Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 78


__ADS_3

Namun, baru saja Ayaka hendak masuk ke dalam kamar kecil yang sudah dia huni selama satu tahun ini, dia merasa ada yang menepuk pundaknya. Sontak saja hal itu membuat tubuhnya menegang, anak itu takut jika Andin datang dan akan memarahi dirinya.


Melihat Ayaka yang malah terdiam dengan tubuh yang membeku, orang yang menepuk pundak Ayaka langsung berkata.


"Aku, Fano. Maaf kalau mengagetkan, aku bawa makanan banyak untuk kamu. Ada coklat dan juga camilan, ada susu kotak juga. Makan gih," ujar Stefano seraya memberikan kantong plastik berisikan belanjaan yang sudah dia bawa.


Ayaka bisa bernapas lega setelah mendengar suara Stefano, dia membalikkan tubuhnya lalu mengambil kantong plastik berisikan makanan tersebut dari tangan Stefano.


Ayaka tersenyum lalu membungkukkan badannya, dia merasa senang karena pria itu menepati ucapannya.


Stefano yang melihat Ayaka merasa miris sekali, karena nasib gadis kecil itu seakan kurang beruntung. Ingin sekali dia membantu Ayaka agar bisa keluar dari rumah itu, tetapi dia tidak tahu harus membawa Ayaka ke mana.


Setidaknya kalau Ayaka tinggal di sana, dia bisa membelikan makanan secara diam-diam untuk anak itu. Walaupun dia sangat tahu jika ibunya membenci Ayaka, ibunya merasa tidak bersalah karena sudah menabrak anak itu.


Karena nyatanya saat Andin sedang mengendarai mobilnya, Ayaka berlari dengan begitu kencang. Sontak hal itu membuat Andin begitu kaget, sayangnya dia terlambat mengerem mobil yang dia kendarai.


"Makanlah di dalam kamar, aku tahu kalau hari ini ada ibu. Simpan di tempat aman makanannya, untuk belajar baca dan menulisnya besok saja. Sekarang aku pergi ke kamar dulu," ujar Stefano berpamitan.


Setelah berpamitan kepada Ayaka, Stefano langsung masuk ke dalam kamarnya. Begitupun dengan Ayaka, anak kecil itu langsung masuk ke dalam kamar dan menyembunyikan makanan dari Stefano di dalam lemari plastik tempat dia menyimpan baju.


"Aku udah makan, udah kenyang juga. Makanan ini untuk persediaan saja kalau aku nanti lapar," ucap Ayaka.


Setelah mengatakan hal itu Ayaka nampak tersenyum, dia merasa bahagia karena mempunyai stok makanan. Setiap hari dia hanya diberikan makanan sisaan oleh Andin, makanan yang tidak seberapa dan tidak membuat perutnya merasa kenyang.


Karena nyatanya anak seusia Ayaka sedang dalam masa pertumbuhan, dia membutuhkan banyak asupan gizi yang masuk ke dalam tubuhnya. Namun, makanan yang masuk ke dalam tubuh Ayaka saat ini belum tentu ada gizinya.


"Terima kasih, Tuhan," ujar Ayaka penuh syukur.


Di kediaman Sigit.

__ADS_1


Suasana rumah yang tadinya terlihat begitu ramai, kini kembali sepi karena semua orang yang hadir sudah pulang ke kediamannya masing-masing.


Anak-anak panti juga sudah pulang, kini hanya ada Aruna, Sigit dan juga Ayana. Ketiganya sedang duduk di ruang keluarga, mereka sedang melepas penat.


"Alhamdulillah, akhirnya bisa tinggal di rumah baru. Bisa istirahat juga," ujar Sigit seraya menghela napas lega.


Ayana tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh Sigit, gadis kecil itu lalu naik ke atas pangkuan Sigit. Dia duduk dan langsung memeluk ayah sambungnya itu.


"Papa, terima kasih untuk kamar barunya. Tadi Ay sudah lihat, kamarnya bagus." Ayana mengecup pipi Sigit.


Aruna sempat kaget karena kini putrinya tersebut mengucapkan kata-katanya dengan begitu jelas, padahal biasanya putrinya itu berbicara dengan cadel.


"Alhamdulillah kalau suka," ujar Sigit.


Nyatanya Sigit memang sengaja mendekorasi kamar untuk Ayana agar bisa dirasa sangat nyaman, karena dia ingin agar putri sambungnya itu bisa belajar tidur sendiri.


malam ini bibi Aisyah akan jagain aku lagi. Nanti, aku bobonya sama bibi Aisya aja."


"Loh, kok gitu? Ngga mau bobo bareng sama Papa dan Buna lagi?" tanya Sigit.


Mulut Sigit boleh berkata seperti itu, tetapi dalam hatinya dia bersorak dengan gembira ketika mendengar apa yang dikatakan oleh putri sambungnya.


"Kata om Saga, kalau Ay bobo sama Papa sama Buna, Aya ngga bakalan punya adik. Jadi, Ay mau pisah aja bobonya. Karena Ay mau punya adik," ujar Ayana polos.


Aruna dan juga Sigit langsung menepuk jidatnya, mereka tidak menyangka jika Sagara akan mengatakan hal seperti itu kepada Ayana yang masih sangat kecil.


"Ya ampun! Semoga dia tidak mengatakan hal yang aneh-aneh," ujar Sigit saat mendengar apa yang diadukan oleh putri sambungnya.


Aruna yang menyimak antara obrolan suaminya dan juga putrinya hanya bisa tertawa seraya menggelengkan kepalanya, karena dia juga tidak menyangka jika Sagara akan mengatakan hal seperti itu.

__ADS_1


Setelah mengatakan hal itu kepada Sigit, Ayana turun dari pangkuan ayah sambungnya tersebut. Lalu, Ayana duduk tempat di samping Aruna dan memeluk ibunya itu dengan posesif.


"Buna tau, ngga? Tadi aku ketemu sama anak kecil tapi wajahnya ada bekas lukanya gitu, Ay pengen nolongin dia. Tapi Ay ngga punya duit buat beliin dia obat," ujar Ayana.


Ayana menceritakan hal itu dengan wajah sedihnya, karena hatinya merasa terenyuh ketika melihat wajah Ayaka yang tidak cantik.


"Eh? Di mana anak itu?" tanya Aruna.


"Di sebelah, kayaknya anak pelayan tetangga sebelah deh. Kalau anak majikannya kayaknya ngga mungkin, karena kalau anak majikannya pasti diobati," jelas Ayana.


Menurut Ayana, pemilik rumah itu pastilah merupakan orang kaya. Orang berduit, karena mampu membeli rumah mewah. Sedangkan anak tadi terlihat buruk rupa, pasti ibunya adalah seorang pelayan yang tidak mampu membiayai pengobatan untuk putrinya.


"Bisa jadi," imbuh Aruna.


"Kalau misalkan untuk ngobatin luka di wajah yang rusak kaya gitu, kira-kira butuh uang berapa, Bun?" tanya Ayana yang terlihat begitu peduli terhadap orang lain.


"Kurang paham, Sayang. Biasanya tergantung bekas lukanya," jawab Aruna.


Wajah Ayana nampak lesu, bekas luka di kedua pipi Ayaka sangatlah lebar. Ayana bisa menduga jika biayanya juga pastinya akan sangat mahal.


"Gitu ya, kasian dia Buna. Apa Buna nggak bisa bantuin bawa dia ke dokter?" tanya Ayana yang terlihat begitu peduli sekali.


Senang sekali Aruna mendapati putrinya yang begitu peduli terhadap orang lain, tetapi dia juga tidak bisa mengiyakan begitu saja permintaan dari putrinya.


"Nanti kalau Buna ketemu sama anak itu, Buna lihat dulu lukanya seperti apa. Oke?" ujar Aruna.


Ayana langsung mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti dengan apa yang dikatakan oleh ibunya tersebut, di dalam hati Ayana berdoa semoga Ibunya bisa mengobati bekas luka di kedua pipi Ayaka.


"Oke, semoga Buna bisa bantu obatin. Kasian dia, Buna." Ayana menceritakan Ayaka dengan raut wajah sedih, karena nyatanya Ayana memang begitu peduli kepada Ayaka.

__ADS_1


__ADS_2