Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 160


__ADS_3

Ayana sempat memperhatikan wajah Kenzo dan juga Anaya, keduanya seolah memiliki rasa yang sama tapi terhalang tembok yang begitu tebal dan juga kokoh. Udah kaya semen tiga gelindingan aje, ye. Terpercaya ngga tuh.


Tembok yang tentunya sangat tebal dan juga panjang, ya ampun. Mamak nih udah kaya ceritain tembok China aja, lanjut Mak. Jangan mulai ngaco nih cerita.


Entah salah atau tidak, tapi itulah yang dia lihat. Kenzo nampak begitu memedulikan Anaya, tetapi lewat kata-katanya yang terkadang dirasa sangat pedas dan membuat hati sangat kesal.


Namun, jika dipikir kembali, memang keduanya sulit untuk bersatu walaupun memiliki rasa yang sama. Karena pada kenyataannya, Anaya dan juga Kenzo memiliki keyakinan yang berbeda.


Selain itu, ada kilasan masa lalu yang kelam antara Angel dan juga Aruna. Walaupun sudah ada kata meminta maaf dan memaafkan, tetapi begitu sulit untuk dijabarkan.


"Sudah sampai, turun dan tidurlah!" ujar Kenzo seraya memberhentikan mobilnya tepat di halaman rumah Angel.


Kenzo sama sekali tidak menolehkan wajahnya ke arah Anaya, bahkan menatap wajah wanita itu lewat kaca tengah pun tidak. Kenzo hanya fokus menatap arah jalanan.


Walaupun usianya memang masih sangat muda, tetapi Kenzo merupakan pria yang berprinsip kuat. Selain itu, Kenzo selalu bersikap layaknya orang dewasa.


Dia jarang berkeluh kesah dengan apa pun yang terjadi di dalam kesehariannya, pria muda itu selalu berusaha untuk menghandle semua masalah yang datang di dalam hidupnya.


Banyak orang bilang anak remaja itu belum mempunyai masalah hidup, hanya orang-orang yang sudah berumah tangga yang banyak masalah hidupnya.


Itu salah, karena nyatanya anak yang baru berusia lima tahun saja sudah memiliki masalah hidup. Mereka terkadang merasa hidupnya begitu mengenaskan ketika sang ibu memiliki anak kembali.


Anak itu memang berkata merasa senang memiliki adik, tetapi nyatanya mereka sering merasa cemburu dengan perlakuan sang ibu yang terkadang mereka rasa terlalu berlebihan kepada adiknya.


Padahal, tanpa mereka sadari, perlakuan sang ibu kepada anak tersebut tentunya sama ketika mereka baru lahir. Hanya saja anak itu tidak mengingat akan hal itu.


"Iya, terima kasih." Gadis remaja itu nampak berkata seraya tersenyum hangat, walaupun Kenzo tidak melihatnya.


Anaya nampak berpamitan kepada Ayana, lalu dia terlihat hendak membuka pintu mobilnya. Namun, hal itu Anaya urungkan karena tiba-tiba saja Kenzo kembali mengeluarkan suaranya.


"Jangan lupa untuk kunci pintunya," ujar Kenzo yang mengingat jika Anaya berada sendirian di dalam rumahnya.


"Hem!" jawab Anaya dengan deheman saja.


Anaya merasa senang dengan ucapan yang keluar dari bibir Kenzo, dia merasa diperhatikan oleh pria itu.

__ADS_1


Namun, dia merasa bingung harus berkata apa. Dengan cepat Anaya berlalu dan masuk ke dalam rumahnya, tak lupa dia mengunci pintunya dan dengan cepat masuk ke dalam kamarnya.


"Dia sangat manis, walaupun kata-katanya terdengar ketus dan tidak enak didengar. Tapi, tetap saja gue sama elu ngga bakalan bisa bersatu." Anaya tersenyum kecut.


Ya, selama Anaya berjauhan dengan Kenzo, dia sudah memikirkan semuanya. Anaya sudah sadar sesadar sadarnya, jika dirinya tidak bisa bersatu dengan Kenzo.


Dia akan berusaha untuk mengikhlaskan pria itu, walaupun dia tidak memilikinya, dia akan mendoakan Kenzo agar bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dari dirinya.


Lagi pula jika dikaitkan dengan kekeluargaan, Ayaka adalah adik dari Ayana. Itu artinya, Anaya adalah adik dari Kenzo. Anaya harus berkasih sayang sebagai saudara, bukan sebagai kekasih hati.


Setelah jantungnya kembali berdetak dengan normal, Anaya memutuskan untuk segera ke kamar mandi. Dia harus mencuci muka dan segera tidur.


Jika Anaya sedang mencuci wajahnya, berbeda dengan Kenzo yang sudah mulai melajukan mobilnya. Ayana nampak berpindah, dia duduk di samping Kenzo dan menatap wajah adiknya dengan lekat.


"Elu suka sama Naya, Dek?" tanya Ayana.


Kenzo nampak kaget mendengar pertanyaan seperti itu dari kakaknya, tetapi pria itu berusaha untuk menenangkan hatinya yang tiba-tiba saja berdebar kencang.


"Ngga dong, Kak! Naya adiknya Ken, mana mungkin Ken suka sama Naya." Kenzo berkata dengan matanya yang fokus menatap jalanan.


Kenzo tentunya bisa melihat hal itu, karena dia sempat melirik Ayana dengan ekor matanya. Kenzo tersenyum lalu dia kembali bersuara.


"Udah ngga usah mikirin Ken, beli baksonya jadi nggak?" tanya Kenzo yang berusaha untuk mengalihkan perhatian.


Pria itu tidak suka privasinya diulik, tetapi walaupun seperti itu dia masih berbicara dengan begitu sopan.


Kenzo memang begitu berbeda dengan Sigit yang selalu banyak bicara, selalu menunjukkan kasih sayangnya dan selalu berusaha untuk bisa berbaur dengan semua orang yang dia kasihi.


Kenzo begitu jarang berbicara, tetapi pria muda itu selalu mengungkapkan kasih sayangnya lewat perbuatannya.


"Hem!" jawab Ayana dengan malas karena dia merasa jika adiknya tidak mau jujur terhadap dirinya.


Apalagi saat ini Ayana sedang PMS, premenstrual syndrome. Masa yang terjadi beberapa hari sebelum menstruasi tiba, tentunya wanita itu akan merasa gampang emosi dan mudah sedih.


Hal itu sering dialami oleh banyak wanita, hampir semuanya. Walaupun masih ada yang terlihat normal-normal saja ketika masa menstruasi akan tiba.

__ADS_1


"Nanti kita beli baksonya di dekat rumah teman Ken aja," ujar Kenzo.


"Hem!"


Kembali Ayana berdehem mendengar apa yang dikatakan oleh adiknya itu, entah kenapa dia merasa tidak suka saat Kenzo berusaha untuk mengalihkan perhatiannya.


Namun, wanita itu tidak bisa melayangkan protesnya. Tentunya karena dia tahu jika Kenzo pasti memiliki privasi sendiri yang tidak bisa diganggu oleh dirinya.


Di lain tempat.


Ayaka dan juga Stefano baru saja selesai makan malam dan tentunya juga jalan-jalan di sekitar area penginapan, menikmati udara malam di daerah itu.


Kini keduanya baru saja sampai di kamar penginapan, keduanya terlihat begitu kelelahan. Namun, terlihat juga kepuasan karena bisa menikmati waktu kebersamaan.


"Yang, udara di sini dingin banget. Kayaknya aku perlu menghangatkan tubuhku deh," ujar Stefano yang langsung memeluk tubuh Ayaka.


Bahkan, tanpa ragu kedua tangan Stefano nampak menggapai dada istrinya. Lalu, kedua bulatan kenyal istrinya itu dia mainkan sampai Ayaka memejamkan matanya.


Ayaka yang sedang duduk di meja rias dan membersihkan make up di wajahnya langsung menghentikan aktivitasnya, lalu dia melepaskan tangan suaminya yang sedang asik meremat kedua dadanya.


"Yang!" protes Stefano dengan wajahnya yang mulai ditekuk.


"Sebentar dulu, Sayangku. Aku hanya ingin membersihkan make up di wajahku, setelah itu kamu boleh meminta hak kamu." Ayaka tersenyum, lalu dia mencubit gemas pipi Stefano.


Ah! Stefano benar-benar merasa senang dengan apa yang dikatakan oleh Ayaka, dia langsung membuka seluruh kain yang melekat di tubuhnya. Lalu, pria itu langsung menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidur.


Dia menatap wajah Ayaka seraya mengusap keperkasaannya yang sudah menegang, Ayaka langsung tertawa dibuatnya. Tingkah dari suaminya itu benar-benar terlihat begitu konyol, tetapi Ayaka sangat suka.


"Bilang sama dia buat tunggu sebentar," ujar Ayaka.


Mendengar apa yang dikatakan oleh istrinya, Stefano langsung menatap keperkasaannya yang sudah berdiri dengan begitu tegak. Bahkan, miliknya itu sudah terlihat tidak sabar untuk masuk ke dalam sarangnya.


Milik Stefano nampak ileran, sudah seperti anak bayi yang menginginkan makanan kesukaannya. Nampak tidak sabar.


"Hem! Dia tidak bisa sabar, jadi aku mohon kamu harus cepat." Stefano menatap Ayaka dengan tatapan penuh hasrat.

__ADS_1


"Hem!" jawab Ayaka dengan deheman saja, tetapi matanya terus saja menatap keperkasaan suaminya lewat pantulan cermin.


__ADS_2