Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 59


__ADS_3

Tidak lama selepas kepergian Aruna dan juga Ayana, Sigit datang dan langsung masuk ke dalam ruang perawatan milik Almira. Almira terlihat kaget dengan kedatangan dari mantan atasan dari putranya itu.


Almira memang tidak pernah bertemu dengan Sigit, tetapi dia sempat melihat rekaman video peresmian Sigit menjadi pemimpin baru di perusahaan Siregar.


Pria muda itu nampak tampan dan juga gagah ketika dinobatkan sebagai pemimpin baru, bahkan keesokan harinya wajah Sigit langsung wara-wiri di majalah bisnis.


Bahkan, pemberitahuan mengenai Sigit yang menjadi pemimpin baru di perusahaan Siregar menjadi trending topik. Karena pria muda lulusan terbaik dari universitas luar negeri itu terlihat begitu tampan ketika duduk di kursi kebesarannya.


"Tuan Sigit, ada apa anda ke sini? Apa anda mau mencari putra saya?" tanya Almira yang belum tahu jika putarannya sudah tertangkap polisi.


Almira berpikir jika Sigit mungkin akan mencari tahu tentang keberadaan putranya, karena memang putranya itu sudah melakukan kesalahan yang besar dan juga fatal.


"Bukan, Nyonya. Saya datang ke sini untuk menjemput Aruna dan juga Ay," jawab Sigit seraya menghampiri Almira dan menyimpan sebuket buah di atas nakas.


"Aruna dan Ay? Memangnya anda mengenal mereka?" tanya Almira.


Setahunya Sigit itu sudah lama tinggal di luar negeri, karena memang dia mengenyam pendidikan di sana. Lalu, bagaimana bisa Sigit mengenal Aruna dan juga cucunya, pikirnya.


"Tentu saja saya sangat mengenal Aruna dan juga Ay, kami bahkan sudah berencana akan pergi bersama. Semoga anda cepat sembuh Nyonya, jangan terlalu banyak berpikir. Karena kesehatan anda sangat berharga," ujar Sigit.


"Ya, terima kasih," jawab Almira.


Saat Sigit dan juga Almira sedang mengobrol, Aruna dan juga Ayana yang sudah selesai melakukan salat ashar langsung masuk ke dalam ruangan tersebut.


Ayana yang melihat kedatangan Sigit langsung berlari dan melompat, Sigit dengan senang hati langsung menggendong putri dari Sam itu.


"Makasih udah tepat janji, Om. Ay sangat senang, ayo kita pergi." Ayana tanpa basa-basi langsung meminta pergi dengan Sigit, tentu saja pria itu langsung menganggukkan kepalanya.


"Boleh, Sayang. Kita akan segera pergi, pamitan dulu sama Oma." Sigit menurunkan Ayana.


Ayana dengan cepat memeluk Almira, tidak lupa dia juga memberikan kecupan sayang pada kening neneknya tersebut.


"Ay mau pergi sama Om Sigit, Oma harus cepat sembuh. Besok, Ay jenguk Oma lagi," ujar Ayana.


"Ya, Sayang," jawab Almira dengan raut wajah kebingungan.

__ADS_1


Dia merasa bingung kenapa Sigit bisa begitu dekat dengan Ayana, dia benar-benar cemburu melihat akan hal itu. Namun, Almira tidak bisa melayangkan protesnya.


"Cepat sembuh ya, Mom. Aku pergi dulu, Mom tidak usah takut, karena nanti bibi akan datang." Aruna tersenyum seraya mengusap lengan mantan mertuanya itu.


"Ya, Sayang," jawab Almira yang tidak mampu bertanya walaupun segudang pertanyaan menumpuk di dalam otaknya.


Setelah berpamitan kepada Almira, Aruna langsung berjalan beriringan dengan Sigit. Mereka keluar dari ruangan tersebut. Ayana tentunya begitu betah di dalam gendongan pria itu, Almira yang melihat akan hal itu bahkan sampai menangis.


Dia merasa jika Ayana kini sudah menemukan sosok pengganti putranya, putranya yang begitu kurang ajar karena sudah menyakiti hati Aruna dan juga Ayana.


"Mau langsung ke toko buku atau ke mana dulu?" tanya Sigit ketika dia sudah duduk di balik kemudi dan hendak menyalakan mesin mobilnya.


Ayana tanpa ragu langsung duduk di atas pangkuan Sigit, dia seperti sudah akrab sekali dengan pria muda itu. Aruna bahkan sampai kaget melihat interaksi antara keduanya.


"Langsung ke toko buku aja," jawab Ayana.


"Siap, Nona kecil." Sigit langsung menyalakan mesin mobilnya, lalu melajukan mobilnya menuju toko buku.


Selama perjalanan menuju toko buku, Aruna hanya terdiam seraya memperhatikan interaksi antara Sigit dan juga Ayana. Keduanya terlihat begitu dekat, bahkan mereka terlihat tidak canggung sama sekali.


Saat tiba di toko buku, Sigit dan Ayana begitu antusias dalam memilih buku yang ingin Ayana pelajari. Aruna hanya mengikuti langkah keduanya, dia bahkan tidak memilih buku yang ada di sana karena terlalu sibuk memperhatikan interaksi antara keduanya.


"Makasih, Om. Ay pasti akan lebih semangat dalam belajar mengaji dan juga belajar bacaan shalatnya," ujar Ay dengan wajah bahagianya.


Kini Sigit, Aruna dan juga Ayana sudah tiba di kediaman Dinata. Wajah ketiganya terlihat begitu senang sekali, terlebih lagi dengan Ayana.


"Sama-sama, Sayang." Sigit tersenyum senang karena melihat kebahagiaan di wajah Ayana.


"Ay masuk kamar dulu, mau siap-siap Maghrib." Ayana memeluk Sigit lalu berlari menuju kamarnya.


"Terima kasih, karena kamu sudah membuat Ayana tersenyum bahagia sore ini." Aruna tersenyum hangat, Sigit nampak bahagia melihat senyuman dari bibir Aruna.


"Sama-sama, Sayang. Kalau begitu aku---"


Belum sempat Sigit menyelesaikan ucapannya, ponsel milik Aruna terdengar berdering. Aruna dengan cepat mengambil ponselnya, lalu dia menunjukkan ponsel miliknya kepada Sigit.

__ADS_1


"Ngga ada namanya, angkat atau enggak?" tanya Aruna ragu-ragu.


"Angkat aja, siapa tahu penting," jawab Sigit.


"Oke, jawab Aruna."


Saat Aruna mengangkat panggilan telepon tersebut, ternyata panggilan telepon itu berasal dari Sam. Sam meminjam ponsel milik salah satu polisi yang ada di sana, karena saat ini dia membutuhkan Aruna.


Aruna hanya terdiam seraya mendengarkan apa yang dikatakan oleh Sam, tidak lama kemudian Aruna menutup panggilan telepon tersebut.


"Ada apa, hem? Kenapa raut wajah kamu berubah seperti itu? Telpon dari siapa memangnya?" tanya Sigit beruntun.


Sam sudah dipindahkan ke kantor polisi yang ada di ibu kota, dia yang kebingungan setelah ditinggalkan oleh Angel merasa membutuhkan Aruna.


"Dari Sam, dia sudah sampai di kantor polisi. Dia meminta aku untuk datang, maukah kamu menemaniku?" tanya Aruna.


Rasanya tidak berani jika dia harus pergi sendiri, padahal dulu bertemu dengan Sam dan berduaan dengan pria itu adalah hal yang begitu membahagiakan, Namun, saat ini merupakan hal yang sangat menakutkan.


"Mau, tentu saja aku mau. Sekarang kamu wudhu dulu, kita shalat Maghrib dulu. Setelah itu aku antar kamu ke kantor polisi," jawab Sigit.


Lega sekali rasanya karena Sigit mau mengantarkan dirinya untuk bertemu dengan Sam, pria muda itu rasanya benar-benar sangat sigap dalam setiap saat


"Oke, kamu shalat maghribnya di sini aja. Kasihan kamunya kalau harus mondar-mandir," ujar Aruna.


"Ya," jawab Sigit senang karena merasa diperhatikan.


Akhirnya Aruna dan Sigit segera mengambil wudhu, tidak lama kemudian mereka ikut bergabung untuk melakukan shalat berjamaah di mushola yang ada di kediaman Dinata.


Selepas shalat Maghrib, Sigit dan Aruna langsung pergi ke kantor polisi. Tentunya setelah mereka berpamitan terlebih dahulu kepada Rachel dan juga Satria, tidak lupa Aruna membujuk Ayana terlebih dahulu, karena gadis kecil itu ingin meminta ikut pergi.


Ayana menyangka jika Sigit dan juga Aruna akan pergi untuk jalan-jalan, dia tidak ingin ditinggalkan. Namun, setelah Satria dan juga Rachel membujuk, akhirnya Ayana menurut untuk tinggal di rumah saja.


Saat Aruna dan Sigit tiba di kantor polisi, rasanya Aruna ingin menangis ketika melihat Sam yang sedang memangku Ayaka. Pria itu tidak terlihat tampan seperti biasanya, penampilannya terlihat lebih lusuh dengan wajah yang terlihat frustasi.


Namun, jika mengingat apa yang dilakukan oleh Sam. Rasa kasihan itu tiba-tiba saja menghilang, luka hatinya kini terasa tersayat kembali ketika menatap netra mantan suaminya itu.

__ADS_1


"Ada perlu apa ingin bertemu denganku?" tanya Aruna.


"Aku ingin minta tolong sama kamu, apa bisa?" tanya Sam dengan tatapan penuh permohonan.


__ADS_2