Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 44


__ADS_3

Dua hari telah berlalu, Aruna sudah sehat dan diperbolehkan untuk pulang. Aruna sangat senang sekali, karena dia tidak perlu tidur di ruang perawatannya lagi.


Saat Aruna dirawat Almira sempat datang dan memohon pengampunan untuk Sam, Aruna hanya diam dan tidak mau membahas akan hal itu. Namun, dia berkata kepada Almira jika Aruna tidak akan memutuskan hubungan antara Ayana dan juga Almira.


Sam juga pernah berusaha untuk menemui Aruna, tentu saja tujuannya untuk meminta pengampunan. Sayangnya Sam tidak diperbolehkan untuk bertemu dengan Aruna oleh Satria.


Aruna sedang terguncang jiwanya karena perbuatan Sam, Aruna perlu pemulihan kesehatan mentalnya. Satria tidak mau mengambil resiko, jika saja tidak ingat akan pesan dari putrinya, Satria ingin sekali memberikan pelajaran yang berharga kepada Sam.


"Sudah siap untuk pulang, Sayang?" tanya Sigit yang sedang membantu Aruna untuk merapikan barang-barangnya.


"Ck! Jangan panggil aku sayang, lagian ngapain kamu ke sini?" tanya Aruna dengan kesal karena pagi-pagi sekali Sigit sudah datang dan membawakan sarapan untuknya.


Pria muda itu bahkan tidak mau pulang karena beralasan ingin mengantarkan dirinya pulang, padahal ada Satria dan juga Rachel yang selalu ada untuk dirinya.


"Maaf, tapi aku tidak bisa. Oiya, Sayang. Kamu pulangnya mau pake mobil aku atau mobil--"


Belum juga Sigit menyelesaikan ucapannya, Aruna sudah terlebih dahulu memangkas ucapan dari pria muda tersebut.


"Aku mau pulang pake mobil Ayah," jawab Aruna seraya menolehkan wajahnya ke arah Satria yang sedang duduk anteng dengan Rachel di atas sofa.


"Kalau begitu aku juga akan ikut pulang ke rumah kamu menggunakan mobil Om Satria, aku boleh ikut kan, Om?" tanya Sigit seraya menolehkan wajahnya ke arah Satria.


Satria dan juga Rachel langsung tertawa mendengar dan melihat tingkah dari Sigit, karena pria muda itu begitu gigih dalam memperjuangkan Aruna.


Jika saja Aruna memang mau menikah dengan Sigit, kedua orang tua dari Aruna itu tidak keberatan. Karena mereka berdua sudah begitu mengenal Sigit seperti apa, mereka juga sangat tahu jika Steven sangatlah baik dalam memperlakukan Aruna.


"Ck! Bisakah kamu pulang dan jangan mengganggu aku?" tanya Aruna seraya menatap mata Sigit dengan lekat.


"Tidak bisa, Sayang. Aku sudah katakan akan selalu ada untuk kamu, jika kamu memang tidak bisa mencintai aku, cukup kamu menerima semua cinta yang aku berikan kepada kamu tanpa melakukan apa pun."


Aruna langsung memutarkan bola matanya dengan malas, Sigit itu ternyata merupakan pria yang begitu gigih dalam mengejar cintanya.


Aruna jujur saja merasa senang mendapatkan perlakuan istimewa seperti itu dari Sigit, tetapi Aruna merasa takut dan juga khawatir.


Aruna adalah seorang janda yang sudah memiliki satu orang putri, usianya bahkan sudah dua puluh delapan tahun. Sedangkan Sigit adalah pria muda yang baru berusia dua puluh dua tahun, rasanya dia tidak sepadan jika harus bersanding dengan Sigit.


"Dengarkan aku Tuan Sigit yang keras kepala, kamu boleh ikut mengantarkan aku pulang. Tapi, aku punya permintaan. Bisa?" tanya Aruna.


Sigit langsung melebarkan senyumnya mendengar apa yang dikatakan oleh Aruna, dia bahkan langsung mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengiyakan.


"Permintaan sesulit apa pun akan aku usahakan untuk dilakukan, kamu tinggal bilang saja. Apa yang kamu minta, hem?" tanya Sigit.


"Nanti kita bicarakan kalau sudah sampai di rumah," jawab Aruna.

__ADS_1


"Oke!" ucap Sigit penuh semangat.


"Kalian ngobrol terus, kapan sampai rumahnya coba?" keluh Satria seraya menghampiri putrinya.


"Sorry, Yah. Abisnya ada berondong rese!" ujar Aruna seraya menunjuk Sigit dengan ekor matanya.


"Walaupun kamu menyebut aku sebagai brondong rese, tetapi aku sangat dewasa Aruna. Kamu akan mengetahui seberapa dewasanya aku kalau kamu menerima cintaku," ujar Sigit yang terdengar begitu menyebalkan di telinga Aruna.


Aruna menatap Sigit dengan mata yang memicing, dia seolah sedang mengancam pria itu lewat tatapan matanya. Satria dan juga Rachel langsung menertawakan tingkah keduanya.


"Sudah-sudah, jangan bertengkar terus. Kasian Ay yang sudah menunggu di rumah," ujar Satria seraya menuntun Aruna untuk keluar dari ruang perawatan tersebut.


Rachel langsung mengikuti langkah Aruna dan juga Satria, begitupun dengan Sigit, pria muda itu langsung mengikuti langkah mereka bertiga dengan membawa tas berisikan barang milik Aruna.


Saat tiba di parkiran, Satria langsung menuntun Aruna untuk duduk di bangku penumpang. Sigit dengan cepat duduk di samping Aruna, dia tidak mau ditinggalkan begitu saja.


"Ya ampun! Kamu duduknya di depan aja, aku sama Bunda aja." Aruna mendorong lengan Sigit.


"Aih! Aku tuh heran banget sama kamu, kayaknya sentimen banget," keluh Sigit tanpa mau beranjak sedikit pun.


"Jangan berantem terus bisa, kan?" tanya Satria seraya menatap keduanya secara bergantian.


"Bisa, Yah."


Keduanya menjawab secara bersamaan, setelah itu Aruna dan juga Sigit tidak berbicara lagi. Aruna nampak menolehkan wajahnya ke arah jendela mobil, sedangkan Sigit terlihat menatap wajah Aruna yang begitu cantik di matanya.


Satria hanya bisa menghela napas berat bersama dengan Rachel, tanpa membuang waktu Satria dengan cepat melajukan mobilnya menuju kediaman Dinata.


Sepanjang perjalanan menuju kediaman Dinata, tidak ada pembicaraan di antara mereka berempat. Semuanya nampak terdiam dengan pemikiran masing-masing.


Saat tiba di kediaman Dinata, Aruna langsung disambut oleh Sagara, Ayana, Ridwan dan juga Airin, kedua orang tua dari Rachel. Larasati dan juga Jonathan tidak bisa hadir karena berada di negara A.


Bahkan saat mereka sedang asik mengobrol, Yudha dan juga Mira datang untuk melihat cucu mereka yang baru ditemukan.


Aruna benar-benar merasa senang karena ternyata dia memiliki banyak keluarga, terlebih lagi ketika melakukan video call dengan keluarganya yang ada di negara A, sungguh dia tidak bisa menahan air matanya.


Selama ini dia hidup dalam kesedihan dan kesepian, kini Aruna bertekad untuk mencari kebahagiaannya setelah mengalami kesusahan.


"Istirahatlah, Sayang. Kamu pasti lelah," ujar Rachel ketika semua keluarga sudah pulang ke kediaman masing-masing.


"Yes, Bunda. Aku---"


"Jangan istirahat dulu, katanya kamu mau minta tolong sama aku. Aku ngga mau nunggu lagi," ujar Sigit yang langsung berdiri di ambang pintu kamar Aruna.

__ADS_1


"Ya ampun, aku lupa. Tapi, sepertinya aku sangat lelah. Bagaimana kalau minta tolongnya besok saja," ujar Aruna.


Rachel langsung meninggalkan Aruna dan juga Sigit, karena menurutnya keduanya butuh waktu untuk bicara.


"No! Aku maunya sekarang aja," jawab Sigit.


"Baiklah! Ayo ikuti aku," ujar Aruna.


Sigit langsung melebarkan senyumannya, lalu dengan cepat dia masuk ke dalam kamar Aruna. Aruna langsung menggelengkan kepalanya, lalu dia menarik kerah kemeja yang dipakai oleh Sigit layaknya anak kucing.


"Ngomongnya bukan di dalam kamar, memangnya aku istri kamu apa!" keluh Aruna seraya melangkahkan kakinya menuju taman belakang.


"Iya, paham. Tapi akunya jangan ditarik-tarik juga, napsu banget sih kesayangan aku ini." Sigit melepaskan tangan Aruna dengan perlahan, lalu dia usap tangan wanita pujaan hatinya itu.


Aruna langsung memelototkan matanya, dia tidak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Sigit. Pemuda yang ada di dekatnya itu benar-benar sangat berani, pikirnya.


"Mana ada kaya gitu, aku tuh cuma kesel aja ama kamu." Aruna mempercepat langkahnya, Sigit tersenyum dan berkata.


"Kamu tuh emang beneran agresif, tapi aku suka." Sigit membayangkan saat Aruna yang berusaha untuk mencium bibirnya dan berusaha untuk menggoda dirinya kala terpengaruh obat perangsang.


"Eh? Kapan aku bersikap agresif sama kamu?" tanya Aruna.


Aruna yang tidak sadar tentu saja tidak ingat apa yang dia lakukan, dia hanya ingat sesaat sebelum Sam berkata akan mengantarkan dirinya pulang.


"Waktu kamu minum jus dari si brengsek itu," jawab Sigit dengan malas saat menyebutkan nama Sam.


"Memangnya apa yang aku lakukan sama kamu?" tanya Aruna penasaran.


Sigit langsung mencondongkan tubuhnya mendengar pertanyaan dari Aruna, lalu dia berbisik tepat di telinga Aruna.


"What? Aku ngga percaya," ucap Aruna dengan wajah yang sudah memerah.


"Terserah kamu mau percaya atau tidak, bahkan aku sudah melihat tubuh polos kamu. Jadi, rugi banget kalau kamu nggak mau jadi istri aku." Sigit menatap Aruna dari ujung kaki sampai ujung kepala.


Aruna bahkan sampai melipatkan kedua tangannya di depan dada, dia menatap Sigit dengan tatapan tajamnya.


"Jangan ngebayangin yang aneh-aneh!" kesal Aruna.


"Tidak membayangkan hal yang aneh-aneh, hanya membayangkan--itu!" tunjuk Sigit pada dada Aruna.


"Dasar brondong messum!" kesal Aruna seraya memukul pundak Sigit dengan cukup kencang.


"Ampun!" ucap Sigit seraya berlari menuju taman belakang.

__ADS_1


__ADS_2