
Selama perjalanan menuju ibu kota, Ayana terlihat terdiam. Dia begitu fokus dengan lamunannya sesekali Stefano akan menolehkan wajahnya ke arah Ayana. Karena dia merasa khawatir dengan wanita itu.
Setelah pertemuan Ayana dengan Sandi, wanita itu terlihat begitu murung. Entah apa yang ada di dalam pikiran wanita itu, Stefano tidak paham. Namun, terlihat sekali kekecewaan dari wajah wanita itu.
Mengingat Ayana yang terlihat seperti wanita yang baru saja putus cinta, Stefano menjadi teringat akan Ayaka yang saat kecil begitu menyukai makanan manis.
Ayaka selalu terlihat begitu senang jika dirinya memberikan coklat ataupun roti, Stefano nampak tersenyum lalu dia berdehem beberapa kali agar Ayana kembali ke alam nyata. Tidak terfokus dengan lamunannya saja.
Sesuai dengan harapannya, Ayana seperti orang yang kaget ketika mendengar Stefano berdehem beberapa kali. Lalu, wanita itu nampak menolehkan wajahnya ke arah Stefano dan berkata.
"Kalau kamu haus, kamu minum aja dulu. Kalau ngga bisa minum sambil nyetir, boleh berhenti dulu," ujar Ayana yang menyangka jika Stefano sedang kehausan.
Stefano tersenyum karena dia mengira apa yang dikatakan oleh wanita itu adalah bentuk perhatian untuk dirinya, dia menolehkan wajahnya ke arah Ayana sebentar lalu berkata.
"Maaf, Nona. Maaf kalau saya mengganggu, jika suasana hati-hati anda sedang tidak baik, sebaiknya anda mengkonsumsi coklat atau makanan yang manis."
Stefano mengambil coklat dan juga roti yang selalu dia sediakan di dalam mobilnya, lalu dia memberikan makanan itu kepada Ayana.
Ayana sempat mengernyitkan dahinya ketika Stefano memberikan coklat kepada Ayana, tidak lama kemudian dia tersenyum dan berkata.
"Kamu mengingatkan aku kepada adikku, dia begitu menyukai coklat dan juga roti. Tapi maaf, aku tidak menyukainya. Simpan saja lagi, atau kalau tidak kamu makan saja. Terima kasih sudah perhatian, ujar Ayana.
Stefano kembali menyimpan coklat yang akan dia berikan kepada Ayana, di dalam hatinya dia bertanya-tanya kenapa gadis kecilnya berubah dengan begitu drastis.
Sikap Ayana yang saat ini jauh sekali dengan sikap dari wanita itu ketika mereka tinggal satu atap bersama, Stefano jadi bertanya-tanya di dalam hatinya, apakah pengaruh asuhan dari Aruna sangatlah besar, karena bisa membuat gadis kecil yang ada di sampingnya berubah dan hampir tidak bisa dia kenali, pikirnya.
Stefano bahkan sampai meraba dada sebelah kirinya, tidak ada getaran sama sekali di dalam hatinya ketika berdekatan dengan wanita yang ada di sampingnya.
Padahal, ketika dia tinggal satu atap dengan gadis kecilnya, dadanya selalu saja berdebar dengan begitu cepat. Dia bahkan sempat berpikir jika dirinya adalah pria yang sudah gila.
Usianya saat itu baru dua belas tahun, tetapi dia sudah merasa mencintai gadis kecil yang tinggal satu atap dengan dirinya. Dia benar-benar merasa aneh, karena saat itu gadis kecil itu memiliki wajah yang buruk rupa.
Namun, entah kenapa Stefano begitu mencintai gadis kecil itu. Maka dari itu dia berjanji akan mencari uang yang banyak dan akan mengobati wajah gadis kecil itu.
Stefano bahkan berjanji di dalam hatinya akan menikahi gadis kecil yang selalu membuat hatinya bergetar itu. Namun, setelah melihat perubahan yang begitu drastis dari wanita yang ada di sampingnya, Stefano mulai berpikir ulang.
"Maaf kalau saya lancang," ujar Stefano lalu kembali fokus dalam menyetir.
Pria itu mulai berpikir jika waktu yang berlalu bisa saja membuat semuanya berubah, bahkan dengan perasaan bisa ikut berubah.
__ADS_1
Hati dan perasaan Stefano bisa saja masih dengan perasaannya yang dulu, tetapi dia tidak tahu bagaimana dengan perasaan dari gadis kecilnya itu.
Namun, untuk yang namanya perasaan Stefano pastinya tidak bisa memaksakan. Stefano akan membiarkan semuanya mengalir seperti air, jika memang wanita yang ada di sampingnya bukan jodohnya, dia tidak bisa berkata apa-apa.
"Tidak apa-apa, aku anggap itu sebagai perhatian dari kakak laki-lakiku," jawab Ayana.
Setelah itu tidak ada lagi obrolan di antara keduanya, baik Ayana ataupun Stefano sibuk dengan pikiran masing-masing.
Saat tiba di perusahaan Siregar, keduanya bahkan masih saling diam. Ayana langsung duduk di bangku kebesarannya, tetapi dia tetap anteng dengan lamunannya.
Sigit yang melihat keduanya datang untuk nampak memandang putri sulungnya dengan tatapan bingung, lalu dia menghampiri Stefano dan langsung bertanya.
"Ada apa dengan putriku?" tanya Sigit.
"Entahlah, Tuan. Tapi tadi dia bertemu dengan teman kuliahnya yang bernama Sandi," jawab Stefano jujur.
"Oh!" ujar Sigit seraya menepuk-nepuk pundak Stefano. "Tolong bantu doa dalam bekerja, karena sepertinya dia sedang lelah," imbuh Sigit.
"Siap, Tuan," jawab Stefano.
Sigit kembali ke dalam ruangan yang segera berpesan kepada asisten pribadi dari putrinya tersebut, Stefano yang melihat Ayana diam saja memutuskan untuk menyiapkan berkas penting untuk meeting pukul 2 nanti.
"Ah! Iya, terima kasih sudah mengingatkan!" ujar Ayana seraya bangun dan keluar dari dalam ruangannya.
Stefano hanya menatap nanar kepergian dari Ayana, dia merasa kasihan dengan wanita itu tetapi tidak bisa berbuat apa-apa.
Jam-jam berikut yang berlalu seperti itu, Ayana tetap diam dan layaknya seperti wanita yang baru saja diputuskan cinta. Stefano tidak berkata apa pun, dia hanya berusaha untuk mengerjakan pekerjaannya dengan begitu baik.
Di saat pulang bekerja, Ayana memang pulang bersama dengan Stefano. Karena Ayana sudah mendapatkan izin untuk menginap di tempat Sam selama yang Ayana mau, asal Ayana senang, kata Sigit.
Namun, tetap saja tidak ada pembicaraan di antara keduanya. Stefano yang memang lebih dewasa hanya terdiam, karena biasanya wanita yang sedang patah hati itu butuh waktu untuk sendiri.
"Ayah! Aku pulang," ujar Ayana seraya masuk ke dalam rumah Sam.
"Ya, Sayang. Kemarilah," jawab Sam seraya melambaikan tangannya ketika melihat putrinya yang masuk ke dalam ruang keluarga.
Ayana langsung menghampiri Sam, lalu dia duduk tepat di samping Sam dan memeluk pria itu dengan penuh kasih.
"Ayah, boleh Ay bertanya?"
__ADS_1
"Boleh, tentu saja boleh. Mau tanya apa?" tanya Sam seraya mengusap puncak kepala putrinya.
"Apakah Ayah dulu pernah menyukai seseorang? Tapi, ehm! Orang itu tidak pernah melirik Ayah sama sekali," ujar Ayana.
"Eh? Maksudnya bagaimana? Apakah putri Ayah ini sedang patah hati atau bagaimana?" tanya Sam seraya melerai pelukannya.
Ayana menghela napas berat, lalu dia kembali memeluk Sam. Dia sedang membutuhkan support, rasanya berada di dalam pelukan ayahnya begitu terasa nyaman.
"Jadi, dari dulu aku suka sama seorang pria. Dia itu sangat perhatian kepada aku, dia juga selalu ada di saat aku susah dan juga senang. Tapi, dia tidak pernah mengatakan kalau dia menyukai aku. Padahal, aku berharap jika dia menyatakan cinta kepadaku."
Sam merasa kasihan mendengar apa yang dikatakan oleh putrinya, dia malah mengingat akan dirinya yang dulu begitu mencintai Angel. Dia selalu ada untuk Angel, dia selalu melakukan apa pun yang Angel mau.
Namun, Angel malah memilih pria lain untuk dijadikan kekasih. Sam saat itu begitu kecewa dan juga marah, padahal pria itu sudah menunjukkan rasa cintanya yang begitu besar kepada Angel.
Sampai pada akhirnya, Sam yang tidak pernah minum akhirnya meminum minuman beralkohol sampai mabuk. Sam yang melihat Aruna seolah melihat Angel, dia menyatakan cintanya kepada Aruna saat itu.
Pernyataan cinta yang salah alamat, tentunya karena hal itu membuat kesalahpahaman antara dirinya dan juga Aruna. Sialnya saat itu Sam sudah membuat Aruna hamil, mau tidak mau Sam menikahi Aruna walaupun dengan terpaksa.
Setelah berumah tangga dengan Aruna, Sam memang mencintai wanita itu. Dia berusaha untuk menjadi suami yang baik untuk Aruna, merupakan wanita yang baik dan juga begitu menyayangi ibunya.
Sayangnya, setelah mereka menikah selama 7 bulan, Sam kembali bertemu dengan Angel. Angel yang kala itu sedang patah hati karena ditinggalkan oleh kekasihnya meminta Sam untuk tidak pulang, tentu saja hal itu membuat Sam khilaf dan dia malah bercinta dengan Angel sampai wanita itu hamil.
"Ayah, aku sedang curhat. Kenapa Ayah malah diam saja?" tanya Ayana.
Sam tersenyum, lalu dia melerai pelukannya dengan putrinya. Dia usap puncak kepala putrinya dengan penuh kasih, lalu Sam berkata.
"Jika jodoh tidak akan ke mana, Sayang. Ayah hanya ingin berpesan, jadilah wanita yang terhormat. Jaga diri baik-baik, jangan pernah memberikan mahkota kamu sebelum kamu menikah."
Ayana terdiam mendengar apa yang dikatakan oleh ayahnya, dia paham karena memang sekarang dia sudah dewasa. Ayana dan juga Ayaka sudah sangat mengetahui bagaimana masa lalu Sam, Aruna dan juga Angel.
"Jangan mengejar-ngejar pria yang kamu cintai, apalagi dengan cara yang tidak baik. Kamu yang nantinya akan rugi," ujar Sam.
"Iya, Ayah. Aku akan berusaha untuk menjadi wanita yang terhormat," jawab Ayana.
"Bagus, jangan seperti Ayah yang malah merusak kehidupan buna kamu. Jangan tiru sifat jelek Ayah," ujar Sam dengan sedih.
Karena jujur saja rasa bersalahnya terhadap Aruna begitu besar, maka dari itu sampai saat ini Sam tidak mau menikah lagi.
"Iya, Ayah. Aku paham," jawab Ayana.
__ADS_1