
Kini Sandi, Ayana dan juga Sam sudah duduk bersama di dalam ruang keluarga. Jika saat bertemu dengan Satria dia merasa begitu gugup, tetapi tidak saat berdekatan dengan Sam.
Sandi malah merasa akrab dengan pria itu, terlebih lagi wajah Sam benar-benar mirip dengan Ayana. Hal itu tentunya membuat dia merasa nyaman saat berdekatan dengan Sam, terlebih lagi Sam sangat hangat dalam menyambut kedatangan dirinya.
"Jadi, kalian sudah saling mengenal sejak lama?" tanya Sam.
Sebelum bertemu dengan Sandi, Ayana sempat menjelaskan sekilas tentang kedekatan yang bersama dengan pria itu saat berjalan untuk menemui Sandi.
"Iya, Yah. Bahkan, aku sudah sangat lama mencintai Ay. Tapi, mau ngomong takut banget. Takut ditolak, Yah," jawab Sandi.
Sandi berkata dengan jujur, Sam paham dengan kegundahan pria itu. Dia terkekeh seraya menatap wajah Sandi dengan lekat.
"Kamu tuh bisa aja, harusnya kamu mengungkapkannya sejak lama. Biar kita tahu bagaimana perasaan wanita yang kita suka itu," ujar Sam.
Jangan seperti dirinya, menyukai Angel sejak duduk di bangku SMA. Namun, Sam tidak pernah berani mengungkapkan perasaannya. Di saat sudah menikah dengan Aruna, justru dia malah berani untuk mengungkapkan perasaannya.
Namun, karena tidak ingin bercerai dengan Aruna yang sudah memberikan seorang putri untuk dirinya, Sam malah melakukan hal yang salah. Berselingkuh dengan wanita yang dia cintai itu sampai memiliki seorang putri.
"Iya, Yah. Sandi nyesel banget, coba kalau ngomong dari dulu. Pasti menyenangkan," ujar Sandi.
Hidup Sandi pasti akan lebih berwarna jika dari dulu dia menjalin hubungan dengan Ayana, tetapi dia juga merasa senang karena telat menjadikan Ayana sebagai kekasihnya. Dia takut khilaf, karena setiap berdekatan dengan Ayana, dia selalu ingin berpelukan dengan wanita itu.
"Jadi, maksud Nak Sandi datang ke sini mau apa? Mau kenalan sama Ayah atau mau minta restu?" tanya Sam yang melihat cinta begitu besar dari sorot mata Sandi.
"Mau minta restu, Yah. Bulan depan aku mau nikahin Ay, itu pun kalau Ayah memperbolehkan," ujar Sandi.
Walaupun dia begitu yakin jika Sam pastinya akan memberikan restu untuk dirinya, tetapi dia tidak ingin jumawa. Dia tetap merendah seakan menunggu keputusan dari pria itu dengan begitu sabar.
"Tentu saja Ayah akan memperbolehkan, yang penting kamu benar-benar mencintai putri, Ayah. Jangan pernah sampai kamu berselingkuh atau menyakiti dirinya, karena jika kamu melakukan hal itu, Ayah tidak segan-segan untuk membunuh kamu."
Wajah Sam yang sejak tadi ramah tiba-tiba saja berubah serius, dulu dia menghianati Aruna dan menyakiti wanita itu. Dia bisa melihat luka yang begitu dalam pada mata Aruna saat itu.
__ADS_1
Jika itu terulang kepada putrinya, sudah dapat dipastikan jika Sam akan menebas leher pria yang menyakiti putrinya. Sam merasa jika dirinya sudah tua, dia rela membusuk di penjara nantinya, yang terpenting kesakitan putrinya terbalaskan jika memang benar Sandi berani menyakiti hati putrinya.
Gleg!
Tiba-tiba saja Sandi begitu susah untuk menelan salivanya, ternyata pria ramah yang ada di hadapannya bisa berubah menjadi mengerikan.
Namun, Sandi sudah bersumpah di dalam hatinya. Bahkan, dia sudah berjanji di depan makam kedua orang tuanya jika dia tidak akan menyakiti hati Ayana.
Apalagi kalau dirinya sampai menduakan Ayana, karena untuk mendapatkan wanita itu benar-benar sangatlah susah. Sandi harus tahu diri.
Terlebih lagi Ayana merupakan keturunan Dinata, rasanya dia harus beribu kali bersyukur karena mendapatkan wanita yang cantik dan juga keturunan orang kaya.
Dia harus berpikir beribu kali jika ingin menyakiti dan berselingkuh dari Ayana, karena pasti akibat yang dia dapatkan tidak akan main-main. Entah itu dari Satria, dari Sigit ataupun dari Sam.
"Tidak akan, Yah. Aku janji, Aku tidak akan menyakiti Ay. Karena aku begitu mencintai Ay, jadi... apakah aku boleh menikahi Ay?" tanya Sandi dengan yakin dan mampu membuat Sam tidak merasa ragu sama sekali.
"Jika putriku memang mencintai dirimu, jika memang putriku mau menerima kamu sebagai suamimya, tentu saja aku akan memberikan restu. Kapan rencananya kalian akan menikah? Maksudku, kapan kamu akan menikahi putriku?" tanya Sam.
Senyum di bibir Sam mengembang dengan begitu sempurna, dia benar-benar merasa bersyukur karena putri cantiknya itu disayangi oleh semua pihak. Baik itu dari keluarga Dinata ataupun keluarga Siregar.
"Ayah akan mendukungnya, selama niat kamu baik, Ayah akan mengizinkan kamu untuk menikahi putri Ayah." Sam menatap Sandi dengan lekat.
"Terima kasih untuk restunya," ucap Sandi tulus.
"Sama-sama! Tunggu sebentar," ujar Sam seraya bangun dari tempat duduknya.
"Mau ke mana?" tanya Ayana.
"Mau ke kamar sebentar," jawab Sam.
Pria paruh baya itu langsung masuk ke dalam kamarnya, lalu dia membuka brankasnya dan mengambil sebagian uang yang selama ini dia kumpulkan. Sam memasukkan uang tersebut ke dalam amplop berwarna coklat yang cukup besar.
__ADS_1
Setelah itu, dia melangkahkan kakinya menuju ruang keluarga. Dia tersenyum seraya menatap amplop coklat tersebut.
"Ayah punya sedikit tabungan, tolong terima ini untuk membeli gaun pengantin yang akan kamu pakai nanti dan juga Sandi. Untuk sisanya bisa kamu tabungkan," ujar Sam.
Ayana langsung memeluk ayahnya seraya menitikan air matanya, dia tidak menyangka jika selama ini ayahnya menabungkan uangnya untuk membahagiakan dirinya.
Melihat Ayana yang menangis di dalam pelukan Sam, Sandi ikut terharu. Dia benar-benar merasa sedih dan juga senang, pria itu lalu berkata.
"Ayah! Tidak usah, aku yang akan membelikan gaun pengantin untuk Ay," ujar Sandi.
Sandi benar-benar merasa tidak enak hati kepada Sam, karena pria itu memberikan banyak uang tabungannya untuk Ayana.
Rasanya Sandi merasa tidak enak hati karena biaya pernikahan sudah ditanggung oleh Satria, mana mungkin untuk membeli gaun pengantin saja dia harus menggunakan uang dari Sam.
"Jangan menolaknya, Ayah memang bukan orang kaya. Namun, Ayah juga ingin ikut andil dalam acara pernikahan kalian. Tolong terima," pinta Sam.
Tanpa keduanya tahu, Sam sebenarnya sudah berbicara dengan Aruna. Tadi malam Aruna menelpon Sam dan memberitahukan rencana pernikahan Ayana dengan Sandi.
Kini bukan saatnya Aruna membenci Sam, tetapi kini saatnya Sam dan juga Aruna saling mensupport untuk menikahkan putri mereka dengan pria pujaan hatinya.
Aruna juga tentunya menjelaskan tentang siapa Sandi, pria yang terlahir dari keluarga sederhana tetapi gigih dalam membangkan usahanya di bidang kuliner.
Ketika Aruna menceritakan tentang Sandi, Sam malah teringat akan mendiang daddynya. Pria itu dulu begitu gigih dalam mengembangkan Resto Rahardi.
Maka dari itu, selain memberikan uang untuk membeli gaun pengantin, Sam juga memberikan uang tambahan modal untuk Resto yang saat ini Sandi kelola. Karena jika Resto itu berkembang dan menghasilkan banyak uang, pastinya Sandi akan membahagiakan Ayana dengan uang tersebut.
Ayana yang melihat obrolan di antara keduanya langsung melerai pelukannya dengan Sam. Lalu, dia tersenyum hangat ke arah sandi, dia menggenggam tangan sandi lalu menganggukkan kepalanya.
Berat sekali Sandi untuk menerima uang tersebut, karena rasanya Tuhan terlalu baik kepada dirinya. Sampai-sampai dirinya merasa sangat malu, padahal dia bukan makhluk Tuhan yang sempurna dalam beribadah.
Sepertinya setelah ini Sandi harus banyak bersyukur, Sandi harus memperbanyak amal ibadahnya. Karena kebaikan yang diberikan Tuhan benar-benar sangat melimpah.
__ADS_1
"Baiklah, Ayah. Uangnya akan aku terima, terima kasih. Nanti aku dan Ay akan meluangkan waktu untuk memesan gaun pengantin," ujar Sandi.