Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
BUSM2 S2. Bab 10


__ADS_3

Kenzo memang berpamitan kepada Anisa untuk mencari pekerjaan, padahal pada kenyataannya dia bekerja di perusahaan milik sang ayah, perusahaan siregar.


Hal itu dia lakukan agar tidak bosan diam di kontrakan bersama dengan Anisa, karena sungguh dia tidak betah berdua saja dengan wanita itu.


Selain untuk menghindari Anisa, Kenzo juga bisa membantu ayahnya dalam bekerja, walaupun memang sudah ada Ayana yang selalu membantu ayahnya tersebut.


Pria muda itu begitu terlihat serius dalam pekerjaannya, bahkan saat ada meeting pun Sigit sengaja meminta Kenzo untuk menghandle meeting tersebut.


Ayana sampai memuji adiknya itu, karena ternyata Kenzo mampu memimpin meeting tersebut dengan sangat baik.


"Elu itu emang adik gue yang paling ganteng dan paling pintar, bisa banget bikin klien langsung tanda tangan setelah mendengarkan presentasi yang elu sampaikan," ucap Ayana dengan begitu bangga.


"Harus dong, Kak. Kalau dalam usaha itu kita harus memiliki keyakinan, harus pandai dalam berbicara dan meyakinkan calon klien yang akan bekerjasama dengan kita," jawab Kenzo.


"Iya, elu bener. Elu emang adik gue yang paling gue sayang," ucap Ayana seraya memeluk Kenzo.


Keduanya berjalan untuk masuk ke dalam ruangan mereka masing-masing, tetapi tidak lama kemudian Ayana merasa jika pandangan matanya berkunang-kunang.


Ayana nampak mengeratkan pelukannya kepada Kenzo, pria itu langsung menyadari perubahan yang terjadi pada kakaknya tersebut dan langsung menghentikan langkahnya.


"Ada apa, Kak? Kakak kenapa?" tanya Kenzo yang mulai khawatir karena tiba-tiba saja wajah Ayana berubah pucat.


"Ngga tahu, Ken. Gue nggak tau kenapa, tapi tiba-tiba kepala gue pusing. Perut gue juga mual, kaya pengen muntah gitu. Gendongin gue, Ken. Bawa gue ke dalam ruangan gue," ucap Ayana yang merengek seperti anak kecil.


"Oke, oke. Gue gendong elu," jawab Kenzo yang langsung menggendong ayana dan membawa wanita itu ke dalam ruangannya.


Saat tiba di dalam ruangan Ayana, Kenzo langsung mendudukan wanita itu di atas sofa. Lalu, Kenzo memijat kepala kakaknya tersebut.


Namun, Ayana berkata jika dirinya malah semakin mual. Kenzo lalu berinisiatip untuk memijat pundak wanita itu, Ayana terlihat diam saja.


"Gimana, Kak? Udah enakkan ngga?" tanya Kenzo dengan khawatir.


"Entahlah, Ken. Gue ngga tahu, tapi yang pasti kalau buka mata, gue merasa semakin mual. Gue ngerasa kalau semuanya muter-muter gitu, kaya pengen muntah," jawab Ayana.


kenzo yang merasa khawatir langsung mengambil ponselnya, lalu dia mengetikkan pesan kepada Sigit agar segera memanggil dokter.


"Tolong panggilin dokter, Pa. Ka Ay ngeluh sakit, kepalanya juga keleyengan. Ken ngga tega liatnya, kayaknya sakit banget deh, Pa."


Itulah pesan yang Kenzo kirimkan kepada Sigit, dia berharap jika ayahnya itu bisa dengan cepat memanggil dokter dan membawa dokter tersebut ke dalam ruangan Ayana.


"Elu tiduran dulu, Kak. Gue bikinin teh jahe dulu," ujar Kenzo.


Kenzo membantu Ayana untuk merebahkan tubuhnya di atas sofa, Ayana menurut. Akan tetapi, matanya tetap terpejam dengan tangan wanita itu yang langsung mencekal pergelangan tangan adiknya tersebut.

__ADS_1


"Jangan tinggalin gue, elu diem di sini temenin gue," ucap Ayana mengiba.


"Iya, gue ngga ke mana-mana," jawab Kenzo.


Pada akhirnya Kenzo tetap menemani kakaknya tersebut, karena Ayana benar-benar tidak mau ditinggalkan. Hingga tidak lama kemudian Sigit datang dengan raut wajah khawatir bersama dengan dokter.


"Ada apa dengan Ay? Kenapa Kakak kamu, Ken?" tanya pria itu yang langsung menghampiri Ayana.


"Ngga tahu, Pa. Coba langsung diperiksa saja, kasihan soalnya udah dari tadi kaya orang kesakitan gitu," jawab Kenzo.


"Ah! Iya, silakan Dok!" ujar Sigit seraya menolehkan wajahnya ke arah Dokter.


"Iya, Tuan," jawab Dokter.


Pada akhirnya dokter segera menghampiri Ayana dan memeriksakan kondisi dari wanita tersebut, tidak lama kemudian dokter tersenyum ke arah Sigit. Lalu, dia berkata.


"Sepertinya Nona Ayana begitu kelelahan, selain itu denyut nadinya juga sangat lemah. Jika saya tidak salah mendiagnosa, sepertinya putri anda sedang mengandung," jelas Dokter.


Baik Ayana, Sigit dan juga Kenzo terlihat begitu kaget mendengar apa yang dikatakan oleh dokter, mereka seolah tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh dokter.


Ayana memang begitu menginginkan segera memiliki keturunan, tetapi sepertinya Tuhan masih memberikan kesempatan kepada Ayana dan juga Sandi untuk bisa menikmati masa kebersamaannya terlebih dahulu.


"Kenapa malah diam? Apakah tidak ada yang senang jika Nona Ayana mengandung?" tanya Dokter.


"Untuk lebih jelasnya, anda bisa membawa Nona Ayana ke rumah sakit. Agar Nona Ayana mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut," ujar Dokter.


"Iya, Dok. Terima kasih, saya akan langsung mengajak putri saya menuju rumah sakit," jawab Sigit.


Setelah melakukan pemeriksaan terhadap Anaya, dokter nampak berpamitan. Kenzo dan juga Sigit terlihat begitu senang, keduanya tanpa ragu langsung membantu Ayana untuk duduk dan memeluk wanita itu.


"Akhirnya, Kak. Elu bakal punya anak juga," ujar Kenzo seraya memeluk kakaknya tersebut dengan begitu erat.


"Selamat, ya, Sayang. Papa ikut senang, sebentar lagi Papa akan punya cucu," ujar Sigit.


Ayana yang mendapatkan ucapan selamat dari Sigit dan juga Kenzo langsung menangis, dia bahkan nampak menangis dengan begitu kencang.


Sontak saja hal itu membuat Sigit dan juga Kenzo melepaskan pelukannya, mereka saling tatap lalu mengelus lembut punggung Ayana.


"Kenapa, Sayang?" tanya Sigit khawatir.


"Telpon Sandi, Pa. Ay mau langsung ke rumah sakit, tapi maunya diantar sama Sandi," jawab Ayana.


Sandi dan juga Kenzo langsung tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Ayana, itu artinya Ayana kini sedang begitu bahagia dan ingin segera membagikan kebahagiaan itu dengan suaminya.

__ADS_1


"Ya, Sayang," jawab Sigit.


Setelah mengatakan hal itu, Sigit langsung menelpon sandi agar segera datang ke perusahaan Siregar. Dia juga menelpon Aruna agar segera datang, karena jujur saja sih git juga ingin ikut.


Aruna yang mendapatkan kabar jika Ayana tengah mengandung terlihat begitu bahagia, ketika datang di perusahaan Siregar wanita itu bahkan langsung memeluk putrinya seraya menangis haru.


Jangan ditanyakan bagaimana dengan reaksi Sandi, tentunya pria itu begitu bahagia sekali. Karena pada akhirnya setelah lima tahun menikah Ayana bisa hamil juga.


Saat Ayana melakukan pemeriksaan kehamilan, ruangan obgyn tersebut terlihat begitu ramai. Karena semuanya memaksa untuk masuk, termasuk dengan Kenzo.


Setelah melakukan tes urine dan juga pemeriksaan kesehatan terhadap Ayana, wanita itu kini langsung melakukan USG


"Bagaimana dengan keadaan istri saya, Dok?" tanya Sandi.


"Keadaan istri dan juga calon buah hati kalian sangat sehat, usia kehamilan Nona Ayana sudah menginjak tujuh minggu," jelas Dokter.


Lega sekali rasanya Sandi mendengar apa yang dikatakan oleh dokter, karena keadaan istri dan juga calon buah hatinya kini dalam keadaan baik-baik saja.


"Ehm! Sandi, Ay. Bagaimana kalau kalian tinggal di rumah Buna saja? Selama hamil saja, karena Buna ingin ikut mengurusi putri Buna," pinta Aruna.


Sandi dan juga Ayana nampak saling pandang, mereka seolah-olah sedang berkomunikasi lewat tatapan mata. Tidak lama kemudian keduanya nampak tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.


"Boleh, Bun," jawab Ayana.


"Alhamdulillah," kalau begitu nanti malam kita harus mengadakan acara syukuran. Aku akan mengajak Sam, Aya dan juga Stefano. Aku juga akan mengundang kedua keluarga besar kita," ujar Aruna.


"Harus, Bun. Kita harus berbagi kebahagiaan dengan semua anggota keluarga," timpal Kenzo.


Pada akhirnya setelah melakukan pemeriksaan akhirnya mereka pulang ke kediaman Aruna, mereka langsung mempersiapkan acara yang akan dilaksanakan nanti malam.


Semua orang terlihat begitu sibuk, kecuali Ayana. Wanita itu tidak diperbolehkan untuk melakukan apa pun, dia hanya diperbolehkan untuk tiduran saja di dalam kamar.


Jika menginginkan sesuatu pun tidak boleh keluar dari dalam kamar, agar keadaan Ayana bisa lebih segar. Cukup menelpon pelayan dan meminta apa pun yang diinginkan oleh wanita hamil itu.


Karena adanya acara syukuran kehamilan Ayana, Kenzo sampai melupakan Anisa. Dia begitu asik mengobrol bersama dengan kedua keluarga besar Siregar dan juga Dinata.


Sampai acara selesai, Kenzo bahkan lupa untuk pulang ke kontrakan. Dia malah tidur di dalam kamarnya, dia benar-benar lupa jika dirinya sudah menjadi seorang suami.


Di lain tempat.


Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, Anisa masih terdiam seraya memperhatikan pintu kontrakan. Dia berharap jika suaminya akan segera pulang, tetapi nyatanya Kenzo tak juga datang.


Wanita itu ingin sekali rasanya mencari Kenzo, tetapi dia tidak tahu harus mencari pria itu ke mana. Bahkan, untuk sekedar menelpon pun dia tidak berani.

__ADS_1


"Aku harus apa? Aku harus bagaimana?" tanya Anisa seraya menatap pintu kontrakan dengan tatapan yang begitu menyedihkan.


__ADS_2