
Pukul 4 pagi Ayana sudah terbangun dari tidurnya, tentu saja pagi ini yang pertama kali dia lihat adalah wajah ayahnya. Wajah pria itu terlihat sudah lebih segar, tidak pucat seperti tadi malam.
Ayana tersenyum lalu dia elus puncak kepala ayahnya tersebut dengan penuh kasih sayang, bahagia sekali rasanya karena bisa melihat Sam terlihat lebih baik.
"Semoga Ayah cepat sembuh, karena hari ini aku ada pekerjaan di luar kota. Aku tidak bisa menjaga Ayah hari ini, maaf," ujar Ayana.
Setelah mengatakan hal itu, Ayana turun dari tempat tidur. Lalu, dengan cepat dia keluar dari dalam kamar ayahnya tersebut menuju kamar Ayaka, karena dia harus cepat mandi dan berganti baju.
Tentunya Ayana juga harus melaksanakan kewajibannya terhadap sang Khalik, karena sebentar lagi waktu subuh akan tiba.
Selesai shalat subuh, Ayana pergi ke dapur untuk memasak. Dia harus menyiapkan sarapan untuk ayahnya, karena Ayana tidak akan mungkin meninggalkan ayahnya tanpa membuatkan sarapan terlebih dahulu.
Selain Sam yang harus minum obat, Ayana juga perlu sarapan terlebih dahulu sebelum pergi. Karena dia akan melakukan perjalanan yang lumayan jauh, perutnya tidak boleh kosong.
"Alhamdulillah, akhirnya selesai juga." Ayana tersenyum saat menolehkan wajahnya ke arah jam dinding karena ternyata waktu menunjukkan pukul 05.30 pagi.
Tentu saja itu artinya dia masih sempat untuk sarapan, dengan cepat dia melepas apron yang dia pakai. Lalu, Ayana melangkahkan kakinya menuju kamar Sam.
"Eh? Ayah udah bangun?" tanya Ayana ketika melihat Sam yang ternyata baru saja berganti pakaian.
Beruntung saat Ayana masuk Sam sudah berganti pakaian, karena gadis itu lupa mengetuk pintu terlebih dahulu sebelum masuk. Tentunya karena dia menyangka jika Sam masih tidur, karena ayahnya itu sedang tidak enak badan.
"Sudah dong," jawab Sam seraya mengambil sisir lalu menyisir rambutnya.
Ayana tersenyum lalu menghampiri Sam, tanpa ragu dia memeluk ayahnya tersebut dengan penuh kasih.
"Hari ini Ay mau pergi ke luar kota, Ayah jangan kerja dulu. Biarkan toko diurus sama karyawan Ayah, maafkan Ay karena tidak bisa menjaga Ayah hari ini."
Sedih sekali rasanya harus meninggalkan ayahnya, walaupun pada kenyataannya Sam sudah terlihat lebih baik. Akan tetapi, tetap saja dia mengkhawatirkan keadaan ayahnya tersebut.
"Tidak apa-apa, Sayang. Pergilah ke luar kota dengan hati-hati, bekerjalah dengan baik. Buat Ayah bangga," ujar Sam menyemangati.
Walaupun Ayana terlahir sebagai seorang perempuan, tetapi semangatnya untuk bekerja sangatlah besar. Sam seakan melihat Aruna sewaktu masih muda, Ayana sangat mirip sekali dengan mantan istrinya tersebut.
"Ya, Ayah. Kalau begitu ayo kita sarapan dulu, Ayah juga harus segera minum obat," ujar Ayana seraya melerai pelukannya.
Lalu, Ayana mengambil obat milik Sam dan mengajak Sam untuk segera pergi ke ruang makan. Karena di sana tentunya makanan kesukaan Sam sudah tersedia.
"Wah! Kamu pengertian sekali, Sayang. Pagi-pagi seperti ini Ayah sudah dibuatkan makanan kesukaan Ayah," ujar Sam dengan begitu bangga ketika melihat makanan kesukaannya terhidang di atas meja makan.
Mendapatkan sanjungan seperti itu dari Sam, justru Ayana merasa sangat sedih. Karena dia sangatlah jarang berkunjung ke rumah Sam dan membuatkan makanan kesukaan ayahnya tersebut.
Terlebih lagi dia menghabiskan waktu 5 tahun selama di luar negeri untuk kuliah, Ayana hanya pulang setahun sekali ke tanah air.
__ADS_1
"Maaf karena Ay jarang mengurus Ayah," ujar Ayana.
Sam yang melihat kesedihan di wajah putrinya menjadi tidak enak hati, dengan cepat pria itu menghibur putrinya.
"Hey! Ini adalah hari yang begitu cerah, kamu tidak lihat di luar matahari sudah mulai menampakan sinarnya? Kamu tidak boleh menampakan wajah muram seperti ini, tersenyumlah!" ujar Sam seraya mencubit gemas pipi putrinya.
Ayana tersenyum sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Sam, lalu dengan cepat dia mengendokkan nasi lengkap dengan lauknya. Lalu, mereka pun sarapan bersama.
"Minum obatnya dulu, Yah." Ayana memberikan obat dan juga segelas air putih kepada ayahnya.
"Terima kasih, Sayang," ujar Sam seraya menerima apa yang diberikan oleh putrinya tersebut.
Sam meminum obatnya, Ayana merasa lega karena pagi ini dia sudah bisa membuatkan sarapan untuk ayahnya dan melihat ayahnya meminum obatnya.
"Ay berangkat kerja dulu, Ayah hati-hati di rumah. Ingat! Ayah tidak boleh kerja dulu, nanti pulang dari luar kota Ay ke sini lagi," pesan Ayana.
Ayana bahkan sudah menghubungi karyawan yang bekerja di toko milik Sam, dia berpesan kepada pelayan toko agar tidak membiarkan ayahnya bekerja hari ini.
Jika saya memaksa untuk datang ke toko, maka Ayana berpesan kepada pelayan toko untuk mengantarkan Sam pulang ke rumahnya.
"Iya, Bu Dokter," jawab Sam seraya terkekeh.
Ayana ikut terkekeh, lalu Ayana memeluk ayahnya tersebut.
"Ayah mau dibeliin apa dari luar kota?" tanya Ayana yang sudah seperti seorang ibu yang bertanya kepada anaknya.
"Ya, Ayah!" jawab Ayana.
Keduanya tertawa dengan riang, lalu Sam terlihat mengantarkan Ayana untuk keluar dari dalam rumah karena Ayana harus pergi ke luar kota dengan Stefano.
Saat mereka keluar dari dalam rumah, Stefano terlihat sudah menunggu. Sam dengan cepat menghampiri pria itu dan berkata.
"Aku titipkan putriku kepadamu, tolong jaga dia dengan baik," ujar Sam.
"Iya, Tuan. Pasti saya akan menjaga putri anda dengan baik," jawab Stefano.
Setelah mengatakan hal itu, Stefano langsung membukakan pintu mobilnya untuk Ayana. Tentunya setelah Ayana berpamitan kepada ayahnya, dia langsung masuk ke dalam mobil Stefano dan duduk tepat di samping kemudi.
"Sudah siap?" tanya Stefano seraya menyalakan mesin mobilnya.
"Sudah!" jawab Ayana dengan kurang bersemangat.
"Perjalanan kali ini akan menghabiskan waktu selama 1 jam setengah, nanti setelah sampai anda bisa beristirahat terlebih dahulu selama setengah jam. Karena meeting akan dimulai pukul 8 pagi," lapor Stefano.
__ADS_1
"Oke, aku paham. Tapi, tadi malam aku kurang tidur. Bolehkah aku tidur selama perjalanan?" tanya Ayana dengan tidak enak hati.
Tadi malam Ayana tidak bisa tertidur dengan begitu pulas, karena mengkhawatirkan keadaan ayahnya. Gadis itu sering terbangun hanya untuk mengecek kondisi kesehatan Sam, hampir menjelang pagi barulah dia tertidur dengan pulas.
"Boleh, Nona. Silakan, saya tidak keberatan," jawab Stefano.
Ayana tersenyum, lalu dia melipat kedua tangannya di depan dada. Tidak lama kemudian Ayana sudah tertidur dengan begitu pulas, sepertinya Ayana benar-benar sangat mengantuk.
"Ya ampun! Sepertinya dia menjaga ayahnya semalaman," ujar Stefano seraya terkekeh.
Selama perjalanan menuju ke luar kota, tidak ada pembicaraan antara Stefano dan juga Ayana. Karena memang wanita itu terlihat tertidur dengan begitu pulas, Stefano juga terlihat begitu serius dalam mengemudi.
Namun, sesekali pria itu akan menolehkan wajahnya ke arah Ayana. Dia tersenyum karena melihat gadis yang ada di sampingnya itu sangatlah cantik sekali, terlebih lagi Ayana tertidur dengan bibir yang sedikit terbuka.
Stefano dibuat gemas akan hal itu, hingga satu setengah jam kemudian mobil yang dikendarai oleh Stefano sudah sampai di tempat tujuan.
Stefano merasa kebingungan, haruskah dia membangunkan Ayana atau menunggu waktu sebentar lagi. Karena gadis itu tertidur dengan begitu pulas, rasanya Stefano tidak tega membangunkan gadis itu.
Kalau dia membangunkan Ayana, rasanya dia sangat kasihan karena wanita itu masih terlihat mengantuk. Sepertinya wanita itu memang benar-benar kekurangan tidur.
Namun, jika tidak dibangunkan rasanya dia juga tidak enak kalau harus berduaan bersama dengan Ayana di dalam mobil. Karena mereka merupakan manusia berbeda jenis kelamin, tidak baik berduaan di dalam satu tempat yang sama.
Setelah cukup lama menimbang-nimbang, akhirnya Stefano memutuskan untuk membangunkan Ayana.
"Nona, bangunlah! Kita sudah sampai," ujar Stefano seraya menepuk-nepuk pundak Ayana.
"Hem!" gumam Ayana seraya menggeliatkan tubuhnya, tidak lama kemudian dia membuka matanya. "Ya ampun! Kita sudah sampai?" imbuh Ayana.
"Ya, Nona. Mau langsung turun atau mau dandan dulu?" tanya Stefano.
"Ck! Memangnya aku mau apa pake dandan dulu?" tanya Ayana.
"Itu, Nona. Ada ilernya, kali aja mau dielap dulu," canda Stefano.
"Hah?" tanya Ayana dengan kaget.
Lalu, dengan cepat dia mengambil cermin dari tasnya. Tidak lama kemudian, Ayana nampak menatap Stefano dengan raut wajah cemberut.
"Kenapa?" tanya Stefano seraya menahan senyum.
Ayana langsung menatap wajah Stefano dengan tatapan tidak suka, Stefano nampak menundukkan kepalanya karena merasa di daerah hati dengan tatapan dari atasannya tersebut.
"Kamu mau mengerjaiku, ya?" tanya Ayana.
__ADS_1
"Tidak, Nona. Maaf," ujar Stefano.
"Hem!" jawab Ayana dengan cemberut.