
Sam terlihat pergi dengan raut kesedihan yang mendalam, Ayaka masih sempat memperhatikan wajah ayahnya dari balik jendela. Pria itu begitu murung, ada kesedihan dan juga kekecewaan yang dia lihat dari sorot mata ayahnya tersebut.
Dia tatap wajah ayahnya yang begitu dia rindukan itu, sayangnya dia tidak bisa berlari untuk memeluk ayahnya seperti dulu lagi.
Ayaka tidak bisa berlari untuk meminta digendong oleh ayahnya tersebut, semua bayangan masa lalu hanya tinggal masa lalu saja.
Semuanya terasa bagaikan kenangan semata, Sam nampak di depan mata, tetapi dia tidak bisa mewujudkan keinginannya.
"Semoga ayah sehat selalu, semoga ayah baik-baik selalu." Ayaka meneteskan air matanya, lalu dengan cepat dia mengusapnya setelah melihat Sam yang pergi dengan berjalan kaki.
Selepas kepergian Sam, Ayaka langsung menghampiri Ayana yang kini sedang mengurung dirinya di dalam kamar. Anak itu sedang duduk seraya menatap foto kebersamaannya dengan Sam dan juga Aruna.
Anak itu diam-diam menyimpan foto keluarga kecil mereka dulu, keluarga yang hancur berantakan karena ulah Sam sendiri yang terlalu tamak akan perempuan.
Jauh di dalam lubuk hati Ayana, dia begitu merindukan ayahnya tersebut. Karena walau bagaimanapun juga ikatan darah tidak akan bisa terputuskan, tidak ada yang namanya mantan anak.
Ayaka yang melihat akan hal itu langsung tersenyum, dia duduk tepat di samping Ayana lalu memeluk gadis kecil yang sudah dia anggap seperti kakak kandungnya sendiri.
"Kakak rindu sama ayah Sam?" tanya Ayaka.
Ayana yang mendengar Ayaka memanggil nama Sam dengan panggilan ayah langsung mendelik tidak suka, dia bahkan menatap tajam wajah Ayaka.
"Dia ayahku, kok kamu panggil dia ayah juga?" tanya Ayana.
Gugup?
Tentu saja Ayaka sangat gugup, dia takut jika Ayana menyadari bahwa dirinya adalah anak dari Sam juga. Dia tidak mau diusir dari rumah Aruna, dia benar-benar merasa nyaman tinggal di sana.
Ayaka memutar otaknya, dia berusaha untuk mencari jawaban agar Ayana tidak curiga kepada dirinya.
"Hem! Maksudnya Kakak rindu sama ayah-nya Kakak, gitu?" ralat Ayaka.
Ayana tersenyum kecut, lalu dia menganggukkan kepalanya dengan begitu cepat. Karena nyatanya dia memang merindukan ayahnya, tetapi tetap saja ada rasa gengsi dan juga kesal di dalam hatinya.
__ADS_1
Padahal, Jika boleh jujur dia ingin sekali berlari untuk memeluk ayahnya tersebut. Karena dia begitu merindukan pria itu.
"Hem! Kakak sangat rindu, tapi dia jahat. Dia punya anak lain lagi," adu Ayana.
Entah kenapa dia merasa cemburu ketika mengetahui jika Sam memiliki anak dari wanita lain, berbeda ketika Aruna melahirkan Kenzo, justru tidak ada rasa cemburu sama sekali.
Justru Ayana begitu menyayangi adiknya tersebut, bahkan dia memuji ketampanan adiknya itu yang terlihat begitu sempurna. Perpaduan wajah Sigit dan juga Aruna membuat Kenzi terlihat begitu tampan.
Jika sudah besar nanti, Ayana yakin jika adiknya itu akan menjadi pujaan para wanita. Bahkan banyak wanita yang akan tergila-gila kepada adiknya tersebut.
"Tapi ayah Sam juga sayang Kakak, kenapa Kakak tidak memaafkan ayah Sam? Kalau Kakak rindu, Kenapa tidak datangi dan peluk saja dia?" tanya Ayaka.
Ayana berdecak sebal mendengar pertanyaan dari adiknya tersebut, karena dia berkata jika dirinya sudah memaafkan pria itu. Namun, tetap saja ada yang mengganjal di hatinya.
"Kakak sudah memaafkan ayah Sam, tapi tetap saja Kakak suka kecewa gitu kalau ingat waktu anak itu dorong Kakak." Ayana mencebikkan bibirnya
Ayaka tersenyum kecut mendengar ucapan dari Ayana, karena Ayana merupakan tipe anak yang susah sekali memaafkan orang lain. Walaupun nyatanya dia juga seperti itu, hanya saja dia jarang bicara dan mengungkapkan isi hatinya seperti Ayana.
Ya, sampai saat ini dia masih merasa sakit hati terhadap apa yang dilakukan oleh Angel kepada dirinya. Dia merasa sedih karena ibu kandungnya sendiri seolah ketakutan saat dia dekati.
Ayana terdiam, tentu saja dia masih ingat dengan apa yang dikatakan oleh pak ustadz. Karena keduanya selalu pergi mengaji dan memperdalam ilmu agama dalam setiap harinya.
"Kamu benar, Dek. Lalu, Kakak harus apa?" tanya Ayana.
Jika mengingat akan hal itu dia menjadi merasa bersalah, karena dia bisa melihat dengan begitu jelas sorot mata penuh kerinduan dari Sam.
"Baikan sama ayah Sam dong, dia pasti senang. Kakak ngga liat tadi ayah Sam terlihat sangat menyedihkan? Dia sudah tidak tampan lagi," ujar Ayaka dengan sedih.
Ayana mengangguk-anggukkan kepalanya, dia setuju dengan apa yang dikatakan oleh Ayaka. Ayahnya berpenampilan dengan begitu menyedihkan, tidak ada kata tampan dan juga keren saat mereka bertemu dengan Sam.
"Kamu benar, tapi... kenapa kamu bisa tahu jika ayah Sam dulunya sangat tampan?" tanya Ayana dengan mata yang memicing.
Ayana merasa jika Ayaka sangat mengenal Sam, karena apa yang terlontar dari bibir Ayaka tentang Sam selalu benar adanya.
__ADS_1
Untuk sesaat Ayaka terdiam, dia bingung harus menjawab seperti apa pertanyaan dari kakaknya tersebut. Namun, tidak lama kemudian dia tersenyum dan berkata.
"Tentu saja aku tahu kalau dulu dia adalah pria yang tampan, karena Kakak selalu memandangi foto ayah Sam," jawab Ayaka tidak sepenuhnya bohong.
Karena Ayaka belum siap untuk berkata jujur, maka dari itu dia mencari alasan yang tepat agar Ayana tidak curiga terhadap dirinya.
"Kamu benar, Dek!" ujar Ayana disertai tawa getir.
Aruna yang sejak tadi memperhatikan interaksi di antara kedua putrinya nampak tersenyum, dia merasa bersyukur karena dengan adanya Ayaka, Ayana selalu lebih bisa mengontrol perasaannya.
Awalnya Aruna ingin melihat keadaan putrinya, takut-takut putrinya itu masih marah-marah tidak jelas karena bertemu dengan Sam.
Namun, niatnya dia urungkan. Dia malah terdiam seraya memperhatikan obrolan antara Ayaka dan juga Ayana yang terlihat begitu serius saat membicarakan tentang Sam.
"Walaupun dulu Sam begitu kejam kepadaku, aku harap Ay tidak membenci ayahnya."
Aruna berkata dengan lirih, lalu dia pergi ke kamarnya untuk melaksanakan shalat maghrib. Karena Aruna mendengar suara adzan telah berkumandang.
"Bagaimana dengan Ay?" tanya Sigit.
Pria itu juga tetap menghawatirkan Ayana, karena dia sangat tahu jika putrinya itu mudah terpancing emosi. Namun, Ayana juga gampang baiknya kembali.
"Seperti biasa, Aya selalu bisa menenangkan hati Ay," jawab Aruna.
"Hem! Tidak salah kita mengadopsi anak itu, karena anak itu sangat pandai dan membawa kedamaian di dalam kehidupan kita." Sigit tersenyum lalu memeluk istrinya.
Aruna mengangguk setuju dengan apa yang dikatakan oleh Sigit, karena nyatanya memang seperti itu.
"Hem! Papa brondong aku ini sangat benar," ujar Aruna seraya mengecup bibir suaminya.
Uh! Kecupan dari bibir Aruna selalu berhasil membuat hasrat di dalam dirinya bangkit. Sigit harus segera mencegah agar hal ini tidak terjadi, karena waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore.
"Jangan mancing-mancing, mending kita maghrib." Sigit melerai pelukannya, Aruna mengangguk setuju.
__ADS_1
"Iya, Sayang," jawab Aruna yang mengerti kegelisahan di wajah Sigit.