Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 77


__ADS_3

Siang ini Aruna, Ayana dan juga Sigit sudah pindah di kediaman barunya, bahkan Kedua keluarga besar Siregar dan juga Dinta sudah ikut berkumpul di sana.


Mereka juga bahkan mengundang anak-anak panti ke kediaman baru mereka, karena memang sengaja mengadakan syukuran kecil-kecilan. Hanya sekedar makan bersama dengan anak-anak panti dan memberikan sedikit uang jajan untuk mereka.


Di dalam rumah baru itu terlihat begitu ramai, bahkan di halaman rumahnya yang terlihat luas juga begitu ramai dengan anak-anak panti. Setelah mengaji dan berdoa yang dipimpin oleh ustad, acara pun langsung berlanjut pada acara makan-makan.


Semua anak-anak panti terlihat begitu senang, karena disediakan makanannya begitu melimpah. Mereka boleh makan sepuasnya di sana, bahkan mereka juga boleh membawa bingkisan di saat mereka pulang nanti.


Ayana yang ikut berbaur di sana ikut senang, karena anak itu memang sangat suka keramaian. Namun, satu hal yang membuat Ayana merasa sedih.


Tepat di samping rumahnya dia melihat gadis kecil dengan wajah buruk rupa, dia berdiri di balik pagar seraya memperhatikan anak-anak panti yang sedang makan dengan lahap.


"Siapa dia?" tanya Ayana lirih.


Rumah baru Ayana dengan rumah tersebut memang hanya terhalang pagar pagar yang menjulang tinggi, sehingga Ayana bisa dengan jelas melihat Ayaka.


Ayana jadi berpikir jika anak kecil itu pasti sedang kelaparan, ibunya pasti adalah seorang pembantu yang bekerja di sana. Pekerjaan ibunya belum selesai dan dia belum dikasih makan.


Pasalnya, saat Ayana melihat tubuh anak itu terlihat begitu kurus. Tinggi badannya lebih pendek dari dirinya, karena merasa penasaran Ayana langsung menghampiri anak kecil itu.


"Kamu sedang apa di sini? Kamu lapar?" tanya Ayana.


Ayaka yang mendengar teguran dari Ayana terlihat begitu kaget, dia kaget karena tentunya Ayaka masih mengenali wajah Ayana yang begitu mirip dengan ayahnya tersebut.


'Bukankah dia anak ayah Sam juga?' tanya Ayaka dalam hati.

__ADS_1


Ya, Sam sempat menjelaskan kepada Ayaka jika anaknya bukan hanya Ayaka saja. Akan tetapi, dia memiliki anak dari wanita lain, Ayana. Gadis kecil yang juga memanggilnya dengan sebutan ayah.


Ayaka hendak pergi karena malu dengan wajahnya yang buruk rupa, dia juga merasa malu karena dulu pernah memarahi Ayana. Dia sudah berbalik badan dan sudah mulai melangkahkan kakinya. Namun, panggilan dari Ayana mampu menghentikan langkahnya.


"Hey! Jangan pergi! Ay bukan orang jahat, Ay orang baik. Kalau kamu lapar, Ay akan bawakan makanan," ujar Ayana.


Untuk sesaat Ayaka terdiam, dia memang lapar tetapi begitu ragu untuk menerima makanan dari Ayana. Karena nyatanya dia sedang menunggu Stefano, anak dari Andin itu berjanji akan membawakan makanan yang banyak dan mengajarinya cara membaca dan menulis.


Namun, kini waktu sudah menunjukkan pukul 2 siang. Akan tetapi, Stefano belum kunjung datang. Dia sudah sangat kelaparan, tetapi dia tidak bisa makan karena ada Andin.


Wanita itu biasanya akan pulang saat sore hari tiba, tentunya selepas dia bekerja. Namun, siang ini dia sudah pulang karena merasa tidak enak badan. Ayaka takut untuk mengambil makanan, takut dimarahi oleh Andin.


Ayaka kembali membalikkan tubuhnya, lalu dia menghampiri Ayana dan menganggukkan kepalanya. Ayana tersenyum melihat respon dari gadis kecil itu, melihat wajahnya yang buruk rupa Ayana sama sekali tidak merasa jijik.


Justru Ayana merasa kasihan, bahkan kalau ada obat yang bisa menyembuhkan bekas luka di wajah anak kecil itu, Ayana pasti akan memberikannya.


Dia meminta kantong plastik kepada salah satu pelayan yang ada di sana, lalu dia memasukkan banyak makanan dan juga sebotol air mineral. Setelah itu, dengan cepat Ayana memberikannya kepada Ayaka.


"Ini makanan untuk kamu, makanlah yang banyak biar badannya gemuk kaya Ay," ucap Ayana seraya berusaha untuk memberikan kantong plastik berisikan makanan itu lewat celah pagar.


Ayaka tersenyum senang mendengar apa yang dikatakan oleh Ayana, bahkan dia terlihat begitu bahagia saat melihat isi dari kantong plastik itu.


"Terima kasih, Kak," ucap Ayaka dengan tulus.


Wajah Ayana langsung berbinar ketika mendengar ucapan terima kasih Ayaka, karena anak dari Aruna itu sempat mengira jika gadis kecil buruk rupa itu tidak bisa berbicara.

__ADS_1


Dia juga merasa senang karena gadis kecil itu menyebut dirinya dengan panggilan kakak, dia merasa menjadi seorang anak gadis yang memiliki seorang adik perempuan.


"Oh ya ampun! Ternyata kamu bisa ngomong, Ay suka. Kita bisa bertemu setiap hari dan mengobrol, karena mulai hari ini Ay tinggal di sini," ujar Ayana dengan senang.


Ayaka ikut tersenyum, lalu dia menganggukan kepalanya tanda mengiyakan. Selama ini dia memang normal, hanya saja tidak pernah berbicara karena takut kepada Andin.


''Iya, Kak. Aku pergi dulu," ujar Ayaka.


Ayaka langsung berlari setelah mendapatkan makanan dari Ayana, dia pergi ke halaman belakang dan bersembunyi di balik pepohonan yang ada di sana.


Tentu saja hal itu dia lakukan karena takut ketahuan oleh Andin, dia takut kalau Andin akan mengambil makanan miliknya dan membuangnya.


Entahlah, Andin belum melakukan apa pun juga, tetapi Ayaka sudah memiliki ketakutan yang luar biasa terlebih dahulu. Mungkin karena seringnya dimaki-maki oleh wanita itu.


Andin memang merasa tertekan, karena dia harus mengurus dan menghidupi putranya sendirian. Terlebih lagi dia juga memiliki rasa ketakutan yang luar biasa ketika berhadapan dengan Ayaka, dia takut dipenjara karena sudah menabrak anak itu.


Dia memakan makanan yang diberikan oleh Ayana dengan lahap, bahkan semua makanan itu terlihat habis tak tersisa. Setelah itu, dia meminum air sampai habis setengahnya.


Bibir mungil anak itu terlihat tersenyum, tetapi air matanya mengalir dari kedua pipinya. Sedih sekali rasanya memiliki nasib seperti ini, tetapi dia merasa bersyukur karena dia masih memiliki kakak yang baik seperti Ayana.


"Kalau dia tahu aku anak ayah Sam, apakah dia akan tetap bersikap baik padaku?" tanya Ayaka dengan sedih.


Setelah cukup lama menangis, Ayaka segera mengusap air matanya. Tidak lama kemudian dia berusaha untuk memaksakan senyumnya, lalu dia melangkahkan kakinya untuk masuk ke dalam rumah Andin.


Dia ingin tidur terlebih dahulu, karena selain lelah dia juga merasa akan aman jika tidur di saat Andin sedang ada di dalam kamarnya.

__ADS_1


Namun, baru saja Ayaka hendak masuk ke dalam kamar kecil yang sudah dia huni selama satu tahun ini, dia merasa ada yang menepuk pundaknya. Sontak saja hal itu membuat tubuhnya menegang, anak itu takut jika Andin datang dan akan memarahi dirinya.


__ADS_2