
"Pasti Buna tadi ngademnya di lual lumah, makanya lehelnya pada melah digigit sama binatang," jawab Ayana.
Wajah Aruna langsung memerah, karena pastinya apa yang dimaksud oleh putrinya adalah tanda yang dibuat oleh Sigit.
Namun, Aruna merasa beruntung karena putrinya masih sangat kecil. Belum paham akan hal itu, sepertinya nanti setelah dia mandi harus menutup tanda cinta yang diberikan oleh Sigit dengan foundation.
"Ini masih sangat pagi, kenapa kamu sudah bangun?" tanya Aruna mengalihkan perhatian.
"Ay pengen pipis, jadinya kebangun. Ayo Buna kita mandi, abis itu kita shalat subuh." Ayana menggoyang-goyangkan tubuhnya di dalam gendongan ibunya.
Tubuh Ayana semakin tinggi saja, tetapi Aruna tetap saja merasa senang memperlakukan putrinya seperti bayi kecil.
"Masih jam 3, Sayang. Nanti saja mandinya kalau sudah jam 4, sekarang kita boboan aja." Aruna langsung mengajak Ayana menuju kamar Sigit, dia merebahkan tubuh mungil putrinya di atas tempat tidur.
Lalu, Aruna ikut merebahkan tubuhnya. Dia menepuk-nepuk punggung Ayana dengan penuh kasih, Ayana tersenyum lalu berkata.
"Buna, kenapa piyama tidul yang Buna pakai telbalik sepelti ini?" tanya Ayana.
"Eh? Itu, anu. Ehm! Buna ke kamar mandi dulu, kamu boboan aja ya," ujar Aruna yang tidak bisa menjawab pertanyaan dari putrinya.
Setelah mengatakan hal itu, Aruna langsung turun dari tempat tidur dan berlari menuju kamar mandi. Dia duduk di atas kloset tertutup seraya menepuk-nepuk jidatnya.
"Ya ampun! Kenapa aku bisa seteledor ini?" tanya Aruna dengan kesal bercampur malu.
Karena merasa malu untuk bertemu dengan Ayana, Aruna memutuskan untuk segera mandi saja. Rasanya itu akan lebih baik, daripada nantinya dia harus menjawab pertanyaan dari Ayana.
"Putriku sudah semakin besar, aku tidak boleh teledor. Bahaya nanti," ujar Aruna seraya membuka piyama tidurnya.
Aruna hanya memerlukan waktu selama lima belas menit saja untuk membersihkan tubuhnya, setelah itu dia keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan kimono mandi saja.
Saat dia keluar dari dalam kamar mandi, ternyata di sana sudah ada Sigit yang sedang menemani Ayana. Pria itu sudah terlihat tampan dengan menggunakan stelan rumahan, kaos pendek berwarna putih dipadupadankan dengan celana pendek berwarna hitam.
Aruna tersenyum melihat kebersamaan antara Sigit dan juga Ayana, lalu dia masuk ke dalam walk in closet untuk berpakaian.
"Buna udah cantik, Papa juga udah tampan. Aku mandi juga ya, Bun?" pinta Ayana.
"Boleh, Sayang. Mau dimandiin atau mandi sendiri?" tanya Aruna.
__ADS_1
"Aku sudah besal, aku sudah masuk sekolah SD. Mau mandi sendili," jawab Ayana yang masih saja cadel. Padahal, kini dia sudah duduk di bangku kelas 1 SD.
"Boleh, Sayang. Mandinya yang bersih," ujar Aruna.
"Ya, Buna." Ayana turun dari atas tempat tidur, dia mengambil handuk lalu melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.
Selepas kepergian Ayana, Sigit menghampiri istrinya lalu memeluk Aruna dengan begitu posesif. Dia menunduk lalu berbisik tepat di telinga istrinya tersebut.
"Nanti malem pokoknya harus dua kali, soalnya jatah pagi aku malah ngga dapet."
"Ya ampun! Iya, Sayang," jawab Aruna yang tidak mau mengecewakan suaminya.
Sigit tersenyum dengan begitu manis mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya, lalu dia kembali berbisik di telinga istrinya.
"Mumpung Ay di kamar mandi, sun dulu dong Yang?" pinta Sigit.
Aruna langsung memelototkan matanya kepada pria muda yang sudah menjadi suaminya tersebut, perlakuan Sigit kepada dirinya benar-benar berbeda dengan Sam, pikirnya.
"Aih! Jangan macem-macem, nanti kamu pengen yang lain," jawab Aruna.
"Cium, Yang. Aku pasti bisa tahan kok, hanya cium. Mumpung Ay di kamar mandi, sini baring. Aku pengen cium," rengek Sigit.
Sigit langsung tersenyum lalu mengungkung pergerakan istrinya, dengan tidak sabarnya dia langsung menyatukan bibirnya dengan bibir istrinya.
Sigit memagut bibir istrinya dengan penuh hasrat, Aruna yang awalnya merasa enggan malah terlihat begitu agresif membalas ciuman dari pria itu. Apalagi ketika Sigit mulai meremat kedua dadanya, Aruna terlihat mencium bibir Sigit dengan penuh hasrat.
"Makasih, Sayang," ujar Sigit setelah pagutan bibir mereka terlepas.
"Hem!" jawab Aruna seraya mengusap bibir Sigit.
Di lain tempat.
Ayaka yang merasa kelaparan langsung keluar dari dalam kamar kecil yang ada di dekat gudang, dia melangkahkan kaki mungilnya menuju dapur.
Wajahnya nampak gelisah, dia menolehkan wajahnya ke kanan dan ke kiri layaknya seorang pencuri yang hendak mengambil incarannya.
"Aya lapar!" ucapnya lirih.
__ADS_1
Ayaka membuka lemari pendingin, di sana nampak berjajar rapi makanan mentah. Ayaka sangat kebingungan, karena tidak ada makanan yang bisa dimakan secara langsung.
Seorang pelayan wanita datang menghampiri Ayaka, dia merasa iba terhadap anak itu. Karena selama dia di sana, Ayaka tidak pernah diperlakukan dengan baik oleh majikannya.
Sang majikan terpaksa memberikan tempat untuk Ayaka tinggal, karena dia takut dipenjarakan setelah menabrak Ayaka.
Terlebih lagi kini wajah Ayaka terlihat begitu mengerikan, di kedua pipinya terdapat bekas luka yang lebar dan dalam.
Wanita yang menabrak Ayaka hanya memberikan pengobatan ala kadarnya, karena dia tidak mau mengeluarkan uang yang banyak untuk mengobati anak itu.
"Adik kecil lapar?" tanya Bibi.
Ayaka menganggukkan kepalanya, lalu dia menunduk karena takut. Pelayanan wanita itu benar-benar merasa iba, dia elus puncak kepala Ayaka dan berkata.
"Tunggulah di dalam kamar Bibi, nanti Bibi bawakan makanan untuk kamu," ujar Bibi
Ayaka menganggukan kepalanya dengan patuh, lalu dia berjalan menuju kamar pelayan itu dengan langkah yang begitu pelan karena takut membangunkan sang pemilik rumah.
Bibi dengan cepat mengendokkan nasi untuk Ayaka, lalu untuk lauknya dia hanya membuatkan Ayaka ceplok telor saja. Karena dia takut akan ketahuan oleh majikannya jika membuat masakan yang lainnya.
Setelah itu, dia dengan cepat melangkahkan kakinya menuju kamarnya. Dia langsung memberikan sepiring nasi itu kepada Ayaka.
"Cepat makan, Sayang. Takutnya nyonya keburu bangun," ujar Bibi.
Ayaka hanya menganggukkan kepalanya, lalu dia memakan makanan yang diberikan oleh bibi dengan begitu lahap. Melihat akan hal itu bibi sampai menangis dibuatnya, dia merasa kasihan tapi tidak bisa menolong.
Ayaka diperlakukan layaknya seorang pelayan, padahal usianya baru 5 tahun. Setiap hari dia akan ditugaskan untuk menyapu lantai dan juga menyiram bunga, terkadang Ayaka akan disuruh untuk membersihkan halaman depan dan juga halaman belakang rumah tersebut.
Ayaka bahkan sudah seperti orang gagu, dia tidak pernah berbicara sama sekali. Karena anak itu terlalu takut untuk berbicara, satu tahun tinggal di sana membuat dia begitu tertekan.
Namun, ketika dia berusaha untuk kabur, sang pemilik rumah mengetahuinya dan dia dipukuli sampai demam selama tiga hari. Oleh karena itu, Ayaka tidak pernah berani lagi untuk melarikan diri.
"Anak pandai, sekarang minumnya dihabiskan. Setelah itu mandi yang bersih, biar nyonya ngga marah." Bibi membantu mengikat rambut Ayaka yang nampak sudah panjang.
Ayaka tersenyum lalu memeluk bibi, dia merasa senang karena masih ada yang begitu perhatian kepada dirinya. Tidak lama kemudian, Ayaka melerai pelukannya dan tersenyum dengan begitu manis kepada bibi.
"Pergilah, Sayang. Mandi yang bersih," ujar Bibi.
__ADS_1
Kembali Ayaka menganggukkan kepalanya, dia tersenyum lalu pergi dari sana menuju kamar kecil tempat dia tidur selama 1 tahun ini.