
Afifah datang dengan menggunakan mantel panjang yang menutupi seluruh tubuhnya, wanita itu terlihat begitu cantik sekali. Sigit benar-benar kaget, karena wanita itu datang di saat malam tiba.
Padahal, saat ini mereka tidak ada pembahasan tentang pekerjaan. Seingatnya, sore sebelum berpisah mereka sudah memutuskan akan bertemu esok hari.
Setelah itu sore harinya Sigit akan pulang ke ibu kota, karena pembahasan pekerjaan sudah dianggap selesai. Namun, dia kebingungan dengan kedatangan wanita itu.
Terlebih lagi setelah Sigit bertanya kepada wanita itu, tetapi wanita itu bukannya menjawab pertanyaan dari Sigit, dia malah membuka mantel yang dia gunakan.
Wanita itu benar-benar terlihat seksi sekali, Afifah hanya menggunakan tanktop yang benar-benar memeluk tubuhnya. Dada besarnya seakan menyembul dari tempatnya, dia juga menggunakan celana yang super pendek dan hanya menutupi bokongnya saja.
Wanita itu terlihat begitu menggoda iman, sayangnya Sigit tidak tertarik sama sekali. Walaupun dia cantik dan juga menggoda, tetap saja dia sudah memiliki Aruna. Wanita yang sangat ia cintai.
"Maaf, Nyonya Afifah. Ini sudah sangat malam, silakan anda pulang. Karena ini bukanlah waktu untuk berkunjung," ujar Sigit dengan raut wajah datar tanpa ekspresi.
Ah! Afifah benar-benar merasa terhina dengan penolakan dari Sigit, dia sudah dandan super seksi dan juga super cantik. Akan tetapi, pria itu tetap saja menolak dirinya.
Marah?
Tentu saja wanita itu sangat marah, tapi dia berusaha untuk membunyikan kemarahannya. Dia berusaha untuk tersenyum dengan begitu manis sekali, lalu Afifah berkata.
"Jangan seperti itu, Tuan Sigit. Di sini anda hanya sendirian. Saya siap menemani anda, kita sama-sama sedang kedinginan," ujar Afifah seraya mendorong tubuh Sigit agar masuk ke dalam kamar tersebut.
Tanpa ragu dia bahkan menutup pintu tersebut dan menguncinya, Sigit langsung menggelengkan kepalanya. Karena dia benar-benar tidak menyangka jika wanita itu akan senekat ini.
"Mari kita habiskan malam dengan bercinta," ajak Afifah seraya mendorong tubuh Sigit sampai jatuh ke atas sofa.
Tanpa ragu Afifah langsung naik ke atas pangkuan Sigit, pria itu berusaha untuk mendorong Afifah. Akan tetapi, tanpa tahu malu wanita itu memeluk leher Sigit dengan begitu erat.
__ADS_1
Bahkan, Afifah melingkarkan kedua kakinya pada pinggang Sigit dengan begitu kencang. Sigit benar-benar marah sekali karena mendapatkan perlakuan seperti itu dari wanita yang baru saja dia kenal.
Sigit kembali memutarkan otaknya, dia tidak mau diperkosa oleh wanita seperti Afifah. Walaupun dia sangat yakin jika dia tidak akan tergoda oleh Afifah, tetapi rasanya hal seperti ini tidak boleh terjadi.
"Tolong jangan seperti ini, Nyonya! Apakah anda tidak kasihan dengan tuan Swan?" tanya Sigit berusaha untuk mengingatkan statusnya yang merupakan seorang istri dari pengusaha besar di kota itu.
"Swan? Dia itu tidak ada di sini, dia sedang di luar kota. Mungkin saja dia juga sedang bersenang-senang dengan gadis-gadis manja di sana, bagaimana kalau kita juga bersenang-senang?" ajak Afifah yang mulai dengan berani hendak mencium bibir Sigit.
Akan tetapi, dengan cepat Sigit mendorong tubuh wanita itu. Tentu saja hal itu membuat Afifah langsung jatuh tersungkur di atas lantai, wanita itu sampai meringis kesakitan.
Dia berusaha untuk bangun, tetapi kesusahan karena bokongnya terasa sakit dan pinggangnya terasa seperti akan patah.
"Ya ampun, kamu kasar sekali! Maunya bermain kasar, ya? Boleh," ujar Afifah penuh semangat.
Oh, oh, oh. Sigit benar-benar tidak menyangka jika dia kini sedang menghadapi wanita gila. Wanita yang tidak tahu diri dan juga begitu agresif, wanita yang berasal dari keluarga kaya tapi tidak terhormat.
Sigit kembali memutarkan otaknya, dia harus bisa lari dari wanita itu. Di saat Sigit sedang berpikir keras, Afifa berusaha untuk memeluk Sigit. Sigit membiarkan hal itu, tetapi tidak lama kemudian dia mengangkat kedua tangannya.
Lalu, Sigit melentikkan jari-jari tangannya, dia berbalik seraya menatap wajah Afifah dengan lekat dan berkata.
"Ya ampun, Cin. Kamu itu terlalu terburu-buru, kamu tahu nggak sih, Cin. Kita itu ya, nggak doyan sama perempuan. Tapi akikah itu doyannya sama lekong," ujar Sigit.
Afifah yang mendengar semua kata-kata yang keluar dari mulut Sigit langsung membulatkan matanya dengan sempurna, bibirnya bahkan terlihat menganga dengan begitu lebar.
Tingkah Sigit benar-benar seperti seorang banci, ketampanan wajah Sigit seakan luntur begitu saja karena kelakuan pria itu berbanding terbalik dengan tubuh atletis yang dimilikinya. Afifah menjadi bergidig ngeri.
"Kamu bukan pria tulen?" tanya Afifah ragu-ragu.
__ADS_1
"Ck! Coba aja simpulkan sendiri," ujar Sigit seraya menggoyang-goyangkan tubuhnya.
Lalu, tanpa ragu Sigit menunjuk dada Afifah. Tidak lama kemudian tangan itu turun untuk menunjuk milik Afifah, kemudian Sigit juga menunjuk wajah Afifah.
Setelah itu, Sigit tertawa dengan cukup kencang. Puas tertawa, lalu dia menutup mulutnya dengan tangan kanannya.
"Ya ampun, Ne. Wajah situ cantik, sayangnya cantikkan eke. Kalau mau nyari cowok kesepian bareng, yuk. Eke juga lagi butuh lekong," ujar Sigit menirukan gaya bencong.
Setelah itu, Sigit menyelipkan rambutnya pada cuping telinganya. Afifah ketakutan, tanpa banyak bicara wanita itu langsung pergi dari kamar hotel milik Sigit.
"Alhamdulillah!" ujar Sigit seraya menghela napas lega.
Dari tadi dia terus saja mencari cara agar wanita itu segera pergi meninggalkan dirinya, rasanya hanya cara itu yang menurutnya bisa membuat Afifah ilfil terhadap dirinya.
Beribu syukur dia panjatkan kepada Tuhan, karena nyatanya caranya berhasil dan Afifah kini kabur setelah dia berpura-pura menjadi bencong.
Sigit yang merasa lega langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur, berbeda dengan Afifah yang kini tengah duduk sambil mencengkram kuat setir kemudi.
"Ya ampun! Dia bukan pria tulen, nyesel godain dia terus. Pasti nikah juga karena buat nutupin airnya doang, hiiih!" ujar Afifah bergidik ngeri.
Afifah merupakan wanita yang begitu mencintai pria-pria bertubuh atletis, menurutnya pria yang memiliki tubuh atletis itu terlihat begitu seksi dan menggoda.
Wanita itu berpikir jika pria seperti itu pasti akan kuat saat bercinta di atas ranjang, maka dari itu sebisa mungkin dia selalu mencari pria-pria yang bertubuh atletis.
Tak jarang wanita itu berharap sedang bercinta dengan pria-pria tampan yang memiliki roti sobek yang menggoda, karena tuan Swan merupakan pria yang memiliki perut buncit. Tidak menarik seperti Sigit.
"Jangan-jangan apa yang dikatakan oleh banyak orang itu bukan mitos, tapi benar adanya. Cowok atletis itu--"
__ADS_1
Afifah tidak meneruskan ucapannya, dengan cepat dia menyalakan mesin mobilnya dan segera pergi dari sana.