Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
Bab 164


__ADS_3

Ayana semakin terlihat gelisah, karena Sandi nampak meremat kedua dadanya dan sesekali memilin ujung dadanya. Rasanya geli, enak dan juga sedikit sakit.


Bukan hanya itu saja, Ayana juga mulai merasakan seperti ada aliran listrik yang menyengat pada tubuhnya, Ayana menginginkan hal yang lebih.


Bahkan, ketika Sandi mengangkat tubuh Ayana dan mendudukkannya di atas pangkuannya, Ayana merasakan sesuatu yang berbeda. Terlebih lagi ketika dia merasakan ada yang mengganjal di antara kedua pahanya.


"Kiss, Yang?" pinta Sandi.


Ayana menurut, dia nampak menunduk dan menyatukan bibirnya dengan bibir Sandi. Dia pagut bibir itu dengan begitu lembut, rasanya sangat nikmat sekali.


Sandi mulai merasa tidak tahan, dengan cepat kedua tangannya bermain dengan dada Istrinya. Bahkan, tidak lama kemudian pria itu nampak melepaskan pagutan bibirnya.


Bibir pria itu langsung mengecupi leher jenjang istrinya, lalu bibir itu dengan cepat menyesap ujung dada Ayana.


"Aduh! Pelan-pelan," ujar Ayana seraya menelusupkan jari tangannya pada rambut suaminya.


Ayana sampai menengadahkan wajahnya, karena selain bibir suaminya yang bermain dengan dadanya, tiba-tiba saja tangan suaminya terulur untuk bermain dengan inti tubuhnya.


Tangan itu nampak bermain dengan daging kecil yang ada pada inti tubuh Ayana, dia usap bahkan sesekali dia cubit dengan manja.


"Engh! Yang, sakit." Ayana nampak menggigit bibir bawahnya ketika Sandi mulai memasukkan jari telunjuknya ke dalam inti tubuhnya.


Miliknya yang rapat itu terasa sakit, Sandi langsung menarik jari telunjuknya. Lalu, dia tatap wajah istrinya dengan penuh kasih.


"I Love you, Sayang. Aku udah boleh minta hak aku, belum?" tanya Sandi yang sudah merasa tidak tahan ingin memasuki istrinya.


Ayana langsung tersenyum seraya menganggukkan kepalanya, tentu saja sangat boleh. Bahkan, jika saja boleh jujur ayahnya benar-benar sangat menginginkan Sandi.


Setelah melihat Ayaka yang menikah dengan Stefano, Ayana sering membayangkan jika dirinya sudah menikah dengan Sandi dan berpeluh di atas ranjang. Rasanya pasti sangat nikmat, pikirnya.


"Boleh, tapi kita bilasan dulu," jawab Ayana.


Mereka akan melakukannya untuk yang pertama kali, rasanya tidak baik jika dilakukan di kamar mandi. Sandi menganggukkan kepalanya tanda setuju, dengan cepat dia menggendong Ayana dan turun dari bathtub.


Sandi menyalakan shower dan langsung membilas tubuh keduanya, setelah itu dia mengambil bathrobe dan memakaikannya kepada Ayana. Lalu, dia mengambil handuk dan melilitkan handuk tersebut pada pinggangnya.

__ADS_1


Sandi kembali menggendong istrinya tersebut, lalu dia melangkahkan kakinya untuk keluar dari dalam kamar mandi. Dengan perlahan Sandi mendudukan Ayana di depan meja rias.


Lalu, dia mengambil hair dryer dan mengeringkan rambut istrinya. Sandi tidak mau jika nantinya istrinya akan masuk angin, yang ada nantinya mereka malah tidak jadi melakukan malam pertama.


"Terima kasih," ujar Ayana.


Setelah mengatakan hal itu, Ayana langsung bangun dan melangkahkan kakinya menuju tempat tidur. Dia buka bathrobe yang dia pakai, lalu Ayana merebahkan tubuh polosnya di atas tempat tidur.


Sandi sampai mengerjapkan matanya beberapa kali. Dia merasa tidak percaya jika Ayana tanpa malu membuka bathrobe itu dan kini wanitanya sedang menata dirinya seraya mengusap dadanya.


"Yang! Kamu sangat seksi," ujar Sandi.


Ayana tersenyum seraya mengerlingkan sebelah matanya, dia terlihat berusaha untuk menggoda Sandi. Ayana bahkan berpose dengan begitu menentang, hal itu membuat Sandi ingin segera mengeksekusi istrinya tersebut.


Sandi membuang handuk yang dia pakai, lalu dia merangkak naik ke atas tempat tidur. Ayana sampai tertawa dibuatnya. Apalagi ketika Sandi menatap dirinya dengan tatapan penuh minat.


"Kamu tuh nakal banget, awas aja kalau nanti malah kabur saat aku memerawani kamu." Sandi mengungkung pergerakan tubuh istrinya.


Lalu, dia mulai menyatukan bibirnya dengan bibir istrinya, Ayana dengan senang hati membalas tautan bibir suaminya itu. Keduanya berciuman dengan begitu panas, keduanya sama-sama terlihat berhasrat.


Sandi terlihat begitu bersemangat sekali, ini terlihat sedang menyusu layaknya bayi besar. Ayana sampai memejamkan matanya dengan tangan yang terus saja menjambak rambut suaminya.


Menyentuh setiap titik sensitif yang ada di tubuh istrinya, Ayana terlihat menggeliat dan menggelinjang merasakan kenikmatan yang diberikan oleh suaminya tersebut.


"Yang! Kamu ngapain?" tanya Ayana ketika Sandi malah melebarkan kedua kaki Ayana.


Pria itu tanpa ragu menunduk dan mengecupi bibir bawah milik istrinya, Ayana sampai bangun dan hendak menghindari pria itu. Namun, dengan cepat Sandi menahan kedua paha istrinya dan bermain dengan inti tubuh istrinya.


"Yang! Jangan kaya gitu, geli." Ayana memukul-mukul pundak Sandi.


"Jangan pukul, Yang. Nanti aku ngga bisa goyang loh," protes Sandi.


"Abisan geli, Yang. Jangan kaya gitu," protes Ayana.


Sandi hanya tertawa mendengar kalimat protes dari istrinya, lalu dia mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh istrinya dan mulai memasukkan miliknya ke dalam inti tubuh istrinya.

__ADS_1


"Sakit, Sandi!" jerit Ayana ketika dia merasakan sakit yang luar biasa karena dorongan dari pria itu yang begitu kuat.


Sandi yang merasa tidak sabar langsung memasuki inti tubuh istrinya dengan kuat, tentu saja hal itu membuat Ayana begitu kesakitan.


Bahkan, saat Sandi menarik miliknya dari dalam liang kelembutan milik istrinya, Ayana langsung menendang pria itu. Dia merasa kesal karena Sandi menariknya dengan cepat, tentu saja hal itu membuat Ayana kesakitan.


"Yang! Sakit!" ujar Sandi penuh protes ketika merasakan perutnya begitu sakit setelah mendapatkan tendangan keras dari kaki istrinya.


Sungguh dia tidak menyangka akan mendapatkan tendangan yang begitu kencang dari istrinya, padahal yang dia harapkan adalah kenikmatan yang luar biasa yang akan mereka reguk berdua.


"Lagian kamunya gitu sih, aturan pelan-pelan. Jangan kasar kaya gitu, ini yang pertama buat aku." Ayana nampak cemberut.


Ayana ingin diperlakukan dengan begitu lembut, rasanya dia tidak rela jika Sandi memperlakukan dirinya dengan tergesa-gesa seperti itu.


"Maaf, kita mulai lagi yuk?" ajak Sandi.


Sandi akan berusaha untuk menahan hasratnya, dia akan berusaha untuk melakukannya dengan sangat perlahan.


"Ngga mau ah, sakit. Nanti aja," jawab Ayana seraya menarik selimut dan menutup tubuhnya sampai sebatas dada.


Lalu, Ayana langsung memiringkan tubuhnya agar membelakangi suaminya. Dia menekan miliknya dengan kedua pahanya, sakit sekali rasanya.


"Yang!" panggil Sandi seraya mengelusi lengan istrinya.


Jika malam pertamanya harus gagal rasanya dia tidak rela, apalagi miliknya kini terlihat mengeras seperti batu. Miliknya ingin segera masuk ke dalam liang kelembutan milik istrinya, masa harus dipending, pikirnya.


"Hem!" jawab Ayana.


"Ngga lanjut?" tanya Sandi seraya menatap miliknya yang begitu tegang.


"Ngga mau ah! Sakit, aku mau tidur aja." Ayana langsung memejamkan matanya.


Sandi hanya bisa menghela napas berat, dia begitu menginginkan istrinya. Namun, dia tidak bisa memaksakan kehendaknya.


"Yang!" panggil Sandi yang masih berusaha untuk merayu istrinya.

__ADS_1


Bahkan, Sandi terlihat mengecupi pundak polos Istrinya. Sayangnya Ayana malah menarik selimut dan menutupi seluruh tubuhnya.


"Ya ampun!" keluh Sandi dengan raut kecewa.


__ADS_2