
"Maksudnya bagaimana, Bun?" tanya Aruna dengan penasaran.
Rachel terlihat begitu gemas sekali terhadap kelakuan dari putrinya tersebut, Aruna padahal pernah mengandung dan ini adalah pernikahan kali keduanya setelah gagal dengan Sam.
Akan tetapi, dia seolah tidak paham dengan apa yang terjadi kepada dirinya sendiri. Dia seolah tidak paham dari reaksi tubuhnya sendiri.
Namun, pada kenyataannya di kehamilan yang pertama pun Aruna memang tidak paham dengan kondisi tubuhnya sendiri. Justru malah Sam yang begitu paham dengan kondisi Aruna saat itu.
"Aih! Kamu tuh aneh banget, Sayang. Pokoknya sekarang kamu ikut Bunda, kamu ke kamar mandi buat melakukan tes kehamilan. Kamu nggak boleh bantah Bunda, tes kehamilannya jangan di kamar ini. Nanti mereka bangun," ujar Rachel seraya menuntun putrinya untuk keluar dari dalam kamar tersebut.
Ayana dan juga Ayaka terlihat sedang tertidur dengan begitu pulas, Rachel sangat takut jika kedua cucunya itu akan terbangun dari tidurnya.
Walaupun Ayaka bukan cucu yang terlahir dari keluarga Dinata, tetapi karena kebaikan anak itu semua keluarga Dinata begitu menyayangi Ayaka.
Setelah memeluk agama Islam, sikap dan sifat anak itu benar-benar berubah tiga ratus enam puluh derajat.
Ayaka terlihat menjadi anak yang begitu manis dan juga menggemaskan, menyayangi Ayana dan menyayangi semua anggota keluarga Dinata.
Aruna menurut, dia mengikuti apa yang diinginkan oleh ibunya. Saat sampai di dalam kamar mandi Aruna langsung melakukan apa yang diperintahkan oleh ibunya tersebut, setelah menyimpan urine pada sebuah wadah Rachel langsung menggunakan tespek yang sudah dia bawa
"Ayo kita lihat di luar, biar hasilnya bisa langsung ditunjukkan sama ayah dan juga suami kamu," ujar Rachel seraya mengajak putrinya untuk keluar dari dalam kamar mandi
Sigit terlihat duduk di atas sofa seraya memperhatikan istri dan juga mertuanya, dia tidak berani mendekat ke arah istrinya tersebut karena takut Aruna akan merasakan mual seperti yang sudah-sudah.
Akan tetapi, di dalam hatinya dia juga membenarkan apa yang diperkirakan oleh mertuanya. Sepertinya Aruna ada dalam keadaan mengandung, karena tingkahnya sangat aneh.
Dari pola makannya, dari pola kehidupan sehari-hari pun berubah drastis. Sigit sampai tidak mengenali kebiasaan istrinya tersebut, Aruna terkadang begitu sulit untuk dimengerti.
__ADS_1
Berbeda dengan Satria yang langsung menghampiri putrinya di saat putrinya itu baru keluar dari dalam kamar mandi, dia terlihat begitu antusias.
"Bagaimana hasilnya?" tanya Satria dengan antusias.
Jika benar Aruna mengandung, Satria benar-benar merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Karena itu artinya dia akan mempunya cucu lagi, senang rasanya bisa memiliki banyak keluarga.
"Sebentar," jawab Rachel seraya menggenggam tespeknya.
Tidak lama kemudian, Rachel nampak membuka kepalan tangannya. Lalu, dia tersenyum dengan begitu bahagia ketika melihat garis dua berwarna merah terlihat jelas pada tespek tersebut.
Bukan hanya Rachel yang terlihat begitu bahagia, tetapi Satria juga tidak kalah bahagia melihat akan hal itu.
"Alhamdulillah! Akhirnya sebentar lagi kita akan mempunyai cucu lagi," ujar Satria dengan begitu gembira.
melihat kebahagiaan di wajah suaminya, Rachel bahkan langsung memeluk suaminya dengan begitu erat.
Aruna hanya terdiam seraya menatap wajah Sigit, Sigit terlihat kebingungan mendapatkan tatapan seperti itu dari istrinya. Karena jujur saja mendengar istrinya yang ternyata tengah mengandung Sigit ingin sekali berlari dan memeluk istrinya tersebut.
Namun, sungguh dia takut jika istrinya akan mual dan juga muntah ketika mendapatkan pelukan dari dirinya. Alhasil dia hanya terdiam seraya menatap wajah istrinya dengan tatapan yang begitu sulit untuk diartikan.
Melihat Sigit yang hanya diam saja, justru Aruna benar-benar merasa kesal. Karena biasanya kalau ada suami yang mendengar istrinya hamil, maka pria itu akan sangat bahagia dan langsung menggendong istrinya.
Aruna menjadi teringat akan dirinya yang dulu sedang mengandung Ayana, Sam terlihat marah dan juga kesal sekali terhadap dirinya. Terlebih lagi kala dirinya tidak mau menggugurkan kandungannya, Sam benar-benar murka.
Mengingat akan hal itu, Aruna menjadi takut jika Sigit akan melakukan hal yang sama seperti yang pernah Sam lakukan terhadap dirinya.
"Hei! Kenapa kamu diam saja? Kamu tidak senang aku hamil?" tanya Aruna seraya menatap wajah Sigit dengan kesal.
__ADS_1
Sigit yang sejak tadi diam langsung bangun dan berjalan untuk menghampiri istrinya, tetapi tetap saja dia menjaga jarak aman dengan istrinya tersebut. Dia tidak mau mengambil resiko.
"Aku sangat senang kamu hamil, Sayang. Tapi, kamu selalu saja berkata jika aku bau. Aku takut kalau aku peluk kamu, kamunya malah akan muntah," ujar Sigit dengan bibirnya yang dia lipat.
Bahkan, tidak lama kemudian Sigit nampak menangis. Terharu rasanya karena sebentar lagi dia akan menjadi seorang ayah, tetapi dia merasa sedih karena tidak bisa memeluk istrinya.
Dia juga terharu karena di usianya yang masih muda, dia sudah diberikan kepercayaan oleh Tuhan untuk mendapatkan keturunan.
"Kenapa menangis? Maaf jika aku membuat kamu sedih, tapi sungguh aku ingin selalu berdekatan dengan kamu. Tapi sepertinya calon buah hati kita tidak memperbolehkan kamu dekat-dekat sama aku, kamu suka gitu sih!" keluh Aruna.
"Eh? Gitu bagaimana? Apakah dia suka nyakitin kamu?" tanya Satria yang takut putrinya disakiti oleh menantunya.
Bertemu setelah berpisah dalam waktu yang lama membuat Satria takut jika putrinya akan merasakan perihnya kembali dalam kehidupan, jika hal itu terjadi rasanya Satria tidak rela.
"Mana ada kaya gitu, aku adalah pria yang paling lembut. Aku adalah suami yang bucin akut, mana mungkin aku menyakiti istriku yang cantik dan juga lembut," ucap Sigit cepat.
Dia sengaja mengatakan hal itu, karena dia takut jika kedua mertuanya salah paham. Bisa bahaya nantinya, bahkan bisa saja Aruna akan dibawa pulang ke kediaman Dinata nantinya.
"Aruna, Sayang. Coba jelaskan apa maksud dari ucapan kamu tadi? Apakah suami kamu itu suka menyakiti kamu? Jawab dengan jujur, jangan takut dengan suami kamu itu."
Satria merasa trauma saat mendengar putrinya disakiti oleh Sam, sungguh dia tidak mau jika saat ini putrinya disakiti kembali oleh Sigit.
"Dia memang suka menyakitiku, Ayah. Tapi, sakit yang bikin enak," jawab Aruna dengan pelan sekali. Namun, Satria masih bisa mendengar apa yang dikatakan oleh putrinya tersebut.
Wanita itu memang benar-benar makhluk yang paling aneh, mereka berkata tidak ingin disakiti oleh pria yang sangat dicintainya.
Namun, ketika mereka sedang bergulat di atas ranjang, pria yang mereka sayangi itu diharuskan menyakiti wanitanya agar mereka mengerang dengan penuh kenikmatan. Menyakiti bukan dalam artian yang sebenarnya.
__ADS_1
"Ya ampun!" ujar Satria, Sigit dan juga Rachel ketika paham dengan apa yang dimaksud oleh Aruna.