Balasan Untuk Sang Mantan 2

Balasan Untuk Sang Mantan 2
BUSM2 S2. Bab 16


__ADS_3

Jika menuruti egonya, rasanya Aruna ingin mengusir wanita yang sudah ditalak oleh Kenzo itu. Akan tetapi, dia masih mengingat jika Anisa adalah putri dari Arin dan juga Salman.


Dia tidak mungkin mengusirnya begitu saja, rasanya terlalu kejam mengusir anak yatim piatu seperti Anisa. Walaupun nyatanya wanita itu sudah begitu mengecewakan keluarga Dinata dan juga keluarga Siregar.


Aruna sempat memberikan pilihan kepada Anisa, apakah wanita itu ingin dipulangkan ke kampung halamannya atau diantar ke kediaman pria yang sudah merenggut kesuciannya.


Namun, Anisa menolak kedua-duanya. Dia beralasan ingin tinggal di kediaman Aruna saja, dia tidak mau berpisah dengan Aruna dan juga Sigit. Dia juga sudah begitu menyayangi Alice, wanita yang lebih muda lima tahun dari dirinya itu.


Anisa bahkan langsung bersujud di kaki Aruna dan juga Sigit, dia meminta maaf kepada kedua orang tua dari Kenzo itu seraya berjanji tidak akan mengulangi hal yang salah lagi.


Ingin rasanya Aruna memaafkan Anisa. Namun, jika melihat wajah Anisa, rasanya Aruna begitu kesal. Karena wanita yang terlihat begitu polos itu sudah menyakiti putra tampannya.


Pada akhirnya Aruna memutuskan jika setelah Anisa merasa lebih tenang, dia akan memulangkan Anisa ke kampung halaman Salman.


Lagi pula adik dari Salman berkata jika usaha milik almarhum Salman yang dipegang oleh'nya kini berkembang dengan begitu pesat.


Toko elektronik itu kini berkembang menjadi toko yang begitu besar, adik dari Salman berkata jika bisa, Anisa dipulangkan saja agar dia mengolah sendiri usaha peninggalan dari ayahnya tersebut.


"Ken, sudah siap berangkat?" tanya Aruna setelah mereka melaksanakan shalat subuh berjamaah.


"Sudah," jawab Kenzo dengan mantap.


Dia benar-benar merasa kacau, saat ini lebih baik rasanya dia pergi saja ke kota Sorong. Karena sepertinya dengan melakukan hal itu, perasaannya akan lebih tenang dan dia bisa berjauhan dengan Anisa.


"Kalau begitu kita berangkat sekarang, karena kamu akan melakukan pemberangkatan pertama di pukul enam. Takutnya nanti kamu malah telat," ujar Aruna.


"Iya, Buna," jawab Kenzo.


Pada akhirnya Kenzo, Aruna, Sigit dan juga Alice pergi ke Bandara. Kenzo berencana ingin pergi sendiri saja, sedangkan kedua orang tuanya dan adik tercintanya itu hanya akan mengantarkan Kenzo menuju Bandara saja.

__ADS_1


Setelah beberapa saat sampai di Bandara, akhirnya Kenzo berangkat juga menuju kota Sorong. Dia berharap dengan meninggalkan kota kelahirannya, rasa kecewa dan juga rasa sakit hatinya akan ikut hilang bersama dengan kepergiannya.


Aruna sempat menangis karena sedih, baru saja dia bertemu beberapa minggu dengan putranya. Akan tetapi, dia harus kembali berpisah dengan putra tampannya itu.


Namun, Aruna tidak bisa menghalangi kepergian putranya. Karena putranya pergi untuk melakukan hal yang baik, yaitu bekerja dengan baik dan berusaha mengelola perusahaan baru yang sudah diberikan oleh Steven.


Ya, pada akhirnya Steven yang membelikan perusahaan batubara tersebut untuk Kenzo. Sedangkan untuk tempat tinggal dan juga kendaraan, Satria yang menyiapkan semuanya.


Satria bahkan membelikan sebuah rumah sederhana untuk Kenzo, dia juga sudah mempekerjakan satu orang pelayan dan juga satu orang sopir. Karena takutnya Kenzo belum mengetahui jalanan yang ada di sana.


Kedua kakek dari Kenzo tersebut nampak begitu menyayangi cucunya, sehingga mereka benar-benar mempersiapkan semuanya untuk kebaikan cucunya tersebut.


"Mas, aku sangat sedih." Aruna memeluk Sigit dan menangis di dalam pelukan pria itu.


"Jangan menangis, Sayang. Mungkin ini adalah yang terbaik untuk putra kita," ujar Sigit.


"He'em," jawab Aruna seraya menyusut air matanya.


Setelah mengatakan hal itu, Sigit mengajak Aruna untuk pergi ke kediaman Satria. Dengan seperti itu dia berharap jika Aruna akan merasa jauh lebih tenang lagi.


Jika Kenzo sudah meng udara, berbeda dengan Anisa yang baru saja keluar dari dalam kamarnya. Dia tidak berani keluar sejak bangun tidur, bahkan melakukan shalat pun hanya sendirian saja di dalam kamarnya.


Namun, pukul setengah tujuh pagi dia memberanikan diri untuk keluar dari dalam kamarnya. Dia ingin membantu bibi memasak di dapur, Anisa berpikir jika dia melakukan hal itu, Aruna akan senang dan dengan cepat memaafkan dirinya.


"Loh, kenapa rumah dalam keadaan sepi?" tanya Anisa seraya mengedarkan pandangannya.


Dia merasa jika tidak ada Aruna dan juga yang lainnya, ia hanya melihat ada dua orang pelayan yang sedang membersihkan rumah tersebut. Karena merasa penasaran, akhirnya Anisa menghampiri salah satu pelayan dan bertanya kepada pelayan itu.


"Maaf, Bi. Buna ke mana, ya?" tanya Anisa.

__ADS_1


"Oh, nyonya, tuan dan juga nona muda sedang mengantarkan tuan Kenzo menuju Bandara. Kan' hari ini tuan Kenzo akan pergi ke kota Sorong," jawab Bibi.


Anisa begitu kaget mendengar jawaban dari bibi, karena dia tidak menyangka jika Kenzo akan pergi secepat itu. Padahal, dulu Kenzo sempat berkata jika dia akan pergi satu bulan kemudian, karena mengurusi semuanya itu benar-benar membutuhkan proses yang lama.


"Seriusan, Bi? Ngga bohong, kan? Masa kak Ken sudah pergi aja? Kenapa aku ngga diajak?" tanya Anisa dengan tidak tahu dirinya.


Bibi tidak berani menjawab, dia hanya menundukkan wajahnya. Anisa hanya menghela napas berat, lalu kembali ke dalam kamarnya. Dia merasa kecewa, karena ternyata pria yang sudah menjatuhkan talak kepada dirinya itu kini sudah pergi jauh.


Hilang sudah harapannya untuk bisa memperbaiki hubungannya dengan Kenzo, semuanya terasa tidak berarti lagi bagi Anisa.


"Sepertinya dia sengaja cepat pergi, agar bisa menjauhiku," ujar Anisa ketika dia sampai di dalam kamarnya.


Anisa hanya bisa menangis seraya menatap dirinya dari pantulan cermin, berbeda dengan Kenzo yang kini nampak berusaha untuk memejamkan matanya ketika dirinya berada di dalam pesawat.


Dia merasa begitu lelah dan ingin tidur, dengan seperti itu dia berharap agar ketika dia sampai di tempat tujuan, Kenzo akan merasa lebih segar. Hingga tidak lama kemudian Kenzo benar-benar tertidur dengan begitu lelap.


Setelah melakukan perjalanan selama enam jam, akhirnya Kenzo tiba di bandara internasional DOMINE EDUARD OSOK. Pria itu nampak keluar dari Bandara membawa sebuah koper.


Pria itu nampak menolehkan wajahnya ke kanan dan ke kiri, tentunya dia sedang menunggu sopir yang akan menjemput dirinya. Kenzo sudah tidak sabar ingin segera menempati rumah baru yang sudah disiapkan oleh Satria.


Namun, setelah sepuluh menit menunggu, sopir itu tidak juga menunjukkan batang hidungnya. Tentu saja hal itu membuat Kenzo merasa kesal, dia mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Satria.


Tidak jauh dari sana, ada seorang wanita cantik berkulit eksotis yang sedang memperhatikan Kenzo. Wanita itu nampak menggunakan kemeja tanpa lengan berwarna coklat, dipadu padankan dengan celana bahan berwarna senada.


Dia tersenyum kala melihat penampilan Kenzo yang dirasa sangat rapi, bahkan pakaian yang dikenakan oleh pria itu pastinya sangatlah mahal. Tidak lama kemudian, wanita itu nampak menghampiri Kenzo dan menepuk pria itu.


"Bos! Butuh bantuan, ngga?" tanya wanita itu.


Kenzo yang baru saja menutup sambungan ponselnya langsung menolehkan wajahnya ke arah wanita itu, dia nampak terdiam seraya memperhatikan wajah wanita yang kini ada di hadapannya.

__ADS_1


Wanita itu terlihat begitu cantik walaupun warna kulitnya nampak gelap, satu hal yang tentunya membuat Kenzo terdiam. Wajah wanita itu mengingatkan dirinya kepada seseorang, seseorang yang sampai saat ini membuat Kenzo tidak bisa melupakan orang itu.


"Waduh! Ini orang kesambet apa, ya? Ditanya kok malah ngeliatin wajah gue kaya gitu? Apa ada sisa makanan kali ya, di wajah gue?" tanya wanita itu seraya meraba-raba pipi dan bibirnya.


__ADS_2