
Selepas melaksanakan kewajiban terhadap Sang Khalik, baik Ayana ataupun Sandi hanya saling diam. Ayana merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur seraya membelakangi Sandi, sedangkan Sandi menatap punggung istrinya dengan rasa bingung.
Dia ingin menebus kesalahannya, tetapi Sandi bingung harus memulainya seperti apa. Takutnya malah salah dalam berucap, atau salah dalam bertindak.
Namun, jika terus berdiam-diaman seperti itu Sandi juga merasa tidak betah. Karena biasanya pasangan pengantin baru itu akan saling berkasih sayang, lagi anget-angetnya dan pengennya tindih-tindihan aja.
Pengennya gelut dengan kaki yang saling menumpang tindih, pengennya ngerujak terus. Rujak bibir sampai level terpanas, bibir dower urusan nanti, yang penting nikmatnya dulu.
Tentunya kegiatan yang biasa dilakukan oleh pengantin baru adalah berpeluh, di mana pun tempatnya dan bagaimanapun gayanya, akan mereka coba untuk dilakukan.
'Gue harus ngapain coba? Mikir Sandi, mikir.'
Sandi bertanya-tanya di dalam hatinya dengan apa yang harus dia lakukan, pria itu nampak berpikir dengan begitu keras. Jangan sampai setelah menikah dia malah tidak melakukan apa pun dengan istrinya.
"Yang!"
Sandi nampak memeluk Ayana dari belakang, dia bahkan mengusakkan wajahnya pada leher Istrinya. Dia merasa tidak tahan karena harus dicuekin seperti itu oleh Ayana.
Lebih tepatnya Ayana mengacuhkan dirinya karena ulahnya sendiri, Sandi ingin dimaafkan dan ingin agar hubungan mereka lebih dekat dan dirasa lebih baik.
"Hem!" jawab Ayana seraya menggeliatkan tubuhnya.
Geli sekali rasanya ketika Sandi melakukan hal itu, bahkan Ayana langsung menggeliatkan tubuhnya ketika Sandi mengecupi cerukan lehernya.
"Maaf, aku janji ngga kasar lagi. Aku terlalu terburu-buru," ucap Sandi penuh sesal.
Semoga saja usahanya dalam meminta maaf bisa dikabulkan, karena dia merasa benar-benar tidak tahan jika harus saling diam.
"Iya, aku maafkan." Ayana mengusap-usap tangan Sandi yang mulai mengusap dadanya.
Jujur saja Ayana begitu mendambakan malam pertama yang begitu romantis, dia begitu mendambakan malam pertama yang penuh dengan kenikmatan.
Bukan merasakan kesakitan yang luar biasa, tetapi dia juga paham kenapa Sandi melakukan hal seperti itu. Selain ini adalah yang pertama untuk mereka, Sandi juga terlihat tidak sabar.
Sandi tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Ayana, dia merasa mendapatkan lampu hijau dari istrinya tersebut.
"Jadi, sekarang udah boleh dong aku lanjutin yang tadi malam?" ujar Sandi mencoba keberuntungan.
Ayana langsung menganggukan kepalanya mendengar pertanyaan dari suaminya, karena dia tidak mungkin mendiamkan suaminya terus.
__ADS_1
"Boleh, tapi janji akan pelan," ujar Ayana.
Walaupun katanya menolak keinginan dari suami itu adalah dosa, tetapi jika diperlakukan dengan tidak baik Ayana tidak mau.
"Janji, Yang. Aku akan melakukannya dengan lembut dan juga pelan-pelan," jawab Sandi.
Sandi mengusap-usap lengan Ayana, dia lalu membalikkan tubuh istrinya agar mereka saling berhadapan. Ayana tersenyum lalu berkata.
"Hem!" jawab Ayana.
Sandi membalas senyuman dari istrinya, lalu dia mulai menyatukan bibirnya dengan bibir istrinya yang sangat menggoda itu.
Tangan pria itu dengan perlahan melucuti pakaian yang dipakai oleh Ayana, setelah istrinya terlihat polos, Sandi juga membuka semua kain yang melekat di tubuhnya.
Pria itu terlihat begitu mengagumi tubuh Ayana yang sangat seksi sekali di matanya, tetapi dia berusaha untuk menahan hasratnya. Dia tidak mau kejadian tadi malam terulang kembali.
Pria itu mulai memberikan rangsangan kepada istrinya tersebut, mulai dari berciuman, menyusu layaknya bayi besar sampai bermain dengan inti tubuh Ayana.
Ayana terlihat begitu rileks dan menikmati apa yang dilakukan oleh Sandi, terlebih lagi ketika Sandi bermain dengan inti tubuhnya, Ayana merasa tidak tahan dan ingin segera dimasuki.
"Basah banget, Yang. Udah boleh masuk pan, ya?" izin Sandi yang terlihat sedang bersujud di hadapan inti tubuh istrinya.
"He'em," jawab Ayana dengan wajah yang memerah.
Namun, kembali pria itu berusaha untuk mengontrol emosinya. Dia berusaha untuk memberikan rangsangan kepada istrinya, lalu dia memasuki inti tubuh istrinya dengan begitu perlahan.
Ayana merasa jika kali ini Sandi lebih hati-hati dalam melakukan penyatuan di antara keduanya, memang masih terasa sakit ketika Sandi mulai memasukkan miliknya itu.
Namun, ketika Sandi mulai menggoyangkan pinggulnya dengan perlahan ada rasa nikmat yang menjalar ke seluruh tubuhnya.
"Sakit ngga, Yang?" tanya Sandi seraya menghentikan aktivitasnya, karena dia melihat Ayana memejamkan matanya dengan kuat.
"Sedikit, terusin aja." Ayana mengusap dada Sandi, pria itu nampak melenguh penuh nikmat karena Ayana mengusap dada pria itu sampai miliknya yang masih menancap di dalam liang kelembutan milik Ayana.
"Aku lanjut ya, Sayang?" izin Sandi.
"Hem!" jawab Ayana.
Pada akhirnya pagi yang terasa dingin itu berubah menjadi begitu panas, karena keduanya terlihat berpeluh dengan begitu berhasrat.
__ADS_1
Setelah melihat Ayana yang menikmati permainan dari Sandi, pria itu nampak mempercepat goyangan pinggulnya. Apalagi saat mendengar *******' dari bibir Ayana, Sandi nampak menancapkan miliknya dengan dalam dan cepat.
"Aduh, Yang. Aku mau--"
Ayana mencengkeram lengan Sandi dengan begitu kuat, tidak lama kemudian Ayana nampak menggeliat dan menggelinjang karena mendapatkan pelepasannya.
Ayana bahkan terlihat kejang-kejang, Sandi tersenyum dengan begitu puas. Pria itu seakan ingin menggoda istrinya, dia memperdalam miliknya, Ayana mengejang kembali.
"Lepasin dulu, ngilu!" protes Ayana.
''Ngga mau, Yang. Aku belum keluar loh," ujar Sandi.
"Nanti masukin lagi, aku ngga kuat." Ayana mendorong dada Sandi.
Karena tidak mau membuat istrinya marah, Sandi melakukan apa yang diinginkan oleh istrinya tersebut. Pria itu mengeluarkan miliknya dari sarangnya, Ayana nampak tersenyum dengan napas yang masih tersenggal-senggal.
"Jangan lama-lama, dia mau masuk lagi." Sandi mengurut miliknya yang masih berdiri dengan begitu tegak.
"Iya, ini udahan. Ayo masukin," ujar Ayana.
Jika Sandi mengajak dirinya bercinta seperti itu, tentu Ayana mau melakukannya. Karena Sandi begitu berhati-hati dalam memasuki inti tubuhnya, tidak seperti tadi malam yang begitu terburu-buru.
"Tapi dari belakang, boleh?" tanya Sandi yang sudah mulai berani meminta lebih kepada istrinya tersebut.
Ayana menghela napas berat mendengar apa yang dikatakan oleh Sandi, tetapi tidak lama kemudian Ayana nampak bangun lalu mengambil posisi layaknya bayi merangkak.
"Kamu sangat seksi!" ujar Sandi seraya menampar bokong istrinya.
Bokong wanita itu terlihat begitu bulat dan begitu menantang, terlebih lagi dengan posisi Ayana yang seperti itu, sangat seksi dan begitu menantang dirinya untuk segera memasuki istrinya tersebut.
"Aduh, Yang!" kaget Ayana.
Sandi terkekeh mendengar Ayana yang begitu kaget karena mendapatkan tamparan pada bokongnya, tidak lama kemudian Sandi nampak menekan bokong Ayana dengan lembut dan memasuki inti tubuh istrinya dari belakang.
"Akh!" jerit Ayana ketika miliknya kembali terisi penuh oleh keperkasaan milik suaminya.
Sandi tersenyum, lalu dia mulai mengayunkan pinggulnya dengan begitu perlahan. Setelah mendengar istrinya mendesah' barulah Sandi mempercepat goyangan pinggulnya tersebut.
"Yang, aku mau keluar!"
__ADS_1
Sandi mempercepat goyangan pinggulnya, tidak lama kemudian dia juga memperdalam miliknya dan menembakkan cairan cintanya.
"Enak, Yang." Sandi mengerang penuh nikmat, lalu dia menunduk dan mengecupi punggung polos istrinya.