Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab. 61


__ADS_3

Pagi ini Aruna kembali pergi ke rumah sakit setelah mengantarkan Ayana ke sekolahnya, semalaman dia sudah berpikir dengan begitu keras. Dia ingin mengatakan semuanya kepada Almira, tanpa ada yang ditutup-tutupi.


Rasanya memberitahukan semuanya dengan cepat akan terasa lebih baik, karena dia juga merasa tidak enak hati terhadap Sigit yang membawa Ayaka pulang.


Terlebih lagi tadi pagi Sigit mengirimkan foto Ayaka yang hanya terdiam tanpa banyak bicara, ada banyak beban yang disimpan dan juga kesedihan di dalam sorot mata gadis kecil itu.


Aruna merasa iba saat melihat akan hal itu, miris sekali rasanya di usia Ayaka yang masih begitu kecil harus menanggung beban derita yang begitu berat. Ditinggalkan Ibunya kabur dan ditinggal Sam dipenjara sudah menjadi beban moril bagi Ayaka.


Sungguh Aruna berharap jika Almira mau menerima dan juga mengurus Ayaka dengan baik, karena walau bagaimanapun juga Ayaka adalah cucunya sendiri.


"Pagi, Mom." Aruna mendorong pintu ruangan itu dan langsung masuk untuk menghampiri Almira.


Almira tersenyum hangat melihat kedatangan mantan menantunya itu, karena perhatian Aruna terhadap dirinya tidak hilang walaupun Sam sudah menghianati Aruna.


"Pagi, Sayang. Mom sudah sehat, sudah ingin pulang. Kamu mau kan, antarkan Mom?" tanya Almira.


Aruna membalas senyuman dari mantan mertuanya tersebut, lalu dia menganggukkan kepalanya tanda mengiyakan.


"Mau, Mom. Aku akan meminta anak buah ayah untuk mengurus semuanya, setelah itu Mom bisa langsung pulang. Mom bisa istirahat di rumah," ujar Aruna seraya duduk di samping Almira.


Iba rasanya saat melihat wajah Almira, wajah wanita paruh baya itu dulu selalu saja terlihat ceria. Namun, kini wanita itu menyimpan banyak luka atas apa yang sudah dilakukan anaknya sendiri.


"Terima kasih, Sayang. Karena kamu masih mau mengurusi Mom, kamu sangat baik, Sayang." Almira mengusap lengan Aruna dengan penuh kasih.


Mendengar ucapan dari Almira, Aruna hanya tersenyum. Tidak lama kemudian, dia menghela napas sepenuh dada. Lalu, mengeluarkannya dengan perlahan. Ini adalah waktunya untuk mengatakan yang sebenarnya kepada Almira, tidak boleh menunggu lama lagi.


"Ehm! Mom, sebenarnya ada yang ingin aku sampaikan. Tapi, aku mohon Mom jangan marah. Mom harus tetap tenang," ujar Aruna.


Almira terdiam untuk sesaat, Almira sudah bisa menebak apa yang sebenarnya akan dikatakan oleh Aruna. Pasti tentang Sam, atau mungkin Angel dan juga anak dari selingkuhannya itu.

__ADS_1


"Apa, Sayang?" tanya Almira berusaha untuk tenang.


"Sam dipenjara, Angel kabur dan putrinya Ayaka tidak ada yang mengurusi. Apakah Mom--"


Almira langsung memelototkan matanya, dia sudah bisa menebak dengan apa yang akan diucapkan oleh Aruna. Maka dari itu dia langsung memangkas ucapan dari mantan menantunya itu.


"Jika kamu bertanya apakah Mom mau mengurusi anak haram itu atau tidak, tentu saja jawabannya tidak. Ibunya saja membuang dia, Mom tidak mau berurusan dengan anak dari selingkuhan Sam itu."


Almira berucap dengan air mata yang mengalir di kedua pipinya, Aruna ikut menangis. Sedih sekali rasanya mendengar kata-kata apa yang keluar dari bibir Almira.


Jika saja Ayaka tidak pernah menyakiti Ayana, mungkin dia akan mengambil anak itu dan membesarkannya sama seperti anaknya sendiri. Namun, dia tidak bisa.


Terlebih lagi Ayaka adalah anak hasil dari perselingkuhan antara Sam dan juga Angel, pastinya setiap Aruna melihat wajah Ayaka, perselingkuhan yang terjadi di antara Sam dan juga Angel akan terbayang-bayang di pelupuk matanya.


Parahnya lagi, Aruna sudah dua kali melihat percintaan panas antara Sam dan juga Angel. Jijik rasanya jika mengingat akan hal itu, Aruna tidak akan sanggup. Namun, rasanya dia tidak setuju jika Almira mengatakan anak haram kepada Ayaka.


"Mom! Tidak ada yang namanya anak haram, hanya perbuatan Sam dan juga Angel yang salah selama 5 tahun ini, tolong Ayaka, Mom. Dia membutuhkan kasih sayang Mom," bujuk Aruna.


"Mom sedang sakit, Aruna, Sayang. Jika anak itu Mom yang urus, Mom bisa mati karena melihat wajah anak itu."


Aruna hanya bisa menghela napas berat seraya mengusap air matanya, dia tidak menyangka jika Almira benar-benar tidak mau menerima Ayaka.


''Baiklah, Mom. Kalau Mom tidak mau mengurusi Ayaka, aku akan menitipkannya ke panti asuhan." Aruna tersenyum getir setelah mengatakan hal itu.


Setelah anak buah Satria mengurusi surat kepulangan Almira, akhirnya Aruna mengantarkan Almira menuju kediaman Rahardi. Setelah itu, Aruna langsung berpamitan karena ingin pergi ke perusahaan Siregar.


Tentu saja tujuan utama dia adalah untuk bertemu dengan Sigit, dia ingin membicarakan masalah Ayaka kepada pria muda itu.


Saat Aruna tiba di perusahaan Siregar, dia langsung melangkahkan kakinya menuju ruangan pria itu. Tentu saja dia bisa dengan mudah masuk ke dalam perusahaan tersebut, karena walaupun dia sudah lama tidak bekerja, banyak karyawan di sana yang masih mengenali Aruna.

__ADS_1


Saat Aruna tiba di depan ruangan Sigit, Aruna sempat mengurungkan niatnya untuk bertemu dengan pria itu. Karena dia melihat Sigit sedang duduk berdampingan dengan seorang wanita muda dan juga cantik, wanita itu nampak lengket dengan Sigit.


Namun, setelah dia meyakinkan hatinya, akhirnya dia memutuskan untuk segera menemui pria itu dan berbicara dengannya.


"Assalamualaikum! Apa aku mengganggu?" tanya Aruna ketika dia masuk ke dalam ruangan Sigit.


Wanita yang ada di samping Sigit langsung merapatkan tubuhnya ke arah pria itu, berbeda dengan Sigit yang langsung menggeser letak duduknya. Sigit menyimpan berkas yang ada di tangannya dan menyapa Aruna.


"Wa'alaikumsalam! Yang, tumben ke sini? Ada apa, hem?" tanya Sigit seraya bangun dan menghampiri Aruna.


Pria muda itu langsung merangkul pundak Aruna, lalu dia menuntun Aruna untuk duduk di atas sofa tepat di hadapan wanita cantik yang sejak tadi terlihat begitu dekat dengan Sigit.


"Oiya, Sayang. Wanita itu adalah pemilik perusahaan Prameswari, dia sedang mengajukan kerjasama," ujar Sigit.


Aruna memperhatikan penampilan wanita muda yang ada di hadapannya, wanita itu terlihat begitu seksi sekali. Dia memakai dress tanpa lengan dengan panjang hanya sampai setengah paha, bodynya yang begitu seksi benar-benar memanjakan mata.


Wanita itu juga menggunakan bedak yang lumayan tebal, terlihat menor dan bibirnya begitu merah merona.


"Oh!" ujar Aruna.


Setelah mengatakan hal itu, Aruna mengambil berkas kerjasama yang diberikan oleh wanita itu. Lalu, Aruna membuka berkas tersebut. Kemudian, tanpa lagu Aruna berkata.


"Maaf, Nona Cantik. Program kerjasama yang anda tawarkan saya tolak," ucap Aruna seraya menutup berkas tersebut dan memberikannya kepada wanita tersebut.


Wanita itu hanya bisa mengerjapkan matanya, dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Aruna. Berbeda dengan Sigit, pria itu langsung tersenyum bahagia mendengar Aruna yang mengatakan hal seperti itu.


Apalagi ketika melihat raut cemburu di wajah Aruna. Sigit bahkan langsung mencondongkan tubuhnya, lalu dia berbisik tepat di telinga Aruna.


"Kamu cemburu?" tanya Sigit.

__ADS_1


Aruna langsung memundurkan wajahnya, lalu dia menatap Sigit dengan tatapan tajamnya. Sigit langsung mengatupkan mulutnya menahan tawa, dia bahkan langsung menunduk karena tidak tahan melihat wajah Aruna.


__ADS_2