
"Itu, Pak. Apakah istri saya berada di sini? Soalnya setelah saya melacak keberadaan istri saya melalui ponsel, ternyata dia berada di sini," ucap Sam seraya menunjukkan letak titik di mana keberadaan Aruna.
Security tersebut nampak memperhatikan penampilan Sam dari atas kepala sampai ujung kaki, penampilannya memang terlihat biasa saja. Tidak seperti seorang penjahat, atau tampak seperti penipu.
Akan tetapi, dengan cepat security tersebut mengambil ponselnya dan memberitahukan kepada Satria tentang apa yang dipertanyakan oleh Sam. Bahkan, diam-diam security tersebut memotret Sam.
"Maaf, Tuan. Saya kurang paham, tetapi tadi yang pulang hanya tuan Sagara. Tidak ada seorang wanita yang datang," jawab security tersebut.
"Kenapa bisa seperti itu? Padahal jelas-jelas di GPS ini menunjukkan jika keberadaan istri saya ada di sini," ujar Sam seraya mengecek ponselnya kembali.
Namun, dia terlihat begitu terkejut ketika mengetahui keberadaan Aruna kini tidak bisa dilacak. Sam menjadi aneh dibuatnya, karena tiba-tiba saja ponsel istrinya tidak bisa dilacak dan tidak bisa dihubungi ketika dia mencoba untuk menelpon istrinya.
"Astaga! Kenapa ini bisa terjadi?" tanya Sam dengan lemas.
Sam yang tidak yakin jika istrinya sudah pergi dari sana memutuskan untuk masuk ke dalam mobilnya, lalu dia memundurkan mobilnya dan berhenti tidak jauh dari sana. Dia ingin memastikan terlebih dahulu, apakah benar istrinya ada atau tidak di sana.
"Semoga saja aku bisa cepat menemukan kamu, Aruna. Maaf jika Mas sudah menyakiti kamu," ujar Sam.
Beberapa saat yang lalu.
Aruna terlihat begitu lelah sekali, dia sempat menguap beberapa kali. Bahkan, Aruna sempat mengelusi pinggang dan punggungnya yang terasa pegal.
Sagara yang melihat akan hal itu akhirnya mengusulkan untuk mengantarkan Aruna pulang terlebih dahulu ke kediaman Dinata, selain itu ada barang yang perlu diambil oleh Sagara.
Awalnya Aruna menolak, karena dia masih ingin menunggui adiknya. Akan tetapi, Sagara berkata jika Aruna butuh istirahat, selain itu Ayana juga pasti membutuhkan kasih sayangnya dan juga perhatiannya.
__ADS_1
Terlebih lagi Ayana baru saja sembuh dari sakitnya, akhirnya Aruna menyetujuinya. Keduanya langsung pulang ke kediaman Dinata dengan tujuan yang berbeda.
Saat tiba di sana, Aruna langsung disambut hangat oleh Satria dan juga Rachel. Mereka benar-benar merasa senang saat mengetahui putrinya pulang ke tempat yang seharusnya di mana Aruna berada.
Berbeda dengan Sagara yang langsung masuk ke dalam kamarnya, karena ada sesuatu yang harus dia kerjakan dan ada beberapa benda yang harus dia ambil sebelum kembali ke rumah sakit.
"Aruna, Sayang. Bunda sangat senang karena ternyata kamu ikut pulang dengan Saga, sekarang Istirahatlah," ujar Rachel.
"Iya, Bunda. Aku sangat ingin istirahat, tapi di mana Ay?" tanya Aruna yang merasa rindu dengan putrinya.
"Dia ada di dalam kamar kamu, kamar yang dulu Bunda siapkan untuk kamu. Ayo bunda tunjukkan," ajak Rachel.
Di saat Aruna dan juga Rachel hendak pergi, Satria langsung merangkul pundak putrinya. Lalu, dia menunjukkan foto yang dikirimkan oleh security-nya kepada dirinya.
"Ada suami kamu di depan, ternyata dia mampu mencari keberadaan kamu. Sepertinya kamu harus segera mematikan ponsel milik kamu," ujar Satria.
"Terima kasih karena sudah memberitahukannya Ayah," ucap Aruna seraya memeluk Satria dengan begitu erat.
"Iya, Sayang. Sekarang kamu beristirahatlah, Bunda yang akan mengantarkan kamu. Karena Ayah masih harus menunggu seseorang, menunggu orang yang akan memberikan kabar baik untuk kamu," ucap Satria seraya mengusap puncak kepala putrinya dengan penuh kasih.
"Ya, Ayah. Aku masuk dulu ke dalam kamar dengan Bunda, terima kasih," ucap Aruna seraya berjinjit lalu mengecup pipi ayahnya.
Satria tersenyum lalu menunduk dan mengecup kening putrinya dengan penuh kasih, lengkap sudah kebahagiaannya kini karena bisa berkumpul kembali dengan putrinya.
Dia berjanji akan menebus waktu yang sudah hilang selama ini, Satria bahkan berjanji akan memberikan hal yang terbaik untuk putrinya. Karena ternyata putrinya sudah mendapatkan perlakuan yang sangat tidak baik dari suaminya.
__ADS_1
"Sudah saatnya kamu merasakan kebahagiaan Aruna, kamu tidak boleh bersedih lagi. Bahkan, kamu tidak boleh sampai meneteskan air mata. Ayah tidak akan sanggup," ucap Satria lirih.
Setelah berbicara dengan Satria, Rachel dan juga Aruna akhirnya masuk ke dalam kamar di mana Ayana sedang tertidur dengan lelap, gadis kecil itu setelah puas menangis langsung terlelap dalam tidurnya.
Dia tidur meringkuk dengan wajahnya yang terlihat sendu, matanya memang terpejam. Akan tetapi, di sana ada jejak air mata. Hal itu membuat Aruna merasa hatinya begitu sakit, karena baru kali ini dia melihat kesedihan yang begitu mendalam di wajah putrinya.
"Ada apa dengan Ay? Kenapa dia terlihat sangat sedih?" tanya Aruna.
Rachel menghela napas berat, dia benar-benar ragu untuk mengatakan hal ini kepada Aruna. Akan tetapi, putrinya berhak tahu dengan apa yang sudah terjadi terhadap Ayana, cucunya.
"Jadi begini, Sayang. Tadi saat di taman--"
Akhirnya Rachel mengatakan apa yang terjadi kepada Ayana saat di taman, Aruna langsung mengepalkan kedua tangannya dengan sempurna. Dia benar-benar merasa sakit hati mendengarkan apa yang diceritakan oleh Rachel.
"Ay menangis, Bun? Ay berkata seperti itu?" tanya Aruna dengan sedih.
Rachel mengganggukan kepalanya dengan cepat, karena pada kenyataannya memang seperti itu. Ayana menangis dan begitu bersedih karena merasa jika ayahnya sudah dicuri oleh wanita lain.
"Astaga! Berani sekali dia menyakiti putriku, ini sudah sangat keterlaluan!" kesal Aruna.
Rachel yang mengetahui putrinya sedang emosi langsung memeluk putrinya tersebut, dia berusaha untuk menenangkan Aruna.
"Tenangkan dulu hati kamu, Sayang. Jangan emosi seperti ini, karena hal itu akan tidak baik untuk kesehatan kamu," ujar Rachel.
Aruna langsung berusaha untuk mengontrol emosinya, dia berusaha untuk menenangkan hati dan juga pikirannya sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Rachel. Tidak lama kemudian Aruna berkata.
__ADS_1
"Jika kamu hanya menyakitiku, aku tidak pernah mempermasalahkannya. Aku selalu maafkan kamu, Sam. Tetapi, kamu sudah menyakiti Ay. Jangan salahkan aku jika nanti aku akan membalaskan rasa sakit hati yang lebih dari apa yang sudah kamu lakukan terhadap putri kita!" tekad Aruna dengan air mata yang sudah mengalir di kedua pipinya.