Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 38


__ADS_3

Sam membawa Almira ke rumah sakit dengan perasaan campur aduk, dia sangat sadar kenapa Ibunya bisa pingsan seperti itu. Dia yakin jika Almira sudah mendengar semuanya, maka dari itu dia pingsan karena syok.


Angel hendak ikut ke rumah sakit untuk mengantar wanita yang melahirkan Sam itu, sayangnya sama menolak jika Angel ikut bersama dengan dirinya. Sam berkata jika Angel lebih baik mengurusi Ayaka saja, karena Sam dengan jelas mendengar jika Ayaka sedang berada di rumah sakit dan kritis.


"Sam! Aku ikut," pinta Angel mengiba ketika Sam mulai menyalakan mesin mobilnya.


"Pergilah untuk jaga Aya, tidak usah ikut denganku." Sam langsung melajukan mobilnya dengan cepat.


Angel menggerutu karena kesal, sudah lama kemudian dia langsung masuk ke dalam mobilnya dan pergi ke kediamannya. Rumah mewah yang sudah dibelikan Sam untuk dirinya.


Karena pada kenyataannya, Ayaka tidak mencoba untuk bunuh diri. Gadis kecil itu hanya mengurung diri di dalam kamar, itu dia lakukan sebagai bentuk protesnya kepada Sam.


"Dok! Tolong periksa kondisi kesehatan ibu saya," pinta Sam ketika dia sampai di dalam ruang IGD.


"Baik, Tuan. Saya akan memeriksakan kondisi kesehatan ibu anda, silakan anda tunggu di luar," pinta Dokter.


"Iya, Dok," jawab Sam.


Sam keluar dari dalam ruang IGD itu dengan langkah gontai, dia benar-benar tidak menyangka jika hal ini akan terjadi terhadap dirinya. Dia tidak menyangka jika Aruna akan langsung menceraikan dirinya, dia juga tidak menyangka jika ibunya akan pingsan seperti ini.


Namun, satu hal yang bisa membuat pikiran Sam lega. Aruna mengizinkan dirinya kapan pun untuk menemui putri mereka, sungguh Sam berjanji akan menggunakan kesempatan tersebut untuk mendekati Aruna kembali.


Dia benar-benar tidak rela jika harus berpisah dengan wanita sebaik Aruna, dia baru menyadari jika tidak ada wanita yang lebih baik dari Aruna. Aruna selalu melayani dirinya dengan sepenuh hati, mengurus ibunya dengan sepenuh hati dan membesarkan Ayana dengan penuh cinta.


"Aku akan berusaha untuk merebut hati kamu kembali, Sayang," ujar Sam seraya menjambak rambutnya sendiri.


Di lain tempat.


Aruna mengendarai mobilnya tidak tentu arah, karena hatinya tetap saja merasa terluka ketika melihat tatapan mata Sam yang sedang mengiba untuk tidak ditinggalkan.

__ADS_1


Sebenarnya dia ingin langsung pulang dan memeluk Rachel atau Satria, karena menurutnya akan lebih menenangkan jika berada di dalam pelukan kedua orang tuanya.


Namun, dia tidak ingin memperlihatkan kesedihannya di hadapan kedua orang tuanya. Dia ingin menenangkan hatinya terlebih dahulu, akhirnya Aruna memutuskan untuk menepikan mobilnya di sebuah danau yang ada di pinggiran kota.


Danau yang selalu terlihat ramai jika akhir pekan tiba, tetapi terlihat sepi di kala hari kerja seperti ini. Aruna langsung duduk di tepi danau, lalu dia mengambil batu kecil dan melemparkan batu tersebut ke Danau itu.


"Hey! Jangan melemparkan batu ke Danau seperti itu, nanti ikan yang hidup di sana bisa kaget."


Aruna benar-benar kaget mendengar suara teguran yang pastinya tertuju kepadanya, dengan cepat Aruna menolehkan wajahnya ke arah suara.


"Siapa kamu? Penjaga Danau ini?" tanya Aruna kepada pria muda yang berada tidak jauh dari dirinya.


Pria muda itu nampak membulatkan matanya dengan sempurna, dia merasa jika dirinya begitu tampan. Bahkan, dia berpenampilan dengan begitu rapi karena baru saja pulang bertemu dengan klien.


Namun, Aruna dengan seenaknya menyebut dirinya penjaga Danau tersebut. Sungguh dia benar-benar merasa tersinggung dengan apa yang dikatakan oleh Aruna.


Aruna langsung menggeser tubuhnya, karena dia merasa jika dirinya dan pria muda itu terlalu dekat. Pria muda itu nampak cemberut, lalu dia kembali mendekat ke arah Aruna.


"Astaga! Kamu tuh kenapa sih? Jangan deket-deket!" ingat Aruna.


"Ya ampun, aku hanya duduk dekat dengan kamu saja. Bukan mau ngapa-ngapain juga, oiya, apa kamu beneran ngga inget sama aku?" tanya pria muda itu.


Aruna nampak memandang pria muda itu seraya memicingkan matanya, dia seakan pernah melihat pria muda itu tapi di mana Aruna sangat lupa.


"Siapa, ya? Sepertinya wajah kamu tidak asing," ucap Aruna seraya memejamkan matanya.


Dia seolah-olah sedang mengingat-ingat siapa pria muda yang ada di hadapannya, tidak lama kemudian Aruna berkata.


"Ya ampun! Apakah kamu anak bungsu tuan Steven?" tanya Aruna ketika melihat kemiripan wajah pria yang ada di hadapannya dengan mantan atasannya terdahulu.

__ADS_1


Pria muda itu terlihat melebarkan senyumannya, dia merasa sangat senang karena akhirnya Aruna mengingat siapa dirinya.


"Alhamdulillah, akhirnya kamu ingat juga. Coba ingat-ingat siapa nama aku?" tanya pria itu.


Pria muda itu terlihat menatap Aruna dengan tatapan penuh harap, sayangnya Aruna malah memalingkan wajahnya lalu berkata.


"Entahlah, aku tidak ingat." Aruna berbicara dengan acuh kepada pria itu.


Sebenarnya Aruna masih sangat ingat jika pria yang ada di hadapannya bernama Sigit, pria itu bahkan pernah menyatakan rasa cintanya kepada Aruna di saat Sigit masih duduk di bangku kelas 12 SMA.


Aruna merasa jika tingkah dari Sigit adalah hal yang begitu konyol, karena di saat Aruna baru bekerja di perusahaan Siregar. Namun, tiba-tiba Sigit datang bersama dengan Steven dan berkata jika Sigit menyukai dirinya.


Aruna tidak menjawab apa pun yang dikatakan oleh Sigit kala itu, dia hanya menganggap jika apa yang dikatakan oleh Sigit hanya sebagai candaan saja.


Berbeda dengan Steven, pria itu tidak mengatakan hal apa pun dan tidak mengomentari apa yang dikatakan oleh putranya kepada Aruna. Dia hanya tersenyum kala melihat Aruna yang nampak acuh kepada Sigit.


"Ck! Aku Sigit, Aruna, Sayang. Aku udah lulus S2 loh. Udah gantiin ayah juga di perusahaan Siregar, sekarang aku bukan anak kecil lagi. Kamu mau kan, jadi istri aku?" tanya Sigit.


Aruna benar-benar kaget mendengar apa yang dikatakan oleh Sigit, yang pertama tentunya dia kaget mendengar jika Sigit sudah menggantikan posisi Steven, itu artinya mantan atasannya itu sudah pensiun.


Tentunya hal kedua yang membuat Aruna kaget adalah saat dia mendengar apa yang dipertanyakan oleh Sigit, pertanyaan yang terlontar dari bibir pria itu benar-benar terdengar konyol di telinganya.


"Astaga! Jangan konyol kamu, aku tuh udah nikah. Aku udah punya anak, kamu tuh nggak seharusnya berkata seperti itu. Karena--"


''Aku berkata seperti itu karena aku sangat tahu jika kamu sudah menjadi janda, tidak salah kan, jika aku bertanya seperti itu?" tanya Sigit memangkas ucapan Aruna dengan cepat.


Aruna langsung membulatkan matanya dengan sempurna, dia tidak menyangka jika pria muda yang ada di hadapannya tahu tentang dirinya.


"Dari mana kamu tahu akan hal itu?" tanya Aruna dengan kaget.

__ADS_1


__ADS_2