Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 12


__ADS_3

Dia menangis dan terus saja menangis, sampai hari sudah menjelang malam wanita itu terus saja menangis. Dia benar-benar merasa hidupnya tidak berarti.


"Tuhan! Jika ini adalah mimpi buruk, tolong segera bangunkan aku." Aruna berucap dengan lemah sebelum hilang kesadarannya.


Aruna yang belum sempat makan terlihat begitu lemah, terlebih lagi dia begitu tertekan. Tentu saja hal itu membuat Aruna jatuh pingsan.


Di lain tempat.


Sam yang sudah selesai beristirahat, mandi dan mengisi perutnya langsung pergi ke kediaman Aruna, tentu saja hal itu dia lakukan bukan karena semata-mata keinginannya. Namun, karena keinginan dari ibunya.


Almira mengancam akan bunuh diri jika Sam tidak mau menikahi Aruna, karena dia merasa malu mempunyai anak seperti Sam. Mau menghamili Aruna tetapi tidak mau bertanggung jawab.


Walaupun Sam sudah berkata jika dia melakukannya dalam keadaan tidak sadar, tetapi Almira berkata tidak mau tahu. Karena saat ini Aruna tengah mengandung, terlebih lagi wanita itu baru saja kehilangan ibunya.


Pastinya Aruna saat ini sedang begitu bersedih, rasanya Almira tidak tega dan ingin segera merangkul Aruna dan berkata jika Aruna boleh menganggap dirinya sebagai ibunya sendiri.


"Ck! Sial! Kenapa juga Aruna harus hamil? Kenapa juga Aruna tidak mau menggugurkan kandungannya?" kesal Sam.


Selama perjalanan menuju rumah Aruna, pria itu terus saja menggerutu tidak jelas. Dia benar-benar kesal karena harus menikahi wanita yang tidak dia cintai.


"Aruna!" teriak Sam ketika dia tiba di depan rumah Aruna.


Tidak ada sahutan sama sekali, pria itu semakin kesal dibuatnya. Dengan penuh emosi dia menendang pintu utama rumah tersebut, pintu kayu yang terlihat sudah lapuk itu langsung rusak karena ulah Sam.


"Astaga!" kesal Sam.


Sam menghela napas berat, kemudian dia masuk ke dalam rumah sederhana tersebut. Dia masuk ke dalam kamar Aruna, tetapi tidak ada Aruna di sana.


Lalu, dia masuk ke dalam kamar yang satunya. Sam terlihat begitu kesal saat menemukan Aruna yang sedang tertidur seraya meringkuk di atas tempat tidur Arimbi.


"Ya Tuhan, Aruna! Kamu itu budeg atau bagaimana? Aku meneriaki nama kamu sejak tadi tapi kamu tidak menyahutiku! Sekarang cepat bangun, karena Mom sudah menyiapkan semuanya untuk pernikahan kita!" teriak Sam.


Jangankan bangun sesuai dengan perintah dari Sam, Aruna bahkan tidak menggeliatkan tubuhnya sama sekali. Tentu saja hal itu membuat Sam kesal, dengan cepat dia menghampiri Aruna dan menepuk-nepuk pipi wanita itu.


"Ya Tuhan! Badan kamu panas,'' pekik Sam.


Karena merasa khawatir, Sam langsung menggendong Aruna dan dengan cepat membawa Aruna ke rumah sakit. Melihat wajah pucat wanita itu, tiba-tiba saja dia merasa iba. Bahkan, dia merasa takut terjadi sesuatu hal terhadap wanita itu.


"Tolong istri saya, Dok!" pinta Sam ketika dia tiba di ruang UGD.

__ADS_1


"Akan kami tolong, Tuan. Silakan anda tunggu di luar," jawab Dokter.


"Baik, Dok,'' jawab Sam.


Sam langsung keluar dari dalam ruang UGD, lalu dia duduk di bangku tunggu dengan begitu gelisah. Padahal, tadinya dia begitu kesal kepada Aruna. Namun, setelah melihat wajahnya yang begitu pucat dan badannya yang sangat panas, dia merasa kasian.


"Ah! Mom harus tahu akan hal ini," ujar Sam.


Setelah mengatakan hal itu, Sam mengambil ponselnya dan segera menghubungi ibunya. Dia menceritakan apa yang terjadi kepada Aruna, Sam juga berkata akan menjaga wanita itu.


"Astaga! Kenapa bisa seperti ini?" keluh Sam.


Cukup lama Sam menunggu di depan ruang UGD, hingga tidak lama kemudian dokter keluar dan memberitahukan kepada Sam jika Aruna harus dirawat.


Dokter mengatakan jika keadaan Aruna dan janin yang ada di dalam kandungan wanita itu sangat lemah, setidaknya Aruna harus mendapatkan perawatan selama tiga hari.


"Iya, Dok! Lakukan yang terbaik," ujar Sam pada akhirnya.


Setelah mendapatkan persetujuan dari Sam, dokter langsung memindahkan Aruna ke dalam ruang perawatan. Sam mengikuti wanita itu dan duduk anteng di samping Aruna.


Sam menatap wajah pucat Aruna, tidak lama kemudian Sam menatap perut Aruna yang masih rata. Tanpa terasa bahkan tangan kanannya langsung terulur untuk mengelus perut wanita itu, ada getaran aneh yang dia rasa sampai ke dalam hatinya.


"Setidaknya aku menikahi kamu demi anakku," ujar Sam.


Keesokan harinya.


"Bangun, Sam. Ini sudah pukul 6 pagi, cepatlah mandi. Ada yang ingin Mom sampaikan," ucap Almira membangunkan putranya.


Pagi-pagi sekali Almira sudah datang ke rumah sakit untuk menyampaikan kabar penting, kabar yang harus segera diketahui oleh Sam. Karena Aruna masih belum sadarkan diri.


"Mom?" kaget Sam ketika dia membuka matanya.


"Hem! Ini, Mom. Bangun dan cepat mandi, setelah itu kamu segera sarapan. Mom ingin bicara," ucap Almira penuh perintah.


Almira lalu mengambil paper bag yang dia bawa dan memberikan paper bag tersebut kepada Sam, lalu dia duduk tepat di samping Aruna.


"Yes, Mom," jawab Sam.


Setelah mengatakan hal itu, Sam langsung masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Tidak perlu waktu lama, hanya membutuhkan waktu lima belas menit saja Sam sudah keluar dari dalam kamar mandi.

__ADS_1


"Ada apa, Mom?" tanya Sam seraya memijat pundak ibunya.


"Kemarin Mom sudah mendaftarkan pernikahan kalian ke Capil, beruntung prosesnya sangat mudah dan cepat. Jadi, kalian sudah resmi menjadi suami istri." Almira memberikan berkas pernikahan milik Sam dan juga Aruna.


''Hah? Maksud Mom bagaimana? Aku sudah resmi menjadi suami Aruna?" tanya Sam.


"Yes, Mom mendaftarkan pernikahan kalian secara online."


"Tapi, Mom. Bagaimana bisa? Memangnya Mom mempunyai berkas penting milik Aruna?" tanya Sam kebingungan.


''Hem! Saat mau menguburkan Arimbi, Mom meminta data diri Aruna. Jaga Aruna dan juga kandungannya, karena sekarang kalian sudah resmi menjadi suami istri." Almira membalikkan tubuhnya lalu menatap wajah putranya dengan tajam.


"Yes, Mom. Aku akan berusaha untuk menjaganya, tetapi aku tidak bisa berjanji akan memperlakukan dia selayaknya istri aku."


"Ck!"


Hanya decakan yang keluar dari bibir Almira, karena ternyata dia memiliki putra yang benar-benar sangat keras kepala. Bahkan, wajah Sam nampak biasa saja saat menatap Aruna.


"Pergilah untuk bekerja, karena Mom yang akan men--"


Almira tidak melanjutkan ucapannya, karena dia melihat Aruna yang menggerakkan tangannya. Bahkan, dia melihat mata Aruna yang mulai membuka.


"Sayang, apa kamu sudah sadar? Bagaimana perasaan kamu? Apa yang kamu rasakan?" tanya Almira beruntun.


Aruna yang sudah membuka matanya terlihat mengedarkan pandangannya, tidak lama kemudian dia menolehkan wajahnya ke arah Almira dan juga Sam secara bergantian.


''Kenapa aku berada di sini?" tanya Aruna.


"Tadi malam kamu pingsan, jadinya Sam membawa kamu ke sini. Bagaimana keadaan kamu?" tanya Almira lagi.


"Tidak baik, aku ingin pulang saja. Rasanya pulang adalah hal yang baik," jawab Aruna seraya memandang tidak suka ke arah Sam.


"Boleh, kalau kamu mau pulang tidak masalah. Asalkan pulang ke rumah Mom," jelas Almira.


"Kenapa harus ke rumah Mom?" tanya Aruna kebingungan.


"Karena sekarang kamu sudah resmi menjadi istri Sam, jadi kamu harus tinggal satu atap dengan Sam. Paham?" jawab Almira penuh dengan penekanan.


"Menikah? Jadi istri Sam?" tanya Aruna kebingungan.

__ADS_1


"Ya, Sayang. Kamu boleh pulang kalau sudah sembuh, ke rumah Mom."


'Ya Tuhan, apa maksud dari semua ini? Bagaimana bisa kini aku sudah menjadi istri dari orang brengsek itu? Akan seperti apa rumah tanggaku dengannya?'


__ADS_2