Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
BUSM2 S2. Bab 20


__ADS_3

Kenzo nampak berlari untuk menyusul Asmara, sayangnya wanita itu sudah pergi dengan melajukan mobilnya dengan begitu kencang. Kenzo merasa menyesal sekali karena tidak meminta nomor ponsel wanita itu.


Dia merasa menyesal karena sudah menggoda wanita itu terlalu lama, seharusnya ketika tiba di kediamannya dia langsung meminta nomor ponsel wanita itu.


Jadi, jika Kenzo ingin bertemu dengan Asmara, rasanya itu akan lebih mudah. Tidak seperti sekarang ini, Kenzo merasa kehilangan jejak wanita itu.


"Oh ya ampun! Dia sangat lucu, aku suka." Kenzo terkekeh setelah mengatakan hal itu.


Namun, tetap saja ada rasa kecewa di dalam hatinya karena dia tidak bisa meminta nomor ponsel wanita itu sebelum pergi dari rumahnya.


Kenzo melangkahkan kakinya dengan gontai menuju rumah itu, saat melewati ruang keluarga Kenzo melihat bibi yang membawa nampan di tangannya.


"Tamunya mana, Den?" tanya Bibi.


Bibi nampak celingukan mencari tamu yang dimaksud oleh Kenzo, sayangnya di sana tidak ada siapa-siapa selain majikannya itu.


"Telat, Bi. Udah pulang, lagian Bibi lama banget bikin minumnya," ujar Kenzo sedikit kesal.


Bibi ingin sekali menggaruk pelipisnya yang tiba-tiba saja terasa gatal, tetapi sayangnya kedua tangannya digunakan untuk memegangi nampan.


"Tadi Aden bilang minta dibikinin camilan, jadinya Bibi bikinin kue lontar," ujar Bibi.


Kenzo memutarkan bola matanya dengan malas, karena pantas saja wanita itu lama sekali tidak datang untuk membawakan minuman dan juga camilan. Karena nyatanya wanita paruh baya itu malah membuatkan kue terlebih dahulu.


"Ya ampun! Ngga bikin dulu juga kali," ujar Kenzo yang langsung melangkahkan kakinya menuju kamar utama.


Dia ingin segera mengistirahatkan tubuhnya, karena walaupun sudah tidur di dalam pesawat, tetap saja dia ingin istirahat.


"Den, kuenya bagaimana?" tanya Bibi.


Kenzo yang mendapatkan teguran dari bibi nampak menghentikan langkahnya, lalu dia menolehkan wajahnya ke arah wanita paruh baya itu.


"Makan aja, Bi," jawab Kenzo yang langsung masuk ke dalam kamar utama dan menutup pintunya.


Sebentar lagi waktu maghrib akan tiba, lebih baik merebahkan tubuhnya sesaat. Setelah itu, baru dia akan melaksanakan shalat magrib dan makan malam. Makan malam sendirian di rumah baru.


"Kayaknya mending gue hubungi si Aman deh, biar makan malam kali ini gue ada temennya."


Kenzo dengan cepat mengambil ponselnya dan mengetikkan pesan kepada sahabatnya, sahabat yang sudah menjual perusahaan ayahnya kepada dirinya.


"Man, habis maghrib elu datang ke rumah gue, ya? Gue males kalau mesti makan sendirian," pinta Kenzo.


Tidak perlu lama menunggu, karena ternyata tidak lama kemudian Aman langsung membalas pesan chat dari dirinya.


"Siap, Bos. Siapin masakan yang enak ya?" balas Aman.


Kenzo langsung menggelengkan kepalanya, karena jika urusan makanan sahabatnya itu memang nomor satu.

__ADS_1


"Siap!" balas Kenzo dengan senang karena malam ini dia ada temannya untuk melaksanakan makan malam.


Kenzo tersenyum senang mendapatkan balasan seperti itu dari temannya, dia bahkan berencana akan menceritakan tentang Asmara kepada Aman.


"Mending gue mandi dulu," ujar Kenzo yang langsung melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.


Beberapa saat kemudian.


Kenzo dan Aman sudah duduk bersama di ruang makan, keduanya nampak sudah memulai makan malam bersama. Aman nampak begitu bahagia bisa bertemu dengan sahabatnya kembali.


Dia juga begitu bahagia karena perusahaan milik ayahnya yang hampir bangkrut itu dibeli oleh kakek dari Kenzo, bahkan Steven dan juga Satria membelikan tanah kosong untuk membangun usaha baru untuk ayahnya Aman.


"Ken, ngga sia-sia gue punya temen kayak elu. Hidup keluarga gue kini semakin beruntung, ayah gue udah mulai usaha baru. Alih profesi ke bidang perminyakan," ujar Aman.


Aman meminta sang ayah untuk membagi dua uang hasil penjualan perusahaan batubara mereka, separuhnya untuk modal usaha kembali dan separuhnya disimpan untuk biaya hari tua.


Bukannya Aman tidak mau membiayai ayahnya, tetapi sebagai orang tua memang harus memiliki tabungan bukan, agar suatu saat nanti mereka bisa membeli apa yang diinginkan.


"Hem, oiya, Man. Tadi siang gue ketemu cewek cantik dan juga kocak, gue seneng banget," ujar Kenzo.


Aman sampai mengerutkan dahinya mendengar apa yang dikatakan oleh Kenzo, karena tidak biasanya pria itu mengatakan senang ketika bertemu dengan seorang wanita.


Biasanya Kenzo akan terlihat menutup diri kepada perempuan, ketika dia didapati banyak perempuan pun Kenzo seakan tidak peduli. Semua wanita sepertinya terlihat jelek di mata pria itu.


"Gue ngga salah denger, kan?" tanya Aman seraya mengorek telinganya.


Kenzo langsung menonjok pelan lengan sahabatnya, karena pria itu seolah-olah begitu tidak percaya dengan apa yang dia katakan.


Aman kali ini langsung mengerjapkan matanya dengan tidak percaya, karena sahabatnya itu ternyata benar-benar membahas tentang seorang perempuan.


Saat di luar negeri saja Kenzo sering didekati oleh wanita bule, cantik-cantik dan juga sangat menarik perhatian dengan bodinya yang aduhai dan penampilannya yang seksi-seksi.


Namun, pria itu tidak pernah menggubris wanita mana pun. Namun, ketika datang ke kota kelahirannya, Kenzo malah membicarakan masalah wanita. Ini sangat aneh, pikir Aman.


"Elu beneran aneh, sepertinya elu kesambet setan burung Cendrawasih,'' ujar Aman.


"Hush! Jangan aneh-aneh deh kalau ngomong, gue beneran lagi suka sama cewek." Kenzo terkekeh setelah mengatakan hal itu.


Kenzo berpikir dia tidak akan pernah menyukai wanita mana pun, karena wanita yang dia cintai sudah dinyatakan meninggal walaupun jenazahnya tidak ditemukan.


Namun, pada kenyataannya dia malah merasa begitu menyukai Asmara pada pandangan pertama. Bahkan, jika saja dia tahu di mana rumah Asmara, rasanya dia ingin pergi ke rumah wanita itu.


"Iya, iya. Terserah elu deh, oiya, Ken. Besok jadi mulai kerjanya?" tanya Aman.


"Jadi," jawab Kenzo singkat.


"Elu jadi juga kan' mempekerjakan gue sebagai asisten pribadi elu?" tanya Aman.

__ADS_1


Aman bertanya dengan penuh harap dan juga harap-harap cemas, karena takutnya Kenzo akan bekerja sama dengan saudaranya sendiri.


"Jadi, Bro. Jangan takut, elu udah tahu bener seluk beluknya tentang baru bara. Jadi, gue butuh elu untuk ngembangin perusahaan gue." Kenzo menepuk pundak sahabatnya.


Senang rasanya karena Aman masih bisa bekerja di perusahaan batubara, walaupun memang sudah pindah kepemilikan.


"Siap, tapi... gue mau minta bantuan lagi sama elu. Kira-kira elu bisa wujudin permintaan gue ngga?" tanya Aman.


Kenzo menatap mata sahabatnya itu dengan lekat, karena perasaan akhir-akhir ini Aman selalu saja meminta bantuan dari dirinya. Walaupun memang Aman akan meminta bantuannya dan tidak pernah aneh-aneh.


"Permintaannya apa dulu?" tanya Kenzo.


"Jadi gini, Ken. Di deket perusahaan batubara itu kan' ada tanah kosong tuh, bagaiman kalau elu buat rumah makan seafood gitu?" usul Aman.


Kenzo sama sekali belum pergi ke perusahaan batubara tersebut, maka dari itu dia belum tahu bagaimana kantornya dan bagaimana lingkungannya.


"Maksudnya?" tanya Kenzo yang mulai paham Ke mana arah dari pembicaraan sahabatnya tersebut.


"Anu, Ken. Di dekat perusahaan batubara itu tidak ada tempat makan, lumayan jauh kalau mau makan untuk mencari tempat makan gitu. Jadi, nggak ada salahnya dong kalau elu bikin tempat makan di dekat kantor elu sendiri," ujar Aman.


"Masuk akal, terus?" tanya Kenzo lagi.


Aman tersenyum mendengar pertanyaan dari Kenzo, karena sepertinya sahabatnya itu berminat dengan apa yang dia usulkan.


"Jadi, selain elu akan mendapatkan keuntungan besar, elu juga bakal membantu perekonomian om gue." Aman nyengir kuda setelah mengatakan hal itu.


"Maksudnya?" tanya Kenzo lagi.


"Jadi, om gue itu seorang pelaut. Kalau elu bikin tempat makan seafood, gue mau minta om gue yang jadi pemasoknya. Bisa?" tanya Aman.


Dari pada om-nya Akan menjual hasil melaut kepada pengepul, rasanya akan lebih baik menjual hasil melaut tersebut kepada Kenzo. Karena pastinya untungnya akan lebih besar.


Dengan seperti itu hidup om-nya bisa lebih sejahtera, jika nanti rumah makan yang Kenzo buat berkembang dengan pesat, itu artinya dia juga bisa meminta pelaut yang lain menjual hasil tangkapannya kepada Kenzo, pikirnya.


"Gue pikirin dulu," jawab Kenzo.


"Loh, kok gitu?" tanya Aman.


"Membuat rumah makan itu bukanlah hal yang mudah, perlu waktu untuk membangun rumah makan tersebut. Perlu waktu untuk mencari karyawan, pastinya yang terpenting perlu waktu untuk mencari modal," tutur Kenzo.


"Yaelah, Ken! Kalau untuk urusan membuat rumah makan elu pasti sanggup, karena gue tahu kalau tabungan elu juga banyak." Aman tersenyum dengan begitu manis sekali.


Ya, uang tabungan Kenzo memang belum terpakai sama sekali. Karena untuk urusan perusahaan batubara yang akan dia pimpin sudah di handle oleh kedua kakeknya.


"Hem! Duit ada, tapi nanti gue pikirin lagi. Dah ah, gue mau makan dulu. Untuk hal ini nanti kita bahas lagi," ujar Kenzo.


"Iya, iya. Tapi gue harap elu bisa benar-benar bikin rumah makan ya, Ken?" harap Aman.

__ADS_1


Karena jika Kenzo benar-benar membuat rumah makan sesuai dengan yang dia usulkan, maka Aman sudah bisa membantu kesejahteraan salah satu keluarganya.


"Hem," jawab Kenzo dengan deheman saja.


__ADS_2