Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 11


__ADS_3

Satria terlihat salah tingkah ketika Larasati datang bersama dengan Jonatan dan juga Yudha. Dia tidak menyangka jika orang tuanya akan datang untuk melihat cucu pertama mereka, dia juga tidak menyangka jika Larasati dan Yudha membawa kado untuk putri mereka.


Melihat putranya yang begitu salah tingkah, Larasati langsung menghampiri Rachel. Lalu, dia mengambil alih cucu pertamanya dari pangkuan menantunya tersebut.


"Uluh-uluh, cantik sekali cucu Oma." Larasati menunduk lalu mengecup kening bayi yang masih berwarna merah itu.


"Siapa namanya, Sayang?" tanya Larasati.


"Aruna Sachi Dinata," jawab Rachel.


"Apa artinya?" tanya Larasati.


"Perempuan yang akan membawa kebahagiaan," jawab Rachel.


"Nama yang indah, kamu tahu, Sayang. Oma sudah membelikan selimut baby sama topi dan juga sepatu pink untuk kamu, semoga kamu suka," ucap Larasati.


"Ehm! Ra, aku juga mau gendong," ucap Yudha sang mantan suami dari Larasati.


"Boleh," jawab Larasati seraya memberikan cucu pertamanya kepada Yudha.


Sore itu ruang perawatan Rachel terasa begitu ramai, karena orang tua dari Satria datang untuk menjenguk. Sedangkan orang tua dari Rachel sudah pulang, karena mereka harus memberikan kesempatan untuk orang tua Satria datang.


Tidak mungkin bukan jika mereka semua berkumpul di sana, pasti suster akan menegur keberadaan mereka yang terlalu banyak itu.


Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam, orang tua dari Satria nampak pulang ke kediaman masing-masing. Kini tinggal Satria dan juga Rachel yang tinggal di sana untuk menjaga baby mereka.


"Aruna sudah tidur, Yang. Kamu juga tidurlah, biar tenaga kamu pulih lagi," ujar Satria.


"Ya, Sayang. Kelonin,'' rengek Rachel dengan manja.

__ADS_1


"Iya, Sayang," jawab Satria.


Satria membantu istrinya untuk merebahkan tubuhnya di atas ranjang pasien, lalu dia duduk di tepian ranjang dan mengelus lembut puncak kepala istrinya. Sekali dia akan menunduk lalu mengecup kening istrinya, karena biasanya Rachel akan mudah tertidur jika mendapatkan perlakuan manis dari Satria.


Tidak lama kemudian, Rachel nampak tertidur dengan begitu pulas. Selain lelah, Rachel juga sudah makan malam dan meminum obat dari dokter. Pastinya hal itu membuat dia cepat tidur dengan pulas.


"Tidurlah, Sayang. Mas mau mandi terus shalat isya," ucap Satria dengan lirih karena takut membangunkan istrinya.


Dia ingin segera masuk ke dalam kamar mandi dan mengguyur tubuhnya, rasanya tubuhnya sudah benar-benar lengket setelah seharian menemani istrinya.


Namun, dia merasa tidak tega meninggalkan istri dan juga putrinya yang sedang tertidur dengan lelap. Akhirnya Satria terlihat keluar untuk mencari suster, karena dia ingin menitipkan istri dan juga putrinya.


"Sus! Maaf mengganggu, boleh saya minta tolong?" ucap Satria ketika bertemu dengan seorang suster dengan name tag Asih.


Suster itu nampak sedang melamun di bangku tunggu tidak jauh dari ruang perawatan milik Rachel, wanita itu langsung bangun dan membungkuk hormat ke arah Satria.


"Boleh, Tuan," jawab suster Asih.


Satria lalu mengajak suster tersebut untuk masuk ke dalam ruang perawatan Rachel, dia meminta suster untuk duduk di sofa tunggu seraya menjaga putri dan juga istrinya.


Setelah Satria menitipkan dua wanita cantik kesayangannya, dia langsung masuk ke dalam kamar mandi. Suster Asih langsung bangun dan menghampiri Aruna, wajah cantik itu membuat dirinya jatuh cinta.


Namun, tidak lama kemudian air matanya mengalir dari kedua pipinya. Hari ini dia baru saja ditalak oleh suaminya, karena ternyata suster Asih dinyatakan mandul setelah melakukan pemeriksaan.


"Ya Tuhan! Bukankah ini bayi yang lahir tadi siang?" tanya suster Asih.


Dia masih sangat ingat ketika kemarin malam Rachel datang dengan Satria, Rachel mengeluh sudah mendapatkan kontraksi secara berturut-turut. Bukan hanya sekedar kontraksi palsu, tetapi tidak ada pembukaan.


Tidak lama kemudian, suster Asih menatap Rachel dan juga baby Aruna secara bergantian. Entah setan mana yang membisikan kupingnya, tetapi tiba-tiba saja terlintas pikiran jahat di dalam otaknya.

__ADS_1


"Dia cantik sekali, kalau aku bawa, pasti wanita itu akan bisa melahirkan kembali. Pasti dia tidak akan bersedih seperti aku yang tidak bisa memiliki anak sama sekali," ucap suster Asih.


Setelah mengatakan hal itu, suster Asih nampak mengambil selimut yang dibelikan oleh Larasati, lalu dia menggendong bayi mungil itu dan membungkusnya dengan selimut bayi tersebut.


Dengan cepat dia membawa baby Aruna untuk pergi jauh dari sana, dia bahkan pergi lewat pintu belakang rumah sakit. Tempat yang biasanya jauh dari jangkauan CCTV.


Tidak lama kemudian, Satria yang baru saja mandi terlihat keluar dari dalam kamar mandi. Dia sudah terlihat lebih segar dan juga tampan, tetapi saat dia hendak shalat, dia merasa heran karena suster yang dia minta untuk menjaga putri dan juga istrinya malah tidak ada di sana.


Satria bahkan terlihat begitu kaget ketika melihat Aruna tidak ada di dalam box bayinya, Satria yang begitu panik langsung berlari untuk keluar dari dalam ruang perawatan milik istrinya.


Satria berteriak-teriak seperti orang gila memanggil suster Asih, dia benar-benar ketakutan. Dia takut jika ternyata suster Asih adalah penculik yang menyamar sebagai suster.


Ternyata, setelah Satria mencari tahu tentang suster Asih. Suster Asih sudah meninggal 4 tahun yang lalu, Arimbi menggantikan Asih untuk bekerja sebagai perawat. Dia menggunakan identitas diri Asih untuk bekerja di Rumah Sakit tersebut.


Hal itu membuat Satria kesusahan untuk mencari di mana keberadaan Aruna dan juga Arimbi, karena ternyata setelah Arimbi berhasil membawa Aruna pergi, dia kembali memakai identitas aslinya.


"Sejak saat itu Ibu mengasuh kamu dan memperlakukan kamu seperti anak ibu sendiri, maaf. Maafkan ibu, Nak. Ibu sudah berdosa memisahkan kamu dari kedua orang tua kamu, hal itu ibu lakukan karena ibu takut hidup sendiri."


Syok?


Tentu sajak Aruna merasa syok setelah membaca surat yang ditinggalkan oleh Arimbi, dia tidak menyangka jika dirinya adalah anak hasil penculikan yang dibesarkan oleh Arimbi.


Kini perasaan sedih Aruna berubah menjadi perasaan yang tidak menentu, Aruna yang tidak tahu harus berbuat apa langsung melemparkan kotak tersebut hingga hancur berantakan.


"Aaarrgh! Kenapa ini harus terjadi kepada aku?!" teriak Aruna.


Aruna meringkuk di atas tempat tidur Arimbi, dia menangis sejadi-jadinya. Dia bahkan memukul-mukul kepalanya yang kini terasa berdenyut nyeri, dia sudah seperti orang hilang akal.


Dia menangis dan terus saja menangis, sampai hari sudah menjelang malam wanita itu terus saja menangis. Dia benar-benar merasa hidupnya tidak berarti.

__ADS_1


"Tuhan! Jika ini adalah mimpi buruk, tolong segera bangunkan aku." Aruna berucap dengan lemah sebelum hilang kesadarannya.


__ADS_2