Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 199


__ADS_3

Ayaka benar-benar terpuruk karena ternyata setelah dilakukan olah tkp Angel dan juga Surya dinyatakan meninggal dunia, sedangkan Anaya dinyatakan hilang.


Dia tidak menyangka jika mengizinkan kepergian ibunya adalah kiamat bagi dirinya, hal ini tentunya membuat dirinya menyesali akan keputusannya. Yaitu mendukung keinginan dari Anaya.


Jika Ayaka tahu hal ini akan terjadi, Ayaka tidak akan mengizinkan ayah dan ibunya untuk pergi ke kampung halamannya.


Namun, kembali lagi dia teringat jika ini adalah sudah jalan dari Tuhan. Ini adalah takdir dari Tuhan, Ayaka tidak bisa menentang takdir dari Tuhan tersebut.


Stefano nampak berusaha untuk menenangkan hati Ayaka, bahkan semua keluarga Aruna juga berusaha untuk menenangkan hati wanita yang sedang hamil itu.


Ayaka tidak boleh stres karena ada janin yang harus dipertahankan, Ayaka harus ceria. Karena dia tidak boleh membuat janin yang ada dalam rahimnya itu terguncang.


"Kamu harus tabah, Sayang. Aku yakin ini adalah yang terbaik dari Tuhan," ujar Stefano.


"Yang sabar, Dek. Inget baby yang ada di dalam rahim kamu, kamu tidak boleh egois dengan kesedihan yang saat ini. menimpa kamu," ujar Ayana.


"Bunda sangat tahu jika kamu wanita yang kuat, kamu pasti bisa menghadapi semua ini dengan lapang dada," ujar Aruna.


"Kakek yakin, kamu pasti bisa melewati semua ini. Semangat, Nak!" ujar Satria.


Banyak lagi kata-kata penyemangat yang didengar oleh Ayaka, dia berusaha tersenyum walaupun air matanya terus saja mengalir di kedua pipinya.


Siapa yang tidak bersedih ketika mendengar kedua orang tuanya meninggal dunia, terlebih lagi meninggal di tempat yang jauh.


"Terima kasih, karena kalian sudah berusaha untuk menyemangatiku," ujar Ayaka.


Lalu, bagaimana dengan Kenzo?


Tentu saja pria itu juga sangat bersedih hati mendengar kabar yang terjadi kepada Anaya, jika saja dia tahu hal ini akan terjadi kepada Anaya, pastinya Kenzo akan melarang keberangkatan wanita itu.


Membayangkan Anaya yang hilang di lautan lepas, rasanya kemungkinan untuk selamat sangatlah kecil sekali.

__ADS_1


"Aku tidak tahu harus apa saat ini," ujar Kenzo dengan sedih.


Satu minggu kemudian.


Jenazah Angel dan juga Surya sudah sampai di ibu kota, jenazah kedua orang tua dari Ayaka itu langsung dimakamkan secara layak.


Walaupun Ayaka terlihat begitu bersedih, tetapi wanita itu sudah terlihat lebih tenang. Dia sudah lebih ikhlas dalam menerima kepergian ibu dan juga ayahnya tersebut, karena ini adalah takdir Tuhan.


Sam yang melihat kepedihan di wajah Ayaka seolah tidak ingin meninggalkan putrinya, pria itu selalu saja menemani putrinya walaupun memang ada Stefano yang berada di samping putrinya tersebut.


Menurutnya, Sam bertanggung jawab untuk membuat Ayaka lebih ceria kembali. Terlebih lagi Ayaka sedang mengandung, Sam benar-benar berusaha untuk menghibur putri keduanya tersebut.


"Jangam sedih terus, Aya. Kamu harus sabar, kamu harus bisa menjalani kehidupan seperti biasanya. Karena ada bayi yang harus kamu jaga, ada calon buah hati kamu yang harus diperhatikan."


Itulah kata-kata yang selalu Sam ucapkan, dia selalu mengingatkan jika putrinya itu sedang mengandung dan tidak boleh mengabaikan kandungannya, walaupun memang dia sedang bersedih.


Berbeda dengan Kenzo, pria itu hanya bisa diam dengan wajah datarnya dan tanpa ekspresi. Karena dia begitu kecewa mendengar Anaya tidak bisa ditemukan, tim sar bahkan menyatakan jika gadis itu dinyatakan meninggal dunia, karena setelah dilakukan tujuh hari pencarian, Anaya tidak ditemukan.


Aruna paham jika putranya kini sedang bersedih hati, dia membalas pelukan putranya lalu mengelus lembut puncak kepala putranya itu.


"Jangan sedih terus, kamu harus ikhlas. Walaupun Buna tau jika ini sangat berat," ujar Aruna.


Kenzo menganggukkan kepalanya di dalam pelukan ibunya, karena memang saat ini dia sedang berusaha untuk mengikhlaskan kepergian Anaya. Akan tetapi, tidak lama kemudian Kenzo melerai pelukannya dan menatap wajah Aruna dengan lekat.


"Bun, aku mau melanjutkan kuliah di luar negeri aja," ucap Kenzo mengungkapkan keinginannya kepada ibunya tersebut.


Aruna cukup kaget mendengar penuturan dari Kenzo, karena selama ini Kenzo selalu berkata tidak ingin berjauhan dengan keluarganya. Tidak pernah sekalipun Kenzo mengutarakan ingin pergi untuk menimba ilmu di luar negeri.


"Kenapa harus kuliah di luar negeri?" tanya Aruna.


Kenzo merasa jika dia pergi ke luar negeri akan lebih mudah melupakan Anaya, bukan melupakan orangnya, tetapi melupakan kesedihan yang kini sedang dia rasakan karena kehilangan Anaya.

__ADS_1


"Pengen aja, Bun. Memangnya nggak boleh, ya? Aku maunya kuliah ditempat Papa dulu kuliah," jawab Kenzo.


Selain ingin melupakan kesedihannya, Kenzo juga merasa tidak betah tinggal di dalam rumahnya sendiri. Dia merasa tidak nyaman sekali.


Semenjak kejadian waktu itu, dia merasa begitu enggan untuk bersitatap mata dengan Anisa. Apalagi jika harus berada di dalam satu ruangan yang sama, rasanya Kenzo benar-benar tidak suka jika ada wanita itu berdekatan dengan dirinya.


Aruna menolehkan wajahnya ke arah suaminya, Sigit nampak menganggukan kepalanya. Tentunya Sigit menyetujui keinginan dari putranya karena dia paham jika putranya kini sedang bersedih hati.


"Boleh saja, kapan kamu mau berangkat? Papa dan juga Buna pasti akan mengantarkan kamu," jawab Sigit.


Sebenarnya Sigit dan juga Aruna terlihat begitu berat untuk mengizinkan kepergian Kenzo, karena mereka takut jika Kenzo nantinya di sana akan berputus asa setelah kehilangan Anaya.


Akan tetapi, mereka akan tetap percaya kepada putra mereka tersebut. Mereka tahu jika Kenzo tidak akan melakukan hal yang tidak tidak, mereka tahu jika Kenzo adalah pria yang baik dan juga pasti akan berperilaku dengan benar saat jauh dari mereka.


"Minggu depan," jawab Kenzo.


Berat sekali rasanya Sigit harus merelakan putranya pergi untuk menimba ilmu di luar negeri, tetapi dia tidak boleh egois karena putranya itu memiliki niat yang baik.


"Oke, nanti Papa siapkan semuanya," ujar Sigit menyanggupi.


Kenzo langsung tersenyum senang mendengar penuturan dari Sigit, dia merasa bahagia karena kedua orang tuanya itu selalu mendukung apa pun keinginannya.


Dia berjanji tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang diberikan oleh kedua orang tuanya, dia berjanji akan kuliah dengan baik dan juga benar.


"Terima kasih, Pa." Kenzo. langsung menghambur ke dalam pelukan ayahnya.


Tanpa mereka tahu, sejak tadi Anisa memperhatikan dan juga mendengarkan apa yang sedang mereka bicarakan. Gadis itu terdiam di balik lemari besar yang tidak jauh dari ruang keluarga.


Gadis itu nampak menghampiri Aruna dengan mendorong kursi rodanya yang diduduki, karena memang tidak ada pelayan yang membantunya.


"Kak Ken mau kuliah di luar negeri? Nisa boleh ikut nganterin nggak?" tanya Anisa seraya menatap Kenzo dengan tatapan penuh harap.

__ADS_1


__ADS_2