
Ayana merasa begitu bahagia karena akhirnya dia bisa merasakan yang namanya kenikmatan dunia, nikmatnya malam pertama bersama dengan suami tercintanya.
Begitupun dengan Sandi, pria itu merasa bahagia karena bisa memuaskan istrinya. Dia juga merasa puas karena bisa bercinta dengan wanita yang sangat ia cintai itu.
Lebih tepatnya, dia merasa bahagia karena bisa mengontrol emosinya. Dia bisa melakukan percintaan panasnya dengan sang istri tidak ddengan menggebu-gebu, walaupun dia begitu bergairah.
Jika saja mengikuti emosinya, rasanya Sandi ingin sekali menumbuk milik istrinya dengan sangat cepat. Karena semakin cepat dia bergoyang, miliknya terasa terjepit dengan begitu kuat oleh milik Ayana. Hal itu terasa begitu nikmat.
Rasa bersalahnya terhadap Ayana kini sudah terobati, terlebih lagi melihat wajah sumringah istrinya, dia benar-benar merasa puas dan bangga.
"Terima kasih karena kamu sudah mau menjadi istriku, terima kasih sudah sabar menghadapiku. Maaf karena tadi malam sudah menyakitimu," ucap Sandi dengan tulus.
Katanya menghadapi wanita itu harus dengan penuh kelembutan, maka dari itu Sandi berkali-kali meminta maaf kepada istrinya, agar istrinya itu benar-benar mau memaafkan dirinya.
"Aku sudah berkata jika aku memaafkan kamu, ke depannya kamu tidak boleh lagi melakukan hal secara terburu-buru. Gak enak! Yang terburu-buru itu selalu terasa tidak enak!" ucap Ayana seraya terkekeh.
"Cie yang udah tahu rasa enaknya itu seperti apa," ujar Sandi menggoda istrinya. Sandi bahkan langsung meremat kedua dada istrinya, Ayana sampai salah tingak dibuatnya.
Wajah ayana langsung memerah, dia memeluk suaminya dan menyembunyikan wajahnya di dada bidang suaminya tersebut. Sandi tertawa lalu mengusap puncak kepala istrinya.
Pasangan pengantin baru itu nampak begitu bahagia, tidak ada lagi raut wajah kemarahan dari Ayana. Wanita itu memandang Sandi dengan penuh kekaguman dan penuh cinta.
"Boleh minta lagi ngga, Yang?" tanya Sandi.
Mendengar pertanyaan dari suaminya, Ayana langsung memelototkan matanya ke arah suaminya itu. Sandi langsung terkekeh lalu berkata.
"Aku hanya bercanda, tidak usah marah seperti itu." Sandi langsung menjawil dagu istrinya.
"Awas aja kalau minta lagi, masih ngilu. Badan aku pegel juga," ujar Ayana seraya memonyongkan bibirnya.
Sandi langsung menggelengkan kepalanya, lalu dia menunduk dan mencium bibir istrinya dengan sangat lembut.
Di lain tempat.
Aruna barus saja selesai memasak dibantu oleh Arin dan juga Anisa, ternyata putri dari sahabatnya itu begitu pandai memasak. Padahal, usianya baru tujuh belas tahun.
__ADS_1
Namun, gadis belia itu begitu cekatan dalam memasak. Tentunya hal yang tidak terduga adalah rasa masakannya juga benar-benar sangat enak.
Arin tinggal di daerah perkampungan, maka dari itu dia mengajarkan kepada putrinya agar bisa memasak sejak dini. Dia mengajarkan kepada putrinya untuk hidup mandiri.
Siapa tahu suatu saat nanti putrinya itu ingin bekerja di luar kota dan harus berpisah dari dirinya, itu artinya putrinya harus siap dalam menghadapi segala hal.
Selain itu, jika nantinya putrinya itu berumah tangga, Arin tidak khawatir. Karena putrinya sudah pandai memasak, mandiri dan juga pandai melakukan pekerjaan rumah tangga.
"Gue nggak nyangka elu didik anak elu dengan begitu keras," ujar Aruna seraya menata makanan yang sudah mereka masak atas meja makan.
"Harus dong, walaupun anak gue perempuan ya, kan. Tapi dia harus mandiri, apalagi dia sudah bbererita untuk kuliah di kota besar," jawab Arin.
"Ya, elu benar. Walaupun dia perempuan, tetapi dia harus kuat dan juga mandiri. Harus bisa mengerjakan apa-apa sendiri, biar nanti tidak kerepotan sendiri," ujar Aruna membenarkan apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu.
Anisa yang dijadikan bahan pembicaraan hanya tersenyum melihat keakraban di antara kedua sahabat itu, karena ternyata benar yang dikatakan oleh ibunya, jika Arin begitu dekat dengan Aruna.
Bahkan, mereka sudah terlihat seperti adik dan kakak. Lebih tepatnya terlihat seperti saudara kembar yang terpisah dalam waktu yang lama.
Tidak lama kemudian, datanglah Sigit, Surya, Kenzo dan juga Alice. Setelah kedatangan mereka akhirnya sarapan pagi dilakukan, Kenzo sarapan dalam diam. Sedangkan Ayana terus saja berbicara dengan Arin di sela sarapan paginya.
Anisa pun hanya diam saja, sesekali dia akan memperhatikan ayahnya dan juga ibunya yang sedang berbicara dengan Aruna dan juga Sigit. Sesekali dia juga akan menolehkan wajahnya ke arah Kenzo, pria dingin itu terlihat begitu tampan sekali di matanya.
Di saat Anisa sedang memandangi wajah tampan Kenzo, Aruna sempat melihat akan hal itu. Aruna tersenyum lalu menepuk pundak putranya yang kebetulan duduk tepat di sampingnya.
"Ken, hari ini libur sekolah loh," ujar Aruna.
Kenzo langsung menolehkan wajahnya ke arah sang ibu, dia tersenyum hangat lalu menganggukkan kepalanya.
"Memangnya kenapa, Bun?" tanya Kenzo.
Aruna menolehkan wajahnya ke arah Anisa, lalu dia juga menolehkan wajahnya ke arah Sigit dan juga Arin, sahabatnya.
''Anisa hanya akan berada dua hari di sini loh, tolong ajak Anisa untuk jalan-jalan, ya?" pinta Aruna.
Kenzo sempat menolehkan wajahnya ke arah Anisa, tidak ada senyum di bibir pria itu. Namun, walaupun seperti itu Kenzo tetap menganggukkan kepalanya di hadapan Anisa.
__ADS_1
"Selepas sarapan ajaklah Anisa pergi, Bunda juga mau pergi. Mau jalan-jalan, mumpung ada Tante Arin," ujar Aruna.
Dia memang sudah berencana akan pergi bersama dengan suaminya, dia juga berencana akan mengajak Arin dan juga Surya.
Rasanya untuk Kenzo memang lebih baik pergi bersama dengan Anisa, tidak ada salahnya bukan untuk mendekatkan keduanya.
Walaupun yang namanya jodoh itu ada di tangan Tuhan, tetapi Aruna ingin mencoba mendekatkan keduanya. Jika memang tidak cocok keduanya boleh memilih jalan masing-masing.
"Iya, Bunda."
Kenzo seakan tidak bisa menolak apa yang diperintahkan oleh ibunya tersebut, walaupun wajah pria muda itu terlihat dingin dan jarang sekali berbicara, tetapi dia sangat menghormati apa yang dikatakan oleh ibunya.
"Makasih ya, Nak?" ujar Aruna.
"Sama-sama, Bun." Kenzo menolehkan wajahnya ke arah Anisa. "Aku sudah selesai, kalau mau pergi, segeralah bersiap. Aku akan mengajak kamu ke taman, nanti siang kita akan pergi berkeliling."
Sejak datang ke kediaman Aruna, Anisa belum sama sekali mendengar suara Kenzo. Gadis muda itu terlihat begitu bahagia saat mendengar Kenzo yang mengajak dirinya untuk berbicara.
"Ya, aku akan bersiap." Anisa tersenyum hangat.
"Aku menunggu di teras depan," ujar Kenzo.
Setelah mengatakan hal itu, Kenzo langsung berpamitan untuk pergi. Anisa yang melihat kepergian Kenzo langsung ikut berpamitan, karena dia ingin bersiap untuk pergi.
Gadis itu ingin mandi walaupun hanya sebentar, dia ingin berganti baju karena baju yang dia kenakan bau masakan.
"Semoga anak-anak kita berjodoh," ujar Aruna.
Arin langsung menggelengkan kepalanya mendengar apa yang dikatakan oleh Aruna, dia tidak menyangka jika sahabatnya itu berniat untuk mendekatkan putrinya dan juga putra dari Aruna.
"Haish! Jangan berkata seperti itu, kita sebagai orang tua tidak boleh terlalu menekan. Biarkan mereka memilih jalan yang diinginkan," ujar Arin.
Arin tidak menyukai perjodohan, takut takutnya kehidupan putrinya tidak akan baik jika putrinya itu dekat dengan orang yang tidak dia suka.
"Ya, aku tahu itu. Tapi, tidak salah dong jika aku berharap?" tanya Aruna.
__ADS_1
"Hem!" jawab Aruna pada akhirnya.