Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 60


__ADS_3

"Ada perlu apa ingin bertemu denganku?" tanya Aruna.


"Aku ingin minta tolong sama kamu, apa bisa?" tanya Sam dengan tatapan penuh permohonan.


Aruna ingin sekali tertawa mendengar apa yang dipertanyakan oleh Sam, pria itu sudah menorehkan luka yang begitu dalam. Hatinya terasa tersayat dan lukanya begitu lebar.


Namun, kini dengan mudahnya Sam meminta dirinya untuk datang dan meminta pertolongan kepada dirinya. Rasanya Sam sangat tidak tahu diri sekali, pikirnya.


Aruna mendudukkan bokongnya di atas kursi yang berada tepat di samping pria itu, lalu dia menatap wajah Sam dan juga Ayaka secara bergantian.


Ayaka terlihat begitu mirip dengan Sam, tetapi anak itu menatap dirinya dengan tatapan penuh kebencian. Padahal, dia tidak mengenal anak itu sama sekali. Bahkan, Aruna tidak pernah bertemu dengan gadis kecil itu.


"Pertolongan seperti apa yang kamu minta, Sam?" tanya Aruna.


Sigit yang mulai melihat ketegangan di wajah Aruna langsung menghampiri wanita itu, dia bahkan berdiri tepat di belakang Aruna seraya mengelus lembut pundak wanita yang sangat dia cintai itu.


"Aku sudah terbukti bersalah, polisi menetapkan hukuman 6 tahun penjara kepadaku. Aya tidak ada yang mengurus karena ibunya pergi entah ke mana, bisakah aku menitipkan Aya kepada kamu?" tanya Sam.


Ayaka langsung memeluk Sam dengan begitu erat, anak yang berusia 4 tahun 3 bulan itu sudah paham jika dia akan berpisah dengan ayahnya. Dititipkan kepada orang asing tentu saja dia tidak mau, dia langsung menatap ayahnya dengan tatapan penuh permohonan.


"Aku tidak mau dititipkan sama Tante itu, aku maunya sama Ayah aja." Ayaka menangis di dalam pelukan ayahnya.


Sigit yang sejak tadi diam saja ikut duduk di samping Aruna, dia menatap Sam dengan lekat lalu berkata.


"Maaf, Sam. Untuk urusan Aya kita bisa titipkan kepada neneknya, setelah sembuh nanti aku bisa mengantarkan anak kamu ke kediaman Rahardi," ujar Sigit.


"Tapi, Tuan. Mom Almira sedang sakit, saya takut dia akan syok jika harus mengurusi Aya."


Ya, Sam sudah memikirkan matang-matang harus kepada siapa dia menitipkan putrinya itu bersama dengan Angel. Dia saya nggak tahu jika Almira begitu membenci Ayaka, bahkan wanita itu pernah berkata jika yang dia anggap sebagai cucu hanyalah Ayana.


Maka dari itu dia berusaha untuk menghubungi Aruna, karena dia yakin jika Aruna pasti akan mau mengurusi putrinya itu. Dia sangat yakin karena Aruna memiliki hati seperti malaikat, itulah yang dia yakini.


"Aku sangat tahu juga ibu kamu sedang sakit, tapi sebelum kamu menitipkan Aya kepada Aruna, seharusnya kamu memikirkan perasaan Aruna terlebih dahulu. Aya adalah anak hasil perselingkuhan kamu dengan Angel, apakah kamu pernah berpikir jika Aruna pasti akan sangat sakit hati jika dia harus mengurusi Aya?" tanya Sigit.

__ADS_1


Sam terdiam dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh pria itu, karena pada kenyataannya mengetahui Sam berselingkuh saja Aruna pasti sangat sakit hati.


Dia sangat sadar jika Aruna pasti begitu terluka jika Aya dititipkan kepada dirinya, tetapi dia sungguh kebingungan harus menitipkan putrinya kepada siapa.


Terlebih lagi Ibunya sudah mengatakan tidak akan mau dan tidak akan menganggap Ayaka sebagai cucunya, hanya anak yang terlahir dari rahim Aruna yang akan dia anggap sebagai cucu.


"Saya paham, Tuan. Tapi, bagaimana dengan putri saya?" tanya Sam.


"Oh! Ternyata anda hanya memikirkan Aya tanpa memikirkan perasaan Aruna dan Ay, pernahkah kamu berpikir jika Aruna membawa Aya dan mengurusi anak itu merupakan sebuah hal yang tidak pantas?" tanya Sigit.


Sam terdiam, dia seolah tidak mampu mengatakan hal apa pun. Karena nyatanya dia pasti sangat paham jika Aruna akan begitu sakit jika Aya ikut dengan mantan istrinya itu, karena setiap Aruna melihat wajah Aya, pasti akan terbayang perselingkuhan Sam dan juga Angel.


"Kamu harus paham, Sam. Jika Aya kamu serahkan kepada Aruna, itu sama halnya seperti kamu memberikan luka pada genggaman tangan Aruna. Aruna harus menggenggam luka yang tidak berujung," ujar Sigit.


"Aku tahu, tapi bagaimana dengan putriku?" tanya Sam.


"Aku akan membawanya ke rumahku, tapi nanti aku akan menyerahkannya kepada ibumu. Aku tahu jika ibumu pasti membenci anak hasil perselingkuhan kamu dengan Angel itu, tapi aku yakin ibumu pasti mau menerimanya. Karena sepedas-sepedasnya ucapan orang tua, hatinya tetap tulus murni."


Sam hanya mampu menundukkan kepalanya, dia tidak berani berkata apa pun. Karena dia tidak punya pilihan lagi selain menyerahkan putrinya kepada ibunya sendiri, Sam terlihat menunduk lalu menatap wajah Ayaka yang mulai tertidur karena kelelahan menangis terlalu lama.


"Hem! Aku akan merawatnya terlebih dahulu, nanti setelah tante Almira sembuh aku akan menyerahkannya kepada beliau."


"Terima kasih, Tuan. Tapi, kalau misalkan mom tidak mau menerima Aya, tolong titipkan Aya ke panti asuhan saja. Nanti setelah aku keluar dari penjara, aku akan datang ke sana untuk menjemput Aya," ujar Sam.


Sedih sekali rasanya Aruna mendengar apa yang dikatakan oleh Sam, tetapi dia juga tidak bisa membawa anak hasil perselingkuhan Sam dan Angel itu.


Terlebih lagi Aya pernah menyakiti hati putrinya, dia takut jika dirinya membawa Ayaka, bukan hanya Aruna yang akan terluka, tetapi Ayana juga pastinya akan terluka.


"Semoga saja tidak berakhir di panti asuhan," ujar Sigit.


Setelah Ayaka tertidur dengan pulas, Sam akhirnya menitipkan putrinya kepada Sigit. Walaupun terasa begitu berat melepaskan putrinya, tetapi Sam tidak punya pilihan.


"Oiya, Tuan. Ini uang yang tuan berikan, sudah saya cairkan. Tolong berikan kepada mom, untuk tambahan biaya Aya."

__ADS_1


"Ya," jawab Sigit.


Sam menolehkan wajahnya ke arah Aruna, dia tersenyum kecut karena sudah membuang berlian demi batu kali seperti Angel.


"Maaf karena aku sudah menyakiti kamu," ujar Sam.


Sam baru sadar jika perempuan yang selama ini dia pentingkan ternyata hanya mementingkan diri sendiri, jika Angel hanya meninggalkan dirinya, rasanya itu masih dirasa wajar.


Namun, Angel dengan teganya meninggalkan putrinya sendiri. Rasanya Sam sampai mempertanyakan di mana letak nurani perempuan itu.


"Aku sudah memaafkan kamu, Sam. Tapi, aku tidak tahu kapan luka ini akan sembuh."


Sam tidak bisa berkata apa pun lagi, karena dia sangat sadar jika luka yang dia torehkan di hati Aruna begitu dalam.


Setelah obrolan antara Sigit, Aruna dan juga Sam selesai, Aruna dan Sigit langsung keluar dari kantor polisi. Mereka langsung berjalan menuju parkiran, Sigit juga langsung membuka pintu mobilnya.


Setelah Sigit menidurkan Ayaka di bangku penumpang, Sigit langsung masuk ke dalam mobilnya, dia duduk di balik kemudi dan bersiap untuk menyalakan mesin mobilnya.


"Tunggu sebentar, aku ingin menanyakan Angel." Aruna langsung masuk kembali ke kantor polisi, dia menghampiri salah satu polisi yang ada di sana dan menanyakan tentang Angel.


Aruna masih penasaran dengan wanita itu, karena wanita itu begitu tega meninggalkan putrinya. Dia sama sekali tidak memikirkan perasaan Ayaka seperti apa.


"Sebelum pergi ke kota A dia sempat mengambil uang dengan jumlah yang banyak, saat tiba di kota B dia menjual mobilnya. Setelah itu keberadaan nona Angel tidak diketahui, kami hanya menemukan patahan kartu milik tuan Sam di tong sampah."


Wow! Mendengar keterangan dari polisi, Aruna benar-benar berpikir jika Angel sangatlah lihai dalam pelariannya. Dia seperti sudah merencanakan hal itu dengan begitu matang, karena polisi bahkan sampai kesulitan untuk menemukan wanita itu.


"Oh! Seperti itu, terima kasih atas informasinya." Aruna langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Sigit setelah mendapatkan keterangan dari polisi.


Aruna sungguh tidak menyangka jika Angel merupakan wanita yang begitu licik, bisa-bisanya wanita itu melakukan hal yang tidak terduga seperti itu.


"Kenapa wajahnya jadi murung gitu?" tanya Sigit.


"Tidak apa-apa, aku hanya lelah. Terima kasih," ujar Aruna tulus.

__ADS_1


Tentunya karena Sigit selalu ada untuknya dan membantu dirinya, bahkan pria muda itu begitu sabar dalam menghadapi dirinya. Sigit juga selalu ada untuk men-support dirinya.


"Sama-sama," jawab Sigit yang mulai melajukan mobilnya.


__ADS_2