
Beberapa jam sebelumnya.
Sandi merasa begitu senang karena setelah merayu istrinya sekian lama akhirnya Ayana mau digauli lagi oleh Sandi, pria itu terlihat begitu senang dan dengan cepat melucuti pakaian yang dia kenakan.
"Pelan-pelan dan jangan terburu-buru," ingat Ayana.
Jika Sandi tidak bisa mengontrol dirinya, sudah dapat dipastikan jika Ayana akan marah kembali kepada pria itu. Ayana baru menikah, mereka adalah pasangan pengantin baru. Ayana mau diperlakukan dengan lembut, bukan kasar seperti yang sudah pernah Sandi lakukan terhadap dirinya.
"Ya, Sayang." Sandi terkekeh setelah mendapatkan peringatan dari istrinya.
Mungkin karena masih baru, maka dari itu sandi terlihat terburu-buru. Dia seolah lupa dengan kesalahan yang sudah dia lakukan, dengan kesadaran penuh pria itu mencumbui istrinya dengan begitu perlahan dan sangat lembut.
Bahkan, Sandi terlihat memberikan ciuman yang begitu lembut. Ayana sampai terlena dibuatnya, Sandi nampak senang lalu bibirnya dengan perlahan turun untuk mengecupi leher jenjangnya.
Tidak lama kemudian, hal yang seharusnya terjadi di antara pasangan pengantin baru itu pun berlangsung dengan panas dan juga penuh gairah.
Tidak ada lagi Ayana yang marah-marah kepada Sandi, justru wanita itu nampak menikmati setiap suguhan kenikmatan yang diberikan oleh Sandi.
Setelah keduanya mendapatkan pelepasannya, Ayana dan juga Sandi nampak saling memeluk. Keduanya tidak merasa risih walaupun keringat masih membasahi tubuh mereka, justru keringat itu sudah seperti parfum yang tercium begitu wangi oleh keduanya.
"Terima kasih karena kamu sudah mau menjadi istriku, aku sayang banget sama kamu. Semoga rumah tangga kita akan berjalan dengan lancar," doa Sandi.
Senang sekali rasanya Ayana mendengar apa yang dikatakan oleh Sandi, kata-kata yang keluar dari bibir pria itu terasa begitu manis untuk didengar.
"Aamiin, aku juga ngucapin terima kasih sama kamu. Terima kasih karena sudah memilih aku sebagai istri kamu," ujar Ayana.
Jika saja Sandi tidak mengungkapkan rasa cintanya, jika saja Sandi tidak menikahinya, sudah dapat dipastikan jika Ayana akan galau dalam setiap harinya.
Karena dia tidak bisa bersama dengan cinta pertamanya, lebih parahnya lagi dia tidak bisa mengungkapkan perasaan cintanya kepada pria itu.
__ADS_1
"Sudahlah, Yang. Jangan dibahas lagi, lebih baik sekarang kita beristirahat. Kamu juga pasti lelah," ujar Sandi.
Jika mengurusi masalah pernikahan mereka, justru Sandi yang seharusnya merasa beruntung karena mendapatkan Ayana. Wanita mudah dari keturunan Dinata, keturunan dari keluarga berada.
Lebih beruntungnya lagi Sandi karena keluarga Ayana tidak pernah mempermasalahkan kasta, Sandi bisa menikahi wanita itu walaupun hanya dari keturunan orang sederhana.
"Hem! Aku memang merasa sangat lelah," ujar Ayana seraya mengusakkan wajahnya pada dada suaminya tersebut.
"Bau, Yang. Kamu boboan di lengan aku aja," protes Sandi.
Mereka baru saja selesai berpeluh, keringat nampak bercucuran di tubuhnya. Jika hanya memeluk saja rasanya Sandi tidak begitu risih, tetapi ketika Ayana mengusakkan wajahnya pada dadanya, dia takut jika wajah Ayana akan berminyak.
"Ck! Jangan ngomong terus, lagian aku suka wangi tubuh kamu." Ayana tersenyum dengan begitu manis setelah mengatakan hal itu.
"Iya, iya. Terserah kamu aja," jawab Sandi.
Dengan cepat Ayana bangun dan mengambil ponsel miliknya yang berada di atas nakas, dahinya nampak mengerut dalam ketika panggilan tersebut berasal dari Sigit.
Karena biasanya pria itu tidak pernah menghubunginya jika tidak ada keperluan, tiba-tiba saja Ayana menjadi tidak enak hati.
"Diangkat, Yang!" ujar Sandi.
"Iya," jawab Ayana.
Pada akhirnya Ayana mengangkat panggilan telepon dari Sigit, cukup lama dia mengobrol dengan pria itu. Hingga tidak lama kemudian raut wajahnya berubah menjadi sedih, Sandi merasa penasaran tetapi belum berani bertanya.
Sigit dan juga Ayana masih terlihat mengobrol, dia takut mengganggu obrolan antara istrinya dan juga papa mertuanya tersebut. Hingga setelah panggilan telepon dari Sigit terputus, barulah Sandi berani berbicara kepada istrinya tersebut.
"Ada apa, Yang? Kenapa wajah kamu berubah jadi pucat begitu?" tanya Sandi.
__ADS_1
Ayana nampak menangis, lalu dia memeluk suaminya dengan begitu erat. Dia seolah sedang mengeluarkan kesedihannya lewat tangisan.
"Bilang sama aku ada apa? Jangan buat aku khawatir seperti ini," ujar Sandi seraya mengusap-usap punggung istrinya dengan begitu lembut.
Ayana masih terlihat menangis, tetapi dia berusaha untuk menenangkan hati dan juga pikirannya. Wanita itu nampak menghela napas panjang lalu mengeluarkannya dengan perlahan, hal itu dia lakukan berulang-ulang.
Tidak lama kemudian dia terlihat sudah mulai tenang, lalu dia mengurai pelukannya dengan Sandi dan berkata.
"Tante Arin dan keluarga kecilnya mengalami kecelakaan, buna sama papa mau langsung pergi ke tempat kejadian. Ayo kita pulang ke rumah papa," ajak Ayana.
"Ina lillahi wa inna ilaihi rojiun, kamu mau ikut papa?" tanya Sandi.
"Ngga, kita disuruh pulang karena harus menjaga Alice dan juga Kenzo," jawab Ayana.
"Baiklah, Sayang. Ayo kita pulang, tapi sebelum itu kita mandi terlebih dahulu."
Ayana menganggukkan kepalanya tanda setuju, karena sepertinya mereka memang harus membersihkan tubuh terlebih dahulu.
Keduanya baru saja selesai bercinta, tidak mungkin rasanya mereka langsung pulang dalam keadaan yang masih berkeringat seperti itu.
Sandi langsung menggendong tubuh Ayana, lalu dia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi. Pria itu terlihat berniat untuk membantu istrinya membersihkan tubuhnya.
Namun, ketika mereka sedang berada di dalam kamar mandi, Sigit malah tergoda kembali dengan kemolekan tubuh istrinya. Alhasil kedua insan rupawan berbeda jenis kelamin itu nampak kembali bercinta di dalam kamar mandi.
Perasaan sedih yang Ayana rasakan berganti dengan rasa bahagia, keduanya begitu asik berlomba untuk mencapai puncak kenikmatan.
"Terima kasih, Sayang." Tidak henti-hentinya rasanya Sandi ingin mengatakan hal itu, mengatakan kata terima kasih kepada istrinya.
Karena walaupun Ayana sedang dalam keadaan bersedih, tetapi wanita itu masih saja mengikuti apa yang dia inginkan. Ayana masih saja memberikan haknya sebagai seorang suami.
__ADS_1