Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
BUSM2 S2. Bab 4


__ADS_3

"Lihat saja, Ken. Besok kamu pasti tidak akan bisa mengelak lagi, kamu pasti akan menjadi milikku," ujar Anisa dengan seringai licik di bibirnya.


Anisa tersenyum dengan begitu lebar, lalu dia naik kembali ke atas tempat tidur. Dia ingin tertidur di dalam pelukan pria itu, tetapi satu hal yang dia lupakan, bercak darah keperawanan.


"Hampir saja aku melupakannya," ujar Anisa seraya terkekeh.


Dengan cepat Anisa turun kembali dari tempat tidur, lalu dia mengambil jarum pentul dari hijab yang selalu dia pakai. Dia tusukan jarum pentul itu pada jari tangannya sendiri, sontak saja hal itu membuat jari tangannya mengeluarkan darah.


Bukannya merasa kesakitan, tetapi Anisa malah tertawa tertahan. Lalu, dia meneteskan darah itu di atas sprei. Anisa merasa puas saat melihat akan hal itu.


"Sempurna!" ujar Anisa dengan begitu bangga.


Setelah mengatakan hal itu, Anisa lalu tertidur di atas tubuh Kenzo. Tidak lupa dia menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka, melihat Kenzo yang sangat tampan Anisa bahkan berkali-kali menciumi bibir pria itu.


Bibir yang terasa hangat dan basah, walaupun sang pemilik sedang tidur dengan begitu pulas, Anisa tidak peduli.


Anisa bahkan bersikap seperti layaknya jallang, dia malah menggoyang-goyangkan pinggulnya di atas tubuh Kenzo. Bahkan, sesekali Anisa menggoyangkan dadanya di depan wajah Kenzo.


Hal itu dia lakukan agar dia bisa terangsang, karena dia benar-benar ingin melakukan percintaan panas dengan Kenzo Sayangnya, pria itu malah tertidur dengan pulas.


"Setidaknya aku bisa mendapatkan pelepasan, walaupun kamu tidak melakukan itu kepadaku," ujar Anisa.


Anisa benar-benar seperti cacing yang kepanasan, dia malah duduk di atas tubuh Kenzo seraya menggoyang-goyangkan pinggulnya.


Sesekali dia akan menunduk untuk mencium bibir pria itu, karena merasa tidak puas Anisa nampak memainkan miliknya sendiri menggunakan kedua jari tangannya.

__ADS_1


Dia nampak menengadahkan wajahnya dengan bibir yang menganga lebar, matanya terlihat terpejam karena menikmati setiap goyangan jarinya yang keluar masuk dari inti tubuhnya sendiri.


Tidak lama kemudian tubuhnya nampak mengejang, dia mendapatkan pelepasannya dengan usahanya sendiri.


"Enak, Ken. Pasti akan lebih enak kalau kamu yang goyang," ujar Anisa seraya menjepit ujung dadanya.


Tidak lama kemudian, Anisa ambruk di atas tubuh Kenzo dengan senyum miris di bibirnya. Karena dia malah mendapatkan pelepasan dengan usahanya sendiri, bukan dengan milik pria itu.


Milik Kenzo yang terlihat begitu gagah dan juga perkasa, Anisa sudah bisa membayangkan, jika milik pria itu masuk ke dalam inti tubuhnya, Anisa yakin jika dia akan menjerit-jerit keenakan.


"Bersiaplah, Sayang. Karena sebentar lagi kamu akan menjadi milikku kamu tidak akan bisa lagi menjauhiku. Aku yakin setelah kejadian ini, tante Aruna pasti akan menikahkan kita," ujar Anisa dengan percaya diri.


Anisa tersenyum penuh kepuasan, lalu dia tertidur di atas tubuh pria itu. Dia terlihat begitu nyaman dengan posisi seperti itu, tidak lama kemudian Anisa yang begitu kelelahan bahkan langsung tertidur dengan begitu pulas.


Tentunya, sebelum tidur dia merapikan selimut yang nampak berantakan karena ulahnya. Dia menutupi tubuhnya dan juga tubuh Kenzo dengan selimut itu sampai sebatas dada.


Itulah kata yang diucapkan oleh Anisa sebelum dia tertidur dengan begitu pulas di atas tubuh pria itu, Anisa bahkan tidak merasa risih sama sekali tertidur dengan tubuh polos Kenzo dengan keadaan saling menempel.


Keesokan paginya.


Baik keluarga Dinata ataupun keluarga Siregar masih berkumpul di kediaman Aruna, kedua keluarga besar itu sudah selesai melaksanakan sarapan pagi.


Akan tetapi, Kenzo dan juga Anisa belum terlihat batang hidungnya. Aruna merasa khawatir sekali dibuatnya, dia menghampiri Sigit dan menepuk lengan suaminya.


"Yang, Ken sama Nisa belum keliatan loh. Perasaan aku jadi ngga enak," ujar Aruna.

__ADS_1


"Ken mungkin kecapean, terus tidur lagi. Nisa mungkin juga kecapean, karena tadi malam kita semuanya tidur larut," jawab Sigit.


"Kalau gitu aku liat Ken dulu, abis itu aku liat Nisa," izin Aruna.


"Ya, Sayang," jawab Sigit.


Setelah berbicara dengan suaminya, Aruna cepat-cepat melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam kamar Kenzo.


"Ken, Sayang. Apakah kamu belum bangun? Apakah kamu terlalu kecapean?" tanya Aruna saraya mengetuk pintu kamar putranya.


Namun tidak ada sahutan dari dalam, Aruna semakin khawatir dibuatnya. Dengan cepat Aruna berusaha untuk membuka pintu kamar Kenzo, Aruna langsung mengerutkan dahinya karena pintu kamar pria itu tidak terkunci.


Padahal, Kenzo selalu mengunci pintu kamarnya. Ketika pria itu sedang berada di dalam kamar, pasti pintu dalam keadaan terkunci.


Bahkan, ketika Anaya baru dinyatakan meninggal, Kenzo sering mengunci diri di dalam kamarnya. Aruna bahkan sampai takut jika putranya akan bunuh diri di dalam kamar itu.


"Ken, kamu sudah keluar atau masih di dalam?" tanya Aruna seraya membuka pintu kamar milik putranya.


Saat pintu kamar itu terbuka dengan lebar, Aruna terlihat begitu kaget sekali. Karena dia melihat baju milik Anisa dan juga baju milik Kenzo berserakan di atas lantai.


Tidak lama kemudian, Aruna nampak melangkahkan kakinya untuk mendekat ke arah tempat tidur. Aruna benar-benar begitu kaget, karena dia bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri jika Kenzo kini sedang tidur bersama dengan Anisa.


Mereka terlihat sedang saling memeluk, keduanya terlihat begitu lelah dalam tidurnya. Aruna menjadi yakin jika Kenzo dan Anisa pasti kecapean karena baru saja selesai bercinta.


"Ini-- ini, tidak mungkin," ujar Aruna terbata-bata.

__ADS_1


Tidak lama kemudian, Aruna bahkan terlihat memegangnya dadanya yang terasa begitu sesak. Tubuhnya tiba-tiba saja terasa lemas dan juga bergetar dengan begitu hebat.


"Ini, tidak mungkin! Ini pasti hanya ilusi," ujar Aruna sebelum dia ambruk dan tidak sadarkan diri.


__ADS_2