
Saat sore hari tiba, Satria dan juga Rachel datang menemui Aruna. Setelah berbicara dengan Aruna, akhirnya mereka langsung memutuskan untuk segera pergi ke rumah Andin.
Sigit tidak ikut, karena dia dan juga Ayana sedang pergi ke toko buku. Besok di sekolah ada tugas prakarya, sedangkan Ayana belum mempunyai bahan-bahannya.
"Selamat sore, apakah saya bisa bertemu dengan nyonya Andin?" tanya Satria ketika pintu rumah itu nampak dibuka oleh salah satu pelayan yang ada di sana.
Pelayan itu terlihat ragu untuk menjawab, karena awalnya dia menyangka Stefano yang datang. Makanya dia membukakan pintunya.
"Anu, Tuan. Nyonya Andin belum pulang, mungkin sebentar lagi," jawab pelayan tersebut.
Satria sebenarnya sudah tahu jika Andin belum pulang, karena memang mobilnya belum ada di sana. Dia sengaja datang lebih cepat karena ingin mencari Ayaka dan berbicara dengan anak itu.
"Kami akan menunggu," ujar Satria seraya mengedarkan pandangannya.
Satria tersenyum kala dia bersitatap mata dengan Stefano, pria berusia dua belas tahun itu baru saja pulang les karate. Stefano dengan begitu sopan menghampiri Satria, dia tersenyum hangat dan berkata.
"Maaf, Tuan. Anda siapa, ya?" tanya Stefano seraya mengedarkan pandangannya.
Stefano terlihat tersenyum dengan begitu hangat ke arah Rachel dan juga Aruna, lalu dia membungkukkan badannya.
"Perkenalkan, saya Satria. Saya ingin bicara dengan ibu kamu, tapi dia belum pulang. Boleh kami menunggu?" tanya Satria dengan sopan.
Stefano memindai penampilan dari Rachel, Satria dan juga Aruna. Ketiga orang itu terlihat berpenampilan dengan begitu rapi, wajah mereka pun terlihat seperti orang baik-baik.
"Kalau boleh tahu, kalian ini siapa? Ada perlu apa ingin bertemu dengan mom?" tanya Stefano.
Aruna tersenyum mendengar pertanyaan dari Stefano, karena ternyata anak itu sangat berhati-hati walaupun usianya terlihat begitu muda.
"Tante tetangga baru kamu, kami ke sini untuk berkenalan dengan ibu kamu. Siapa tahu kita bisa dekat," jawab Aruna.
"Oh! Aku kira kalian ini datang dari mana, ternyata tetangga baruku." Stefano terkekeh setelah mengatakan hal itu.
"Ya, kami datang untuk menyambung silaturahim. Jadi, bolehkah kami masuk?" tanya Satria.
__ADS_1
"Tentu, Kek. Masuklah, sama Nenek dan Tante juga," ujar Stefano.
Wajah bibi sempat terlihat tidak suka, dia takut nantinya akan mendapatkan masalah dari Andin karena sudah memberikan izin untuk orang asing masuk ke dalam rumah tersebut.
Terlebih lagi bibi masih mengingat wajah Aruna, wanita yang mengaku tinggal di sebelah rumah Andin yang terlihat begitu peduli terhadap Ayaka.
Namun, bibi tidak bisa berkata apa-apa karena Stefano yang mengizinkan mereka untuk masuk. Tidak mungkin dia melarang, karena dia hanya bekerja sebagai pelayan.
Stefano mengajak Satria, Rachel dan juga Aruna untuk duduk di ruang keluarga. Anak itu bahkan langsung melangkahkan kakinya menuju dapur dan membuatkan tiga gelas minuman dingin untuk mereka.
"Silakan diminum, saya mau ke kamar dulu. Mau ganti baju," ujar Stefano dengan sopan.
Badannya terasa sangat lengket dan juga gerah, tetapi rasanya sangat tidak sopan jika dia harus mandi terlebih dahulu. Rasanya dengan berganti pakaian terlebih dahulu sudah cukup, karena dia tidak mungkin meninggalkan tamu yang datang dengan waktu yang lama.
"Terima kasih," jawab Satria.
Stefano masuk ke dalam kamarnya, Satria dan Aruna saling tatap. Mereka seolah berkata jika ini saatnya untuk mereka mencari keberadaan Ayaka, karena memang itu yang sedang mereka rencanakan.
Satria dan Aruna akan mencari keberadaan anak kecil itu di kediaman Andin, Aruna yang paham langsung menghampiri bibi dan berkata.
Aruna terlihat meringis seraya mengelusi perutnya, dia sedang berakting seolah-olah ia benar-benar merasa sakit perut.
"Boleh, Nyonya. Silakan," ujar Bibi seraya menuntun Aruna untuk masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam dapur.
Satria dan juga Rachel memanfaatkan momen itu untuk mencari Ayaka di tempat lain, siapa tahu anak itu berada di ruangan lainnya, pikir mereka.
"Terima kasih, Bibi sangat baik," ujar Aruna memuji.
"Ah! Nyonya bisa saja," jawab Bibi malu-malu dengan kakinya yang terus melangkah menuju dapur.
Aruna mengikuti langkah bibi, tetapi matanya terus saja mencari keberadaan Ayaka. Hingga tidak lama kemudian Aruna nampak tersenyum ketika dia melihat Ayaka yang sedang makan roti dari Stefano. Di tangan kirinya bahkan ada coklat.
Ya, Ayaka sangat menyukai makanan manis sama seperti Almira. Maka dari itu jika Stefano pulang dari mana pun, dia akan membawa roti dan juga coklat.
__ADS_1
Anak itu rela tidak jajan agar bisa membelikan makanan untuk Ayaka, walaupun dia buruk rupa, tetapi Stefano sangat menyayangi Ayaka.
Bukannya melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, dia malah menghampiri Ayaka yang sedang duduk di lantai dekat meja makan.
"Hay, Sayang. Tante boleh minta rotinya?" tanya Aruna berbasa basi.
Ayaka yang mendapatkan teguran dari Aruna langsung menolehkan wajahnya ke arah wanita itu, dia tersenyum lalu menatap roti yang tinggal sebelah lagi di tangannya.
"Boleh, Tante. Ambilah, Aya sudah kenyang," jawab Ayaka dengan tidak ikhlas.
Aruna tersenyum mendengar jawaban dari Ayaka, berbeda dengan bibi yang terlihat begitu syok. Bibi benar-benar tidak menyangka jika Ayaka bisa berbicara.
Selama ini Ayaka tidak pernah mengeluarkan satu patah kata pun dari bibirnya, anak itu selalu terdiam dengan wajah ketakutan. Jika sakit atau hanya sekedar kelelahan pun dia tidak pernah mengeluh.
"Ka--kamu bisa ngomong?" tanya Bibi.
Ayaka langsung menganggukkan kepalanya, bibi tanpa sadar langsung memeluk Ayaka. Dia sangat senang karena setidaknya Ayaka masih bisa bicara walaupun wajahnya terlihat begitu mengenaskan.
Tidak jauh dari sana ada Stefano yang menyaksikan Ayaka berbicara dengan Aruna, dia langsung menghampiri Ayana dan berkata.
"Kamu bisa bicara, Dek? Kenapa ngga pernah ngomong sama Kakak, hem?" tanya Stefano dengan matanya yang berkaca-kaca.
Senang sekali rasanya bisa mendengar Ayaka berbicara, itu artinya Stefano bukan hanya memiliki teman di rumah itu. Namun, Stefano juga memiliki teman untuk berbicara dan berkeluh kesah.
Karena jujur saja selama ini Stefano sangat kesepian, setelah kepergian ayahnya, Andin begitu sibuk bekerja. Wanita itu begitu sibuk mencari rupiah, sampai-sampai dia tidak punya waktu untuk anaknya sendiri.
Maka dari itu ketika Andin membawa pulang Ayaka, Stefano merasa sangat senang. Wajah yang buruk rupa tidak menjadi patokan untuk Stefano, karena dia merasa nyaman ketika berada di dekat Ayaka.
"Aya, takut Kakak akan ngadu sama nyonya. Aya takut sama nyonya Andin," jawab Ayaka seraya menunduk takut.
"Aya ngga percaya sama Kakak? Mana mungkin Kakak ngadu sama mom, kamu tega sekali hanya mendiamkan Kakak selama 1 tahun ini," ujar Stefano pura-pura merajuk.
"Kakak jangan marah, Aya sayang Kakak." Ayaka langsung memeluk Stefano.
__ADS_1
Stefano dengan cepat membalas pelukan dari Ayaka, dia bahkan terlihat mengelus lembut puncak kepala gadis kecil yang sudah menemaninya selama satu tahun ini.
"Ada apa ini? Kenapa ada orang asing di rumahku? Itu juga si jelek kenapa peluk-peluk Fano?" tanya Andin yang baru saja tiba dan langsung pergi ke dapur karena mendengar suara keributan di sana.