
"Siapa anda? Kenapa anda malah ikut campur dalam urusanku?" tanya Sam seraya memperhatikan wajah Satria dengan lekat.
Jika diperhatikan dengan baik, wajah pria yang berada di hadapannya begitu mirip dengan istrinya. Hanya saja dalam versi pria, Sam jadi menduga-duga di dalam hatinya.
"Tentu saja aku akan ikut campur, karena aku adalah ayah kandung Aruna. Itu artinya aku adalah kakek dari Ay, aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakiti anak dan cucuku. Sekalipun kamu adalah suami dari putriku," jawab Satria.
Sam langsung mengerutkan dahinya, dia merasa bingung dengan apa yang dikatakan oleh Satria. Akan tetapi, dia tetap merasa penasaran.
"Ayah Aruna? Sejak kapan Aruna punya Ayah?" tanya Sam.
Selama ini Aruna tidak pernah berkata jika dirinya punya ayah, bahkan selama dia menikah dengan Aruna tidak ada satu orang pun yang datang dan mengaku sebagai keluarga dari istrinya tersebut.
"Sudahlah anak muda, tidak perlu banyak bicara lagi." Satria yang merasa jengah langsung pergi meninggalkan Sam, Ayana yang merasa kecewa hanya memeluk Satria seraya menangis di dalam pelukan kakeknya tersebut.
Melihat putrinya yang menangis, Sam merasakan hatinya ikut terluka. Dia merasa bersalah karena Ayana menangis karena dirinya, Sam menyusul Ayana dan menghalangi langkah Satria.
"Tolong berikan aku kesempatan untuk berbicara dengan putriku," pinta Sam dengan penuh rasa penyesalan.
Apalagi ketika melihat mata Ayana yang memerah karena terlalu lama menangis, Sam benar-benar ingin menggendong putrinya dan menenangkannya.
Melihat Sam yang berusaha untuk membujuk Ayana, Ayaka merasa iri hati. Dengan cepat dia menghampiri Sam dan memeluk kaki pria itu dengan erat, tetapi mata Ayaka menatap Ayana dengan begitu tajam.
"Jangan pernah ambil ayah aku, pergi kamu dari sini!" jerit Ayaka.
__ADS_1
Ayana semakin bersedih, dia kembali menangis dengan kencang. Sakit sekali hati Satria dan juga Rachel melihat Ayana yang seperti itu, mereka seakan tidak menyangka jika hal ini akan terjadi kepada cucunya.
Sam yang mendengar Ayaka membentak dan mengancam putrinya merasa tidak terima, tanpa sadar bahkan dia menghentakkan kakinya. Tentu saja hal itu membuat Ayaka hampir terjatuh. Beruntung Angel datang dan langsung menggendong putrinya.
"Cukup, Sam! Jangan menyakiti putriku, sudah cukup selama ini kamu hanya menyisakan sedikit waktu untuk Aya. Jangan pernah sekali lagi untuk menyakiti putriku!" ancam Angel.
Setelah mengatakan hal itu, Angel langsung melangkahkan kakinya untuk pergi dari sana. Ayaka yang masih ingin bersama dengan ayahnya menjerit memanggil nama Sam, Sam menjadi serba salah dibuatnya.
Dia ingin menenangkan hati Ayaka, tetapi dia juga ingin meminta maaf kepada Ayana. Dia bahkan ingin menanyakan tentang keberadaan Aruna saat ini, karena walau bagaimanapun juga dia ingin membicarakan masalah ini dengan istrinya.
"Pergilah, kejar selingkuhanmu itu! Ay dan Aruna tidak membutuhkan seorang pria seperti kamu," ujar Satria.
Setelah mengatakan hal itu, Satria langsung menuntun istrinya untuk pergi dari sana. Ayana yang berada di dalam gendongan Satria hanya memeluk kakeknya tersebut dengan begitu erat.
Ayana memang masih sangat kecil, usianya baru saja 5 tahun. Melihat Sam bersama dengan wanita lain, bahkan ada anak kecil yang mengatakan jika Sam adalah ayahnya, Ayana berpikir jika kini dia sudah tidak punya ayah lagi. Dia berpikir jika ayahnya telah dicuri.
Setelah masuk ke dalam mobil, Satria mendudukan Ayana di pangkuan istrinya. Lalu dia mengambil tisu dan mengusap air mata yang terus saja mengalir di kedua pipi cucunya tersebut.
"Jangan menangis, Sayang. Ada Kakek, ada Nenek, ada bunda, ada om Saga dan ada om Sayaka. Kalau kamu nangis terus, nanti cantiknya ilang," rayu Satria.
"Ay sedih, ternyata ayah Ay sudah dicuri oleh wanita jahat. Ay sudah tidak punya ayah lagi," jawab Ayana dengan bibirnya yang bergetar dengan hebat.
Rachel merasa sedih sekali mendengar apa yang dikatakan oleh cucunya, dia langsung memeluk Ayana lalu mengecupi puncak kepala cucunya itu dengan penuh kasih.
__ADS_1
"Jangan bicara seperti itu, Sayang. Sekarang katakan sama Nenek, Ay mau ke mana? Ay mau apa? Nenek dan Kakek akan menurutinya," ujar Rachel berusaha untuk menenangkan hati cucunya.
"Ay mau bobo, Ay lelah. Boleh Ay numpang di rumah Kakek?" tanya Ayana.
Rachel dan juga Satria benar-benar merasa sedih mendengar apa yang dikatakan oleh Ayana, mereka tidak menyangka jika di usia ayahnya yang baru menginjak 5 tahun harus merasakan kesakitan yang begitu dalam.
"Rumah Kakek dan Nenek adalah rumah kamu juga, Sayang. Tidak ada kata numpang," jawab Rachel.
Ayana tidak berkata apa pun lagi, gadis kecil itu benar-benar terluka karena kehilangan cinta pertamanya. Pria yang selalu dia banggakan dan selalu dia sanjung-sanjung, pria yang selama ini selalu ada untuk dirinya.
"Ay ngga mau ke rumah sakit dulu untuk jemput bunda?" tanya Satria.
"Jangan jemput bunda dulu, Kek. Jangan bilang sama bunda kalau ayah sudah dicuri, Kakek juga jangan bilang kalau tangan aku terluka, nanti bunda nangis."
Ayana masih sangat ingat ketika dia terjatuh dari sepeda, dia terjatuh dan lututnya berdarah. Aruna yang menangis terlebih dahulu seraya menggendong Ayana dan berlari sambil meminta encus untuk mengambilkan kotak P3K.
"Baiklah, Sayang. Kita akan pulang," ujar Satria seraya menyalakan mesin mobilnya. Lalu dia melajukan mobilnya menuju kediaman Dinata.
Sam yang sejak tadi bengong langsung berlari mengejar mobil yang dikendarai oleh Satria, dia baru tersadar dari lamunannya.
"Ay! Jangan pergi, jangan tinggalkan Ayah!" jerit Sam.
Sam terus saja berlari, dia berusaha untuk mengejar mobil yang dikendarai oleh Satria. Sayangnya mobil yang dia kejar malah tidak terlihat dari pandangannya.
__ADS_1
"Sial!" umpat Sam ketika dia terjatuh karena kakinya tersandung.