
Sigit merasa sangat bahagia sekali, karena akhirnya dia bisa menikahi Aruna. Walaupun dia hanya mendapatkan jandanya, tetapi itu tidak masalah bagi dirinya.
Karena cinta yang dia miliki begitu besar dan juga tulus untuk Aruna, dia tidak pernah memandang wanita itu rendah dari sisi mana pun. Bagi Sigit, Aruna tetaplah wanita yang begitu sempurna walaupun sudah menjadi janda dan memiliki satu putri.
Kini Sigit sedang memeluk Aruna dengan begitu posesif, tubuh mereka terlihat saling menempel. Setelah pergumulan panasnya dengan Aruna, Sigit tidak bisa memejamkan matanya.
Dia hanya memeluk Aruna seraya menatap wajah wanita itu yang terlelap dalam tidurnya, wajah damai yang terlihat begitu kelelahan.
"Alhamdulillah, akhirnya kamu jadi milik aku seutuhnya," ujar Sigit seraya mengecup bibir istrinya.
Setelah melakukan hal itu, Sigit berusaha untuk memejamkan matanya. Rasanya percuma juga jika dia harus terus terjaga, karena Aruna tidak bisa diajak untuk bermain kuda-kudaan lagi.
"Selamat malam, Sayang," ucap Sigit sebelum terlelap dalam tidurnya.
Keesokan harinya.
Ayana terbangun karena dia merasa ingin buang air kecil, anak itu dengan tergesa turun dari tempat tidur dan berlari menuju kamar mandi.
Selesai selesai buang air, gadis kecil itu merasa kaget karena di sana tidak ada Sigit dan juga Aruna. Hanya ada bibi yang sedang tertidur pulas di lantai beralaskan kasur lantai, Ayana sangat sedih.
Dengan cepat dia menolehkan wajahnya ke arah jam digital yang berada di atas nakas, waktu menunjukkan pukul 3 pagi. Rasanya tidak mungkin Sigit dan Aruna bangun untuk mengerjakan shalat subuh.
"Papa! Buna!" teriak Ayana.
Sebenarnya Ayana ingin sekali keluar dari dalam kamar itu, dia ingin segera mencari Sigit dan juga Aruna. Namun, dia tidak berani keluar dari kamar itu. Karena dia sangat sadar jika dirinya kini berada di kediaman Siregar.
"Papa! Buna! Kenapa Ay ditinggal?" jerit Ayana seraya menangis.
Bibi yang sedang tidur benar-benar kaget dengan suara jeritan Ayana, dia terbangun dengan wajah kaget seraya menghampiri Ayana dan menggendong putri kecil Aruna itu.
"Nona kecil kenapa jerit-jerit? Bibi kaget loh," ujar Bibi.
Ayana mengusap wajahnya yang basah dengan air mata dengan kedua telapak tangan mungilnya, lalu dia menatap wajah bibi dengan lekat dan bertanya.
"Buna, Bi. Buna ngga ada, papa juga. Ke mana meleka, Bi? Ay takut," keluh Ayana.
Bibi kebingungan harus menjelaskan seperti apa kepada Ayana, karena nyatanya Sigit dan juga Aruna kini berada di kamar pengantin mereka. Jika dia memberitahukan Ayana tentang keberadaan kedua orang tuanya, takut-takut keduanya sedang melakukan pergumulan panas.
Rasanya dia tidak berani untuk mengganggu kegiatan majikannya, karena nyatanya mereka adalah pasangan pengantin baru.
__ADS_1
Melihat bibi yang hanya diam saja Ayana mengedarkan pandangannya, dia menemukan segelas air di atas nakas. Ayana berusaha untuk turun dari gendongan bibi, dia mengambil air itu dan memberikannya kepada bibi.
"Dali tadi Bibi diem telus, minum dulu bial nyawanya kumpul," ucap Ayana seraya menyodorkan segelas air.
Dengan cepat bibi mengambil segelas air itu dari tangan Ayana, lalu dia menenggaknya hingga tandas. Tidak lama kemudian, bibi nampak menatap Ayana dan berkata.
"Bibi ngga tau papa sama buna ke mana," jawab Bibi berbohong.
Ah! Bibi begitu kesulitan untuk menjelaskan kepada anak itu, dia takut salah dalam berucap. Sungguh dia bingung harus mengatakan apa kepada Ayana, gadis kecil itu menatap bibi dengan kecewa dan berkata.
"Kalau gitu antel Ay cali papa sama buna, Ay takut meleka ilang," pinta Ayana seraya menarik-narik tangan bibi.
Bibi tidak bisa berkutik lagi mendengar permintaan dari Ayana, karena mata gadis itu terlihat berkaca-kaca. Wajah Ayana terlihat begitu menggemaskan, tetapi juga menyedihkan.
"Iya, Nona kecil," jawab Bibi.
Bibi menyimpan gelas kosong di atas nakas, lalu dia keluar dari kamar utama bersama dengan Ayana. Lebih tepatnya, bibi mengikuti langkah gadis tersebut.
"Buna!" teriak Ayana, bibi sampai mengelus dadanya.
Beberapa kali Ayana terdengar meneriaki nama ibunya, hingga teriakan putri kecil dari Aruna itu terdengar sampai ke dalam kamar pengantin.
Sigit baru saja terbangun dari tidurnya, merasakan tubuh polosnya yang begitu menempel dengan istrinya, tentu saja hal itu membuat gairah kelelakiannya langsung bangun.
Sigit bangun dan langsung mengungkung pergerakan istrinya, awalnya dia kecup bibir Aruna dengan begitu lembut.
Namun, lama kelamaan ciuman itu berubah menjadi ciuman yang begitu menuntut. Aruna sampai mengerang penuh nikmat, tidak lama kemudian Aruna terbangun karena Sigit menyesap ujung dada Aruna secara bergantian.
"Astagfirullah, Yang! Aku lagi tidur, kenapa kamu gangguin?" tanya Aruna ketika melihat suaminya yang sedang menyusu seperti bayi besar.
Aruna mengusap kedua matanya, dia berusaha untuk mengembalikan kesadarannya. Karena rasa kantuk masih mendera, lelah sekali rasanya tadi malam sudah melayani Sigit.
Walaupun nyatanya dia juga menikmati pergumulan panas mereka, tetapi badannya terasa begitu pegal. Bahkan, pinggangnya terasa panas.
"Pengen enen, abis itu aku mau ini." Sigit mengusap milik istrinya, Aruna sampai melototkan matanya.
"Jangan dulu, aku ca--"
Aruna tidak meneruskan ucapannya, karena dia mendengar suara Ayana yang berteriak-teriak memanggil namanya dan juga Sigit.
__ADS_1
Sigit baru saja kembali bermain dengan dada istrinya, ujung dada kiri milik Aruna dia pilin sesuka hatinya, sedangkan ujung dada sebelah kanan milik Aruna dia sesap layaknya bayi besar.
Namun, di saat Sigit baru bermulai dengan kesenangannya, Aruna langsung mendorong wajah suaminya itu.
"Yang!" protes Sigit.
"Jangan marah! Kamu ngga denger Ay panggil-panggil kita?" tanya Aruna.
Sigit yang awalnya sedang begitu fokus dengan kedua buah favoritnya menajamkan pendengarannya, tidak lama kemudian dia segera turun dari tubuh istrinya dan mengambilkan baju tidur istrinya yang sempat dia lempar tadi malam.
"Pakailah, Yang. Temui Ay," ujar Sigit dengan lesu.
"Ya, Sayang," jawab Aruna seraya tersenyum manis.
Aruna memakai kembali piyama tidurnya, setelah itu dia memeluk suaminya dan memberikan ciuman yang begitu mesra.
"Aku tinggal ya, Sayang. Terima kasih," ujar Aruna tulus karena Sigit mau menahan egonya.
"Hem!" jawab Sigit lesu.
Aruna langsung keluar dari kamar pengantin mereka, lalu dia mencari Ayana. Putri cantiknya yang pasti sedang ketakutan karena dia tinggalkan, tentunya Aruna mencari putrinya seraya membenahi rambutnya yang berantakan.
"Ay!" panggil Aruna ketika melihat putrinya yang sedang berkeliling di ruang keluarga mencari dirinya.
"Buna!" teriak Ayana yang langsung menghambur ke dalam pelukan ibunya.
Ayana merasa lega sekali karena Ibunya sudah dia temukan, tidak lama kemudian Ayana melerai pelukannya dan menatap wajah ibunya dengan begitu lekat.
"Buna habis dali mana? Ay kenapa ditinggal?" tanya Ayana dengan sedih.
Karena pada kenyataannya sebelum tidur dia sudah berpesan agar tidak ditinggalkan, karena dia merasa sangat bahagia bisa tidur dengan keluarga yang utuh.
''Itu, Sayang. Buna habis ngadem, tadi kaya gerah gitu." Aruna mengibaskan tangan kanannya tepat di depan wajahnya.
Dia bertingkah jika dirinya seolah-olah sedang kepanasan, tentu saja hal itu dia lakukan agar Ayana tidak curiga.
"Oh! Buna ngademnya di lual lumah ya?" tanya Ayana seraya menatap leher ibunya dengan lekat.
"Eh? Memangnya kenapa gitu?" tanya Aruna.
__ADS_1
"Pasti Buna tadi ngademnya di lual lumah, makanya lehelnya pada melah digigit sama binatang," jawab Ayana.
Wajah Aruna langsung memerah, karena pastinya apa yang dimaksud oleh putrinya adalah tanda yang dibuat oleh Sigit.