dengan dokter. Dokter berkata jika Aruna kuat, maka dokter akan membantu Aruna melahirkan secara normal.
Akan tetapi, jika wanita itu tidak bisa mengejan kala melahirkan anak ketiganya, maka tentunya dokter akan melakukan operasi caesar.
__ADS_1
"Ini semakin sakit," adu Aruna ketika mereka tiba di rumah sakit.
"Sabar, Sayang. Banyakin baca istighfar," ujar Sigit yang benar-benar merasa khawatir karena ketika Sigit menggendong tubuh istrinya, tubuh bagian bawah istrinya terasa begitu basah.
Sigit dengan cepat membawa Aruna ke dalam ruang observasi, dia merebahkan tubuh Aruna di atas ranjang pasien dan meminta dokter untuk memeriksa kondisi kandungan istrinya tersebut.
"Kepala babynya terlihat, kita pindahkan ke ruang bersalin," ujar Dokter.
"Iya, Dok!" jawab Sigit dengan lega karena jika kepala bayinya sudah terlihat, itu artinya calon buah hatinya tersebut akan segera lahir ke dunia.
Semoga saja tidak perlu melakukan operasi sesar sesuai dengan harapan dari Aruna, itulah doa Sigit ketika melihat istrinya dipindahkan ke dalam ruang persalinan.
"Semangat, Sayang. Calon buah hati kita akan segera lahir, aku percaya kamu adalah wanita yang kuat. Kamu adalah bidadariku yang selalu menjalani hidup penuh semangat," bisik Sigit tepat di telinga istrinya.
Aruna yang sedang menarik napas dalam untuk bersiap melahirkan hanya mampu menganggukkan kepalanya, lalu dengan cepat Aruna mengejan karena sudah diinstruksikan oleh dokter.
"Terus, Nyonya. Satu kali tarikan napas lagi, ayo semangat. Dedeknya sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Bunda dan juga Papanya," ujar dokter menyemangati.
Kembali Aruna mengejan dengan kuat, Sigit dengan setia menggenggam tangan istrinya. Bahkan bibirnya tak henti-hentinya menyemangati istrinya tersebut.
Tidak lama kemudian, terdengarlah tangisan bayi yang begitu kencang. Aruna dan Sigit sampai menangis haru karena akhirnya Aruna bisa melahirkan dengan normal.
"Dia sangat cantik, sehat dan tentunya sangat sempurna. Selamat ya, Tuan. Selamat ya, Nyonya." Dokter nampak memangku bayi yang berlumuran darah itu, lalu dia memberikan bayi itu kepada suster untuk dibersihkan.
"Alhamdulillah!" ujar Sigit dan Aruna, karena mereka begitu senang mendengar buah hati mereka lahir dengan sempurna.
Mereka dari awal sudah memutuskan untuk tidak mempermasalahkan jenis kelamin anak mereka, karena yang terpenting sehat dan juga sempurna. Mau anak perempuan ataupun laki-laki sama saja, sama-sama berkah dari Tuhan.
"Bayinya sudah dibersihkan, mau diadzani dulu atau mau disusui dulu?" tanya Dokter.
Sigit dan Aruna nampak memperhatikan wajah baby cantik itu, nampak anteng tidak seperti saat sedang di dalam perut yang tidak bisa diam seperti orang yang tidak sabar ingin cepat keluar.
"Diadzani dulu aja, Dok. Baru nanti disusui," jawab Sigit.
Dokter dengan perlahan menyerahkan baby cantik itu kepada Sigit, lalu sedikit menerima bayi itu dan langsung mengajari putrinya tepat di telinga kanan bayi tersebut. Setelah itu, Sigit membacakan Iqamah tepat di telinga kiri sang putri.
"Jadilah putri yang cantik wajahnya dan cantik akhlaknya, Papa sayang kamu, Nak." Sigit mengecup kening putrinya yang masih memerah itu, lalu memberikannya kepada Aruna untuk disusui.
"Dia sangat cantik, oiya, Sayang. Apakah ayah dan bunda sudah diberitahukan?" tanya Aruna.
"Astagfirullah, Yang. Aku tadi terlalu panik, maaf." Sigit dengan cepat mengambil ponselnya, lalu dia menghubungi Satria dan juga Rachel.
"Ya ampun!" ujar Aruna seraya terkekeh.
__ADS_1