Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 145


__ADS_3

Siang menjelang sore ini Sigit benar-benar kelimpungan menghadapi wanita seperti Afifah, wanita itu genitnya sangat luar biasa. Dia juga benar-benar mencari perhatian kepada Sigit, selalu ada saja hal yang dia lakukan yang membuat Sigit kesal.


Jika saja pada pertemuan pertamanya dengan tuan Swan, Sigit tidak menandatangani project kerjasama ini, tentu saja dia ingin membatalkannya karena istri dari tuan Swan itu benar-benar sangat menyebalkan dan membuat dia hampir gila.


Namun, selain dari karena dia sudah menandatangani project kerjasama tersebut, masalahnya ini adalah project besar yang bisa membuat perusahaan Siregar semakin berkembang.


Alhasil, Sigit harus benar-benar sabar menghadapi wanita seperti itu. Wanita yang benar-benar cantik wajahnya, tapi kelakuannya sangat minus.


Wanita itu pura-pura terjatuh dan meminta untuk ditolong oleh Sigit, tetapi saat Sigit memperhatikan tubuh wanita itu, tidak ada yang terluka sama sekali.


Di saat Sigit bertanya mana yang sakit agar dia bisa mengobati luka wanita tersebut, wanita itu malah membusungkan dadanya dan meremat kedua dadanya dengan gerakan sensual. Lalu, wanita itu berkata.


"Yang sakit di sini, tuan Sigit. Pengen dikenyot'!" jawab Afifah.


Sigit benar-benar merasa kaget dengan apa yang dia dengar, karena menurut Sigit wanita itu terlalu berani untuk berbicara. Bahkan, terdengar sangat vulgar dan sepertinya perlu disaring sebelum diucapkan.


"Ya ampun!" ucap Sigit seraya mengelus dadanya.


Karena nyatanya mendapatkan perlakuan seperti itu tidaklah menyenangkan, justru hal ini dirasa sangat menyebalkan lagi Sigit.


Pada akhirnya pria itu menyerahkan pekerjaan yang harus dikerjakan oleh dirinya kepada Ben, dia meminta pria itu untuk menemani wanita yang bernama Afifah itu.


Saat melihat kebersamaan antara Afifah dan juga Ben, Sigit benar-benar sampai menggelengkan kepalanya. Karena ternyata wanita itu juga merayu asisten pribadinya tersebut.


Sungguh Sigit tidak paham dengan wanita seperti Afifah itu, padahal ia memiliki suami yang kaya raya. Walaupun memang dia akui bahwa tuan Swan memiliki tubuh yang tinggi besar, tampan, tetapi perutnya terlihat buncit.


Namun, bukankah wanita itu harus banyak bersyukur, pikirnya. Karena walau bagaimanapun juga tuan Swan sudah memberikan fasilitas terbaik untuk wanita itu.


Sigit jadi bertanya-tanya di dalam hatinya, mungkinkah wanita itu sengaja mencari pria pria tampan yang terlihat bertubuh atletis untuk dijadikan selingkuhan, atau hanya dijadikan selingan saja, tanyanya.


"Akhirnya selesai juga, ini benar-benar hari yang sangat melelahkan. Semoga saja besok tuan Swan sudah pulang, aku tidak sanggup berhadapan dengan wanita itu. Hiiih!" ujar Sigit.

__ADS_1


Setelah hampir seharian berada di luar, kini Sigit bisa beristirahat di dalam kamar hotel yang sudah dia pesan. Karena waktu sudah sangat sore, akhirnya dia segera masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.


Selepas melaksanakan ritual mandinya Sigit langsung melaksanakan shalat maghrib, setelah itu dia langsung mengambil ponselnya dan merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.


Tahukah kalian? Saat ini Sigit dalam keadaan polos tanpa sehelai benang pun, hal itu dia lakukan karena ingin melakukan video call dengan istrinya.


Entah kenapa Sigit ingin melakukan hal itu, terasa konyol bukan, tetapi itulah yang ingin dia lakukan. Sigit tersenyum senyum di depan ponselnya, dia menekan nomor istrinya dan melakukan panggilan video call.


Tidak lama kemudian, panggilan video call tersambung, Sigit sangat senang karena sebentar lagi dia akan melihat wajah cantik istrinya.


"Papa!" jerit Alice saat panggilan video call dari pria itu tersambung.


Sigit yang sedang dalam keadaan polos langsung menarik bantal yang ada di sampingnya dan menutup miliknya, sungguh dia benar-benar kaget ketika wajah putri bungsunya memenuhi layar ponsel miliknya.


Karena tentunya dia mengira Aruna yang akan mengangkat panggilan video call darinya, tetapi nyatanya Alice yang mengangkat panggilan video call tersebut. Akan tetapi, dia sungguh bersyukur karena Alice tidak sempat melihat miliknya.


"Sayang, bunda di mana? Kenapa kamu yang mengangkat panggilan video call dari Papa?" tanya Sigit dengan was-was.


Sigit langsung menepuk jidatnya, karena nyatanya ini memanglah malam Jum'at. Seharusnya dia melakukan panggilan video call-nya nanti saja selepas shalat isya.


"Papa lupa, terus kenapa kamu nggak ngaji juga?" tanya Sigit.


Sigit terlalu lelah mendapatkan perlakuan aneh dari Afifah, sampai-sampai dia lupa ini hari apa. Rasanya, terbebas dari wanita itu saja Sigit sudah merasa bersyukur.


Mendengar pertanyaan dari ayahnya, Alice nampak malu-malu. Dia menundukkan kepalanya lalu menolehkan wajahnya kembali ke arah sang ayah.


"Aku datang bulan Pa, ini adalah datang bulan pertamaku," jawab Alice.


Sigit terkekeh mendengar jawaban dari putri bungsunya, karena ternyata kini putrinya itu sudah masuk ke dalam usia pubertas. Itu artinya kini dia harus semakin menjaga pergaulan putri bungsunya tersebut.


"Berarti, anak Papa sekarang sudah jadi remaja, ya? Kalau begitu nanti Papa telepon lagi, kamu belajar aja di dalam kamar kamu. Jangan di dalam kamar bunda," ujar Sigit.

__ADS_1


Nanti kalau Sigit melakukan panggilan video call lagi, dia tidak ingin Alice yang mengangkat panggilan video call-nya. Dia ingin berbicara secara langsung dengan istri tercintanya.


"Iya, Papa. Alice akan belajar dengan baik, oh iya, Pa. Bukannya sekarang di tempat Papa itu dingin ya? Kenapa Papa ngga pakai baju?" tanya Alice yang sejak tadi merasa heran melihat ayahnya bertelanjang dada.


Sigit nampak memejamkan matanya mendengar pertanyaan dari putri bungsunya itu, dia berusaha untuk mencari alasan. Tidak lama kemudian dia tersenyum dan berkata.


"Ac di kamar hotel ini mati, Dek. Jadi Papa ngga pakai baju karena kegerahan," jawab Sigit.


Sungguh Sigit berdoa di dalam hatinya semoga putrinya percaya dengan apa yang dia katakan, karena apa yang dia katakan memang terdengar begitu konyol.


"Ih! Kok aneh begitu, padahal itu adalah hotel mewah di sana. Harusnya Papa minta ganti kamar hotel lain aja, jangan bobo di situ! Jangan menyiksa diri sendiri, oke!" ucap Alice seraya menutup panggilan teleponnya.


"Ya ampun! Dia itu kurang ajar sekali! Masa Tidak mengucapkan salam tidak apa? Main langsung memutuskan sambungan teleponnya aja," ujar Sigit seraya menggaruk kepalanya.


Akan tetapi, tidak lama kemudian pria itu nampak mengelus dadanya. Sungguh dia merasa beruntung karena Alice tidak sempat melihat miliknya. Untung dia begitu cepat mengambil bantal untuk menutupi miliknya tersebut.


"Sebaiknya aku cepat pakai baju dan memesan makanan, aku lapar." Sigit turun dari tempat tidur, lalu dia segera memakai baju tidur.


Lalu, dia kembali mengambil ponselnya dan memesan makanan lewat ponselnya tersebut. Karena dia merasa malas untuk keluar dari kamar hotel menuju Resto.


Rasanya dia lebih baik melaksanakan ritual makan malamnya di dalam kamar hotel saja sendirian, itu lebih baik daripada harus pergi karena tubuh yang sudah sangat lelah.


Ting! Tong!


Terdengar bunyi bel yang begitu nyaring, Sigit mengerutkan dahinya. Padahal dia baru saja menutup panggilan teleponnya, jika memang benar itu yang mengantarkan makanannya, kenapa begitu cepat, pikirnya.


"Sebentar!" teriak Sigit walaupun belum tentu orang yang berada di luar kamar tersebut mendengar apa yang Sigit teriakan.


Sigit langsung melangkahkan kakinya menuju pintu kamar hotel tersebut, lalu dia membukakan pintu itu. Sigit begitu kaget karena ternyata bukan pelayan yang datang untuk mengantarkan makanan pesanannya.


Namun, Afifah yang dia sedang berdiri dengan senyum manis di bibirnya. Senyum yang membuat Sigit merasa ketakutan, senyuman itu nampak mengerikan bagi Sigit.

__ADS_1


"Nyonya Afifah? Sedang apa anda di sini?" tanya Sigit yang terdengar begitu konyol di telinga Afifah.


__ADS_2